NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

"IAN, BANGUN!" teriak Nathan tepat di telinga Fabian.

"Ish, apa sih!" sahut Fabian ngegas.

"Nata nggak ada!" hebohnya.

Dengan wajah kesal, Fabian duduk dari tidurnya. Ia memutarkan bola matanya malas. Sahabatnya ini be*o atau gimana sih. Apa gunanya handphone coba, pikirnya.

Fabian lagi-lagi menghela napas lelah dengan kehebohan Nathan. "Lo punya handphone, kan?"

"Punya. Terus?" tanyanya balik.

"Ya, telpon lah!" Nah, kan. Keluar sudah ngegasnya.

"Hehehe, lupa gue," jawabnya sambil cengengesan.

"Cimol, babu Lo tuh," adu Fabian pada kucing putih yang tiduran di samping Nathan.

"Eh, eh, Lo denger sesuatu nggak?" tanya Nathan.

"Astaga, apa lagi!" geramnya.

"Kayak ada suara telpon nggak sih? Dari arah sana," tunjuk Nathan pada sekumpulan bunga mawar putih.

"Bener juga," gumam Fabian.

Mereka memutuskan untuk mencari sumber suara. Dan benar saja, handphone Natalie tergeletak begitu saja di kerumunan bunga mawar putih. Fabian mengambil handphone itu lalu mematikan panggilannya.

"Kayaknya Nata lupa deh sama handphonenya," ujar Fabian yakin.

Karena Natalie memang gampang lupaan orangnya. Bahkan terkadang juga sedikit ceroboh. Itu sebabnya mereka berdua selalu siap siaga di samping Natalie—menjaganya agar sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.

"Terus sekarang gimana?" tanya Nathan frustasi.

"Macam gitu lah," jawab Fabian.

......................

Di bandara, Nisa dan Natalie menunggu kedatangan nenek. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya atensi nenek muncul di depan mereka. Nenek langsung memeluk Nisa—cucu kesayangannya, tanpa melihat ke arah Natalie sedikitpun. Bahkan keduanya meninggalkan Natalie yang masih sibuk menggeret koper yang sangat besar sendirian.

Setelah selesai menaruh koper di bagasi, mobil milik tantenya berlalu begitu saja. Meninggalkannya yang tangannya baru saja menyentuh pintu mobil. Lagi-lagi Natalie hanya bisa menghela napas pasrah. Udahlah handphone ketinggalan, di tinggal nenek dan kembarannya pula.

Natalie menoleh ke sana kemari, mencari bantuan. Tapi setelah merasa putus asa, Natalie memutuskan untuk ke pusat informasi. Ia akan meminjam handphonenya untuk menelpon sahabatnya itu.

Tutt … Tutt …

"Halo, siapa ya? Dapat nomer sahabat saya dari mana?"

Terdengar suara Fabian yang menjawab telponnya.

"Ian, ini gue Nata."

"Wah, wah, jangan percaya Ian. Ini pasti penipuan kan, ngaku-ngaku jadi nata. Mana suaranya di sama-samain lagi." kompor Nathan tak percaya.

"Ini gue Nathan, Ian. Gue ada di bandara, tolong jemput gue dong."

"Jangan Ian. Udah mending matiin aja teleponnya. Lo mau kena hipnotis terus Lo samperin orang ini, terus tiba-tiba Lo di jambret gimana? Lo mau harta Lo hilang gitu aja."

Natalie mendengus kasar. Bisa-bisanya ia di samakan sama begal.

"Ian, jangan dengerin Nathan. Gue butuh bantuan kalian sekarang, gue nggak bisa pulang."

"Ian, jangan—"

"Lo bisa diem nggak!"

Natalie tak bisa menahan tawa mendengar keributan di balik telepon. Pasti Nathan sekarang sudah di bekap tuh mulutnya sama Fabian.

"Lo di mana Nata? Gue sama Nathan ke sana sekarang."

"Gue ada di bandara. Buruan Ian, gue udah capek nunggu dari tadi."

"Iya, gue otw sekarang."

Natalie mengembalikan handphonenya. Tak lupa mengucapkan terim kasih pada petugas yang sudah membantunya. Ia langsung menunggu di pinggir jalan, duduk lesehan. Bahkan ada beberapa orang yang memberinya uang.

"Emang tampang gue kayak pengemis apa. Nggak liat nih baju masih bagus kayak gini," dumelnya. "Ini juga, kenapa mereka lama amat sih. Nggak tau apa gue udah lumutan di sini."

Beberapa menit berlalu, Nathan dan Fabian akhirnya sampai juga. Namun kedatangan keduanya justru membuat Natalie tambah jengkel. Bagimana tidak? Keduanya datang berboncengan, terus dirinya naik di mana? di atas ban gitu.

"Kalian ini gimana, sih. Kalau Lo berdua boncengan, gue duduk di mana? Duduk di atas ban?" omel Natalie.

Entah kenapa hari ini ia selalu emosi. Agaknya dirinya hampir datang bulan, maka dari itu suka marah-marah.

"Kita boti, princess," jawab Nathan enteng.

"Nggak, ya nggak mau gue," tolak Natalie mentah-mentah.

"Yaudah gini aja biar adil. Gue sama Nata boncengan, Lo naik taksi atau ojek gimana?" usul Fabian yang di balas gelengan oleh Nathan.

"Ian, kok Lo tega sih sama pangeran …," dramatisnya.

"Mulai, mulai," batin Natalie dan Fabian.

"Athan, Lo punya uang nggak?" tanya Natalie.

"Bawa, kenapa?" jawab Nathan polos, tanpa menyadari seringaian di wajah Natalie.

"Lo bawa lebih nggak?" tanya Natalie sok polos.

"Iya …."

"Bisa tolong beliin roti, nggak? Nata laper," ucap Natalie dengan nada manja, berbanding balik dengan hatinya yang jijik dengan suaranya.

"Boleh. Bentar ya, princess. Pangeran beliin roti untuk princess," jawabnya.

Setelah kepergian Nathan, Fabian dan Natalie memanggil taksi yang kebetulan lewat. Mereka menyuruh taksi itu untuk Minggu Nathan dan sudah di bayar oleh Fabian.

Dari kejauhan, Nathan melihat Fabian dan Natalie yang melambaikan tangan padanya sambil tersenyum. Nathan buru-buru lari hendak mengejar keduanya.

"BYE-BYE NATHAN. HAVE FUN, YA!" teriak keduanya kompak dari kejauhan.

Sedangkan Nathan langsung menjatuhkan tubuhnya, menendang-nendang aspal yang tak bersalah. Wajahnya cemberut. Bibirnya maju beberapa centi kedepan.

"HUAA! TEGA KALIAN SAMA PANGERAN!" teriaknya dengan keras, tak menghiraukan orang-orang yang melihatnya dengan pandangan aneh.

"Permisi, mas. Ini jadi naik atau nggak, ya? Tadi temannya udah bayar sama saya soalnya," ucap sopir taksi di sampingnya.

Nathan membuang muka dengan wajah cemberut. Keduanya tangannya bersendekap di dada.

"Ya maulah, mas. Orang udah di bayar," sewotnya.

Nathan langsung berdiri dari duduknya. Berjalan ke arah taksi dengan kaki yang di hentakkan dengan keras. Tak lupa wajahnya yang tetap cemberut.

"Sabar, sabar. Kata mas sama mbaknya tadi ternyata benar. Orangnya agak sedeng," gumam sopir taksi.

......................

"IAN, KITA. KETERLALUAN NGGAK SIH, TADI?" teriak Natalie di iringi tawa diri atas motor.

"NGGAK APA-APA SEKALI-KALI. LAGIAN TADI UDAH GUE SURUH BAWA MOTOR DIA NGGAK MAU. YAUDAH TERIMA AJA KONSEKUENSINYA."

"PASTI NGAMBEK TUH ANAK SAMA KITA."

"BIARIN, SESEKALI."

Keduanya pun tertawa bersama membayangkan betapa lucunya raut sahabat mereka itu. Pasti sedang mencak-mencak nggak jelas di jalanan.

Motor yang keduanya kendarai memasuki rumah Natalie. Keduanya turun dari motor masih dengan sisa tawa yang belum mereda.

"Asli dah, gue bayanginnya aja udah ngakak. Gimana liat langsung coba," ucap Natalie.

"Udah, udah, jangan kebanyakan ketawa. Ntar. Perut Lo sakit lagi," ujar Fabian.

"Ini kunci motornya mana?" tanya Natalie yang sudah duduk di atas jok motor Nathan.

Fabian memberikan kuncinya. Karena kebetulan kunci motornya memang berada padanya.

"NATALIE! DI MANA KAMU!" teriakan nenek terdengar sampai depan rumah.

Dengan sigap Natalie turun dari atas motor, menghampiri neneknya di dalam. Tanpa ia sadari, Fabian diam-diam mengintip melalui celah-celah jendela.

.

.

.

Hai semuanya … Hari ini aku double up ya.

Edisi hari special aku … 😉

Semoga kalian enjoy dengan ceritanya. Mohon maaf apabila ada kesalahan kata ataupun penempatan kalimat yang nggak sesuai—karena aku juga sambil belajar 😌

Byee semua … 👋👋

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!