NovelToon NovelToon
Fy Unig

Fy Unig

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.

Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.

Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.

Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.

Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

Hening menyergap. Udara di dalam kamar yang luas itu mendadak terasa statis, seolah oksigen di sekitar mereka sedang diserap oleh ketegangan yang kian memadat. Callista masih berlutut di samping ranjang, sementara Jagad duduk di tepian kasur dengan napas yang belum sepenuhnya stabil.

"Boleh gue buka baju? Gerah banget. AC lo mati?" tanya Jagad memecah keheningan. Suaranya serak, matanya menatap langit-langit sejenak.

Callista mengerjapkan mata, mencoba mengusir kecanggungan. "Boleh... buka saja. Mungkin memang hawanya lagi panas," jawabnya lirih.

Dengan gerakan santai namun bertenaga, Jagad melepas jaket varsity-nya, disusul dengan kaus putih seragamnya. Callista terdiam, dalam diam ia tidak bisa menahan matanya untuk tidak mengamati fisik pria di depannya.

Perawakan Jagad benar-benar mewarisi gen terbaik ayahnya; tinggi, dengan garis rahang yang sangat tegas. Saat pakaian itu terlepas, Callista terpaku melihat otot-otot perut yang terbentuk sempurna—kotak-kotak yang tampak nyata dan menggoda di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Sepertinya dia rajin ke gym atau memang atletis karena tawuran tadi, batin Callista.

Sebelum malam ini, Callista tidak pernah berada sedekat ini dengan pria manapun. Dunianya hanya berisi pola kain, sketsa busana, dan tumpukan buku referensi kuliah. Namun kini, melihat pria asing bertelanjang dada di kamarnya, ingatan Callista tiba-tiba terlempar pada adegan film yang baru saja ia tonton tadi.

Ya ampun, aku mikir apa sih? Bisa-bisanya aku berpikir kotor begitu! kutuk Callista dalam hati. Wajahnya seketika memerah padam.

"Lo kenapa? Sakit?" tanya Jagad tiba-tiba.

Melihat wajah Callista yang memerah hebat, Jagad secara impulsif menempelkan punggung tangannya ke dahi gadis itu. Ia membolak-balikkan tangannya, mengecek suhu kulit Callista dengan teliti. "Agak panas dikit. Kepala lo pusing? Minum obat sana, Parasetamol atau apa gitu."

"Aku nggak sakit kok!" jawab Callista cepat, ia menjauhkan kepalanya dengan gugup. "Kayaknya kamu yang sakit," tambahnya untuk mengalihkan perhatian.

"Gue? Gue nggak sakit," sahut Jagad.

"Itu kaki kamu terkilir, kan? Tunggu, aku ambil es batu," ucap Callista sambil beranjak.

"Lo mau ke mana?" Jagad menahan pergelangan tangannya sejenak, tatapannya penuh selidik.

"Ambil es batu, itu di kulkas mini sudut kamar," tunjuk Callista.

"Lo nggak nipu kan? Nggak bakal lari keluar?"

"Buat apa nipu kamu?" balas Callista cepat.

Saat ia menunduk untuk melepaskan tangan Jagad, jarak mereka menjadi terlalu dekat. Dari posisi duduknya, Jagad secara tidak sengaja melihat langsung ke arah belahan dada Callista yang terekspos karena kerah bajunya yang agak longgar saat menunduk. Jagad menelan ludahnya canggung. Jantungnya berdebar tak karuan, sebuah debaran yang jauh lebih kencang daripada saat ia dikejar geng motor tadi.

Ia menahan napas, berusaha membuang muka saat Callista kembali dengan beberapa bongkah es batu kecil yang dibalut kain tipis. Gadis itu kembali berlutut, fokus sepenuhnya pada pergelangan kaki Jagad yang membengkak.

Namun, Jagad justru tidak bisa berhenti memikirkan fantasi gila di otaknya. Didikan disiplin dari Mommy Faelynn seakan membuyar tak berbekas. Sifat pemberontak dan darah panas Emerson sedang mengambil alih kewarasannya. Laki-laki itu menarik napas dalam-dalam, mendongakkan kepalanya ke atas, menatap langit-langit kamar agar tidak fokus pada lekukan tubuh Callista yang berada tepat di bawahnya.

Tapi sial, saat ia mendongak, matanya justru menangkap leher jenjang Callista yang begitu putih dan halus saat gadis itu sedikit meregangkan tubuh untuk mengambil tisu di atas nakas. Semua serba salah, batinnya frustrasi. Ke mana pun ia memandang, ia selalu menemukan bagian tubuh Callista yang seolah mengundangnya.

"Udah selesai belum?" tanya Jagad, suaranya terdengar sedikit tertekan.

"Belum, sebentar lagi. Kaki kamu bengkak banget soalnya."

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa bagi Jagad. "Nah, sudah selesai," ucap Callista akhirnya. Ia mendongak, menatap Jagad dengan tatapan gugup. Sementara itu, Jagad memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah campuran antara rasa sakit, frustrasi, dan hasrat yang tertahan.

Dia kenapa ya? Aku salah? batin Callista bingung melihat rahang Jagad yang mengeras.

"Gue bisa minta tolong?" ucap Jagad cepat, suaranya rendah dan serak.

"Minta tolong apa—"

Belum sempat Callista menyelesaikan kalimatnya, Jagad sudah bergerak lebih cepat. Dengan satu gerakan yang tak terduga, ia menarik tengkuk Callista dan membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya.

Jagad menciumnya dengan kuat, seolah-olah seluruh kegilaan dan tekanan yang ia tahan sejak tadi tumpah dalam satu tindakan itu. Callista tersentak, tubuhnya kaku seketika. Ia mencoba menahan diri dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas sprei, namun sesuatu di bawah perutnya mulai berdesir aneh—sebuah sensasi yang jauh lebih nyata daripada yang ia rasakan saat menonton film tadi.

Ciuman itu terasa panas dan menuntut. Jagad seakan lupa diri, napas mereka beradu dalam irama yang kacau. Saat tautan itu terlepas sejenak, mereka saling menatap dalam jarak yang hanya terpaut beberapa milimeter. Wajah keduanya merah padam, kontras dengan kulit putih mereka masing-masing.

"Gue nggak tahu gue kenapa," bisik Jagad di depan bibir Callista. "Tapi sepertinya gue gila."

Jagad menatap mata Callista dalam-dalam. "Kalau lo nggak mau, lo boleh dorong gue dalam hitungan ketiga. Tapi kalau lo diam... itu artinya lo ngebiarin gue ambil lebih banyak apa yang ada dalam diri lo."

Callista terdiam. Pikirannya kosong. Ia yang terbiasa menjawab soal ujian yang rumit mendadak kehilangan kemampuannya untuk berpikir logis.

"Satu..."

"Dua..."

"Tiga..."

Callista memejamkan matanya rapat-rapat, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, tidak ada serangan lanjutan. Ia membuka matanya perlahan dan melihat Jagad yang tampak sangat frustrasi di atasnya. Jagad tidak melakukan apa-apa; ia hanya memandang Callista dengan napas yang memburu, menarik udara banyak-banyak seolah sedang bertarung dengan dirinya sendiri.

"Oh shitt, gue kenapa sih!" umpat Jagad lagi. Ia menjauhkan wajahnya sedikit. "Sorry, harusnya gue nggak gini. Tapi gue bener-bener udah nggak bisa tahan."

Callista tetap diam, wajahnya masih memerah, matanya tak lepas memandang sosok kacau di depannya.

"Lo nafsu?" tanya Jagad tiba-tiba, sebuah pertanyaan yang sangat frontal.

"Nafsu?" Callista bertanya balik, suaranya hampir hilang.

"Lo nafsu nggak sama gue? Lo pengen?" desak Jagad lagi.

Wajah Callista menegang. Ia menoleh ke samping, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Jagad mengepalkan tangannya di sisi tubuh Callista. Dari raut muka gadis itu yang tidak menolak, Jagad tahu jawabannya.

"Jawab gue. Lo pengen?"

"Aku... aku..." Callista bingung harus menjawab apa. Logikanya menyuruhnya lari, tapi tubuhnya berkata lain.

Jagad menghela napas kasar dan bersiap untuk beranjak, merasa ditolak oleh kebisuan Callista. Namun, tepat saat ia ingin menjauh, Callista secara impulsif menarik ujung celana Jagad, menahannya agar tetap di sana.

Jagad membeku. Rahangnya mengetat. Ia kembali menarik pinggang Callista, membuat tubuh mereka semakin menempel tanpa celah. "Lo mau atau enggak?"

Callista menoleh, menatap mata Jagad dengan wajah yang memerah sempurna, lalu membisikkan kata-kata yang menghancurkan sisa-sisa pertahanan Jagad.

"Iya... aku mau... aku pengen."

Deg.

Dalam hitungan detik, Jagad kembali membungkam bibir Callista, kali ini dengan kepastian yang lebih dalam, memulai sebuah bab yang akan mereka ingat selamanya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
ren_iren
kembalikan king dan faelynn😂
Ros 🍂: maafkan author Buntu 😭🤣🙏🏼
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
ren_iren
dan tetiba king and faelyn berubah jd gadis angkat jemuran... dirimu kak, ada2 aja.... 😂😂😂
Ros 🍂: Nanti saya revisi kak, biar masuk cerita nya, Makasih Kak 🫶🙏🥰
total 3 replies
winpar
lnjut thorrr
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍
Ros 🍂: ma'aciww kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!