NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Mobil mewah yang dikemudikan Pak Didik masuk melewati gerbang besi besar yang otomatis terbuka. Suasana di kediaman keluarga Aditama terasa begitu tenang, sejuk, dan jauh dari kebisingan kota.

Mobil berhenti tepat di teras depan. Pintu dibuka, dan Sulthan turun dengan langkah santai namun tetap berwibawa.

"Makasih ya Pak Didik. Bapak bisa istirahat atau pulang saja," ucap Sulthan ramah.

"Iya Tuan, sama-sama. Selamat sore," jawab Pak Didik lalu masuk kembali ke dalam kabin untuk memarkirkan mobil ke garasi.

Sulthan pun berjalan masuk ke dalam rumah yang luas dan megah itu. Tidak ada orang lain di ruang tengah, mungkin Bu Lastri sedang membereskan dapur atau Rini sedang membereskan kamar tamu.

Tanpa membuang waktu, Sulthan langsung menaiki tangga menuju lantai dua, menuju kamarnya sendiri yang menjadi wilayah paling privat dan nyaman baginya.

Begitu pintu kamar tertutup rapat dan dikunci dari dalam, suasana formalitas seketika runtuh.

"Akhirnya... bebas juga," gumamnya pelan sambil menghela napas panjang lega.

Dengan gerakan cepat dan luwes, Sulthan langsung melepaskan kancing kemeja mahalnya satu per satu. Jas dilempar sembarangan ke atas sofa, kemeja ditanggalkan, lalu celana bahan dan ikat pinggang pun turun menyusul ke lantai.

Dalam hitungan detik, tubuh kekar, putih bersih, dan tinggi besar itu kembali telanjang bulat sempurna. Tidak ada sehelai benang pun yang menempel di kulitnya.

Burungnya yang besar, panjang, dan gagah terlihat menjuntai bebas di antara kedua pahanya yang kokoh. Terlihat sangat maskulin, mengintimidasi, namun juga sangat menggoda mata seandainya ada yang melihat. Bagi Sulthan, ini adalah bentuk paling nyaman dan alami bagi seorang laki-laki.

Setelah benar-benar lepas dari semua ikatan pakaian, dia mengambil tumpukan baju kotor tadi, kemeja, celana, dasi, dan kaus kaki yang sudah dipakai seharian penuh, terasa agak lembap karena keringat dan debu perjalanan.

Dia berjalan menuju sudut kamar, tepat di dekat pintu masuk kamar mandi dalam, di sana tersedia sebuah bak besar khusus untuk menampung pakaian kotor.

Semua pakaian itu dimasukkannya ke dalam bak tersebut.

"Besok pagi pasti bakal diambilin sama Bu Lastri atau Rini buat dicuci," batinnya santai. Biasanya memang gitu rutinitasnya. Entah Bu Lastri yang rajin, atau Rini yang gesit, salah satu dari mereka pasti akan membereskan cucian ini besok. Jadi dia tinggal taruh rapi di situ, urusan bersih-bersih biar mereka yang tangani.

Setelah menaruh baju kotor, Sulthan pun berjalan masuk ke dalam kamar mandi pribadinya yang sangat luas dan mewah.

Udara di dalam kamar mandi terasa segar. Dia langsung menyalakan keran air dingin.

Wusss...

Air bersih langsung mengalir deras membasahi seluruh tubuhnya. Rasa gerah, lengket, dan lelah setelah seharian beraktivitas luar dan di kantor langsung sirna terbawa air.

Sulthan membiarkan air membasahi rambut dan seluruh kulitnya, menikmati sensasi dingin yang menyegarkan. Dia mengambil sabun dan mulai menggosok tubuhnya dengan teliti.

Air dingin terus mengalir membasahi tubuh kekar Sulthan. Sabun sudah diusap merata, membersihkan setiap sudut kulitnya hingga bersih mengkilap. Namun, di tengah kesegaran itu, tiba-tiba ada sensasi lain yang muncul.

Mungkin karena suasana yang hening, mungkin karena sentuhan air dan sabun yang menstimulasi kulit, atau mungkin memang wajar saja sebagai seorang lelaki yang sehat dan penuh energi, tiba-tiba hasrat di dalam dirinya naik secara drastis.

Sulthan merasakan ada aliran darah yang berdesir cepat menuju ke bagian bawah. Dalam sekejap saja, burungnya yang tadi menggantung lemas kini perlahan membesar, memanjang, dan akhirnya berdiri tegak sempurna dengan ukuran yang sangat besar dan mengerikan.

"Huahh... ternyata masih sisa tenaga ya," gumamnya, matanya menatap batang vitalnya yang kini keras dan tegak lurus menantang.

Rasa rindu akan kenikmatan dan keinginan untuk melepaskan ketegangan membuatnya tidak ingin menunda. Tangannya yang besar dan kuat pun mulai bergerak. Dia mulai memegang, dan mengocok burung besarnya itu dengan ritme yang mulai stabil.

"Uuhh..."

Sulthan mendesah tipis, suaranya terdengar berat dan sangat jantan. Matanya terpejam, menikmati sensasi sentuhan tangannya sendiri yang begitu mahir. Air terus membasahi tubuhnya, membuat gerakan tangan menjadi licin dan sangat nikmat.

"Uuhh... enaknya..."

Dia mengocok semakin kencang, semakin mantap. Bayangan-bayangan imajinasi liar terlintas di pikirannya, membuat gairahnya semakin memuncak tak tertahankan. Ujung kepala burungnya sudah memerah padam, dan terasa sangat sensitif.

Tubuhnya mulai gemetar hebat, napasnya memburu cepat. Dia tahu puncak kenikmatan sudah sangat dekat.

"Huahh... ini dia... aahh!!"

Dengan satu hentakan kuat dan desahan panjang yang tertahan, akhirnya burung besar itu meledak.

Crot! Crot! Crot!

Cairan putih kental dan pekat meluncur deras keluar dengan kuat, menyembur jauh mengenai dinding keramik kamar mandi dan sebagian jatuh ke lantai. Semburan itu keluar berturut-turut sebanyak 4 kali, menandakan betapa banyak dan puasnya pelepasan hasratnya.

"Huahhh... Lega..." desah Sulthan panjang lebar saat semuanya usai. Tubuhnya terasa lemas namun sangat puas. Burungnya kembali lemas menggelantung, meneteskan sisa-sisa cairan terakhir.

Dia pun kembali menyiram tubuhnya dengan air bersih, membersihkan kenikmatan tadi.

Beberapa menit kemudian, air dimatikan. Suasana di dalam kamar mandi kembali hening, hanya tersisa genangan air dan jejak kenikmatan yang baru saja dilampiaskan. Sulthan merasa tubuhnya kini jauh lebih segar, ringan, dan pikirannya tenang setelah melepaskan beban hasrat tadi.

Dengan langkah santai dan percaya diri, dia melangkah keluar dari kamar mandi.

Tak memakai handuk, tak membungkus tubuh. Dia berjalan telanjang bulat begitu saja di atas karpet tebal kamarnya, membiarkan angin AC meniup kulitnya yang masih basah kuyup. Itu kebiasaan lamanya, merasa risih kalau badan masih lengket dibalut kain tebal saat baru keluar dari kamar mandi.

Dia berjalan menuju lemari pakaiannya yang besar. Di sana sudah tersedia berbagai jenis pakaian dalam. Dengan sigap, dia mengambil satu celana dalam berwarna hitam, bahannya elastis dan ketat, model brief yang pas di badan.

Lalu dia memakai celana itu. Setelah dipakai, bentuk burung besar miliknya langsung terlihat sangat jelas dan menonjol sempurna. Bahannya yang tipis dan ketat menampakkan setiap lekuk, ukuran, dan detail kemaluannya dengan gamblang. Terlihat sangat menggembung, panjang, dan besar, membuat 'gundukan' di selangkangannya terlihat sangat maskulin dan mengintimidasi.

"Yak, siap. Cukup ini saja biar lega," gumamnya santai sambil menepuk-nepuk sedikit bagian depan celananya yang menonjol keras itu.

Tubuh bagian atas dibiarkan telanjang, memperlihatkan otot perut sixpack dan dada bidang yang putih bersih. Penampilannya sekarang santai, seksi, dan sangat jantan.

Perutnya sudah mulai berbunyi minta diisi. Waktunya makan malam. Sulthan pun berjalan keluar kamar, menuruni tangga lebar menuju lantai dasar. Langkah kakinya santai, tidak terburu-buru.

Dia langsung menuju ke arah dapur dan ruang makan yang berada di bagian belakang rumah. Lampu ruang makan sudah menyala terang, dan di atas meja makan sudah tersusun rapi berbagai hidangan lezat yang mengepulkan aroma wangi menggoda.

Di sana, Rini sedang merapikan piring dan gelas. Gadis muda yang bertugas membantu pekerjaan rumah ini terlihat sibuk namun tetap cantik.

Mendengar suara langkah kaki, Rini menoleh. "Eh... Selamat malam, Tuan Sulthan," sapa Rini ramah, tapi matanya tak sengaja langsung tertuju pada tubuh atasan yang hanya bertelanjang dada dan celana dalam ketat itu.

Wajah Rini sedikit memerah, matanya sejenak terpaku melihat 'bentuk besar' yang menonjol jelas di selangkangan sang Tuan. Jantungnya berdegup kencang, tapi dia berusaha tetap tenang dan sopan karena sudah terbiasa dengan gaya bebas majikannya.

"Malam, Rini. Wah, sudah siap semua rupanya makanannya," ucap Sulthan santai sambil menarik kursi dan duduk dengan gaya yang sangat lepas.

"Iya Tuan, tadi baru saja dihangatkan. Silakan dimakan selagi hangat," jawab Rini lembut sambil menuangkan air putih ke gelasnya.

Sulthan langsung menyantap makanannya dengan lahap. Perut yang kosong terisi penuh oleh masakan enak, membuat suasana hatinya semakin baik. Di sebelahnya, Rini berdiri untuk melayani, sesekali matanya sengaja melirik lagi ke arah bawah, membayangkan betapa besarnya 'aset' yang tersembunyi rapi namun terlihat jelas bentuknya di balik kain tipis itu.

1
Hagia Sophia
kapan BAB pacarannya, lamaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!