NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: RESTU DI TENGAH BADAI

​Lampu di dalam ruang VVIP ICU meredup, menyisakan pendaran cahaya dari monitor jantung yang berdenyut stabil—sebuah melodi kehidupan yang paling indah bagi telinga Aaliyah Humaira. Aroma antiseptik yang tajam seolah memudar, berganti dengan kehangatan doa yang memenuhi setiap sudut ruangan. Di atas ranjang rumah sakit, Kyai Abdullah tampak jauh lebih tenang, meskipun tubuhnya masih terlihat sangat ringkih setelah melewati masa kritis yang panjang.

​Aaliyah melangkah mendekat, jemarinya yang masih gemetar meraih tangan sang ayah. Ia mencium punggung tangan yang keriput itu dengan penuh takzim, membiarkan air mata syukurnya jatuh membasahi sprei putih.

​(Batin Aaliyah: Ya Allah... terima kasih. Engkau telah mengembalikan nyawa ke dalam raga Ayah. Engkau telah mengizinkan hamba melihat kembali binar mata yang selalu menuntun hamba ini. Meskipun dunia di luar sana masih penuh dengan duri fitnah, namun berada di samping Ayah membuat hamba merasa memiliki kekuatan seribu pasukan. Ayah... Aaliyah tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti Ayah lagi. Hamba mohon, berikanlah Ayah umur yang barokah untuk melihat pesantren Al-Azhar berdiri tegak kembali.)

​Zayn Al-Fatih berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Pria yang biasanya hanya mengenal angka transaksi triliunan itu, kini merasa seolah sedang melihat sebuah lukisan suci yang tak ternilai harganya. Ia merasa canggung, merasa tidak pantas berada di tengah kehangatan keluarga yang begitu tulus, namun kakinya seolah terpaku di lantai pualam tersebut.

​(Zayn membatin: Inilah sumber kekuatan Aaliyah. Sebuah kasih sayang yang tidak bisa dibeli dengan saham manapun. Lihatlah bagaimana dia mencium tangan ayahnya... ada rasa hormat yang begitu dalam. Kyai Abdullah... Anda memiliki putri yang luar biasa. Dia adalah wanita yang paling berani yang pernah kutemui. Dia mempertaruhkan segalanya demi nama Anda. Dan aku... pria penuh dosa ini, mengapa aku merasa begitu ingin menjadi bagian dari perlindungan kalian? Mengapa aku merasa detak jantungku ikut melambat mengikuti irama monitor itu?)

​Kyai Abdullah membuka matanya perlahan. Pandangannya yang tadinya kabur mulai terfokus pada putri kesayangannya. Sebuah senyuman tipis, nyaris tak terlihat, muncul di bibirnya yang pucat. Kemudian, matanya beralih ke arah Zayn yang berdiri di belakang.

​"Aaliyah... siapa... pria itu?" suara Kyai Abdullah sangat lemah, nyaris berupa bisikan yang tertelan masker oksigen.

​Aaliyah tersentak, ia menoleh ke arah Zayn, lalu kembali menatap ayahnya. "Ayah... ini Tuan Zayn Al-Fatih. Beliau adalah... orang yang telah menyelamatkan Aaliyah. Beliau yang menampung Aaliyah saat semua pintu tertutup. Beliau yang membawa kita ke sini, Ayah."

​Zayn melangkah maju, mendekati ranjang. Ia menundukkan kepalanya, sebuah isyarat hormat yang sangat jarang ia lakukan kepada siapapun di dunia bisnis. "Saya Zayn, Kyai. Maafkan kehadiran saya yang mungkin mengganggu waktu istirahat Anda."

​Kyai Abdullah menatap Zayn dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan seorang guru besar yang seolah mampu membaca isi hati seseorang hingga ke dasarnya. Zayn merasa seolah sedang di-scan oleh radar yang sangat kuat.

​(Zayn membatin: Tatapannya... mengapa begitu menenangkan namun juga mengintimidasi di saat yang sama? Aku merasa semua kebohonganku, semua kedinginanku, dan semua kesombonganku luruh di depan matanya. Dia tidak menatapku sebagai CEO Al-Ghifari, dia menatapku sebagai seorang pria. Apakah dia bisa melihat bahwa aku telah jatuh hati pada putrinya? Apakah dia bisa melihat bahwa aku pernah menghina putrinya dengan sebutan pelayan? Ya Tuhan... mengapa aku merasa begitu gugup di depan orang tua yang sedang sekarat ini?)

​Kyai Abdullah melepaskan tangan Aaliyah sejenak, lalu ia memberikan isyarat agar Zayn mendekat. Zayn membungkuk, mendekatkan telinganya ke bibir Kyai.

​"Terima kasih... Nak Zayn..." bisik Kyai Abdullah. "Tapi... saya tahu... ada beban besar... di pundak kalian. Fitnah itu... belum selesai... kan?"

​Aaliyah tercekat. Ia tidak menyangka ayahnya yang baru sadar sudah bisa merasakan ketegangan di luar sana. "Ayah... jangan pikirkan itu dulu. Yang penting Ayah sehat."

​Kyai Abdullah menggeleng lemah. Ia menatap Aaliyah dengan air mata yang mulai menggenang. "Dunia... kejam pada wanita... seperti kamu, Aaliyah. Tapi... Allah mengirimkan... perisai. Nak Zayn... apakah kau... tulus menjaga putriku?"

​Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong bagi Zayn. Ia tertegun. Ia melirik Aaliyah yang wajahnya memerah di balik niqab, lalu kembali menatap Kyai Abdullah.

​(Zayn membatin: Ketulusan? Apakah aku tulus? Awalnya aku hanya ingin menggunakannya untuk perusahaanku. Aku ingin membuktikan bahwa dia munafik. Tapi sekarang... melihatnya berdarah-darah demi kebenaran, melihatnya sujud di tengah badai... aku sadar bahwa dialah yang paling tulus di dunia ini. Dan aku? Aku hanyalah pria yang mencoba menjemput kembali nuraninya melalui dirinya. Ya, aku tulus. Aku ingin melindunginya lebih dari aku melindungi nyawaku sendiri.)

​"Demi kehormatan keluarga saya, Kyai," jawab Zayn dengan suara yang sangat mantap dan berwibawa. "Saya akan menjaga Aaliyah dengan segenap kemampuan saya. Tidak akan ada satupun orang yang bisa menyentuhnya selama saya masih bernapas."

​Kyai Abdullah mengangguk pelan, seolah merasa lega dengan jawaban itu. Ia memejamkan matanya kembali, energinya terkuras habis hanya untuk beberapa kalimat tadi.

​Di luar ruang ICU, badai yang diprediksi pria berjas abu-abu mulai menerjang. Di lobi rumah sakit, puluhan wartawan dari berbagai portal berita gosip dan media sosial mulai berdatangan. Mereka telah menerima 'pesan anonim' yang berisi foto-foto Zayn dan Aaliyah saat berada di lorong rumah sakit tadi—foto yang diambil dari sudut sedemikian rupa sehingga mereka tampak sedang berpelukan mesra.

​Berita utama mulai bermunculan di internet: "SKANDAL CINTA TERLARANG: CEO AL-GHIFARI DAN BURONAN AL-AZHAR BERMESRAAN DI RUMAH SAKIT?"

​(Batin Pria Berjas Abu-abu: Bagus... teruslah menyebar. Masyarakat tidak butuh bukti hukum, mereka hanya butuh drama untuk memuaskan rasa haus akan gosip. Jika Aaliyah dianggap sebagai 'simpanan' Zayn, maka kesucian hafizahnya akan runtuh selamanya. Dan Zayn... reputasi perusahaanmu akan hancur karena dianggap melindungi kriminal demi nafsu. Kalian pikir kalian sudah menang? Ini hanyalah permulaan dari kehancuran sosial kalian.)

​Bi Inah yang sedang menunggu di kantin rumah sakit, terkejut saat melihat layar televisi di sana. Ia melihat foto Aaliyah dan Zayn yang diputar berulang-ulang dengan narasi yang sangat menyudutkan.

​(Bi Inah membatin: Astaghfirullah! Siapa yang tega melakukan ini? Tadi itu kan Tuan Muda hanya menenangkan Maryam karena ketakutan! Mengapa digambarkan seolah-olah mereka melakukan hal yang tidak pantas? Kasihan Nona Aaliyah... luka lamanya belum sembuh, sekarang sudah ditambah luka baru yang lebih lebar. Ya Allah, lindungilah anak-anak malang ini dari fitnah dunia yang kejam.)

​Di lantai sepuluh, asisten pribadi Zayn, Ben, berlari mendekati Zayn yang baru saja keluar dari ruang ICU. Wajah Ben tampak sangat panik.

​"Tuan Muda, kita punya masalah besar. Fitnah baru menyebar di internet. Mereka menyebarkan foto Anda dan Nona Aaliyah di koridor tadi. Media sudah mengepung pintu masuk rumah sakit," bisik Ben dengan suara rendah agar tidak terdengar ke dalam.

​Zayn merebut ponsel Ben dan melihat berita tersebut. Rahangnya mengeras, matanya memancarkan api kemarahan yang luar biasa. Ia melihat foto itu—saat ia memeluk Aaliyah untuk menenangkannya setelah ancaman bom Sultan.

​(Zayn membatin: Keparat! Mereka benar-benar menggunakan momen kerentanan kami untuk dijadikan senjata! Mereka ingin menghancurkan Aaliyah tepat di saat ayahnya baru saja bangun! Ini bukan lagi soal bisnis, ini adalah pembunuhan karakter yang sangat biadab. Sultan sudah ditangkap, tapi guritanya masih ada. Siapa yang mengendalikan ini?!)

​"Blokir semua akses media ke lantai ini! Panggil tim hukum kita, tuntut setiap portal yang menyebarkan foto itu!" perintah Zayn, suaranya seperti geraman singa yang lapar.

​Aaliyah keluar dari ruangan, menyadari ketegangan di wajah Zayn. "Zayn? Ada apa lagi?"

​Zayn mencoba menenangkan ekspresi wajahnya, namun Aaliyah sudah terlanjur melihat layar ponsel Ben. Aaliyah membeku. Seluruh tubuhnya mendadak lemas. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding koridor.

​(Batin Aaliyah menjerit: Ya Allah... lagi? Mengapa nama hamba harus selalu dikaitkan dengan perbuatan nista? Padahal hamba hanya ingin menjaga Ayah. Padahal Zayn hanya menolong hamba. Mengapa kebaikan selalu diputarbalikkan menjadi kejahatan di mata mereka? Sekarang, seluruh dunia akan menganggap hamba sebagai wanita penggoda yang menggunakan niqab untuk memikat pria kaya. Ayah... jika Ayah melihat berita ini, Ayah pasti akan kembali kritis. Hamba tidak kuat... hamba benar-benar tidak kuat lagi menghadapi kebencian ini!)

​"Aaliyah, jangan lihat," Zayn mencoba mengambil ponsel itu, namun terlambat. Aaliyah sudah melihat komentar-komentar netizen yang sangat pedas di bawah berita tersebut.

​"Zayn... saya harus pergi," bisik Aaliyah, air mata mulai jatuh membasahi niqab birunya. "Keberadaan saya di sini hanya akan menghancurkan Anda. Perusahaan Anda, nama baik Anda... semuanya akan hancur karena saya. Biarkan saya pergi, Zayn. Biarkan saya menghilang selamanya."

​Zayn mencengkeram kedua bahu Aaliyah, memaksanya untuk menatap matanya. "Dengar aku, Aaliyah Humaira! Kau tidak akan pergi ke mana-mana! Kau dengar? Mereka ingin kau lari! Mereka ingin kau merasa kalah! Jika kau pergi sekarang, mereka menang!"

​"Tapi namamu, Zayn! Karirmu!"

​"Persetan dengan karirku!" bentak Zayn, membuat Ben dan para pengawal tersentak. "Aku bisa membangun sepuluh perusahaan lagi, tapi aku tidak bisa menemukan wanita seperti kau lagi di dunia ini! Kau pikir aku peduli pada apa yang dikatakan orang-orang bodoh itu? Aku adalah Zayn Al-Fatih! Aku yang menentukan narasiku sendiri, bukan mereka!"

​(Zayn membatin: Aku tidak akan membiarkanmu lari lagi. Dulu kau lari dari pesantren karena tidak ada yang membelamu. Tapi sekarang, kau punya aku. Aku akan menjadi badai yang menghancurkan badai mereka. Jika mereka ingin drama, aku akan berikan drama yang tidak akan pernah mereka lupakan.)

​Zayn menoleh ke arah Ben. "Siapkan konferensi pers di lobi rumah sakit ini. Sekarang juga!"

​"Tapi Tuan Muda, itu sangat berisiko—"

​"Lakukan!" potong Zayn. "Aaliyah, kau akan ikut denganku. Kita akan menghadapi mereka bersama. Tanpa topeng, tanpa rasa takut."

​Aaliyah menatap Zayn dengan tatapan yang bercampur antara ketakutan dan kekaguman. Di tengah badai fitnah yang kembali datang, pria ini tetap berdiri kokoh seperti karang yang tak tergoyahkan.

​(Batin Aaliyah menjerit: Ya Allah... haruskah hamba melangkah keluar bersamanya? Apakah ini saatnya hamba menunjukkan pada dunia bahwa Aaliyah Humaira tidak akan lagi tunduk pada fitnah? Zayn... keberanianmu menular padaku. Jika kau bersedia hancur bersamaku, maka aku akan bersedia bangkit bersamamu. Bismillah... biarlah kebenaran yang bicara.)

​Di lobi rumah sakit, suasana semakin riuh. Kilatan lampu kamera sudah bersiap menyambut mangsa mereka. Namun, mereka tidak tahu bahwa yang akan keluar dari lift bukanlah mangsa yang ketakutan, melainkan sepasang pejuang yang siap membakar habis setiap kebohongan yang ada.

​Di sudut ruangan, pria berjas abu-abu tersenyum licik. "Bagus, Zayn. Keluarlah. Masuklah ke dalam jebakanku. Aku sudah menyiapkan saksi palsu yang akan mengatakan bahwa kalian sudah tinggal satu atap sejak di Singapura."

​Perang narasi ini baru saja memasuki babak yang paling emosional dan mematikan.

1
Erni Yustriyanti
Keren bgt
Sri Jumiati
cobaan berat bertubi tubi .terus menerus.kasihan Aaliyah
Rita Rita
AQ jadi kepikiran presiden RI,,, apakah pak Bowo Thor 🤔 novel mu Thor bikin tegangan tinggi
Misterios_Man: diem diem aja kak, jangan bilang-bilang /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!