NovelToon NovelToon
Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Kaya Raya / Romantis / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah dari London dan mata di balik jemari

Suasana apartemen yang tadinya bising oleh geng cegil perlahan mulai tenang setelah Arden "mengusir" mereka secara halus dengan memesankan taksi luxury untuk masing-masing. Kini, hanya tersisa Arden dan Violet di tengah ruang tamu yang masih menyisakan beberapa balon ungu yang tersangkut di lampu gantung.

"Violet, sini," panggil Arden. Ia duduk di meja kerja kayu ek miliknya, memegang sebuah kotak beludru hitam kecil yang tampak sangat mahal.

Violet mendekat dengan mata berbinar. "Wah, apa ini? Tuan Bos mau melamar ulang pakai cara romantis ala film Inggris?"

Arden tidak membalas candaannya. Ia membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah cincin platinum dengan desain minimalis namun elegan, dihiasi sebuah batu amethyst ungu tua yang dikelilingi berlian kecil.

"Ini dibuat oleh pengrajin perhiasan langganan keluarga saya di Hatton Garden, London," ucap Arden sambil meraih jemari Violet. "Cantik, tapi itu bukan fungsi utamanya."

Violet merasakan sensasi dingin saat Arden menyematkan cincin itu di jari manisnya. "Maksudnya? Ini cincin ajaib kayak di film fantasi?"

"Hampir," jawab Arden dengan suara rendah dan serius. "Di balik batu ungu ini, ada micro-chip pelacak GPS dan sensor detak jantung. Jika kamu dalam bahaya atau detak jantungmu meningkat drastis karena panik, asisten keamananku dan ponselku akan menerima sinyal darurat secara otomatis."

Violet tertegun. Ia menatap cincin itu, lalu menatap Arden. Ada rasa haru yang menyeruak di dadanya. "Tuan... Tuan sejauh itu mikirin keamanan aku?"

Arden memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan rona tipis di pipinya. "Aku tidak ingin investasiku—maksudku, calon pendampingku—hilang begitu saja karena kecerobohan. Di London, aku belajar bahwa proteksi adalah bentuk perhatian paling logis."

"Bilang aja Tuan takut kehilangan aku," goda Violet, meski matanya mulai berkaca-kaca. Ia tiba-tiba memeluk leher Arden dari belakang. "Makasih ya, Kulkas London-ku."

Langkah Catur Arden

Arden tidak hanya diam. Sebagai pria yang terlatih berpikir strategis, ia tahu pertahanan terbaik adalah menyerang. Sambil tetap memeluk Violet dengan satu tangan, tangan lainnya diam-diam mengetik pesan singkat kepada Danantya.

"Danan, siapkan tim. Kita gunakan data GPS dari ponsel yang mengirim teror semalam. Aku ingin Arjuna ditemukan sebelum fajar. Jangan melibatkan polisi dulu, aku ingin bicara 'pribadi' dengannya."

Di Sisi Lain: Arjuna yang Terdesak

Di sebuah gudang tua di pinggiran Jakarta, Arjuna sedang menatap tumpukan foto Violet dan Arden di apartemen. Ia tampak kacau, matanya cekung, dan di sekitarnya berserakan botol minuman keras.

"Lo pikir dengan cincin atau pengawal lo bisa menang, Arden?" racun Arjuna meracau sendiri. "Gue tahu kelemahan Violet. Dia itu lembut di dalam. Kalau gue nggak bisa milikin dia, maka nggak boleh ada satu pun orang yang bisa bangga memilikinya."

Arjuna mengambil sebuah korek api dan mulai membakar salah satu foto pertunangan Arden dan Violet yang ia cetak dari media sosial. Api kecil itu mulai merambat, melambangkan dendamnya yang sudah mencapai titik didih.

Malam yang Larut

Arden akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Namun, saat ia hendak menuju kamarnya, ia melihat Violet tertidur pulas di sofa, masih mengenakan cincin barunya.

Arden mendekat, menyelimuti Violet dengan jas kerjanya sendiri. Ia berlutut di samping sofa, menatap wajah tidur Violet yang tampak begitu tenang—sangat berbeda dengan sosok berisik yang selalu membuatnya sakit kepala.

"Kamu adalah kekacauan paling indah yang pernah masuk ke hidupku yang membosankan ini, Violet," bisik Arden sangat pelan, hampir menyerupai hembusan angin.

Ia kemudian mengecup kening Violet sekilas—sebuah kecupan yang sangat lembut, penuh dengan janji perlindungan yang tidak akan pernah ia ucapkan dengan kata-kata.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!