Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 21.
Ruangan Kikan terasa semakin dingin.
Namun setelah semuanya terbongkar, Shanaz malah tiba-tiba tertawa. Tawanya terdengar aneh, antara pasrah dan seperti orang yang sudah kehilangan kendali.
Wanita itu lalu menatap Leya, tatapannya penuh permusuhan dan kebencian.
Kaisar yang tadinya berdiri di belakang, seketika melangkah ke depan Leya dan berdiri di hadapan wanita itu untuk melindunginya.
“Shanaz, kenapa kau melakukannya?“ tanya Kikan.
“Sederhana saja," kata Shanaz sambil menunjuk Leya dengan dagunya, senyumnya tampak tajam dipenuhi kebencian. “Aku benci dia!"
“Shanaz—" Arkana mencoba menghentikan wanita itu.
“Tutup mulutmu!" bentak Shanaz, ia menoleh ke arah Arkana. Matanya penuh kekecewaan dan kemarahan. "Kau yang memulai semuanya, Mas. Kau yang terus menggodaku setiap kali kita tugas penerbangan bersama. Setelah landing, kau juga yang selalu tinggal di kamar hotel yang sama denganku.“
“DIAM...!" potong Arkana.
“Kau yang diam!" Shanaz membalas tajam, "Kau tidur denganku, bercumbu denganku... dan terus mengatakan kalau kau akan segera menikahiku. Kau juga sering bilang, istrimu jelek dan tak bisa memuaskanmu!"
Dada Shanaz naik turun, jelas emosinya sedang tak stabil. “Kau selalu memujiku, Mas. Katamu... aku yang terbaik. Tapi sekarang? Kau bilang hubungan kita harus berakhir! Kau malah membuangku begitu saja karena kau ingin kembali padanya!“
Tatapan Shanaz kembali menatap ke arah Leya, ruangan semakin panas. Shanaz kembali menatap Arkana, bibirnya menyeringai dingin. “Jadi aku pikir... kalau aku nggak bisa memilikimu, setidaknya aku harus menghancurkan semuanya. Kau, aku, dan dia.“
Tak ada yang bicara, beberapa detik itu terasa sangat panjang.
Kikan menutup tabletnya, ekspresinya dingin.
"Cukup!" Ia berdiri, menatap Shanaz. “Kita akan bahas ini secara resmi. Karena yang kau lakukan bukan sekadar menyebarkan fitnah. Kamu juga menyabotase reputasi maskapai. Perbuatanmu, bisa masuk ranah pidana. Pencemaran nama baik dibawah UU ITE.“
Kikan hendak melanjutkan ucapannya, tetapi tiba-tiba ketukan di pintu.
“Masuk," kata Kikan singkat.
Pintu terbuka, dua orang pria masuk ke dalam ruangan. Yang pertama adalah pria berjas hitam, salah satu orang kepercayaan Kaisar. Yang kedua pria berusia sekitar tiga puluh tahunan dengan jas dokternya.
Begitu melihat pria dengan jas dokter, wajah Arkana sontak berubah. Matanya melebar, pria itu adalah Dokter Tama. Perasaan Arkana seketika tak enak.
Pria berjas hitam berjalan ke arah depan, lalu meletakkan sebuah map di atas meja Kikan.
“Maaf, Nona Kikan. Saya membawa sesuatu, silahkan cek sebelum Anda mengambil keputusan perihal Kapten Arkana dan pramugari Shanaz.“
Kikan menatap map itu, lalu melirik Kaisar. Ia mengenal pria yang memberikan map padanya, orang itu adalah orang kepercayaan sang kakak. Ia membuka map dan membaca satu persatu dokumen laporan di dalamnya. Ada beberapa lembar hasil laboratorium, laporan internal, dan rekaman transaksi.
Beberapa waktu berlalu, semua orang menunggu.
Leya mengerenyit karena penasaran, sementara Kaisar tampak tenang karena sudah tau isi map itu. Dia lah yang memerintahkan orang kepercayaannya itu memberikan hasil penyelidikan terhadap Arkana pada adiknya.
Lalu... Arkana? Tubuhnya mulai berkeringat dingin, tatapannya sesekali melirik Dokter Tama. Dokter itu berdiri kaku, dan tak berani menatap ke arah Arkana.
Akhirnya Kikan menutup map itu, ia mengangkat kepalanya dan tatapan tajamnya langsung mengarah pada Arkana.
“Kapten Arkana.“ Kikan mengetuk pelan map itu dengan jarinya. “Disini... ada bukti bahwa hasil tes kesehatan Kapten Kataleya saat di akademi pernah dimanipulasi.“
Leya terkejut, "Dimanipulasi?"
“Hasil laboratorium menunjukkan adanya indikasi gangguan kesehatan pada tes darah yang sebenarnya tidak ada.“ Lanjut Kikan.
Leya terpaku, ia mengingat kejadiannya. Saat itu ia hampir gagal dalam pemeriksaan kesehatan, tapi kemudian hasilnya dinyatakan normal setelah pemeriksaan ulang.
Kikan membuka satu salah satu lembar. “Ada dua dokter di akademi saat pemeriksaan kesehatan pada trainee. Disini yang dilaporkan hanya Dokter Tama, kesimpulannya..."
Semua orang menoleh ke arah Dokter Tama, pria itu terlihat gugup.
“Dan menurut laporan disini... Dokter Tama menerima sejumlah uang dari Kapten Arkana."
Suhu di ruangan semakin terasa berat.
Kikan masih bicara, dia menatap Arkana. “Kapten Arkana, disini terbukti... Anda telah menyuap Dokter Tama untuk mengubah hasil lab kesehatan Kapten Kataleya. Dokter Tama juga bersedia menjadi saksi. Sekarang, apa yang ingin Anda katakan?"
Wajah Arkana yang tadi sudah tegang karena Shanaz, kini berubah pucat. Ia benar-benar terlihat panik. “I-ini... tidak seperti yang terlihat."
Arkana menoleh ke Dokter Tama. “Dokter... Anda tahu ini bukan—“
"Saya memang dibayar oleh Anda.“ Dokter Tama memotong ucapan Arkana.
Arkana menatap tak percaya. “Kau—“
Dokter Tama menundukkan wajahnya. “Waktu itu, Kapten Arkana meminta saya mengubah hasil sementara. Saya diberi uang agar laporan awal terlihat buruk."
“Kau ingin aku gagal kesehatan?!" Leya bicara pada Arkana dengan pandangan penuh kebencian.
Pria itu menggeleng keras. "Enggak, Leya! Bukan begitu."
"Lalu apa?"
Arkana terlihat semakin panik. "Aku hanya... aku hanya ingin memberi pelajaran padamu, kalau tak semudah itu masuk kembali ke dunia penerbangan.“
“Hanya memberi pelajaran, katamu?" Kaisar mencibir, “Kau masih saja berbohong! Jelas-jelas kau melakukannya untuk menghancurkan mental Leya waktu itu! Kau ingin dia menyerah dan gagal jadi kapten pilot!"
Leya menatap Arkana dengan dingin. “Kaisar benar, kau memang ingin menghancurkan karierku lagi seperti dulu.“
"Tidak!“ Arkana kembali menggeleng. “Aku hanya ingin kau—"
“CUKUP!" suara Kikan memotong perkataan Arkana dengan keras, ekspresinya berubah dingin. Ia merasa kasihan pada Leya yang pernah hidup bersama pria brengsek seperti Arkana.
Kikan masih menatap Arkana dengan dingin. “Kapten Arkana, masalah Anda sekarang bukan hanya konflik pribadi. Ini semua manipulasi data, dan tindak kriminal. Dan itu, pelanggaran serius disini!"
Kemudian Kikan melanjutkan. “Fitnah, pelanggaran ITE dan penyebaran foto internal, manipulasi hasil kesehatan. Semuanya terjadi disini, dan masalah ini akan segera kami proses secara resmi! Dan saya sarankan pada Anda, Kapten Arkana... mulai siapkan pembelaan yang bagus untuk sidang kode etik nanti.“
Tubuh Arkana limbung beberapa langkah ke belakang. Wajahnya pucat, seolah semua kekuatannya runtuh dalam sekejap. Sementara Shanaz, tiba-tiba meringis keras sambil memegangi perutnya. Wajahnya berubah pucat.
“Ah—!" Tubuhnya gemetar hebat, sesaat kemudian darah mengalir dari kedua kakinya.
Mata Shanaz membelalak, ia menjerit panik. “Argh! Mas! Anak kita—!"
Pagi tadi Shanaz baru saja melakukan tes kehamilan, ia ingin menyampaikan kabar itu pada Arkana. Namun sebelum bisa mengatakannya, semua berubah menjadi kekacauan seperti sekarang.
biasa ny kn benci jd berubah jd cinta ,,
eeeits tp anda bukan tokoh utama dsni ,, mending kerja aj yg professional yx rafii ,, jgn menghancurkn apa yg sudh km miliki skrang ,, jgn kaya si arkana2 tu ,, 😒😒😒😒
perlu berendam di kawah gunung merapi ni shanaz biar otak ny rileks🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣