NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:59.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Dulu ia bersembunyi di balik masker karena dihina, kini ia berdiri di puncak dunia karena luka."

​Karline Dharmawijaya memulai segalanya sebagai gadis SMA yang pemalu dan selalu menyembunyikan wajah di balik masker. Ia menjadi sasaran empuk keangkuhan Dean, cowok populer yang menghinanya sebagai "kasta terendah" sebelum akhirnya terobsesi saat melihat kecantikan asli Karline.
​Namun, cinta masa SMA itu hanyalah racun yang berujung pengkhianatan pahit.
​Kini, Karline bukan lagi gadis lemah itu. Ia melarikan diri ke Paris, bertransformasi menjadi calon chef profesional yang dingin dan tak tersentuh. Di Le Cordon Bleu, ia harus bertarung melawan sabotase rekan kampus dan ujian mematikan dari koki legendaris untuk membersihkan nama besar ayahnya. Di saat ia hampir mencapai mimpinya, Dean kembali muncul dengan sejuta penyesalan di tengah hidupnya yang mulai hancur.

​Akankah Karline kembali pada luka lamanya, atau terus melangkah menuju masa depan yang jauh lebih bersinar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Tembok Tinggi di Kelas Sebelas

Pagi berikutnya, suasana di depan gerbang SMA Garuda Kencana terasa berbeda. Rio datang bersama motor besarnya, namun kali ini ia tidak langsung memarkirkan kendaraannya di tempat biasa. Matanya mencari sosok gadis kecil yang biasanya berangkat menggunakan angkutan umum. Saat ia melihat Sarah turun dari ojek di kejauhan, Rio sempat ragu untuk mendekat. Namun, bayangan Karline yang memarahinya habis-habisan di rumah kemarin sore terus membayangi pikirannya.

​Saat Sarah berjalan melewati parkiran dengan wajah yang masih sedikit pucat sisa demam kemarin, Rio mencoba memanggilnya.

​"Sar," panggil Rio pelan.

​Sarah tersentak. Ia menoleh dengan tatapan takut, seolah-olah ia sedang menunggu kakaknya akan membentaknya karena insiden Karline menjenguk ke rumah. "I..iya, Rio?"

​Rio berdehem, mencoba menetralkan kegugupannya di depan teman-temannya yang mulai memperhatikan. "Nanti... kalau mau pulang, bareng gue aja."

​Sarah tertegun. Bukannya senang, ia justru merasa bingung dan curiga. Namun, belum sempat Sarah menjawab, Karline sudah muncul dari balik mobilnya yang baru saja terparkir. Ia melangkah dengan anggun, mengenakan kacamata hitam yang membuatnya tampak sangat berkelas.

​"Tidak usah berpura-pura, Rio," ucap Karline ketus saat ia berdiri di samping Sarah. "Jangan mendadak peduli padanya di sekolah hanya karena kamu malu dilihat orang lain. Jika di rumah saja kamu tidak memedulikannya saat dia menggigil kedinginan, tidak perlu berakting jadi abang yang baik di sini. Itu terlihat sangat palsu."

​Rio terdiam membisu. Ia ingin membela diri, tapi lidahnya kelu. Karline benar-benar tahu titik terlemahnya sekarang. Tanpa memedulikan Rio lagi, Karline merangkul bahu Sarah dan membawanya masuk ke dalam gedung sekolah.

​"Ayo, Sar. Jangan biarkan orang asing mengganggu pagi kita," sindir Karline telak.

​Di jam istirahat pertama, Dean tampak tidak tenang di ruang OSIS yang kini sudah bukan lagi kekuasaannya. Ia berkali-kali membuka dan menutup ponselnya. Ia ingin menghubungi Karline, tapi ia sadar ia bahkan tidak memiliki nomor telepon gadis itu. Satu-satunya cara adalah mencarinya melalui jalur internal.

​Dean melangkah menuju kelas XI-IPA 2. Saat ia sampai di depan pintu kelas, langkahnya terhenti. Seluruh siswa yang tadinya sedang asyik mengobrol langsung terdiam. Mereka menatap Dean dengan tatapan bermusuhan yang sangat nyata. Jika di kelas lain Dean dipuja-puja sebagai dewa voli, di kelas ini ia tak lebih dari sekadar pengganggu.

​"Ada apa lagi, Kak?" tanya Bimo yang sedang duduk di atas meja dekat pintu. Suaranya tidak ramah sedikit pun.

​"Gue mau cari Andi," jawab Dean sesingkat mungkin.

​Andi, sang ketua kelas, yang sedang mencatat sesuatu di papan tulis, menoleh perlahan. Ia meletakkan spidolnya dan berjalan mendekati Dean dengan wajah datar. "Ada perlu apa, Kak Dean?"

​Dean berdehem, mencoba menurunkan egonya sedikit. "Gue... gue mau minta nomor telepon Karline. Ada urusan penting soal... lomba Kimia kemarin."

​Andi menatap Dean dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menyunggingkan senyum sinis yang membuat Dean merasa sangat kecil.

​"Itu bukan urusanku, Kak," sahut Andi dingin. "Kami di kelas ini sudah sepakat untuk melindungi privasi Karline, terutama dari orang-orang yang pernah menyakitinya. Kalau Kakak merasa punya urusan penting, minta saja langsung padanya. Itu kalau Kakak punya keberanian untuk bicara di depan wajahnya."

​Dean gelagapan. Ia merasa seolah-olah sedang berdiri di depan tembok tinggi yang tidak bisa dipanjat. "Gue cuma butuh nomornya, Andi. Gue nggak bakal macam-macam."

​"Maaf, Kak. Jawabanku tetap tidak," Andi menegaskan posisinya. "Satu hal yang perlu Kakak tahu; di sekolah ini mungkin ribuan orang memuji Kakak, tapi bagi satu kelas ini, Kakak hanyalah pria yang tidak punya hati nurani. Kami lebih menghargai Karline daripada reputasi Kakak."

​Beberapa siswa di dalam kelas mulai bersorak pelan, mendukung ucapan ketua kelas mereka. Dean merasakan telinganya memanas. Ia tidak pernah merasa sehina ini sebelumnya. Ia melihat ke arah meja Karline di pojok belakang. Gadis itu sedang asyik tertawa dengan Sarah dan Widia, sama sekali tidak menoleh ke arah pintu seolah kehadiran Dean hanyalah debu yang tidak terlihat.

​Dean akhirnya memutar tubuhnya dan pergi dari sana dengan langkah cepat. Raka dan Rio yang menunggunya di koridor langsung mendekat.

​"Gimana? Dapet?" tanya Raka penasaran.

​Dean menggeleng gusar. "Kelas itu gila. Mereka semua kayak pengawal pribadinya Karline. Andi bahkan berani nolak permintaan gue mentah-mentah."

​Rio menunduk. Ia bisa merasakan atmosfer yang sama. Sejak Karline melabraknya kemarin, ia merasa status "keren" yang ia miliki perlahan runtuh. Ia merasa tidak lagi punya hak untuk sombong.

​"Gue rasa Karline bener, Dean," ucap Rio tiba-tiba, suaranya terdengar sangat parau. "Kita emang bajingan. Gue liat Sarah tadi... dia beneran takut sama gue. Bukan hormat, tapi takut. Dan itu sakit banget rasanya."

​Dean tidak menjawab. Ia menatap ke arah lapangan sekolah yang luas. Ia baru sadar bahwa kekuasaan dan popularitas ternyata sangat rapuh di hadapan kejujuran dan keberanian seorang gadis seperti Karline. Di saat semua orang memujinya, penolakan dari satu kelas kecil itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kekalahan di pertandingan mana pun.

​Karline telah berhasil melakukan sesuatu yang lebih hebat daripada sekadar membalas dendam; ia berhasil membangun sebuah benteng kesetiaan yang tak tergoyahkan, sementara Dean hanya memiliki sisa-sisa kesombongan yang mulai retak.

1
brawijaya Viloid
jadi tertarik sm david 🤭
Anonim
makin seru ni
Anonim
mantap bgt ceritanya g bisa ditebak! 😍
Rita Rita
maka nya De jadi orang itu punya batasan, percaya diri itu penting tapi jangan ego dan gede rasa di gedein. kan nyungsep juga akhirnya diri mu De,,, karline juga butuh perhatian,,
Anonim
kelanjutannya gimana 🥲
Anonim
jadinya sama" melupakan diri 🥲
Anonim
lanjut 😎
Qaisaa Nazarudin
Kompliknya terlalu Rumit dan Bertele-tele..
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani: Halo kak, salam kenal. Aku penulis novel baru di NT berjudul "Chef Do". Kalau tertarik boleh mampir ya kak, kasih saran utk penulis novel nuansa Korsel baru seperti aku 👩🏻‍🍳makasih kak🙏
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Alaahhh yang ada hujung2 nya pasti kamu akan LULUH lagi dengan DRAMA PENYESALAN DAN KATA MAAF..KAMU KAN EMANG OGEB BIN BODOH DARI DULU..
Qaisaa Nazarudin
Nah itu aku SETUJU..
Qaisaa Nazarudin
BUKAN CINTA DARI DULU ITU CUMAN RASA KEKAGUMAN SESAAT DAN OBSESI DOANG YA..INGAT CINTA DAN OBSESI ITU BEDA TIPIS..
Qaisaa Nazarudin
Dari awal juga aku gak suka Karline bisa CEPAT Luluh setelah perlakuan Dean,Rio dan Raka dulu ke Karline saat SMA,Karline aja yg Bego kebangetan,Rasain tuh..
Qaisaa Nazarudin
Nah kan,untung aja aku baca ya loncat2 ,Sesuai dugaan ku Karline bukan bukanlah cewek idola ku, peran MC Cewek nya yg gak sesuai harapan..
Qaisaa Nazarudin
Dasar Karline aja yang Ogeb,Sudah dihina2 jadi simpanan om om oleh Dean,dituduh macam2 oleh Dean, Rio dan Raka, Tapi hanya dengan kata MAAF dan PENYESALAN langsung aja Luluh,Ku pikir Alur nya akan putar arah dari novel2 yg lain yg udah pernah ku baca,Eh ternyata sama aja.. Setelah baca sinopsis ku fikir gak segitunya cacian dan hinaan dari Peran utama cowoknya makanya aku langsung tertarik untuk bacanya.. Tapi setelah baca aku langsung kecewa karena PERAN Cewek nya yg awal2 Tangguh dan bisa melawan dari segala arah,tiba2 langsung MELEMPEM dan seakan2 gak bisa apa2 kalau gak ada Dean.Kecewa deh gak sesuai Ekspektasi..🙏🙏
Ra H Fadillah: Terima kasih atas kritik dan masukannya, Kak 🙏
Ikuti terus ceritanya ya, karena perjalanan Karline masih panjang dan belum semuanya terungkap 😊
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Ckk di gombalin dikit aja udah luluh 🙄🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Apaan nih si nenek??
Qaisaa Nazarudin
Satu kata SKAKMATT buat si PECUNDANG..🫵🫵🫵👎👎👎👎
Qaisaa Nazarudin
Aelah gesit BANGET dari kemaren gak ada habis2 nya minta maaf,Karena apa?? Karena Karline itu CANTIK,PINTER, Coba kalau identintas nya belum kebuka,apa Dean akan segesit itu utk minta maaf?? 🙄🙄😏😏
Qaisaa Nazarudin
Jangan bilang ntar Ortu nya Dean punya pikiran buat JODOHIN mereka,Maka disitu Dean MENANG tanpa BERJUANG .
Qaisaa Nazarudin
Nah kan ku bilang juga apa?? Mulai deh bau2 sang. Outhor bikin mereka makin deket..😌😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!