Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: AMUKAN NAGA TANPA PEDANG
Hutan itu sunyi.
Namun bukan sunyi yang damai membawa ketenangan jiwa—
Melainkan sunyi mencekam yang menjadi pertanda tibanya malaikat maut.
Daun-daun kering berguguran satu per satu, melayang pelan menyentuh tanah yang seolah haus akan siraman darah.
Angin berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menusuk sumsum tulang.
Namun aura di tempat itu terasa begitu berat.
Menekan dada hingga sesak, seolah-olah langit di atas hutan itu sedang merendah untuk menghimpit raga.
Rangga Nata berdiri tegak di tengah sebuah tanah lapang kecil yang tersembunyi di jantung hutan.
Kakinya terbuka selebar bahu, mengakar kuat ke pusat bumi.
Tangannya menggantung santai di sisi tubuh, tampak tak bertenaga namun menyimpan ledakan dahsyat.
Namun matanya—
Dingin sedingin es di puncak Kerinci.
Tajam bagaikan mata elang yang tengah mengunci mangsa di antara semak belukar.
Di hadapannya—
Puluhan perampok Hutan Angker telah mengepung rapat dengan formasi lingkaran maut.
Senjata-senjata tajam terhunus, memantulkan sisa cahaya matahari yang menembus celah rimbunnya dedaunan.
Tatapan mereka buas, penuh nafsu membunuh yang meluap-luap.
Rudra Kala berdiri paling depan dengan angkuh.
Ia menyeringai lebar, memperlihatkan wajahnya yang penuh bekas luka parang.
“Kenapa berhenti, bocah?” ejeknya dengan suara parau yang memuakkan.
Rangga tidak menjawab.
Ia tetap berdiri bagaikan patung batu yang tak goyah oleh badai.
Rudra Kala melangkah maju, setiap pijakannya menghancurkan ranting kering di bawah kakinya.
Suaranya membahana menggetarkan nyali.
“Cabut pedangmu, Rangga Nata!”
Ia mengangkat golok besarnya yang hitam legam.
“Biar kami puas!”
Beberapa anak buahnya tertawa mengejek, suaranya riuh rendah di antara pepohonan.
“Jangan sampai kami kecewa membunuh musuh tak bersenjata!”
Sunyi sesaat.
Hanya desau angin yang berbisik di antara daun-daun tua.
Rangga mengangkat wajahnya perlahan, menatap tepat ke arah manik mata Rudra Kala.
Tatapannya menembus hingga ke dalam suksma.
“Cobalah…”
Suaranya tenang, datar, namun menggetarkan udara.
Namun dingin.
“…saat aku tidak menghunus pedang.”
Rudra Kala menyipitkan mata, merasa harga dirinya dipermainkan oleh seorang pemuda kemarin sore.
“Jika pedang ini terhunus…”
Rangga melanjutkan bicaranya dengan nada yang lebih dalam.
Tangannya bergerak lambat menyentuh gagang Pedang Naga Emas Seribu Langit yang tersampir di punggungnya—
Namun ia belum mencabutnya sedikit pun.
“…berarti nyawa kalian harus minggat.”
Sunyi mencekam kembali meraja.
Lalu—
“APA?!”
Salah satu perampok berseru dengan nada tak percaya.
“Pedang Naga Emas Seribu Langit?!” gumam mereka dengan bibir gemetar.
“Bohong!” bentak yang lain dengan suara parau.
“Itu pusaka yang sudah hilang puluhan tahun!”
“Jangan coba membodohi kami, Rangga Nata!” teriak yang lain, mencoba mengusir rasa takut yang mulai merayap di hati mereka.
Rangga tersenyum tipis.
Sebuah senyuman misterius yang mengandung firasat maut.
“Aku tidak menggertak.”
Ia menatap satu per satu wajah para penjagal itu dengan pandangan yang membuat darah mereka terasa membeku.
“Cobalah dulu…”
“…apa kalian sanggup memenggal kepalaku yang tidak memakai pedang?”
Sunyi sejenak.
Hanya detak jantung para perampok yang terdengar kian kencang.
Lalu—
“BANGSAT!!!”
Rudra Kala mengaum bagaikan harimau yang terluka.
“CINCANG DIA!!!”
WUSSS!!!
Puluhan perampok melesat maju bersamaan bagaikan bendungan yang jebol!
Golok!
Pedang!
Pisau!
Semua mengarah dengan kecepatan kilat—
Ke satu titik!
Rangga.
Namun—
Ia tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berpijak.
Tidak menghindar meski hanya satu inci.
Tidak pula menangkis dengan tangan.
Ia hanya berdiri.
Perlahan—
Cahaya keemasan yang murni dan menyilaukan muncul dari dalam tubuhnya.
Berrrr…!!!
Udara di sekitar Rangga bergetar hebat seolah diguncang gempa.
Cahaya itu membesar dengan sangat cepat!
Membentuk lapisan pelindung transparan bagaikan lonceng raksasa yang menyelimuti tubuhnya!
“APA ITU?!”
teriak salah satu perampok yang sudah berada sangat dekat.
“Perisai tenaga dalam?!” jerit yang lain dengan mata membelalak.
Rangga membuka matanya, dan sepasang matanya kini memancarkan sinar keemasan yang redup namun berwibawa.
“Perisai Lonceng Naga…”
Suaranya dalam dan berat.
Bergetar.
“Tingkat…”
Ia menarik napas panjang, memusatkan seluruh energi suksmanya.
“…DELAPAN BELAS.”
DUARRR!!!
Suara benturan dahsyat meledak saat puluhan senjata menghantam tubuhnya secara bersamaan!
Namun—
TRANG! TRANG! TRANG!
Suara denting logam beradu dengan tenaga dalam murni memenuhi hutan.
Semua terpental!
Seperti menghantam baja langit!
“AAAKH!!!”
Beberapa perampok justru terpental mundur dengan hebat!
Pergelangan tangan mereka bergetar hebat, tulang-tulangnya retak akibat pantulan tenaga mereka sendiri!
“Tidak mungkin!!!”
“Senjata kita tidak mempan?!”
Rudra Kala mengerutkan dahi, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Matanya membesar melihat keajaiban yang mustahil ini.
“Ilmu apa ini…?!”
Rangga masih berdiri.
Tidak bergeming sedikit pun meski dikeroyok puluhan senjata tajam.
“Sekarang…”
Suaranya berubah.
Lebih dalam.
Lebih berat.
“…giliranku.”
WUSSS!!!
Tubuh Rangga seolah menghilang dari pandangan mata manusia biasa!
“Awas!!!”
teriak seseorang memperingatkan dengan nada panik.
Terlambat.
BRAKK!!!
Rangga muncul secara tiba-tiba di tengah-tengah mereka!
Tanpa pedang!
Tangannya membentuk cakar yang mengerikan dengan aliran hawa murni yang tajam.
“Cakar Naga…”
Sret!
Gerakannya cepat!
“…Membelah Batu!”
DUARRR!!!
Satu tebasan tangan kosong mengandung tenaga dalam dahsyat—
Menghantam dada seorang perampok!
“AAAKHH!!!”
Tubuh itu terlempar sejauh tiga tombak!
Menghantam pohon!
Batang pohon retak!
“Apa?!”
“Dia hanya pakai tangan kosong?!”
Belum selesai keterkejutan mereka—
WUTTT!!!
Rangga berputar dengan gerakan yang sangat lincah.
Sret! Sret!
Dua gerakan cepat!
“AAARGH!!!”
Dua perampok kembali terpental dengan tubuh lemas!
Dada mereka seperti dihantam palu raksasa!
“Ilmu cakar?!”
“Ini bukan ilmu biasa!”
Rudra Kala menggeram dengan kemarahan yang meluap-luap.
“Serang dari segala arah!”
“Jangan beri dia ruang!”
WUSSS!!!
Mereka menyerang kembali dengan lebih brutal!
Kali ini lebih liar, menyerang membabi buta dari segala penjuru!
Namun—
Rangga melangkah ringan.
Seperti bayangan yang menari di antara sabetan senjata.
Serangan demi serangan—
Meleset!
Sret!
Tangannya menyambar dengan presisi yang mengerikan!
Menghantam pergelangan tangan lawan!
“AAKHH!!!”
Senjata terlepas!
DUG!!!
Satu pukulan ke perut!
Tubuh itu terlipat menahan sakit!
Terpental!
“Cepat sekali!!!”
“Dia seperti… hantu!!!”
Rangga terus bergerak menembus barisan lawan.
Tanpa henti sedikit pun.
Setiap langkah—
Menjatuhkan satu lawan ke tanah.
Setiap gerakan—
Menghancurkan satu tubuh.
Tanah mulai dipenuhi tubuh bergelimpangan tak berdaya.
Darah mengalir membasahi akar-akar pohon.
Jeritan memenuhi hutan.
Rudra Kala menggertakkan giginya hingga berdarah.
“CUKUP!!!”
Ia melesat maju dengan seluruh sisa tenaga dalamnya!
WUSSS!!!
Golok besarnya berputar membentuk pusaran angin yang tajam.
“RUDRA MEMBELAH LANGIT!!!”
DUARRR!!!
Serangan itu mengandung tenaga dalam besar!
Udara bergetar!
Namun—
Rangga tidak mundur.
Ia mengangkat tangan—
Dan—
BRAKK!!!
Menahan golok itu—
Dengan tangan kosong!
“APA?!”
Rudra Kala membelalak, wajahnya menunjukkan ketakutan yang paling dalam.
“Tidak mungkin!!!”
Rangga menatapnya dingin.
“Tenaga dalam tingkat ini…”
Ia menekan perlahan telapak tangannya ke mata golok yang tajam.
“…tidak cukup.”
KRAKK!!!
Golok itu retak dan pecah berkeping-keping!
“AAARGH!!!”
Rudra Kala terpental hebat akibat pantulan tenaganya sendiri!
Ia berguling di tanah yang kotor dengan napas tersengal!
Matanya penuh ketakutan!
“Monster…”
bisiknya dengan bibir yang bergetar.
Rangga melangkah mendekat secara perlahan.
Pelan.
Namun pasti.
“Masih mau mencoba?”
Rudra Kala bangkit berdiri dengan susah payah.
Gemetar.
Namun kesombongannya—
Belum hilang.
“Jangan sombong!!!”
Ia mengaum sekuat tenaga, mencoba menepis rasa takutnya.
“Semua serang bersama!!!”
Sisa perampok yang masih sanggup berdiri—
Maju dengan nekat!
Namun—
Rangga menarik napas panjang, mengumpulkan energi alam.
Aura di sekitarnya berubah.
Lebih dalam.
Lebih mengerikan.
“Kalau begitu…”
Ia mengangkat tangannya yang mulai bercahaya keperakan.
“…jangan salahkan aku.”
WUSSS!!!
Ia melesat lebih cepat dari sebelumnya!
Lebih buas!
Lebih mematikan!
“Cakar Naga Membelah Batu—Tingkat Kedua!!!”
DUARRR!!!
Tanah retak berkeping-keping!
Tiga perampok terlempar sekaligus!
“AAAKHH!!!”
Sret! Sret! Sret!
Gerakan beruntun dilakukan tanpa jeda sedikit pun!
Tubuh-tubuh berjatuhan bagaikan daun kering diterjang badai!
Jeritan menggema membelah angkasa hutan!
Tak sampai seperempat waktu dupa—
Semua perampok Hutan Angker—
Telah roboh.
Hanya satu yang tersisa.
Rudra Kala.
Ia berdiri terengah-engah dengan lutut yang goyah.
Matanya penuh ketakutan melihat seluruh anak buahnya tumbang.
“Bagaimana… mungkin…”
Rangga berdiri di hadapannya.
Tenang.
Namun aura di tubuhnya—
Seperti naga yang baru bangun dari tidur panjang.
“Sekarang…”
Ia menatap Rudra Kala dengan pandangan yang membuat jantung pria itu berdegup kencang.
“Masih ingin aku mencabut pedang?”
Rudra Kala gemetar hebat dari kepala hingga ujung kaki.
Lalu—
Tanpa berkata apa-apa—
Ia berbalik!
LARI!!!
“Lari!!!” teriaknya kalap.
Namun—
WUSSS!!!
Rangga sudah di depannya, seolah membelah ruang.
“Sudah kubilang…”
Suaranya dingin sedingin angin kutub.
“…jangan datang kalau tidak siap mati.”
Tangan Rangga bergerak secepat kilat.
Sret!!!
“AAAKHH!!!”
Rudra Kala terlempar sejauh lima tombak!
Tubuhnya menghantam tanah dengan keras dan tak bergerak lagi.
Sunyi kembali menyergap hutan rimba itu.
Hanya suara angin yang membawa bau darah.
Rangga berdiri di tengah kehancuran itu.
Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan kembali tenaga dalamnya.
“Macan Hitam…”
bisiknya pelan menatap ke arah kejauhan.
“Ini baru permulaan.”
Di kejauhan—
Seekor burung terbang tinggi di antara pepohonan.
Membawa kabar ke penjuru Andalas—
Bahwa seekor naga yang selama ini tertidur…
Telah benar-benar bangkit.
Bersambung… 🔥