NovelToon NovelToon
Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Showbiz
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Bima

Dengan menggunakan mobil Sekar yang kecil – atas dasar rekuest calon ibu negara, aku menjemput Naya dan keluarganya.

Aku berdiri di teras sambil menatap ponsel, membalas ibu, Mas Jarga dan Sekar yang sudah tiba di restoran.

Naya keluar dengan memakai baju muslimah serba putih. Tidak mewah, tapi juga tidak biasa. Cantik.

“Sebentar, papa sama mama masih teleponan sama uwak,” katanya sambil memakai sepatu selop dengan sedikit hak yang membuatnya hampir sama dengan tinggiku.

“Oke,” kataku sambil kembali menatap ponsel. Ada yang ingin aku tanyakan padanya, tapi aku ragu. Apakah sekarang saat yang tepat?

“Kamu udah ngomong sama Mutia?” tanyanya tiba-tiba.

“Hah? Soal?”

“Soal aku yang dibilang pelakor!”

“Oh, itu…,” mati aku, aku belum bilang. Aku kira dia akan lupa.

“Kenapa belum bilang?”

“Aku bingung, bilang apa?”

“Ya bilang, kalau aku nggak suka difitnah begitu! Kalau kamu sama dia itu bukan apa-apa, jadi jangan sebut aku pelakor!” kata Naya dengan tegas.

“Kenapa kayak gini aja jadi ribet sih?” tanyaku jadi ikut kesal.

“Nggak ribet. Simple sebenernya. Kamu tinggal bilang aja sama Mumut itu kalau aku bukan pelakor. Kalau dia harus delete twitternya!”

“X”

“Iyaaa, twiter X apa lah itu!” Naya menghela napas.

“Aku heran yang kayak gini aja jadi masalah. Kamu yang didatengin Alfian, sampai videonya viral, nggak bilang apa-apa?” tanyaku kesal.

“Video apa?”

“Nggak usah pura-pura nggak tau!” kataku sambil menujukkan video yang direkam undangan kliennya kemarin. Ketika Alfian mengajak balikan, tapi lalu Naya menolaknya, teriak dengan kencang.

“Tapi kan aku nggak nerima dia!” kata Naya dengan suara tinggi.

Aku mau membahasnya, tapi papa dan mama keburu keluar dari dalam rumah.

“Lagi pada ngomongin apa? Kok kayaknya serius banget?” tanya Mama.

“Ah, nggak. Ayo, jalan,” Naya jalan duluan ke dalam mobil. Mama mengikuti. Aku bergegas masuk ke kursi supir. Naya sudah memsang sabuk pengaman di sebelahku. Aku melirik Naya. Wajahnya masih kesal, manyun, cemberut, apa lah itu.

Aku mengeluarkan mobil. Papa Naya menutup pagar, lalu masuk ke dalam mobil.

**

Restoran "Oemah Kenangan" malam ini terasa begitu intim dan megah sekaligus. Aku duduk di sisi meja panjang bersama Ibu, Mas Jarga, dan Sekar. Di sampingku, Mas Jarga tampak sibuk mengatur posisi duduk istri dan kedua anaknya yang lincah. Tak jauh dari sana, Celsi baru saja tiba, melambai singkat ke arahku sebelum duduk sendirian dengan anggun. Di seberang meja kami, keluarga besar Naya sudah berkumpul lengkap; Papa, Mama, Uwak, hingga sepupunya yang masih kuliah tampak bercengkerama hangat. Sahabat-sahabat kami—Risa, Shanaz, Bayu, dan Devi—juga sudah hadir, melengkapi formasi siang hari yang penuh makna ini.

Suasana berubah hening saat Mas Jarga bangkit dari kursinya. Ia melangkah tenang menuju sudut ruangan, meraih mikrofon yang telah disiapkan pihak restoran. Cahaya lampu yang sedikit kekuningan menyorotnya, membuat suasana berubah syahdu sekaligus mendebarkan. Aku menahan napas, menatap Mas Jarga yang kini berdiri di pusat perhatian. Jemarinya merapikan kabel mic, sementara matanya menyapu seluruh ruangan, memastikan semua orang sudah siap mendengarkan.

“Saya kakaknya Bima, mewakili keluarga Dewantara, berterima kasih atas semua yang sudah hadir di sini.”ucapnya, suaranya yang berat bergema lembut di ruangan berdekorasi antik tersebut. Detik itu juga, aku tahu bahwa malam ini tidak akan berakhir seperti acara makan malam biasa. Di antara jajaran furnitur kayu ukiran tangan dan piring-piring keramik kuno di dinding, sebuah bab baru dalam hidup kami baru saja dimulai.

“Izinkan saya sedikit bercerita, apa yang menjadi latar pertemuan kedua keluarga kita ini.”

Semua mendengarkan dengan seksama.

“Suatu hari, Bima, adik saya, yang super sibuk ini, tiba-tiba bilang sama saya, Mas saya mau nikah. Saya kaget! Sama siapa?” Mas Jarga menatapku. “Sama Naya, seorang perempuan yang saya baru kenal. Dia kira saya bakalan marah, masa baru kenal udah diajak nikah. Tapi salah! Saya justru langsung, alhamdulillaaaah!”

Semua terkekeh.

“Saya lega banget begitu denger calonnya perempuan. Kalau calonnya laki-laki, saya mesti nikahin di Jerman dong!”

Semua tertawa lagi, kecuali aku. Aku melotot bete mendengar lelucon itu.

Mas Jarga melihat mataku yang seperti mau menerkamnya, “Oke. Jadi intinya, dia minta aku dan keluarga untuk ketemuan dengan keluarga dari perempuan yang berhasil mencuri hatinya.”

Mas Jarga mengedipkan mata pada Naya.

Aku geleng kepala.

Selanjutnya, masing-masing keluarga memperkenalkan diri sendiri, satu persatu. Mas Jarga mengenalkan ibuku, alias tanteku, istri dan anaknya, juga adiknya yang masih single dan juga Celsi, manajerku. Kemudian Papanya Naya mengenalkan keluarganya dan juga teman-temannya Naya.

“Setelah saling kenal, maka kemudian saya tanya, apa benar Nak Bima hendak serius meminang anak saya?” tanya Papa Naya padaku.

“Iya,” jawabku menatap Naya yang masih terlihat kesal karena pertikaian kami tadi sebelum berangkat.

“Naya, anakku satu-satunya, anak tersayang, apakah kamu mau menerima lamaran Bima?”

Naya menatapku tajam.

Sial. Apakah dia akan mundur?

Harusnya aku tadi nggak ngomongin soal Alfian. Tapi dia duluan yang mulai!

Jantungku berdegup kencang. Bulir keringat turun dari jidat.

“Iya,” jawabnya singkat, padat, dan cepat.

Aku menghela napas lega. Aku tahu dia masih marah. Aku tahu Celsi juga bisa melihat itu.

**

Di depan toilet, ketika acara makan sedang berlangsung. Celsi menegurku, “Elu sama Naya lagi berantem?”

“Dikit…,” kataku yang mau masuk ke toilet.

“Berantem kenapa?” tanya Celsi bersamaan dengan Risa datang.

“Gara-gara video Alfian. Gue udah nyuruh Naya kasih tau elu, Bim! Jangan salahin gue loh ya!” kata Risa tiba-tiba.

Celsi menghela napas, “Bim-bim, berantem mulu, kayak udah pacaran sepuluh tahun lu!”

Celsi dan Risa masuk ke dalam toilet. Begitu juga aku. Kami kemudian keluar bersamaan.

“Suaminya nggak diajak, Kak?” tanya Risa pada Celsi.

“Dia suaminya di Jerman!” kataku.

“Oh gitu?”

“Dokter,” kataku lagi.

“Lagi kuliah,” jawab Celsi. “Makanya aku belum hamil juga. Suami aku hobinya belajar!”

“Lah masih mending, karena LDM, jadi belum hamil. Aku juga belum hamil, padahal nggak LDM.”

Kami masuk ke ruang restoran.

“Udah berapa lama nikah?” tanya Celsi.

“Satu sih,” jawab Risa.

“Kalah, aku udah 10 tahun!” jawab Celsi sambil tersenyum.

“Hati-hati, bentar lagi gue susul!” aku membuat lelucon yang bikin Risa dan Celsi langsung memukuliku.

“Sombong!”

“Nikah aja belum!”

Aku duduk di sebelah Naya yang baru selesai makan.

“Ngomongin apa?” tanyanya.

“Nggak penting.”

“Oh oke. Fine!” Naya bangkit, lalu pergi ke toilet.

Aku menatap Celsi yang geleng-geleng kepala.

1
nasya lee
AQ koq ga suka dgn karakter Naya ya author kasian bimanya dr kmrn"yg berjuang trz
🌸ALNA SELVIATA🌸: Hai kk cantik, mampir juga ya di novel "Wanita Bercadar dan CEO"
total 2 replies
Q. Adisti
menyala bimaaa
🌸ALNA SELVIATA🌸: Hai kk cantik, mampir juga ya di novel "Wanita Bercadar dan CEO"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!