NovelToon NovelToon
KATAKAN CINTA

KATAKAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Utang Rasa

 Malam itu, restoran kecil di tepi Sungai Thames menjadi saksi dari perayaan dua hati yang sempat terpisah jarak belasan ribu kilometer. Rasa manis dari kemenangan melawan kasta masih terasa hangat di dada Rangga. Di depannya, Cinta duduk dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajah cantiknya, jemari tangannya bertautan erat dengan tangan kanan Rangga di atas meja kayu yang diterangi nyala lilin temaram.

"Gue masih merasa ini kayak mimpi, Ngga," lirih Cinta, matanya yang indah menatap lekat setelan jas mewah yang melekat di tubuh tegap Rangga. "Cowok yang dulu sering nungguin gue di depan gerbang sekolah sambil benerin rantai motor, sekarang duduk di sini sebagai orang yang nyelamatin bisnis bokap gue."

Rangga tersenyum hangat, mengusap punggung tangan Cinta dengan lembut. "Gue udah janji kan, Cin? Sejauh apa pun lu pergi, gue bakal selalu nemuin jalan buat jemput lu pulang."

Namun, saat Rangga merogoh saku mantelnya untuk mengambil ponsel guna memesan taksi, jari-jarinya tanpa sengaja bergesekan dengan permukaan kain wol tebal dari syal hitam yang melingkar di lehernya. Syal rajutan tangan milik Tasya.

Seketika itu juga, senyuman di wajah Rangga membeku selama sepersekian detik. Dada kirinya mendadak terasa sesak. Di tengah gemerlap lampu malam kota London dan kebahagiaan mutlak yang baru saja dia raih bersama Cinta, bayangan sebuah bengkel kecil yang penuh bau oli di sudut Jakarta mendadak berputar di kepalanya.

Rangga tersadar, ada harga yang sangat mahal di balik tiket keberangkatannya ke London. Ada satu gadis yang mengorbankan air mata, waktu, dan seluruh perasaannya selama bertahun-tahun secara senyap demi melihat Rangga bisa berdiri tegak di posisi sekarang.

Tepat di saat suasana hatinya berubah drastis, ponsel di tangan Rangga bergetar hebat. Layarnya menampilkan panggilan video grup masuk dari Aldi. Rangga menarik napas panjang, mencoba menetralkan gemuruh di dadanya sebelum menggeser tombol hijau. Dia meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi bersandar pada vas bunga kecil, membuat Cinta juga bisa ikut melihat layarnya.

"RANGGA!!! GILA LU, BRO! BENERAN SKAKMAT SI TUAN KRESNA?!" suara teriakan heboh Aldi langsung memenuhi pelantang suara ponsel, latar belakangnya menampilkan suasana bengkel "Bina Karya Motor" yang sudah mulai sepi di Jakarta.

Rangga tertawa kecil, mencoba bersikap biasa saja. "Aman, Al. Kontraknya udah ditandatangani sore tadi."

"Gila, bangga banget gue punya sahabat kayak lu! Anak Bina Karya menembus batas!" seru Aldi sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri. "Eh bentar, ini ada sepupu gue juga yang dari tadi nungguin kabar dari lu. Sya! Sini, Sya!"

Kamera ponsel di seberang sana bergeser, menampilkan sosok Tasya yang malam itu tampaknya baru pulang dari kampusnya. Begitu wajah Rangga muncul di layar, sepasang mata indah milik Tasya seketika berbinar cerah. Sebuah senyuman lebar dan tulus terpancar dari wajah gadis itu.

"Selamat ya, Ngga," ucap Tasya dengan suara yang sedikit bergetar menahan haru. "Gue tahu... dari awal gue selalu tahu kalau lu itu jenius dan bakal bisa berdiri di puncak sana. Setelan jas lu... bagus banget, pas di badan lu."

Namun, momen itu bergeser cepat. Kamera ponsel Rangga yang diletakkan di atas meja tanpa sengaja menangkap pergerakan tangan Cinta yang refleks menggenggam lengan jas Rangga karena ikut merasa antusias. Sudut pandang kamera melebar, menampilkan sosok Cinta yang duduk sangat dekat di sebelah Rangga di dalam restoran mewah tersebut.

Senyuman lebar di wajah Tasya di layar ponsel seketika membeku. Binar cerah di matanya langsung meredup, berganti dengan sebuah keterkejutan yang menyakitkan selama satu detik, sebelum akhirnya dia dengan sangat cepat mencoba menguasai dirinya kembali.

"Eh... ada Cinta juga ternyata. Hai, Cin," ucap Tasya, suaranya mendadak berubah menjadi agak datar, dipaksakan untuk tetap terdengar santai meskipun tatapannya tidak bisa berbohong.

"Hai, Tasya... Makasih ya, udah jagain Rangga selama di Jakarta," balas Cinta dengan senyuman tulus. Cinta langsung bisa membaca arti dari perubahan raut wajah Tasya dan bagaimana arah tatapan mata gadis itu tertuju pada Rangga sejak awal telepon tersambung.

"Ah, iya, santai aja. Lagian gue cuma bantu pembukuan bengkel kok," kilat Tasya, matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Dia buru-buru melambaikan tangannya ke arah kamera. "Udah malam nih di Jakarta, gue balik duluan ya. Al, matiin teleponnya, Rangga mau pacaran tuh."

*Klik.* Sambungan telepon terputus sepihak.

Suasana di meja makan restoran itu mendadak berubah menjadi sangat hening. Lilin yang menyala di antara mereka seolah tidak lagi mampu memberikan kehangatan. Cinta perlahan melepaskan genggaman tangannya dari lengan Rangga, menatap kekasihnya yang kini menunduk dalam sambil memandangi layar ponselnya yang sudah gelap.

Cinta menarik napas panjang, lalu bertanya dengan nada suara yang sangat lembut. "Ngga... selama tiga tahun ini, Tasya yang selalu ada di sebelah lu, ya?"

Rangga mendongak, menatap mata Cinta dengan kejujuran penuh. "Iya, Cin. Pas gue drop setelah lu pergi, pas gue cuma makan mi instan mentah dan kopi hitam di bengkel Mang Ojak, dia yang datang setiap hari bawa bekal. Dia yang nemenin gue kerja sampai tengah malam, ngerajut syal ini sebulan penuh buat sangu gue ke London."

Rangga mengepalkan tangannya di atas meja. "Gue gak pernah punya perasaan lebih ke dia, Cin. Hati gue cuma buat lu dari awal. Tapi... rasa bersalah dan utang rasa gue ke dia terlalu besar. Kesuksesan gue jemput lu hari ini, ternyata harus dibayar pakai cara matahin hati cewek sebaik dia."

Cinta terdiam, menatap syal hitam di leher Rangga dengan tatapan sendu. Dia tidak bisa marah, karena dia tahu persis betapa besarnya pengorbanan yang telah diberikan Tasya untuk cowok yang kini berada di pelukannya.

Malam semakin larut ketika Rangga berjalan sendirian menyusuri trotoar jembatan Westminster menembus rintik hujan gerimis dan dinginnya angin malam kota London. Dia sengaja meminta Cinta pulang lebih dulu bersama ayahnya menggunakan mobil perusahaan.

Rangga menghentikan langkahnya di tengah jembatan, menatap riak air Sungai Thames yang hitam kelam di bawahnya. Dia melepaskan syal hitam rajutan Tasya dari lehernya, memegang kain wol tebal itu dengan kedua tangannya yang bergetar. Rasa hangat dari syal itu seolah mengirimkan kembali memori tentang senyuman getir Tasya di layar ponsel tadi.

Rangga mengambil ponselnya dari saku mantel, membuka kolom pesan pribadi dengan nomor Tasya yang selama tiga tahun ini hampir tidak pernah dia hubungi secara personal selain lewat grup.

Jari-jarinya yang gemetar perlahan mengetik sebuah pesan singkat.

**Rangga:** *

Sya, makasih buat semuanya. Syal dari lu hangat banget malam ini di London. Tapi maaf... maaf karena pada akhirnya, gue tetep gak bisa jadi orang yang lu butuhin. Lu berhak dapet cowok yang jauh lebih baik daripada gue.

Di belahan bumi yang lain, di sudut ruang pembukuan bengkel "Bina Karya Motor" Jakarta yang gelap dan sunyi, sebuah ponsel di atas meja kayu bergetar.

Tasya yang sedang duduk memeluk lututnya di atas kursi panjang perlahan meraih ponsel tersebut. Begitu membaca baris demi baris kalimat dari Rangga, pertahanan tegar yang dia bangun selama tiga tahun terakhir ini runtuh total tanpa sisa.

Tasya memeluk ponselnya di dada, menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas lutut, dan tangisnya pecah di dalam kesunyian bengkel yang dingin. Air matanya mengalir deras membasahi semen lantai, meratapi cinta tulusnya yang kini telah resmi berakhir menjadi sebuah cerita sunyi yang ditinggalkan di Jakarta.

1
Kam1la
kabur, Rangga!
Kam1la
berjiwa besar. si Tasya ya...
Kam1la
keren aksinya Cinta👍😍
Kam1la
👍👍
Kam1la
aksi penyelamatan yang keren...
Kam1la
nah, kan ada pernyataan maaf
Kam1la
keren...💪 tetap semangat Rangga, meski diremehkan
Kam1la
Aldi, ada selera humor juga
Kam1la: siap...👍
total 2 replies
Kam1la
seru....! Pernikahan 2 Rahasia, hadir kak....
Lalat Mu
Ceritanya seru kak, semangat nulisnya ya! /Good/
Raden Saleh: Terimakasih atas partisipasinya, semoga terhibur, dan aku semangat lagi menulis, insya Allah lebih seru lagi 😍
total 1 replies
Kim Borahae
ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!