NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Uang Yang Hilang

# TIGA MILIAR DOLAR YANG HILANG

Malam mulai turun menyelimuti distrik bisnis kota, namun lampu di dalam ruang kerja direktur utama Aurelia Maritime Corporation masih menyala terang benderang. Di atas meja kayu jati yang luas, puluhan berkas penting kini berserakan tanpa bentuk. Mulai dari laporan keuangan internal, manifest pengiriman kargo, kontrak pelayaran internasional, hingga data transaksi digital selama tujuh tahun terakhir.

Semakin lama Primus membaca dan membandingkan barisan angka tersebut, semakin jelas satu kesimpulan yang dia dapatkan. Seseorang telah mencuri uang perusahaan dalam jumlah yang luar biasa besar. Hebatnya, pelaku melakukannya dengan metode yang sangat rapi dan penuh kehati-hatian, sehingga selama bertahun tahun tidak ada satu pun auditor publik yang menyadarinya.

Atau, mungkin sebenarnya ada beberapa orang yang menyadari kejanggalan itu, namun mereka semua memilih untuk menutup mata dan bungkam.

"Itu jauh lebih masuk akal," gumam Primus lirih, memecah kesunyian malam.

Paman Robert yang sejak tadi berdiri waspada di dekat jendela besar langsung menolehkan kepalanya. "Apa maksudmu, Primus?"

"Orang dengan skala pencurian sebesar ini tidak mungkin bekerja sendirian di dalam sistem, Paman," jawab Primus, menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. "Dia pasti memiliki pelindung yang sangat kuat di jajaran dewan kehormatan keluarga."

Paman Robert mengangguk pelan, membenarkan analisis tersebut. Sebagai orang lama, dia juga memahami satu hukum tidak tertulis dalam dinasti Aristokrat. Untuk melenyapkan dana sebesar tiga miliar dolar tanpa terendus oleh radar hukum, sang pelaku utama harus memiliki otoritas dan kekuasaan yang hampir absolut.

 

Primus kembali membalik halaman laporan korporasi yang lain. Detik berikutnya, sepasang mata tajamnya langsung terkunci pada satu nama entitas hukum yang asing.

**Black Horizon Logistics.**

Nama perusahaan logistik itu muncul secara konstan dan berulang kali di berbagai lembar transaksi dari tahun ke tahun. Dan yang mencurigakan, nama itu selalu terhubung dengan pos pengeluaran dana operasional berskala masif.

"Satu lagi nama yang disembunyikan," gumam Primus.

Dia mulai menyusun catatan kronologis di selembar kertas kosong. Pada tahun pertama, Black Horizon menerima pembayaran dalam jumlah besar. Memasuki tahun kedua, nominalnya meningkat hampir dua kali lipat. Di tahun ketiga, grafiknya melonjak semakin curam, hingga akhirnya mencapai akumulasi angka yang sama sekali tidak masuk akal untuk ukuran biaya logistik sebuah pelayaran.

"Sebenarnya perusahaan apa Black Horizon ini?" tanya Paman Robert, ikut penasaran.

Jemari Primus bergerak dengan kecepatan tinggi, mengetikkan beberapa baris kode enkripsi di atas papan ketik laptopnya. Hanya butuh waktu beberapa detik hingga hasil penelusuran database global memunculkan data yang dia cari. Tepat setelah membaca hasil di layar, Primus menyunggingkan sebuah senyuman tipis. Sebuah senyuman dingin yang membuat Paman Robert langsung tahu bahwa ada sesuatu yang mengerikan di balik data tersebut.

"Ini adalah perusahaan cangkang," ujar Primus, memutar laptopnya ke arah sang paman. "Kosong. Seluruh jajaran direksinya fiktif, dokumen legalitasnya palsu, dan alamat kantor pusatnya hanyalah sebuah ruko kosong di daerah pelabuhan tua."

Paman Robert mengembuskan napas panjang, gurat kekecewaan tercetak di wajah paruh bayanya. "Seseorang telah menggunakan jalur pelayaran kita untuk melakukan pencucian uang berskala internasional."

"Tepat sekali," sahut Primus, matanya berkilat tajam. "Tapi, poin yang paling menarik dari semua drama ini bukanlah taktik pencucian uangnya."

"Lalu apa?"

Primus mengetuk layar laptopnya, menampilkan kolom tanggal resmi pendirian akta Black Horizon Logistics. Paman Robert yang membaca tanggal tersebut seketika langsung terdiam membeku. Seluruh kata katanya tercekat di tenggorokan karena tanggal itu bertepatan persis dengan sebuah tragedi besar di masa lalu.

Hari di mana ayah kandung Primus dinyatakan tewas.

 

Ruangan direktur utama itu mendadak diselimuti oleh keheningan yang teramat mencekam. Untuk pertama kalinya sejak dia memulai proses audit mandiri malam ini, detak jantung Primus berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.

Ayahnya meninggal dunia tepat tujuh tahun yang lalu. Secara rilis resmi dewan keluarga dan kepolisian, beliau dinyatakan tewas akibat kecelakaan helikopter murni. Kasus tersebut langsung ditutup rapat dan tidak pernah diizinkan untuk dibuka kembali oleh siapa pun.

Namun sekarang, sebuah fakta baru terhampar secara telanjang di hadapannya. Tepat beberapa jam setelah kecelakaan maut itu terjadi, sebuah perusahaan cangkang misterius lahir dan langsung bergerak menyedot miliaran dolar dari kas Aurelia Maritime. Kebetulan ini terlalu rapi untuk disebut sebagai sebuah ketidaksengajaan. Dan Primus, sejak lama sudah berhenti mempercayai hal hal berbau kebetulan.

 

"Tuan Muda," suara Paman Robert terdengar sangat berhati hati, memecah kecemasan yang menggantung. "Menurut Anda, apakah..."

Pria tua itu sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, memilih untuk menahan spekulasi liarnya di dalam mulut. Namun, Primus tentu saja langsung memahami ke mana arah pemikiran sang paman. Apakah kematian sang ayah memiliki keterkaitan langsung dengan konspirasi pencurian uang ini?

Jawabannya adalah dia belum tahu secara pasti. Namun malam ini, Primus akhirnya memiliki sebuah alasan kuat untuk mencurigai tragedi masa lalu tersebut. Dan bagi seorang Primus, dasar kecurigaan itu sudah lebih dari cukup. Jika selama ini dia berjalan di dalam kegelapan tanpa arah, sekarang setidaknya sang musuh telah meninggalkan sebaris jejak kaki yang jelas untuk dia ikuti.

 

*Tok. Tok. Tok.*

Suara ketukan pintu yang tiba tiba bergaung dari arah luar langsung membuat Primus dan Paman Robert menolehkan pandangan secara serentak. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat, dan seharusnya tidak ada lagi karyawan jelata yang masih menetap di dalam gedung sedalam ini.

"Masuk," perintah Primus dengan nada suara datar.

Daun pintu kayu itu terbuka secara perlahan, menampakkan sosok seorang wanita muda yang melangkah masuk dengan gestur tubuh yang tampak sangat gugup. Dari penampilannya, usianya mungkin baru menginjak sekitar dua puluh lima tahun. Rambut hitam panjangnya diikat rapi, dibingkai oleh sepasang kacamata tipis, serta mengenakan pakaian kantor sederhana yang tampak bersahaja.

Wanita itu terlihat seperti staf administrasi biasa pada umumnya. Namun, guratan cemas di wajah piasnya dengan jelas menunjukkan bahwa dia saat ini sedang mengambil sebuah risiko besar yang bisa mengancam nyawanya sendiri.

"Mohon maaf jika saya kelancangan mengganggu waktu Anda, Tuan Muda Primus," kata wanita itu dengan suara yang sedikit bergetar.

Primus memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan mengintimidasi. "Siapa Anda?"

Wanita itu menelan ludahnya dengan susah payah sebelum memberanikan diri untuk menatap langsung ke dalam manik mata Primus. "Nama saya Aurora, Tuan."

Mendengar nama itu disebut, Primus sempat sedikit terkejut di dalam hati. Nama Aurora sama sekali tidak asing bagi ingatannya. Namun, bukan karena mereka pernah bertemu di masa lalu, melainkan karena Primus baru saja membaca nama tersebut di dalam daftar manifes kepegawaian beberapa menit yang lalu. Aurora adalah seorang staf administrasi tingkat rendah dengan gaji standar, yang posisinya sama sekali tidak memiliki keistimewaan apa pun di perusahaan ini.

Lalu, atas dasar apa seorang staf biasa berani mendatangi ruang direktur utama pada jam sembilan malam?

"Ada keperluan apa Anda menemui saya, Aurora?" tanya Primus.

Aurora terlihat ragu, sepasang jemarinya saling meremas satu sama lain di balik tas kerjanya. Dia tampak sedang bertarung hebat dengan rasa takutnya sendiri. Namun pada akhirnya, tekadnya tampaknya bulat. Wanita itu merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah benda berbentuk flashdisk hitam kecil, lalu meletakkannya di atas meja kerja Primus dengan gerakan pelan.

"Saya rasa, Anda adalah orang yang tepat untuk melihat seluruh isi dokumen di dalam benda ini, Tuan Muda," ujar Aurora, tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat serius.

Primus mengangkat sebelah alisnya, menatap flashdisk itu sebelum kembali menatap Aurora. "Apa isinya?"

Wanita itu menarik napas panjang untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh. "Itu adalah bukti rekaman rahasia, sekaligus alasan nyata kenapa tiga direktur utama Anda memilih untuk mengundurkan diri secara serentak pagi tadi."

Atmosfer ruangan itu seketika kembali mendingin.

 

Primus mengulurkan tangannya, mengambil flashdisk hitam tersebut ke dalam genggamannya. "Kenapa Anda memilih untuk menyerahkan barang seberbahaya ini kepada saya, Aurora?"

Aurora menyunggingkan sebuah senyuman pahit di wajahnya. "Karena di dalam gedung yang penuh dengan kebohongan ini, sudah tidak ada lagi orang lain yang bisa saya percayai, Tuan."

"Lalu, apa yang membuat Anda begitu yakin bahwa saya bisa dipercaya?"

Wanita itu terdiam selama beberapa detik, merenungkan pertanyaan menuntut dari sang pewaris Aristokrat. Kemudian, dia menjawab dengan kejujuran yang mutlak. "Karena dari sekian banyak petinggi yang silih berganti memimpin tempat ini, Anda adalah satu satunya orang yang bersedia datang dan benar benar membaca lembar demi lembar laporan keuangan hancur ini dengan mata kepala Anda sendiri."

Sebuah jawaban yang sangat sederhana, namun cukup kuat untuk membuat sudut bibir Primus terangkat ke atas. Setidaknya, dia tahu bahwa di dalam gedung yang sudah membusuk oleh korupsi ini, masih tersisa satu orang jujur yang memiliki keberanian.

 

Aurora membungkukkan tubuhnya sekilas, bersiap untuk membalikkan badan dan meninggalkan ruangan. Namun, tepat sebelum tumit sepatunya menyentuh batas pintu keluar, langkah wanita itu mendadak terhenti.

"Tuan Primus," panggil Aurora tanpa membalikkan tubuhnya.

"Hm?"

Wanita itu menolehkan kepalanya sedikit, menatap Primus dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kecemasan yang teramat sangat. Dan kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir Aurora sukses mengubah seluruh tensi di dalam ruangan menjadi berkali lipat lebih menegangkan.

"Jika dalam perjalanan pulang nanti Anda melihat ada sebuah mobil sedan hitam yang terus mengikuti dari arah belakang... saya mohon jangan pernah pulang ke kediaman Anda sendirian malam ini."

Seketika itu juga, tatapan mata Primus berubah menjadi sangat tajam dan menusuk.

Itu adalah peringatan bernada ancaman kedua yang dia terima dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam terakhir. Dan berdasarkan hukum logika yang Primus pelajari, jika ada dua orang yang berbeda dari latar belakang yang berbeda memberikan sebuah peringatan yang sama, maka hal itu berarti satu hal: ancaman kematian yang mengintainya saat ini adalah sebuah kenyataan yang sangat nyata.

Aurora melangkah keluar dan menutup pintu rapat rapat, meninggalkan ruangan yang kini kembali diselimuti kesunyian malam. Primus menatap flashdisk hitam di jemarinya sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk memasukkan benda tersebut ke dalam lubang port laptopnya.

Hanya butuh waktu beberapa detik bagi sistem untuk memproses data baru. Sebuah jendela pemutar video otomatis muncul di layar monitornya, menampilkan sebuah rekaman CCTV tersembunyi dari ruang rapat direksi utama. Berdasarkan keterangan digital di sudut layar, tanggal rekaman tersebut diambil adalah tepat dua hari sebelum dirinya resmi ditunjuk oleh dewan keluarga untuk memimpin perusahaan buangan ini.

Di dalam rekaman video yang minim cahaya itu, terlihat jelas tiga direktur yang tadi pagi mengundurkan diri sedang duduk membungkuk takzim, berbicara dengan seseorang yang posisinya sengaja membelakangi kamera sehingga wajahnya tidak dapat teridentifikasi.

Namun, begitu sosok misterius di dalam video itu mulai membuka suara dan mengeluarkan perintahnya, seluruh persendian tubuh Primus seketika langsung membeku di tempat.

Suara bariton di dalam rekaman itu terdengar sangat familiar di telinganya. Itu adalah suara dari seseorang yang sangat dia kenali, seseorang yang suaranya telah dia dengar hampir di sepanjang sisa umur hidupnya sendiri.

*BERSAMBUNG...

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!