NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bara di Balik Selimut

Layar gawai di atas meja kaca itu perlahan meredup, namun sebaris kalimat terenkripsi yang baru saja terbaca bagai paku bumi yang menghantam telak ego dan logika berpikir Aksa.

Aksa tidak melepaskan dekapannya pada Valerian. Sebaliknya, lengan kekarnya justru semakin merapat, menarik pinggang ramping wanita itu hingga tidak ada jarak sepeser pun di antara kulit mereka.

Namun, Valerian bisa merasakan perubahan drastis itu—detak jantung Aksa di balik dada bidangnya mendadak berdentum gila dan kaku.

Dave..." Valerian perlahan mendongak, jemari lentiknya meraba rahang tegas Aksa yang mengeras hingga guratan urat lehernya menegang tajam. "Ada apa? Pesan dari siapa?"

Aksa memejamkan netra gelap hasil rekonstruksi bedahnya sejenak, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Valerian yang menenangkan, mencoba menata kembali struktur bariton suaranya yang mendadak parau.

Ia mengambil gawai itu dengan satu tangan, lalu menunjukkannya tepat di depan wajah cantik Valerian yang masih menyisakan rona merah akibat sisa pagutan panas mereka beberapa menit lalu.

Mata Valerian menyipit, membaca baris demi baris pesan singkat yang membongkar kebusukan Tuan Bagian Wardhana.

“Jangan percaya pada sandiwara Bagian Wardhana di ruang rapat tadi. Ayahmu tidak benar-benar tahu di mana keberadaan ibumu saat ini. Dia sengaja memalsukan fakta dan membuat draf perjanjian itu hanya karena dia sangat ingin kau kembali tunduk di bawah kendalinya di bursa efek.”

Napas Valerian seketika tertahan di tenggorokan. Tubuh cantiknya lemas membeku di atas sofa kulit Paviliun Barat. "Jadi... draf konsekuensi tadi... pernikahan kita sembilan bulan lagi... itu semua hanya jebakan untuk merampas saham London-mu?"

Pria tua itu tahu aku tidak akan pernah bisa disentuh jika tetap memegang kendali penuh atas investasi asing," desis Aksa, suaranya merendah, bergetar oleh riak kemurkaan yang tertata rapi.

melemparkan gawai itu kembali ke atas meja hingga menimbulkan denting nyaring yang memecah keheningan malam. "Dia menggunakanmu, Vale. Dia menggunakan janin di rahimmu sebagai kartu as karena dia tahu aku akan menukar seluruh isi dunia ini hanya untuk memastikan kau tetap bernapas di sampingku."

Valerian mengubah posisinya, kini ia duduk berlutut di atas sofa, menangkup kedua pipi tegas Aksa dengan jemarinya yang hangat.

Lalu apa rencana kita sekarang, Dave?" bisik Valerian lirih, matanya menatap lurus ke dalam manik mata gelap . "Perjanjian itu sudah ditandatangani. Jika kau menarik diri besok pagi, Damian memiliki hak hukum untuk membawaku pergi."

Aku tidak akan menarik diri dari draf itu, Lara. Aku akan membiarkan pria tua itu merasa di atas angin untuk sementara waktu," ucap Aksa dengan senyuman kelicikan yang teramat dingin muncul di sudut bibirnya. "Dia ingin aku bermain di lantai bursa besok pagi sebagai direktur operasional yang patuh? Akan kuberikan pertunjukan itu.

Tapi di balik layar, setiap sen dari saham London yang dia incar... akan kuubah menjadi bom waktu yang akan meledakkan seluruh aset korporasi Wardhana begitu anak ini lahir."

Valerian tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kepasrahan manis yang bercampur dengan keberanian yang diajarkan Aksa kepadanya selama ini.

Ia memajukan tubuh seksinya, menempelkan keningnya pada kening luas Aksa, membiarkan napas hangat mereka kembali beradu di tengah malam yang kian larut. "Aku memercayaimu, Dave. Seutuhnya."

Aksa tidak menyia-nyiakan momen tersebut. Rasa lapar akan kepemilikan dan asmara yang terlarang kembali menuntut haknya. Ia memiringkan wajahnya, menyambar kembali bibir ranum Valerian dalam sebuah ciuman yang jauh lebih menuntut, liar, dan penuh emosi yang meledak-ledak.

Valerian melenguh rendah, meremas kerah kemeja hitam Aksa seiring dengan jari-jari jangkung pria itu yang bergerak telaten menyusuri lekuk punggungnya, memberikan kehangatan yang membuat neraka sangkar emas Wardhana terasa seperti surga pribadi mereka.

Keesokan harinya, atmosfer di kantor pusat Wardhana Group benar-benar berubah menjadi medan perang dingin yang mencekam. Sesuai dengan pengumuman semalam, berita tentang perombakan aliansi bisnis langsung menyebar luas ke seluruh penjuru ibu kota.

Pernikahan akbar antara Damian Wardhana dan Clarissa Narendra resmi dijadwalkan ulang untuk akhir minggu ini, sebuah langkah darurat yang berhasil menahan kejatuhan saham.

Damian melangkah menyusuri koridor lantai eksekutif dengan setelan jas mahalnya, memancarkan aura keangkuhan seorang pemenang.

Di belakangnya, beberapa staf hukum tampak sibuk membawa dokumen pendaftaran pernikahan darurat. Meskipun ego maskulinnya sempat terluka karena harus melepaskan hak asuh anak Valerian secara bersyarat semalam, namun fakta bahwa ia akan mendapatkan Clarissa Narendra—dan seluruh sokongan dana segar dari Narendra Bio-Tech—membuat posisinya sebagai Direktur Utama kini tak tergoyahkan.

Saat melewati ruang rapat utama, langkah kaki Damian terhenti. Di dalam ruangan kaca yang luas itu, ia melihat Aksa sedang berdiri di depan layar proyektor besar, memimpin jalannya analisis pasar bursa bersama belasan manajer investasi.

Damian mendengus sinis, mendorong pintu kaca itu terbuka tanpa permisi, memecah konsentrasi seluruh orang di dalam ruangan.

"Sungguh pemandangan yang luar biasa," kekeh Damian dengan nada suara yang teratur namun sarat akan provokasi yang tajam.

Ia melangkah mendekati meja rapat, menatap adiknya dengan pandangan merendahkan. "Seorang mentor investasi legendaris dari London, akhirnya kembali menjadi pesuruh kantoran di bawah kaki ayah. Bagaimana rasanya menyerahkan seluruh saham kebanggaanmu demi seorang wanita di paviliun, Aksa?"

Seluruh manajer investasi di dalam ruangan seketika menunduk, tidak ada yang berani bernapas di tengah konfrontasi dua pangeran takhta Wardhana ini.

Aksa tidak langsung merespons. Ia mematikan layar proyektor dengan remot di tangannya, lalu perlahan membalikkan tubuh jangkungnya menghadap Damian.

Nikmati takhta sementaramu, Kak Damian," sahut Aksa dengan suara baritonnya yang berat, datar, namun menusuk tepat ke ulu hati harga diri kakaknya.

"Kau mengira pernikahanmu dengan Clarissa minggu depan adalah kemenangan? Kau hanyalah boneka penyumbat lubang sekoci yang bocor. Begitu air bursa naik lebih tinggi, ayah sendiri yang akan menendangmu keluar agar kapal ini tidak tenggelam."

Rahang Damian seketika mengetat tajam, urat-urat di pelipisnya menegang hebat akibat sifat temperamentalnya yang mudah tersulut. "Kau—!"

Sebelum Damian sempat melayangkan pukulan atau makian lebih jauh, pintu ruang rapat kembali terbuka. Nyonya Zen melangkah masuk dengan keanggunan aristokratnya yang kaku, didampingi oleh Dania yang tampak membawa beberapa berkas undangan pernikahan berlapis emas. Kehadiran dua wanita penting keluarga itu seketika memotong ketegangan fisik yang nyaris pecah.

Cukup, Damian, Aksa," ucap Nyonya Zen dengan nada suara yang dingin dan berwibawa. "Ayah kalian sedang memantau pergerakan pasar di lantai atas. Jangan membuat keributan bodoh yang bisa merusak citra keluarga di depan media yang saat ini sedang berkumpul di lobi."

Nyonya Zen berjalan mendekati meja, lalu meletakkan selembar undangan pernikahan mewah berwarna putih tulang dengan ukiran nama Damian & Clarissa tepat di hadapan Aksa.

"Aksa... sebagai adik dan perwakilan operasional perusahaan, ayah meminta kau untuk mendampingi Damian dalam upacara serah terima saham aliansi di altar nanti," lanjut Nyonya Zen dengan tatapan mata kalkulatif yang jeli. "Ini adalah perintah mutlak untuk menunjukkan pada para investor London bahwa internal keluarga kita telah berdamai seutuhnya."

Aksa menatap undangan mewah itu dengan pandangan mata yang dingin.

Sementara itu, di Paviliun Barat, Valerian menghabiskan siangnya dalam isolasi yang kian kaku. Meskipun Damian tidak lagi diizinkan menyentuhnya dengan jarum suntik medis berkat draf perjanjian semalam, jumlah pengawal yang berjaga di luar kamarnya justru berlipat ganda.

Cklek.

Pintu paviliun terbuka perlahan. Sosok Dania melangkah masuk dengan langkah ragu-ragu. Adik bungsu yang masih polos itu tampak membawakan sebuah nampan berisi sup hangat dan buah-buahan segar untuk Valerian.

Wajah Dania tampak begitu muram, matanya yang sembap menunjukkan beban pikiran yang teramat berat melihat keretakan di dalam rumahnya.

Kak Valerian..." bisik Dania lirih, meletakkan nampan itu di atas meja kecil di samping sofa. "Aku membawakan makanan untukmu. Aku memaksa pengawal di luar agar diizinkan masuk."

Valerian menatap Dania dengan pandangan mata yang lembut. "Terima kasih, Dania. Kau tidak perlu repot-repot melakukan ini."

Kak... kenapa sekarang Kak Damian dan Kak Aksa saling membenci?" tanya Dania dengan suara yang mulai serak menahan tangis.

"Dulu Kak Aksa suka sekali bercanda denganku. Tapi sekarang... dia bahkan jarang menyapaku. Dia berubah menjadi sangat dingin dan asing."

Dania menghela napas berat, matanya berkaca-kaca mengenang masa lalu. "Aku merindukan rumah kita yang dulu, Kak. Dulu... rasanya keluarga kita begitu hangat."

Mendengar ucapan polos dari adik iparnya, dada Valerian seketika berdenyut nyeri seolah dihantam godam besar. Rasa bersalah yang teramat masif mendadak merayap dan meremukkan batinnya.

Di dalam hati, Valerian merasa dirinya seperti seorang perusak—wanita pembawa sial yang datang dan memecah belah keharmonisan persaudaraan mereka hingga Aksa harus mengorbankan takhta finansialnya dan Damian menjadi gila kendali.

Padahal, tanpa Dania ketahui, keluarga Wardhana tidak pernah benar-benar hangat sejak awal. Namun, melihat kepolosan Dania, Valerian hanya bisa menahan air matanya sendiri dan mengusap lembut rambut gadis itu tanpa berani membongkar borok hitam keluarga mereka.

Malam pun jatuh membungkus Paviliun Barat dengan keheningan yang mencekam. Di luar dugaan, sekitar pukul sebelas malam, pintu kamar utama dikunci dari dalam. Bukan Aksa yang datang menyusup lewat bayangan, melainkan Damian.

Pria itu melangkah masuk tanpa keangkuhan jas kantornya. Ia hanya mengenakan kemeja satin hitam yang kancing atasnya telah terbuka, menampilkan aura maskulin yang berat namun sarat akan keletihan emosional yang mendalam. Damian menatap Valerian yang sedang duduk di tepi ranjang dengan gaun tidur sutranya.

Damian melangkah mendekat, memotong jarak di antara mereka hingga aroma alkohol tipis dan parfum kayunya mengepung indra penciuman Valerian. Tanpa aba-aba, ia berlutut di depan Valerian, menggenggam kedua tangan wanita itu dengan cengkeraman yang bergetar.

Malam ini saja, Valerian... biarkan aku bersamamu," bisik Damian, suaranya parau.

Mata elangnya menatap lurus dengan binar keputusasaan yang humanis. "Aku benar-benar memintanya padamu... beri aku hubungan panas di ranjang malam ini. Sebagai suamimu. Hanya malam ini."

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!