NovelToon NovelToon
Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17.

Johan berdiri tegap di lorong rumah sakit yang dingin dan penuh hiruk-pikuk, wajahnya memerah dan mata berkilat amarah.

Tangan kanannya melambung, menampar pipi Arina dengan keras hingga suaranya menggema di antara derap langkah dan bisik-bisik orang yang lewat.

"Dasar kamu nggak berguna!" teriaknya, suaranya tajam menusuk, membuat beberapa orang berhenti sejenak menoleh, terpaku pada pertengkaran yang memecah keheningan.

Arina terhuyung, air mata mulai mengalir di sudut matanya. Ia menggigit bibir, berusaha menahan isak yang tertahan.

"Johan, kenapa kamu menyalahkanku? Anakmu sudah SMA, dia kecelakaan saat mengemudikan mobilnya sendiri. Tapi kenapa kamu memarahiku?" suaranya pecah, antara bingung dan terluka, pandangannya yang semula membelalak kini penuh dengan kerapuhan.

Setelah semua harta Gono gini dari pernikahan sebelumnya menjadi atas kepemilikan Johan, sepertinya Johan sudah menunjukkan wajah aslinya dan tidak berniat untuk berpura-pura lagi.

Sementara itu, kemarahan Johan belum padam.

Dengan tangan gemetar dan napas terengah, ia menampar Arina sekali lagi hingga tubuhnya terjatuh tersungkur ke lantai dingin lorong itu.

Matanya membara, suaranya menggema dengan nada yang lebih dingin dan mengancam, "Bukankah aku sudah mengatakan padamu? Kamu harus jadi sopir Emma!"

Emma, putri tiri Arina, menjadi pusat dari kemarahan Johan yang membara.

Arina yang tergeletak di lantai, menatap Johan dengan pandangan yang penuh luka dan kebingungan, seolah mencari sisa kasih sayang yang kini terkubur dalam amarah dan kecewa yang mematikan.

Orang-orang di sekitar mulai berbisik, beberapa ada yang mencoba menghampiri, tapi Johan tetap berdiri kaku, terpaku dalam kemarahan yang membakar.

Arina menatap Johan dari bawah, ia tidak menyangka setiap hari Johan semakin kejam dan tega pada dirinya.

Ia memaksakan dirinya bangkit. "Johan, aku itu bukan sopir dan juga pembantumu, tapi aku itu istrimu."

Johan tersenyum miring, menatap Arina dengan tatapan penuh penghinaan. "Kamu itu sudah tua, wajah mu jelek bahkan tubuhmu bau tanah. Menjadikan mu pembantu, adalah bentuk kemurahan dariku."

Arina hanya bisa menggelengkan kepalanya, menyesal. Ia sungguh sangat menyesal, suaminya yang sangat baik ia tinggalkan hanya demi orang gila seperti Johan.

"Johan ayo kita bercerai!!" Ujar Arina, walaupun dalam hatinya masih ada rasa tidak rela.

Mengingat dirinya masih begitu mencintai Johan.

Johan langsung mengangguk, "oke, tapi jangan harap kamu bisa membawa harta satu peserpun dariku."

Setelah mengatakan hal itu, Johan langsung pergi meninggalkan Arina yang menjadi bahan olokan orang-orang.

Johan sama sekali tidak menoleh, padahal sesungguhnya kecelakaan yang menimpa Emma sama sekali tidak ada hubungannya dengan Arina.

Tapi karena dari awal Johan memang tidak pernah mencintai Arina, jadi hidup matinya wanita itu bukan urusannya.

Selagi ada keuntungan yang bisa dia ambil dari wanita itu, ia akan terus mengambilnya.

"Sepertinya aku sudah tidak membutuhkan Arina lagi, proses pemindahan beberapa data dan saham sudah dipercepat. Mungkin saja wanita bodoh itu meminta cerai karena emosi, dia tidak mempunyai uang sepeser pun. Bahkan keluarganya sudah mengusirnya, bisa aku pastikan dia pasti akan kembali." Gumam Johan dalam hatinya, mengingat Arina begitu mencintainya.

Arina mengusap air matanya, lalu memfoto wajahnya yang sangat buruk. Tak lupa ia juga melepas alat rekam suara yang menempel ditubuhnya.

Setelah itu ia pergi menemui seorang pengacara.

"Luis sudah memberikan kartu hitam, sudah aku cek. Didalam kartu itu ada uang empat miliar, aku tidak butuh harta gono-gini darimu Johan ... " Gumam Arina, lalu mengambil bedak didalam tasnya dan mengoleskannya.

Tak lupa ia memakai lipstik.

Setelah itu kaca mata hitam yang juga da didalam tasnya.

Ia memakai kaca mata itu dengan gaya anggun bak seorang sosialita, lalu meninggalkan rumah sakit tanpa beban.

Walaupun Emma baik padanya, tapi gadis itu bukanlah putrinya. Ditambah lagi, Emma putri dari Johan, pria yang sekarang ini begitu ia benci.

Setelah Arina pergi, tak berselang lama Luis dan kedua temannya datang ke rumah sakit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!