Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Hari ini kara pulang sekolah dengan perasaan seperti kalah perang. Setelah lapangan direbut Narisa, ia terpaksa menghabiskan waktu dengan anggota klub tanpa arah yang jelas.
Yang lebih menyebalkan, Narisa tidak hanya bermain dengan teman-temannya, tetapi juga ikut bergabung dengan klub basket putra. Semua orang tahu ketuanya adalah pacar Narisa.
Padahal jadwal basket putra seharusnya sore. Ajaib. Jadwal bisa berantakan hanya karena satu orang. Ya si Narisa itu.
" Sore amat pulangnya. Gak jual diri dulu kan lo?"
Kara menoleh. Ibunya, Eka, sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan ekspresi datar.
Perempuan itu mantan preman semasa sekolah dan kuliah. Tato dimana-mana. Cara bicaranya nyaris tanpa saringan. Sejak kecil, ia bahkan gemar mendandani Kara seperti anak laki-laki. Hasilnya... ya seperti sekarang.
"Abis nongkrong, Ma," jawab Kara lesu. "Mau makan. Laper. Mama masak apa?"
"Ada tongkol. Hasil rampok belanjaan Bu Sarti."
Kara mendelik. "Rampok?"
"Minjem doang, elah. Abisannya gimana. Gaji bokap lo segitu-gitu aja. Abis buat cicilan motor, bayar rumah, utang, listrik, sekolah lo... panjang kalau disebutin,"
Kara hanya memutar mata. Ayahnya memang karyawan biasa. Gajinya cukup untuk hidup, tapi tidak pernah benar-benar cukup untuk tenang. Ditambah lagi, kebiasaan ibunya yang gemar merokok ikut menggerus pengeluaran.
Ia melangkah ke meja makan, membuka tudung saji. Tongkol balado. Sendirian, Tanpa teman.
"Ma, aku cari kerja sampingan aja ya," ujarnya sambil mengambil piring. "Sore sampai malam bisa freelance di kafe."
"Bisa ngamuk si Irwan, gak usah aneh-aneh deh."
Diskusi selesai.
Kara memilih makan dari pada berdebat. Peluang menangnya nyaris tidak ada.
Pukul tujuh malam, Irwan pulang dengan wajah lelah. Pikirannya masih dipenuhi tawaran aneh dari atasannya. Ia sebenarnya sudah bertekad menolak, tetapi begitu duduk di meja makan, niat itu mulai goyah.
"Dek... seriusan mie instan?" tanyanya pelan.
"Kan masih ada tongkol. Mie juga utang dulu di Indahmaret,"
Irwan mengernyit. "kok bisa ngutang di sana?"
"Kasirnya si Dewi. Dia yang nalangin."
Dewi, anak pertama Halim-kakak kandung Eka.
Irwan hanya bisa menghela napas. "Manfaatin
ponakan sendiri. Terus si Ara mana?"
"Masih kenyang katanya."
Melihat celah, Irwan mulai menceritakan tawaran dari bosnya. Ia bicara pelan, hati-hati, seperti takut kalimatnya sendiri terdengar tidak masuk akal. Setelah selesai, ia menatap istrinya, menunggu reaksi.
"Terima."
Sendok di tangan Irwan berhenti di udara.
"Apa?"
"Terima," ulang Eka santai. "Kapan lagi dapet duit segitu sama mobil gratis? Ambil, Bang."
Irwan menatapnya tidak percaya. "Ini yang dinikahin anak kita loh, Dek. Pake mikir dulu kek."
"Gw tanya, nikahnya sah gak?" Eka melotot. "Di sini ada yang ngakuin begitu? Gak ada."
Irwan terdiam sejenak. "Kalau anak kita jadi belok beneran, gimana?"
"Bodo amat. Dia nikah sama manusia, bukan kambing."
"Astaga, Dek."
Irwan menggeleng lemah. Ia sendiri tidak yakin harus menertawakan atau mengkhawatirkan pemikiran istrinya.
"Pokoknya terima," lanjut Eka. "Gw capek hidup begini terus. Lama-lama gw bisa kawin lari sama juragan beras."
"Uhuk-"
Jali ini Irwan benar-benar tersedak. Ia hanya bisa menatap istrinya dengan selembar mi yang menggantung pasrah dari bibirnya.
~
Di rumah Taslim, suasananya tidak jauh berbeda. Begitu Narisa masuk ke kamar setelah makan malam, Taslim langsung menceritakan tawaran bosnya pagi tadi.
Nuri, istrinya sempat terdiam. Wajahnya menunjukkan kebingungan yang singkat, lalu berubah menjadi perhitungan.
Rumah. Mobil. Biaya pendidikan. Bonus.
Daftar itu berputar di kepalanya, bersaing dengan bayangan tas, pakaian, dan perhiasan yang selama ini hanya bisa ia lihat dari etalase.
Taslim yang memperhatikan perubahan itu langsung menggeleng.
"Kamu gak kepikiran nerima kan, Ma? Enggak kan?"
"Gimana ya, Pa..." Nuri menghela napas panjang. "Maaf-maaf nih. Papa kan miskin-"
"Ya gak miskin juga," potong Taslim cepat. "Harusnya cukup, kalau aja Mama gak kepincut sama Victoria's Secret, "
Nuri mendelik. "Itu buat nyenengin Papa juga kan? Hargai usaha istri dong."
"Mama pake yang biasa juga Papa udah seneng. Asal gak nolak aja-"
"Gak usah bahas itu dulu." Nuri mengibaskan tangan. "Pikirin hidup kita dulu."
"Tapi Risa punya pacar, Ma. Mama gak takut dia jadi suka beneran sama anaknya Pak Irwan?"
"Gak mungkin lah." Nuri mendengus. "Nanti habis lulus kuliah, baru kita nikahin sama laki-laki. Yang mapan. Biar hidupnya jelas."
Taslim menahan komentar yang hampir keluar. Soal 'matre' misalnya.
"Risa belum tentu mau, Ma."
"Serahin sama Mama," ujar Nuri mantap.
"Besok harus kasih jawaban."
"Oke. Tenang aja."
Dengan tekad bulat, Nuri bangkit dan menuju kamar Narisa. Tanpa mengetuk, pintu dibuka begitu saja.
Narisa sedang rebahan sambil memainkan ponsel. Santai. Damai. Tidak tahu hidupnya baru saja dilelang.
Nuri mendekat, lalu duduk di tepi kasur dengan gerakan lembut.
"Risa," ucapnya pelan, tangannya mengusap kepala anaknya. "Kamu sayang sama Mama Papa kan?"
Narisa langsung mengernyit.
"Sayang. Tapi kenapa nadanya gitu?" Ia duduk tegak. "Muka Mama mencurigakan."
"Kalau sayang... boleh Mama minta satu permintaan?"
Narisa menyeringai kecil. "Satu? Tiga juga aku jabanin kalau mampu. Monggo."
Nuri menatapnya sebentar. "Kamu ini kayak jin lampu."
Narisa terkekeh, tetapi tatapannya tetap waspada.
Nuri menarik napas. "Kalau Mama jodohin kamu... kamu mau gak?"
Di luar dugaan, mata Narisa langsung berbinar.
"Sama CEO, Ma? Ganteng, cool- "
"Bukan." Nuri memotong cepat. "Kamu kebanyakan baca novel."
Narisa mendecak. "Ini lagi cari materi tugas."
Nuri tidak menanggapi. Ia langsung masuk ke inti. "Bos Papa kamu kasih tawaran. Kalau kamu mau nikah dengan orang yang dia tentuin, kita dapat uang, rumah, mobil, sama biaya pendidikan."
Narisa menyipitkan mata. "Aku liat dulu orangnya."
"Kalian satu sekolah,"
Narisa berpikir cepat. "Cakra?"
"Bukan,"
"Terus siapa?"
"Anaknya Pak Irwan."
Narisa terdiam. Ingatannya mulai berputar. Nama itu terdengar familiar, dan satu-satunya orang yang dia tahu punya bapak bernama Irwan cuma...
"Bukan Kara kan? Bentukan nya emang gitu, tapi dia cewek loh, "
"Memang perempuan, Namanya Kara Anelis."
Narisa membelalak.
"Beneran si Santen?!" suaranya melengking. "Ogah! No! Dikasih uang segunung juga gak mau!"
"Risa, denger dulu-"
"Enggak! Kenapa harus dia?! Gak mau! Aku gak siap secara fisik dan mental!"
"Tenang dulu," Nuri langsung masuk mode drama. "Mama sama Papa juga terpaksa, Risa."
Narisa mengernyit.
"Papa kamu bisa dipecat kalau kita nolak," lanjut Nuri lirih,
"Hah? Beneran?"
"Iya. Kita bisa terlunta-lunta. Kamu mau liat Mama mulung?"
Narisa langsung menggeleng cepat. "Ya gak segitunya juga, Ma-"
"Utang kita banyak," potong Nuri. "Mama takut kamu malah dinikahin sama bos rentenir."
"APA?!"
"Makanya!" Nuri makin semangat. "Mending sama Kara. Dia perempuan. Gak dituntut apa-apa. Cuma tanda tangan, tinggal bareng, selesai."
Narisa menggigit bibir, mulai stres. Kepalanya penuh dengan satu bayangan: bertemu Kara setiap hari. Di rumah, di sekolah.
Sial. Menyebalkan. Melelahkan. Memikirkannya saja sudah bikin dia trauma. Tapi.. mungkin lebih baik dari pada kemungkinan lain yang tidak dia kenal sama sekali.
"Lagian Mama ngapain sampai minjem ke sana sih," suaranya mulai goyah. "Ujung-ujungnya aku juga yang kena "
"Iya, sayang..." Nuri langsung lembut lagi. " Maafin Mama sama Papa ya. Gak bisa kasih kamu hidup enak. Kami ngerasa gagal jadi orang tua."
Narisa terdiam. Mulutnya melengkung ke bawah... lalu tangisnya pecah satu menit. Ya, cuma satu menit. Narisa ingat dia besok masih harus sekolah. Datang dengan mata bengkak dan diejek jelas bukan pilihan.
.