NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Malam telah larut. Rumah megah itu sunyi. Haikal masih di ruang kerja, menatap layar laptop dengan pikiran bercabang. Sementara Sagita berbaring di kamar utama, sibuk dengan ponselnya, entah membalas pesan siapa.

Di balik kamar kecilnya di lantai bawah, Laura duduk di depan cermin sederhana. Rambut hitamnya ia sisir perlahan, bibirnya tersenyum miring. Tatapannya bukan tatapan seorang pembantu biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam di sana, ambisi.

Ia masih mengingat jelas bagaimana Sagita menatapnya siang tadi. Tatapan yang menusuk, dingin, seolah dirinya hanyalah kotoran yang kebetulan diberi tempat di rumah mewah ini.

Laura mengepalkan tangan.

“Kamu pikir aku sampah, Bu Sagita? Kamu salah besar.”

Tangannya menyentuh leher jenjangnya sendiri, menuruni lekuk tubuhnya. Senyum kecil muncul di bibirnya. “Aku tahu apa yang aku punya. Dan aku tahu… kelemahan laki-laki. Bahkan laki-laki seperti Pak Haikal.”

Ia teringat tatapan Haikal pagi tadi, tatapan yang sempat tak bisa berbohong. Bukan tatapan seorang majikan pada pembantu. Ada rasa kagum… ada bara yang nyaris padam namun tiba-tiba menyala kembali.

“Pak Haikal,” bisiknya lembut, “kau tampan, berkuasa, kaya raya. Dan kau haus pengakuan. Aku akan membuatmu bertekuk lutut di kakiku. Bukan karena uangmu… tapi karena kau tak mampu menolak aku.”

Benih itupun mulai tumbuh.

Keesokan paginya, Laura mengenakan seragam sederhana seperti biasa. Namun ada sedikit bedanya: kancing bajunya terbuka satu lebih rendah, rambutnya dibiarkan tergerai sedikit kusut alami, memberikan kesan segar sekaligus menggoda.

Saat ia membawa secangkir kopi ke ruang kerja, Haikal mengangkat wajah. Pandangan mereka bertemu.

“Pagi, Pak,” sapa Laura lembut. “Saya buatkan kopi. Semoga rasanya pas.”

Haikal menatap sekilas, lalu buru-buru menunduk ke dokumen. Tapi hatinya berdetak lebih cepat. Ada aroma wangi lembut dari Laura yang singgah di udara.

“Terima kasih,” jawabnya singkat. dan menyeruput kopi yang masih panas itu. Mata Haikal terbelalak, lidahnya mengecap rasa kopi yang pas dan beda dari kopi yang biasa dia minum.

"Apa Laura mengganti kopi di dapur?, kenapa rasanya beda?." batin Haikal dan kembali menyeruput kopi itu.

Laura meletakkan cangkir di meja, lalu sengaja mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat.

Rambutnya tergerai, hampir menyentuh pundak Haikal. Tatapan matanya menelusuri wajah sang majikan, lalu… sekejap menunduk sopan.

Tapi sebelum ia berbalik, Laura sempat melirik genit. Senyum samar itu seperti pisau kecil yang menusuk dada Haikal.

Setelah Laura pergi, Haikal menutup matanya. Tangannya meraih dada yang berdegup kencang.

“Kenapa aku seperti ini…?” gumamnya.

Selama ini, tubuhnya mati rasa bersama Sagita. Namun bersama Laura—hanya dengan senyum, hanya dengan kedipan mata—ada sesuatu yang bangkit. Sesuatu yang ia pikir tak akan pernah kembali.

Dan di sanalah letak bahayanya, ia menyeruput kopi yang masih panas itu. Mata Haikal terbelalak, lidahnya mengecap rasa kopi yang pas dan beda dari kopi yang biasa dia minum.

"Apa Laura mengganti kopi di dapur?, kenapa rasanya beda?." batin Haikal dan kembali menyeruput kopi itu.

Di dapur, Laura sibuk mencuci gelas sambil tersenyum sendiri. Ia tahu apa yang barusan ia lakukan. Ia tahu, detik itu juga, benih sudah tertanam.

“Bu Sagita,” bisiknya lirih.

“Kau akan lihat. Suatu hari, laki-laki yang kau remehkan itu akan memilih aku… bukan kau.”

Matanya berkilat. Bukan sekadar dendam, tapi ambisi. Ambisi untuk membuktikan bahwa pesonanya mampu mengguncang rumah tangga yang selama ini terlihat kokoh.

Suara pintu depan berderit pelan ketika Haikal pulang kerja. Jas masih melekat di tubuhnya, wajahnya lelah setelah rapat panjang. Ia hendak melangkah menuju kamar utama di lantai atas ketika tiba-tiba,

“Astaga Laura…”

Haikal terhenti.

Di depan tangga, Laura berdiri hanya dengan handuk putih melilit tubuhnya. Rambutnya masih basah, tetesan air mengalir di bahu dan turun ke dada yang terbuka samar. Handuk itu terlalu pendek, memperlihatkan betis mulusnya yang berkilau basah.

“Oh… maaf, Pak,” ucap Laura dengan nada yang dibuat seolah-olah panik tapi tetap manja. “Saya lupa bawa baju ke kamar mandi… tidak sengaja Mas...eh, Pak Haikal lihat. Saya pikir bapak akan pulang larut malam. Sekali lagi maafkan saya pak.”

Haikal menelan ludah keras-keras. Dadanya bergemuruh. Tatapannya berusaha berpaling, tapi mata lelaki itu seolah dipaku pada lekuk tubuh di depannya.

Seketika sesuatu di dalam tubuhnya bereaksi. Bagian dirinya yang selama ini mati, kini hidup—tegak, menuntut, bahkan sakit karena mendadak keras.

Laura menangkap perubahan itu. Senyum tipis menghiasi bibirnya. Ia merapikan handuk seolah takut terbuka, padahal justru mempertegas lekuk tubuhnya.

“Permisi ya, Pak… saya mau pakai baju dulu.” bisiknya lirih sebelum melangkah menuju kamar kecilnya.

Ia sengaja menoleh sebentar, melemparkan lirikan penuh arti.

Haikal berdiri kaku. Nafasnya memburu. Begitu Laura menghilang di balik pintu, ia buru-buru menutup wajahnya dengan tangan, lalu berlari ke kamar mandi pribadinya. Air dingin mengguyur tubuhnya, tapi jantungnya tetap berdetak tak terkendali.

“Apa yang terjadi denganku…? Kenapa aku bisa seperti ini? Dan gadis itu, kenapa dia tampak sangat menggoda.” gumamnya panik.

Malam itu bersama Sagita

Di kamar utama, Sagita sudah menunggu dengan gaun tidur tipis. Ia tersenyum menggoda ketika Haikal masuk.

“Mas… sudah lama Gita tunggu,” ucapnya manja, melingkarkan tangan ke leher Haikal. “Malam ini Gita ingin mas benar-benar jadi suami Gita.”

Haikal menelan ludah. Tadi… ia berniat. Tubuhnya barusan sempat terbangun. Ia ingin mencoba. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya masih bisa memberi Sagita kebahagiaan.

Namun saat matanya menatap tubuh Sagita, anehnya… bara itu padam begitu saja. Bagian bawah tubuhnya yang tadinya begitu keras, tiba-tiba layu, mati rasa, seolah tak mengenal gairah.

Sagita merengut.

“Kenapa lagi, Mas? Jangan bilang Mas capek. Atau… memang Mas sudah tidak tergoda sama aku? Apa aku gak menarik di mata mas, apa aku gak seksi?”

Haikal terdiam, wajahnya pucat. Ia tidak sanggup menjawab.

"Bukan gitu Git, tapi..."

"Tapi apa mas?. Kenapa sih kamu selalu bikin aku kecewa. Apa kamu sebenarnya gak punya perasaan ya sama aku?." Desak Gita yang membuat Haikal semakin terpojok.

Padahal beberapa saat yang lalu, tubuhnya begitu hidup karena Laura.

“Ya Allah…” bisiknya dalam hati, “kenapa aku bisa jadi begini? Kenapa hanya dengan Laura aku jadi normal… tapi dengan istriku sendiri aku tak bisa?”

Di balik pintu kamarnya, Laura merebahkan diri di ranjang sempit. Ia tersenyum puas, mengingat ekspresi Haikal tadi.

“Terpancing…ikan sudah memakan umpan.” bisiknya pelan. “Kau sudah membuktikan sendiri, Pak Haikal… kau bukan pria mati. Kau hanya pria yang belum menemukan wanita yang tepat.”

Matanya menatap ke langit-langit, penuh tekad. “Dan wanita itu… adalah aku. Bukan istrimu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!