"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Beyond The Words
Fajar menyingsing di Desa Pinus dengan warna gradasi ungu dan emas yang tenang.
Suara helikopter evakuasi sudah lama hilang, menyisakan keheningan hutan yang jauh lebih damai setelah badai semalam. Arlan sudah tertidur pulas di kamar dalam, kelelahan setelah aksi heronya.
Gua berdiri di teras kabin, meluk jaket flanel Dedik yang masih gua pake. Gua natap kabut yang pelan-pelan keangkat dari lembah. Rasanya kayak mimpi. Kita berhasil. Riset itu aman, dan kita selamat.
"Belum tidur, Rey?"
Gua nengok. Dedik berdiri di ambang pintu. Dia udah ganti baju, tapi matanya masih nunjukin sisa-sisa ketegangan semalam. Di tangannya, dia megang gitar akustik yang udah jadi saksi bisu perjuangan kita.
"Gak bisa tidur, Ded. Adrenalin gua masih sisa dikit kayaknya," jawab gua sambil nyengir tipis. "Lo sendiri?"
Dedik jalan mendekat, terus duduk di kursi kayu panjang di teras. Dia naruh gitarnya di pangkuan. "Logikanya, tubuh gua butuh istirahat. Tapi ada satu data yang belum sinkron di kepala gua."
"Sesuatu yang kalau nggak gua selesein sekarang, bakal bikin sistem gua error selamanya."
Gua duduk di sebelah dia, agak ragu tapi penasaran. "Data apa lagi? Kan risetnya udah kelar, udah ke- upload semua."
Dedik nggak langsung jawab. Dia mulai metik senar gitarnya. Kali ini, nadanya bukan melodi teknis riset. Bukan juga melodi klasik yang biasa dia mainin.
Ini melodi baru. Lembut, intim, dan dalem banget. Suara piano elektrik dari tabletnya yang dia sambungin ke speaker kecil mulai ngisi udara pagi itu dengan harmoni yang cantik.
"Dengerin aja, Rey. Jangan dipotong," bisiknya.
Dedik narik napas panjang, matanya natap lurus ke arah kabut, tapi gua ngerasa fokusnya cuma ke gua. Dia mulai nyanyi dengan suara beratnya yang biasanya cuma keluar buat bahas algoritma.
“I’ve practiced every line inside my head, a thousand words I should have said...”
Gua terpaku. Suaranya beda banget. Nggak ada nada dingin atau kaku. Yang ada cuma kejujuran yang bikin dada gua sesak.
Dia nyanyiin gimana dia sering kehilangan keberanian tiap kali gua natap dia. Dia nyanyiin gimana dia ngelihat gua kayak bintang di tengah malam.
Pas masuk ke bagian Pre-Chorus, petikan gitarnya makin intens.
“I’m tired of hiding what’s true... of keeping these feelings from you...”
Gua nahan napas. Dedik nengok ke gua, tepat di mata. Detik itu, gua tau ini bukan lagi soal riset. Ini adalah variabel paling jujur yang pernah dia ungkapin.
“I’ve fallen for you, heart and soul. You’re the part that makes me whole...”
Suara Dedik naik, penuh emosi, seolah-olah dia lagi ngelepas semua beban yang selama ini dia simpen di balik kacamata hitamnya. Dia bilang ini bukan cuma sekadar suka atau fase lewat. Dia mau nyintain gua selamanya.
Gua ngerasa air mata gua mulai netes. Bukan karena sedih, tapi karena gua nggak nyangka kalau di balik logika "sialan"-nya, dia punya perasaan sedalam ini.
Dedik lanjut ke Verse kedua dengan nada yang kembali melembut, seiring piano yang makin jernih. Dia nyanyiin soal masa depan yang dia liat di senyum gua.
Soal gimana dia mau nemenin gua lewat pagi yang sunyi dan hujan. Dia bilang gua nggak perlu jadi sempurna atau kuat, karena di samping dia adalah tempat gua yang paling bener.
Gitar Dedik makin kenceng di bagian Bridge. Suaranya melengking tinggi, penuh tenaga.
“I don’t need the moon or the stars above, I just need the rhythm of your love!”
Dia bilang hatinya udah milih gua, apa pun jawaban gua nanti.
Lagu itu pelan-pelan melambat. Suara piano memudar, nyisain petikan gitar yang sangat halus. Dedik berhenti metik gitarnya. Dia naruh gitarnya di samping, terus dia megang tangan gua. Dingin, tapi genggamannya mantap.
Dia nunduk dikit, mendekat ke telinga gua, dan ngebisikin kalimat terakhir lagu itu yang bikin dunia gua bener-bener berhenti berputar.
"Beyond the words, beyond the fear... I'm right here."
Dia diem sejenak, terus dengan suara yang nyaris nggak kedengeran tapi sangat jelas di hati gua, dia bilang:
"I love you."
Gua nggak bisa ngomong apa-apa. Gua cuma bisa meluk dia kenceng banget, nyembunyiin muka gua di bahunya. Gua bisa ngerasain napasnya yang berat dan detak jantungnya yang sama kencengnya sama jantung gua.
"Gua... gua juga, Ded," bisik gua parau. "Logikanya... gua emang udah kalah sama lo dari dulu."
Dedik ketawa kecil, suara ketawa paling lepas yang pernah gua denger. Dia ngelepas pelukannya sebentar, terus benerin kacamata gua yang agak miring kena air mata.
"Berarti datanya udah sinkron ya?" godanya, balik lagi ke mode Dedik yang gua kenal.
"Sinkron banget, Partner Sialan!"
Di teras kabin Desa Pinus itu, di tengah fajar yang mulai terang, frekuensi kami nggak cuma selaras di atas kertas riset.
Kami akhirnya menemukan harmoni yang melampaui kata-kata. Dan gua tau, perjalanan setelah ini nggak bakal gampang, tapi selama ada Dedik dan gitarnya, gua nggak bakal takut lagi buat nyanyiin lagu kehidupan gua.