NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 : Tihta pertama

“Yang Mulia, aku datang untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Sikapku... semua penghinaanku... aku benar-benar tidak tahu siapa kau sebelumnya. Aku harus menyelesaikan ini sekarang juga.”

Alin menatap Rei dengan lugas, sadar bahwa pria di depannya ini bukan lagi sekadar 'pasien misterius', melainkan seseorang yang dunianya tak akan pernah bisa ia masuki tanpa membawa luka.

Tempat ini begitu tertutup, begitu terlindungi. Sebuah benteng modern yang menegaskan seberapa jauh jarak kasta di antara mereka berdua sejak awal.

“Aku tidak pernah mempermasalahkan sikapmu. Jika satu perkataan bisa menenangkanmu, kejadian yang telah berlau tidak perlu diungkit kembali. Aku akan anggap semuanya tidak terjadi.” Ucap Rei meniru perkataan Alin saat ia dirawat dirumah sakit.

Alin semakin tertunduk, ia ingat dengan jelas bagaimana dirinya menampar sang pangeran dan mengatakan pria itu bodoh karena tidak mengerti bahasanya.

“Aku sungguh-sungguh minta maaf, Yang Mulia.” Lirihnya kembali dengan menanggung rasa malu dan khawatir.

“Alin, bisakah kau tidak memanggilku seperti itu? Setidaknya saat hanya ada kita berdua.”

“Aku... tidak berani,” Ujar Alin pelan.

Rei mendengus kesal. Ia melangkah maju, membuat Alin sontak mundur hingga pergelangan kakinya yang kaku terkilir membuat dirinya kehilangan keseimbangan.

SRAAAKK!

Debaran jantung Alin semakin berpacu cepat saat tangan besar pria itu menahannya tak terjatuh. Dekapannya erat melingkar dipinggangnya.

“Maaf membuatmu merasa bersalah. Aku tidak berniat menyembunyikan darimu sejak awal,” ucap Rei, tatapan matanya lembut meluluhkan rasa khawatir Alin.

“Aku yang salah karena tidak menyadari siapa kau sebenarnya, Pangeran Yan,” balas Alin dalam dekapan itu. Ia menyesal tidak membaca tuntas biografi Rei yang sempat diperingatkan kakaknya. Jika saja ia lebih teliti, ia tidak akan terjebak dalam situasi ini. Tidak akan ada lagi pertemuan selanjutnya.

“Yuchen, ambilkan kotak obat!” perintah Rei pada sang asisten yang bersiaga di luar.

Rei menuntun Alin ke kursi, lalu tanpa diduga, sang pangeran berlutut di hadapannya. Membuka pengikat sepatu tinggi wanita itu. Alin mematung, napasnya tertahan.

“Ya—Yang Mulia...” Alin mencoba menahan bahu bidang Rei.

“Ini kotaknya, Tuan,” sahut Yuchen yang muncul sejenak lalu segera undur diri. Ia tahu tuannya butuh privasi bersama wanita pilihannya.

“Aku bisa melakukannya sendiri—” balas Alin, tak mungkin bagi anggota kerajaan terlebih seorang pangeran berlutut dihadapan seseorang. Kasta pria itu lebih tinggi, ini membuatnya tidak nyaman.

“Duduklah dengan tenang,” potong Rei halus namun tak terbantahkan.

Tangan besar dan hangat itu mulai memijat lembut pergelangan kaki Alin. Jantung Alin berpacu liar. Ia bersyukur tidak sedang memakai smartwatch, atau ritme jantungnya yang kacau akan terpampang nyata. Rei kemudian beralih membalur obat pada tangan Alin yang sempat tersiram air panas tadi.

“Kenapa mengenakan sepatu setinggi ini?”

“Tidak mungkin aku memakai sneakers dengan gaun seperti ini.”

“Kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri sejak pertama kali kita bertemu.”

“Itu hanya kebetulan. Tadi itu juga bukan kesalahanku, ada yang menabrakku,” sanggah Alin sambil menarik tangannya, mengingatkan pada Rei bahwa luka lepuh kejadian tadi bukan kesengajaannya melainkan kelalaian orang lain yang menabrak dirinya.

“Ya, itu bukan salahmu. Tapi semua ini tidak akan menjadi petaka jika kau—”

“Aku tahu. Maafkan aku, Yang Mulia. Jika aku mengenalmu lebih awal, aku akan jauh lebih menjaga sikap,” sela Alin kembali menunduk.

Rei tersenyum tipis, namun ada nada getir di sana. Ia benci jarak yang diciptakan oleh protokol formalitas ini. “Aku tidak suka dengan sikap mu yang seperti ini Alin. Jika aku mengizinkanmu bersikap bebas, maka lakukanlah.” Ia benci sifat Alin yang semakin menghindar darinya.

“Yang Mulia...”

Rei menarik kursi Alin agar lebih dekat, lalu mengangkat dagu wanita itu menangkap bola mata Alin untuk tertuju padanya.

“Terakhir kali, Alin. Jika kau masih menyebutku dengan gelar itu, aku benar-benar akan menjatuhkan hukuman padamu. Ini tihta ku.” Ujarnya menekan Alin dengan otoritasnya.

“Y-ya... aku mengerti, —Rei,” ucap Alin terbata, membuat senyum pangeran itu merekah.

“Aku memanggilmu ke sini karena ada yang ingin kusampaikan,” ujar Rei tenang. “Aku tidak pernah mengundang wanita mana pun ke kediaman pribadiku. Kau cukup cerdas untuk menilai apa artinya ini.”

Alin terdiam, terkunci oleh tatapan intens Rei.

“Sejak awal, aku ingin mengenalmu lebih dekat. Aku meminta izin untuk menjalin hubungan denganmu,” lanjut Rei lugas. “Dan aku akan terus memintanya, meski kau menolakku berulang kali dengan statusku yang sekarang.”

“Rei, aku...”

“Aku sudah katakan, perkataan ku tidak terbantahkan. Aku tidak pernah mendengar penolakan.”

Alin mendengar perkataan Rei yang seakan angkuh dan mendominasi sungguh membuatnya kesal.

“Kau kira dengan status mu maka perasaan seseorang akan tunduk pada mu.” Kesal Alin.

Rei tidak bergeming.

Tatapannya tetap terkunci pada Alin, dingin dan tajam seperti bilah yang baru diasah. Di balik sikap angkuhnya, ada sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun—takut. Takut akan kehilangan dan penolakan dari wanita itu untuk kesekian kalinya.

“Sejak awal statusku bukan yang membuatku datang padamu, Alin,” katanya pelan, tapi setiap kata jatuh seperti vonis. “Aku datang karena kau satu-satunya orang yang melihatku bukan sebagai pangeran. Bahkan hingga detik ini meski kau sudah mengetahuinya, kau bahkan masih berpikir untuk menolak ku.”

Alin mengepalkan tangan. “Kau gila? Atau kau terlalu terbiasa melihat semua orang mengangguk saat kau bicara?” Ia berdiri, menantang mata Rei. “Aku bukan bagian dari istana atau rakyatmu. Aku tidak akan menjadi salah satu koleksi kata ‘Iya’ yang kau kumpulkan!”

Keheningan menyergap. Di luar, hujan membasuh kota, sementara di dalam ruangan, ego dan rasa cinta sedang berbenturan. Rei maju satu langkah, menipiskan jarak.

“Lalu dengarkan aku sekali ini saja,” bisiknya. “Aku memintamu bukan karena aku butuh izin. Aku melakukannya karena aku menghormati satu hal yang tersisa dalam dirimu: kebebasan untuk menolak.”

Ia berhenti sejenak, suaranya hampir pecah. “Dan aku akan menunggu. Sampai kau lelah menolak. Atau sampai aku yang lelah mencintai.”

Pertahanan Alin goyah. Kemarahan di matanya meredup, digantikan oleh debaran yang membingungkan. Mengapa pria arogan ini selalu punya cara untuk membuat sebuah penolakan terasa seperti kehilangan yang besar?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!