NovelToon NovelToon
Aksara Cinta Sang Penulis

Aksara Cinta Sang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Aroma sabun maskulin yang segar dan menenangkan perlahan menyeruak, mengalahkan bau obat-obatan yang sempat mendominasi ruangan.

Bersamaan dengan itu, keharuman lembut dari anggrek bulan putih yang tertata di sudut kamar mulai terasa di indra penciuman Gayuh.

Kehangatan itu perlahan menarik kesadarannya kembali dari kegelapan yang panjang.

Gayuh menggerakkan jemarinya yang kaku, lalu membuka matanya perlahan-lahan.

Pandangannya sempat mengabur, namun perlahan-lahan siluet seorang pria yang sangat ia kenal mulai terlihat jelas.

Jati duduk di sisi tempat tidur, menatapnya dengan tatapan mata yang begitu dalam dan penuh kelegaan.

Pria itu tampak jauh lebih segar dengan kemeja bersih yang baru, rambutnya yang agak basah menyebarkan aroma sabun yang menenangkan tadi.

Melihat kelopak mata wanita itu terbuka sempurna, sudut bibir Jati terangkat, membentuk sebuah senyuman yang sangat tampan dan tulus.

Ia meraih jemari pucat Gayuh, mengecupnya dengan lembut seolah sedang menyentuh permata yang paling berharga di dunia.

"Selamat datang kembali, putri tidur," bisik Jati dengan suara baritonnya yang rendah dan sarat akan rasa syukur.

Gayuh menatap wajah Jati, lalu melirik ke arah rangkaian anggrek bulan di sampingnya.

Di tengah rasa nyeri yang masih tersisa di punggungnya, sebuah kehangatan yang luar biasa menjalar ke dalam dadanya.

Ia tahu, ia telah pulang ke pelukan pria yang tepat.

Gayuh tersenyum tipis, sebuah lengkungan manis yang meskipun lemah, mampu menghapus seluruh sisa badai dan ketakutan di hati sang CEO malam itu.

Dokter bedah dan dua orang perawat baru saja selesai memeriksa tanda-tanda vital Gayuh yang baru beberapa menit lalu tersadar dari komanya.

Setelah memastikan semua indikator pada monitor menunjukkan angka yang aman, dokter tersebut menoleh ke arah Jati dengan senyuman lega.

"Syukurlah, semuanya baik-baik saja, Tuan Jati. Kondisi fisik Nona Gayuh pulih dengan sangat cepat. Ini benar-benar sebuah keajaiban. Sekarang, biarkan beliau beristirahat untuk mengembalikan tenaganya," ucap dokter itu sebelum berpamitan dan melangkah keluar kamar bersama para perawat.

Suasana ruangan kembali sunyi, hanya menyisakan keharuman anggrek bulan dan aroma sabun dari tubuh Jati.

Jati kembali duduk di pinggir ranjang, menggenggam erat tangan Gayuh yang masih terasa dingin.

Gayuh menatap Jati dengan tatapan matanya yang sayu namun penuh dengan gejolak bersalah.

Ia menarik napas pendek, mengumpulkan keberanian yang tersisa di dalam dadanya.

"J-Jati... ada sesuatu yang sangat penting yang ingin aku sampaikan kepadamu," bisik Gayuh dengan suara yang bergetar parau.

Jati mengusap punggung tangan Gayuh dengan lembut.

"Ada apa, hmm? Katakan saja."

Gayuh menunduk, tidak berani menatap langsung mata tajam pria di depannya.

"Sebenarnya... aku sudah membohongimu selama ini. Aku bukan Tryas Adiguna yang kaya itu. Namaku..."

"Gayuh Leksananingtyas, sang penulis novel bertalenta," potong Jati dengan nada suara yang sangat tenang dan lembut.

Gayuh seketika membelalakkan matanya, menatap Jati dengan rasa terkejut yang luar biasa hingga napasnya tertahan.

"K-kamu sudah tahu kalau aku membohongimu?"

Jati tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat hangat.

"Aku sudah tahu sejak malam pertama kita berkenalan. Setelah mengantarmu pulang, aku meneleponmu untuk memastikan kamu aman, dan saat itu aku sempat mengintip ke dalam rumahmu. Aku melihat foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu, di mana ada kamu bersama kedua orang tuamu. Di bawah foto itu tertulis namamu yang indah."

Air mata Gayuh menetes membasahi pipinya yang pucat.

Rasa bersalah yang selama ini menghimpit dadanya kini meledak.

"Lalu, kenapa kamu membiarkannya? Kenapa kamu berpura-pura tidak tahu dan tetap bersikap baik kepadaku? Aku sudah bersikap bodoh, Jati."

"Ssshhh..." Jati meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Gayuh dengan lembut, menghentikan kalimat wanita itu.

"Kamu bukan orang bodoh, Gayuh. Kamu adalah wanita luar biasa yang sungguh-sungguh mencintai aku apa adanya, bahkan saat kamu mengira aku hanyalah seorang tukang ojek miskin yang tidak punya masa depan."

Jati menarik napas dalam-dalam, lalu menatap lekat ke dalam manik mata Gayuh. "Dan karena kamu sudah jujur, sekarang giliranku. Aku juga punya sebuah rahasia besar, Gayuh."

Gayuh mengedipkan matanya yang masih basah, merasa bingung.

"Rahasia?"

Jati memperbaiki posisi duduknya, menggenggam kedua tangan Gayuh dan menciumnya dengan penuh takzim.

"Aku bukan tukang ojek online seperti yang kamu lihat selama ini. Namaku Jati Aditama, CEO utama dari J-Corp."

Mendengar pengakuan itu, dunia Gayuh seolah berputar.

Ia menatap jaket ojek kusam Jati yang masih tersampir di kursi, lalu menatap kamar VVIP mewah tempatnya dirawat, dan teringat fasilitas "asuransi penulis" yang sebelumnya diceritakan Jati.

"K-kamu, CEO J-Corp?" tanya Gayuh dengan suara yang nyaris hilang, benar-benar tidak percaya bahwa pria yang selama ini membelikan bubur ayam di pinggir jalan adalah sang penguasa ekonomi negeri ini.

Setelah keterkejutan Gayuh mereda, Jati membawa jemari wanita itu ke pipinya, menikmati kehangatan yang sempat hampir hilang.

Ia tersenyum, lalu mulai menceritakan lembaran demi lembaran rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

"Semua ini berawal dari perjodohan, Gayuh," ucap Jati membuka cerita, suaranya mengalun tenang di antara keharuman anggrek bulan.

"Orang tuaku dan Papa Yudha menjodohkanku dengan Tryas Adiguna. Malam itu, aku sengaja datang menggunakan atribut ojek online untuk menguji seperti apa wanita yang akan mendampingi hidupku. Dan seperti dugaanku, Tryas langsung menolakku dengan angkuh karena mengira aku miskin. Dia lalu menyuruhmu untuk menggantikannya menemui 'ojol' ini."

Jati terkekeh pelan, mengingat malam yang mengubah takdirnya itu.

"Tryas mengira dia sedang membuang sial, tapi dia tidak sadar bahwa dia baru saja memberikan berlian paling berharga kepadaku. Berlian yang tidak silau oleh tumpukan uang."

Gayuh tertegun, mendengarkan setiap bait kalimat Jati dengan jantung yang berdebar.

"Kamu ingat malam pertama kita? Bukannya meminta makan di restoran mewah, kamu malah mengajakku makan lalapan di warung lesehan pinggir jalan," lanjut Jati, matanya berbinar penuh kerinduan akan momen itu.

"Bahkan keesokan harinya, kamu tidak malu ikut denganku berboncengan, menemaniku mengantarkan orderan penumpang di bawah terik matahari."

Jati meremas lembut tangan Gayuh. "Lalu, setelah lelah berkeliling, kamu mengajakku makan nasi campur di pasar tradisional yang ramai, dan malamnya kita mengantre bersama untuk membeli martabak telur kesukaanmu. Bagiku yang terbiasa dengan jamuan makan malam formal yang kaku, momen-momen bersamamu adalah kemewahan yang sesungguhnya."

Air mata haru kembali menetes di sudut mata Gayuh.

Ia tidak menyangka kesederhanaan yang ia lakukan justru begitu membekas di hati seorang CEO.

Jati mengecup kening Gayuh dengan sangat lama dan penuh perasaan.

"Di dunia tempatku tinggal, semua orang mendekatiku karena takhta dan hartaku. Tapi kamu, Gayuh, kamu mencintai Jati sang tukang ojek dengan ketulusan yang luar biasa. Jadi, katakan padaku, bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta setengah mati kepadamu?"

Setelah keterkejutan Gayuh mereda, Jati membawa jemari wanita itu ke pipinya, menikmati kehangatan yang sempat hampir hilang.

Ia tersenyum, lalu mulai menceritakan lembaran demi lembaran rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

Air mata haru kembali menetes di sudut mata Gayuh.

Ia tidak menyangka kesederhanaan yang ia lakukan justru begitu membekas di hati seorang CEO.

"Dan yang paling membuatku jatuh hati," Jati menatap dalam ke manik mata Gayuh, "adalah saat Tryas mengejek dan menghinaku di depan umum. Kamu, dengan tubuh kecilmu ini, berdiri paling depan membelaku tanpa rasa takut sedikit pun. Kamu menghargai harga diriku sebagai seorang 'pria ojol' yang kamu kira tidak punya apa-apa."

Jati mengecup kening Gayuh dengan sangat lama dan penuh perasaan.

"Aku mencintaimu, Gayuh Leksananingtyas." ucap Jati.

1
Dew666
😍😍😍😍
Rahmawati
wow maharnya fantastis bgt👏👏👏
Rahmawati
hahaha, pagi pagi udah nongol aja si jati
Rahmawati
tryas km akan nyesel nanti😂
Rahmawati
lah kok malah jadi nyaman😂
Rahmawati
baru mulai baca
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Vie
aaaa..... ini disini juga aku mau jati... ini udah mangap dari tadi loh... 🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
nah itu kau tahu sendiri kan.... makanya selamat tersiksa ya tryas.... 🤪🤪🤪🤪
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍👍👍
Vie
iiihhhh jadi baper deh.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Vie
kamu dasar cucu durhakim.... bilang neneknya sakit.... eh ternyata lagi santai di ln..... dasar cucu durhakim... 🤭🤭🤭🤭
Vie
demi bos jadi ikutan nyamar.... 🤣🤣🤣🤣 demi apa coba hal itu dilakukan.... demi cinta... 🤭🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
lanjut kak..... 👍👍👍👍 seru banget..
Vie: makasih kak.... aku selalu stay walau jarang komen, tapi tetap lanjut baca... lanjut sampai ceritanya tamat ya kak.. 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!