Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 18 : BADAI OPINI DAM REVOLUSI SANG ISTRI
Pagi itu, Jakarta tidak memberikan kesempatan bagi keluarga Arkatama untuk bernapas lega. Saat matahari baru saja mengintip di balik gedung-gedung beton, layar ponsel di seluruh penjuru negeri sudah dipenuhi oleh tajuk berita yang menggelegar: "PERNIKAHAN ABAD INI HANYA DRAMA? KONTRAK 12 MILIAR DI BALIK CINTA SANG CEO DAN ARSITEK!"
Dokumen rahasia yang tadinya hanya diketahui segelintir orang, kini tersebar luas dalam bentuk tangkapan layar di platform TikTok, Instagram, hingga portal berita gosip ternama. Netizen mulai menghujat. Anya dicap sebagai "Pengeruk Harta" dan "Wanita 12 Miliar", sementara Devan dituduh sebagai "Pembohong Publik" yang memanipulasi citra demi harga saham.
Di dalam rumah sakit, suasana menjadi sangat tegang. Harga saham Arkatama Shipping Lines anjlok tujuh persen dalam pembukaan pasar pagi itu. Pihak direksi mulai panik, dan kerabat-kerabat yang haus harta mulai bermunculan di lobi, menuntut penjelasan.
"Devan, kamu harus bicara! Media sudah mengepung lobi rumah sakit!" seru salah satu asisten pribadi Devan dengan wajah pucat.
Devan berdiri di samping ranjang Papanya yang masih belum sadar penuh, rahangnya mengeras. "Aku tidak akan meninggalkan Papa di saat seperti ini hanya untuk bicara pada burung-burung nasar itu."
Anya, yang sejak tadi duduk diam memperhatikan kekacauan di layar televisinya, tiba-tiba berdiri. Matanya yang sembap karena kurang tidur kini memancarkan api keberanian yang belum pernah dilihat Devan sebelumnya.
"Tidak, Devan. Kamu tetap di sini bersama Papa dan Mama," ucap Anya tegas. "Biarkan aku yang menghadapi mereka."
"Anya, jangan konyol! Mereka akan menguliti kamu hidup-hidup!" Devan mencoba menarik tangan istrinya.
Anya tersenyum tipis, menggenggam tangan Devan dengan lembut namun kuat. "Selama ini kamu yang melindungiku, Devan. Kamu menyelamatkan hutang keluargaku, kamu melindungiku dari Raka, dan kamu berdiri di depan Hendra untukku. Sekarang, biarkan aku melakukan tugasku sebagai Nyonya Arkatama. Aku bukan hanya 'transaksi' dalam kontrak itu, aku adalah istrimu. Dan seorang istri tidak akan membiarkan suaminya hancur sendirian."
Namun, rencana keluar dari rumah sakit ternyata tidak semudah itu. Lobi utama dan pintu darurat sudah dijaga ketat oleh ratusan wartawan dengan kamera yang siap membidik.
"Kita tidak bisa lewat depan. Mereka seperti zombi yang lapar berita," ucap Pak Jono, yang kini sudah dibebaskan dengan jaminan dan kembali setia membantu Anya sebagai bentuk penebusan dosa.
"Pak Jono, ada ide?" tanya Anya.
"Satu-satunya jalan adalah lewat jalur pembuangan limbah laundry dan dapur, Mbak. Tapi Mbak harus... sedikit menyamar," jawab Pak Jono ragu-ragu.
Devan hanya bisa melongo saat melihat Anya mengenakan seragam petugas kebersihan rumah sakit lengkap dengan masker bedah, penutup kepala plastik, dan sepatu bot karet yang kebesaran. Anya bahkan harus membawa gerobak berisi tumpukan sprei kotor yang baunya sangat menusuk.
"Anya, kamu serius?" Devan menahan tawa meski hatinya sedang gundah. "Kamu terlihat seperti... petugas sterilisasi paling cantik yang pernah kulihat."
"Jangan menghina, Tuan CEO! Bot karet ini lebih nyaman daripada sepatu hak tinggi butik itu," sahut Anya sambil mendorong gerobaknya dengan lincah.
Saat melewati kerumunan wartawan di area parkir samping, seorang wartawan sempat mencurigainya. "Eh, Sus! Lihat Nyonya Anya tidak?"
Anya mengubah suaranya menjadi cempreng dan medok. "Aduh Mas, Nyonya Anya lagi pingsan di dalam! Banyak selangnya! Saya mah mau cuci sprei dulu, bau amis ini Mas, mau bantu?"
Wartawan itu langsung menutup hidungnya dan menjauh dengan jijik. "Enggak, enggak! Silakan lewat, Bu!"
Anya berhasil keluar. Ia segera berganti pakaian di dalam mobil studio bunga miliknya yang sudah menunggu di luar area rumah sakit. Di dalam mobil, ia mengenakan setelan blazer putih yang bersih—simbol kejujuran dan kemurnian.
...****************...
Pukul satu siang, gedung Arkatama Tower sudah dipadati media. Anya melangkah masuk tanpa Devan. Ia berdiri di podium sendirian, tanpa pengacara, tanpa naskah di tangan. Hanya ada keberanian seorang wanita yang sedang memperjuangkan cintanya yang baru tumbuh.
Lampu kilat kamera menyambar-nyambar seperti badai petir. Pertanyaan-pertanyaan tajam mulai dilontarkan.
"Nyonya Anya! Apakah benar Anda dibayar 12 miliar untuk menikahi Devan Arkatama?!"
"Apakah pernikahan ini hanya strategi untuk menaikkan harga saham?!"
Anya mengangkat tangannya, meminta ketenangan. Suaranya terdengar jernih dan berwibawa melalui mikrofon.
"Selamat siang semuanya. Saya di sini tidak untuk membantah dokumen yang Anda semua lihat di media sosial," kalimat pembuka Anya membuat seluruh ruangan hening seketika.
"Memang benar, awalnya pernikahan ini didasari oleh sebuah kesepakatan tertulis. Saya sedang berada di titik terendah hidup saya, dan keluarga Arkatama membutuhkan stabilitas. Kami berdua adalah manusia yang terluka yang mencoba mencari jalan keluar dengan logika bisnis yang dingin," lanjut Anya. Ia menatap lurus ke arah kamera, seolah sedang bicara langsung pada jutaan penonton di rumah.
"Namun, apa yang tidak tertulis dalam kontrak itu adalah apa yang terjadi setelah pintu rumah kami tertutup. Kontrak tidak bisa mengatur bagaimana jantung saya berdegup saat Devan melindungi saya. Kontrak tidak bisa mengatur bagaimana Devan belajar mencintai tanaman hanya karena dia ingin melihat saya tersenyum. Dan kontrak itu... sudah menjadi abu dalam hati kami sejak lama."
Anya mengambil napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca namun suaranya tetap stabil. "Jika kalian ingin menghujat, hujatlah saya. Tapi jangan pernah meragukan pengabdian Devan Arkatama pada keluarganya. Saat ini, pria yang kalian sebut 'pembohong' itu sedang berlutut di samping ranjang ayahnya yang kritis, memohon keajaiban. Apakah itu terlihat seperti orang yang hanya peduli pada saham?"
"Saya di sini bukan sebagai mitra bisnis. Saya di sini sebagai istri yang mencintai suaminya. Jika 12 miliar adalah harga untuk menemukan cinta sejati saya, maka saya akan membayar setiap sennya dengan kesetiaan seumur hidup saya. Apakah ada di antara kalian yang bisa menilai harga sebuah cinta?"
Ruangan konferensi pers mendadak sunyi senyap. Beberapa wartawan wanita tampak menyeka air mata. Ketulusan Anya meruntuhkan semua teori konspirasi yang ada.
"Pertemuan kami memang diawali oleh tekanan keluarga," tutup Anya. "Tapi keberadaan kami di sini saat ini adalah karena tekanan hati yang tidak bisa lagi kami ingkari. Terima kasih."
Anya berjalan turun dari podium dengan kepala tegak. Di belakang panggung, ia langsung lemas dan terduduk di lantai. Ia melihat ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Devan.
"Aku melihatmu di televisi, Anya. Papa baru saja membuka matanya saat kamu bicara tentang cinta sejati. Kamu melakukannya, Istriku. Kamu baru saja menyelamatkan kita semua."
Anya menangis sesenggukan karena lega. Namun, di saat yang sama, ia melihat Rico dan Om Bram sedang berdiri di ujung lorong kantor dengan wajah penuh amarah. Mereka tidak akan membiarkan kemenangan Anya bertahan lama. Mereka memiliki satu kartu as terakhir: rekaman suara Hendra yang mengklaim bahwa Anya telah merencanakan ini semua sejak awal untuk memeras keluarga Arkatama.
Badai belum usai, namun sang arsitek kini telah memiliki pondasi yang kuat untuk melawannya.