NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 17

“Sebenarnya siapa dia? Bikin penasaran aja.”

“Teman? Atau … mantan pacar?” Alyra mulai berspekulasi liar, isi kepalanya terasa penuh akan segala macam dugaan.

Tanpa sadar, minyak yang hendak digunakan untuk menggoreng donat, telah menguap panas. Tangannya tak sengaja turun, menyentuh wajan penggorengan.

“Aakhhh!”

Ia angkat tinggi tangannya, mundur dua langkah dari meja kompor. Alyra menggenggam erat jemari yang nyaris saja menjadi topping camilan di penggorengan.

“Nyonya!” Wina berteriak keras, buru-buru berlari menghampiri istri sang tuan muda.

Tangannya gesit memeriksa, matanya terus membulat — menelisik jemari Alyra.

“Nyonya baik-baik saja?” tanyanya panik.

“Nggak apa-apa. Cuma luka kecil, Win.” Ia menyebut nama sang pelayan dengan nada akrab, memang sengaja, setelah tahu bahwa Wina dan dirinya tak terpaut jauh usianya.

“Nggak apa-apa bagaimana?” Mbok Tum yang juga terlihat panik langsung ikut mendekat. “Ambilkan salep di laci kamarku, Win. Kayane ada yang khusus untuk luka bakar,” perintahnya pada Wina.

Wanita baya keturunan asli jawa itu memegang tangan Alyra dengan lembut, meniup titik luka penuh kehati-hatian. Terlihat jelas sebuah ketulusan dari sorot mata keriput itu.

“Makanya, toh, Nduk.” Mbok Tum tak lagi memanggil nyonya, nada bicaranya santai seolah tengah menegur cucunya sendiri. “Mbok kan sudah bilang … biar Mbok saja yang mengurus. Ini bukanlah tugasmu, sampeyan itu nyonya di rumah ini, jangan mau disuruh-suruh dan berkutat di dapur.”

“Iya, Mbok.” Alyra mendengarkan omelan itu dengan senang hati, rasanya seperti ia menemukan sosok sang nenek pada diri Mbok Tum.

“Ini, Mbok.” Wina datang dengan membawa sebuah salep, segera ia berikan pada wanita baya itu.

Setelah diobati, Alyra dilarang keras berada di sana. Mbok Tum meminta Wina untuk menuntun sang nyonya kembali ke kamarnya.

“Gimana kalau mama Zaskia marah?” Alyra bertanya karena mencemaskan para asisten rumah tangga, bila tahu dirinya telah mengacau dan diminta pergi dari sana, pasti wanita yang kerap dipanggil ‘mak lampir’ olehnya akan meradang nan murka.

“Aman, Nyonya,” jawab Wina dengan tenang, kemudian ia sedikit mendekat, berdiri berjarak selangkah dengan Alyra.

Tubuhnya sedikit mencondong lebih dekat ke telinga istri Erlan, suaranya setengah berbisik. “Nyonya besar teh takut sama Mbok Tum. Kalau sudah Mbok Tum yang nyuruh … sudah bisa dipastikan aman.”

“Oh, ya?” Alyra balas sama berbisik.

Wina mengangguk, mengiyakan dengan yakin.

.

.

.

Sementara di tempat lain.

Meja persegi panjang berdiri kokoh, dikelilingi oleh wajah-wajah dengan ekspresi tak tenang.

Menanti detik-detik keputusan dari sang pimpinan.

Sosok berparas tampan duduk dengan raut wajah serius di barisan kanan, sementara di hadapannya duduk seorang pria dengan senyuman miring penuh ejekan, terus menatap remeh dirinya.

“Pak Erlan ….” Suara Dirham terdengar berat. “Apakah ini performa terbaik Anda? Film yang sudah dua minggu diluncurkan … belum juga menyentuh di angka satu juta penonton. Jauh dari target yang telah ditentukan.”

Erlan masih duduk dengan tenang, sama sekali tak terusik atau pun merasa rendah diri atas pencapaian yang belum memenuhi target pimpinannya.

“Saya akan mencoba evaluasi kembali, Pak. Mohon kesediaan menunggu kurang lebih dalam kurun waktu 4 minggu. Itulah tenggat waktu yang telah kita sepakati sebelumnya, tertulis jelas di dalam surat perjanjian,” katanya dengan tegas, tak ada raut wajah gugup, Erlan menatap tanpa ragu netra sang ayah yang duduk di kursi kebesarannya.

“Ha ha ha!” Dirham tertawa sumbang, menatap tak yakin pada putra keduanya. “Ini sudah berjalan dua minggu, dan tim mu hanya mengantongi 700 ribuan penonton, kau yakin dua minggu ke depan dapat memenuhi target?”

“Ya, saya yakin,” jawab Erlan dengan tegas.

“Dari mana datangnya rasa percaya dirimu itu?” Ervin menatap sengit sang adik. “Sudahlah … menyerah saja. Jumlah yang kita dapat sangat jauh perbandingannya. 2 juta penonton … dan 700 ribu penonton?” Ia menyeringai, lalu tertawa mengejek.

“Masih terlalu dini untuk bersikap jumawa, wahai kakakku.” Erlan menekan tiap kalimatnya. Lalu ia beralih, menatap tegas ayahnya. “Saya akan pastikan dalam 2 minggu ke depan, jumlah penonton bertambah, dan memenuhi target yang telah disepakati.”

“Baiklah, mari kita lihat performa Anda. Jangan sampai kecewakan para investor kita.” Dirham berkata penuh penekanan. “Kita sudahi rapat hari ini, sampai bertemu kembali dua pekan kemudian.” Ia menutup rapat dengan tegas.

Para staf dan jajaran dewan pemegang saham satu per satu undur diri, sebagian masih duduk dan saling berbincang, sebagian hanya diam, saling melempar pandang.

“Pak Gio. Perkenalkan, ini Ervin putra sulungku.” Dirham menarik Ervin keluar dari ruangan, menyapa salah satu investor terbesar. “Anda pasti belum pernah bertemu dengannya, ‘kan? Dia termasuk baru berkecimpung di industri ini, Ervin lulusan kampus luar negeri.”

Dengan bangga ia memperkenalkan putra sulungnya kepada rekan bisnisnya.

Sementara Erlan tetap berjalan tanpa menoleh, raut wajahnya dingin seolah muak pada sikap sang ayah yang sejak dulu terlalu jelas membeda-bedakan dirinya dengan sang kakak laki-laki.

“Andi,” panggilnya tegas pada sang asisten.

“Ya, Tuan.” Andi menjawab dengan nada penuh hormat.

“Katakan pada tim kreatif, kalau mereka tidak mampu menangani naskah Alyra, saya yang akan mengambil alih.” ujar Erlan dingin, tatapannya tajam tanpa secuil keramahan. “Kita nyaris tenggelam. Dan harus segera mempersiapkan proyek berikutnya.”

“Baik, Tuan.”

.

.

.

“Astaga Alyra! Dasar kampung! Pasti Lo kan yang udah nyolong berlian itu!”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!