⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"
10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.
Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Bagaimana kalau aku menikah nanti?
"Gue gak berharap dia suka beneran, Ron," Kali ini Devan dan Baron, teman kantornya yang cukup akrab itu sedang duduk di Cafetaria. Menghabiskan waktu istirahat siang mereka.
Devan bekerja di perusahaan saham terkemuka di kota itu. Posisinya sebagai manajer membuat dirinya cukup terkenal. Selain itu, dia juga cukup ramah terhadap karyawan yang ada di sana. Baron adalah salah satu teman dekatnya sejak dia masih di dunia perkuliahan dahulu.
"Ya kali, gak bakalan ada yang berharap gitu kalo lo sendiri ada rasa ke dia. Tunggu, tumben-tumbenan lu mau bahas ginian bareng gue. Abis kesambet ape lu?" Baron tampak keheranan dengan temannya satu ini.
"Gue cuma mau nanya aja." Devan meraih kopi americano nya.
"Kasihan ya, hidup menjomblo kagak ada niatan apa buat nyari bini?" Baron tertawa getir berpura-pura prihatin pada Devan. "Inget umur, bro! Ntar lo mau jadi aki-aki kolot yang tetep menjomblo?"
Devan tersenyum tipis. "Kurang ajar emang ya," katanya. Waktu Zuhur pun tiba, segera mereka menuju musala untuk menunaikan ibadah salat. Masalah salat tepat waktu memang tetap menjadi prioritas mereka meskipun berada di tengah-tengah kesibukan. Pernah suatu ketika saking banyaknya pekerjaan yang harus diatasi, para karyawan kantor pun berinisiatif untuk salat jemaah di ruangan itu.
"Tapi tetep aja, Bro. Gue saranin lo serius buat yang satu ini," ucap Devan saat mereka memasang kaus kaki di dekat rak sepatu Musala.
Devan terdiam, memang benar. Tak ada salahnya di berpikir untuk yang satu ini.
...****************...
"Astaga, Nung! Kamu kelihatannya capek banget mata mu sampe item-item gitu kayak panda!" seru salah satu karyawan butik yang tengah packing barang untuk dikirimkan.
"Ngaca lu! Mata lu juga item kayak abis di spidolin," balas Nunung kemudian kedua orang itu tertawa. Semakin hari permintaan barang di butik itu semakin naik, membuat para karyawan di bagian pemaketan barang ini menjadi sibuk. Hanum jadi merasa bersalah pada dirinya sendiri sebab dia hanya memantau data yang masuk dan memastikan para karyawan itu bekerja.
"Eh, Mbak Hanum? Mau bantuin juga?" kata salah satu karyawan kepada Hanum. Di sana ada beberapa karyawan lainnya yang juga turut serta melabeli paket-paket pesanan itu.
"Hehe, iya boleh." Akhirnya, Hanum pun turut serta membantu para karyawan hingga sore hari, pekerjaan itu siap. Semua pesanan telah diatur ke logistik dan distributor.
"Hwaiting (semangat dalam bahasa Korea "화이팅") gesss!!" seru Dela saat dia membawakan kantong besar denagn logo manusia salju berisi Mixue itu.
"Asyikkk!! Dapet Mixue!!" seru Nunung, beberapa karyawan lainnya tampak tertawa senang.
"Wah, wah, wah.., pasti kalian pada capek ya. Eh, Hanum kamu ikut bantu juga?" Dela menoleh pada Hanum yang ada di sebelah Nunung.
"Iya, Buk. Dari tadi Mbak Hanum bantuin kita juga," Nunung yang menjawabnya.
"Wah, terimakasih yaaa." Dela tampak senang dan dia mulai membagikan minuman itu kepada para karyawannya.
"Akhirnya, lega juga udah siap semua kerjaan ini," ucap Nunung. Hari telah menunjukkan pukul setengah enam. Tampak langit memerah jingga cerah, membuat para pekerja itu ingin segera pulang.
"Hati-hati di jalan ya, gesss!" kata Dela memberikan semangat pada para karyawannya yang kini tampak bersiap untuk pulang.
"Baik, Buuu! Arigatou Gozaimass!" seru salah satu karyawan pria.
Nunung pun segera berdiri. "Mbak Hanum, Bu Dela, Nunung pulang duluan ya," katanya kepada mereka berdua.
"Eh, kamu pulang sama siapa Nung?" tanya Dela.
Malu-malu Nunung menunjuk ke arah luar, dimana ada seorang pria yang gendut dengan motor Vespa nya tampak melambaikan tangan ke arahnya.
"Oh.., iya deh ati-ati," kata Dela.
Nunung menganggu dan tersenyum lebar. "Duluan ya Mbak, Bu." Dia segera keluar menemui pria yang sebelas dua belas bobotnya dengan dia dan berkacamata bulat. Beberapa detik kemudian, Nunung kembali masuk dan menemui keduanya.
"Bu, Nunung boleh pinjam pompa gak? Besok Nunung bawa lagi..," pintanya pada si pemilik butik.
"Iya deh iya, bawa aja itu ada di gudang. Jangan lupa balikin ya," kata Dela.
"Aman, Bos!" Nunung segera berlari kecil dan membawa pompa itu pada pacarnya itu. Lalu mereka pun pulang.
"Ntar ban nya takut kempes kali," kata Dela tiba-tiba. Hanya tinggal Dela dan Hanum yang berada di butik itu.
"Hanum, ada yang mau aku bicarakan sama kamu," katanya lagi.
"Apa, Kak?"
Akhirnya, mereka berdua pun duduk di salah satu kursi ruangan butik itu.
"Aku salut sama kamu, sejak kamu masuk ke butik ini, penjualan barang kita meningkat. Terimakasih ya," kata Dela memulai percakapannya.
"Sama-sama, Kak. Itu sudah menjadi tugasku," katanya sambil tersenyum.
"Ada satu lagi yang belum sempat aku ceritakan ke kamu, Hanum. Kamu tahu? Sebelum kamu datang siapa yang ada di posisi kamu?" kata Dela kemudian. Dia tampak menarik napasnya sejenak.
"Vanya. Dia yang dulu manajer di sini," ujarnya lagi.
"Aku pecat dia karena dia mencuri dana yang selama ini aku simpan agar butik aku tetap berjalan. Gak hanya itu, dia merusak beberapa alat sampai akhirnya aku tuntut dia ke polisi. Cuman dia minta maaf dan ganti semua barangnya." Dela mulai menjelaskan.
Hanum terdiam sejenak.
"Kemungkinan besar dia pasti morotin suami kamu dulu. Soalnya biaya ganti nya itu cukup besar. Tapi aku bersyukur kamu akhirnya sudah tidak berurusan lagi dengan mereka."
"Sepertinya benar, Kak. Tapi sudahlah, aku juga sudah gak peduli lagi sama Mas Bram. Biarkan saja dia hidup dengan wanita murahan itu," ucap Hanum menatap resah.
"Tapi poinnya, Hanum.. Aku harap suatu saat kamu mendapatkan kembali butik mu sendiri ya," kata Dela. Yang ia tahu, ini bukan soal kerja sama sebatas usahanya semata. Tapi dia benar-benar prihatin dan menganggap Hanum sebagai adiknya sendiri.
"Semoga saja ya, Kak. Terimakasih sebelumnya," kata Hanum tersenyum menatap perempuan berhijab cokelat di depannya.
Sebuah mobil pun tiba di depan butik itu, Hanum langsung mengenalinya.
"Ya sudah kak, Aku pulang dulu ya," kata Hanum.
"Wah, itu pasti Mas Devan," celetuk Dela saat melihat pria itu keluar dari mobilnya.
"Kok kakak bisa tahu?" ucap Hanum yang cukup kaget mendengarnya.
"Aku pernah deket sama dia," katanya. Devan pun masuk ke dalam butik itu.
"Mas Devan! Tumben kesini, mau jemput Hanum ya?" Dela menebak.
Devan mengangguk. "Iya, kamu gak pulang?"
"Bentar lagi hehe."
Hanum merasa dirinya terasingkan, ntah kenapa dia merasa mereka berdua sangat akrab. Bukan hanya sekedar kenalan saja.
"Yuk, Hanum!" ajak Devan sebelum akhirnya dia pamit untuk pulang pada Dela.
Di perjalanan Hanum hanya diam saja. Begitu juga dengan Devan.
"Hanum..," ucap Devan memanggilnya pelan sambil mengemudi.
Hanum menoleh.
"Bagaimana kalau aku menikah nanti?"
Seketika Hanum terdiam. Dia merasa kaget mendengarnya.
"Itu bagus buatmu, Van. Kapan rencana nya?" tanya balik Hanum sambil menatap pria itu.
Devan tertawa. "Langsung banget nih nanya tanggal nya? Itu baru sebatas rencana aja sih," katanya sambil menstabilkan kembali tawanya.
"Ya kamunya sih tiba-tiba gitu..," Hanum tertawa kecil. Ada rasa lega yang terbesit di hatinya.
"Aku cuma penasaran saja sama reaksi kamu," kata Devan.
Hanum terdiam. Merasakan suasananya berbeda dari sebelumnya, dia pun kemudian menatap keluar jendela.
"Ada-ada aja," katanya.
Devan menatap perempuan itu sekilas, lalu kembali fokus menyetir. Bibirnya mengulas sebuah senyuman.