NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Suasana rumah yang asri itu seketika berubah menjadi kepanikan yang mencekam.

Melihat tubuh Humairah yang tak berdaya di lantai, Fathan tidak lagi memedulikan egonya.

Ia segera berlutut dan membopong tubuh ringan istrinya itu dengan kedua tangannya.

Jantungnya berdegup kencang saat merasakan suhu tubuh Humairah yang sangat tinggi.

"Cepat bawa ke mobil!" perintah Abi Sasongko dengan suara tegas yang bergetar.

Tanpa membuang waktu, Abi Sasongko melajukan mobilnya membelah jalanan menuju rumah sakit terdekat.

Di kursi belakang, Fathan memangku kepala Humairah, terus memanggil namanya dengan suara parau, namun tak ada sahutan.

"Apakah dia sudah sadar?" tanya Abi Sasongko tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat.

"Belum, Abi," jawab Fathan singkat, suaranya tercekat.

Ia menatap wajah pucat Humairah dan perban di keningnya yang mulai sedikit rembes, rasa sesak di dadanya kini benar-benar tak tertahankan.

Sesampainya di rumah sakit, Humairah langsung dilarikan ke ruang UGD. Fathan, Abi Sasongko, dan Umi Mamik hanya bisa menunggu di luar dengan perasaan cemas yang menyelimuti.

Fathan duduk tertunduk, sementara Abi Sasongko terus berjalan mondar-mandir di depan pintu kaca itu.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepas maskernya.

"Keluarga Ibu Humairah?" panggil dokter tersebut. Abi Sasongko langsung mendekat.

"Kondisi pasien sangat lemah karena kelelahan yang luar biasa dan asupan nutrisi yang sangat kurang. Hasil pemeriksaan menunjukkan putri Bapak terkena tipus. Ia harus menjalani rawat inap intensif."

Mendengar penjelasan dokter, Abi Sasongko terdiam sejenak.

Beliau kemudian berbalik dan melirik tajam ke arah Fathan.

Tatapannya yang tadi penuh kekhawatiran kini berubah menjadi kemarahan yang dingin.

"Baru dua bulan putriku berada di rumah kalian, Fathan," ucap Abi Sasongko dengan nada rendah namun menusuk.

"Dua bulan, dan sekarang dia terbaring di sana karena tipus dan luka di keningnya."

Fathan hanya bisa menunduk, tak berani menatap mata mertuanya.

"Apa yang sebenarnya kalian lakukan pada putriku di pesantren? Mana janjimu yang akan menjaganya, Fathan? Mana sumpahmu di depan penghulu saat mengambilnya dari tanganku?"

Suara Abi Sasongko mulai meninggi.

"Abi benar-benar kecewa sama kamu!"

"Abi, sudah. Jangan di sini," ucap Umi Mamik sambil mengelus lengan suaminya, mencoba menenangkan badai emosi yang sedang melanda. Air mata Umi pun tak henti mengalir.

Abi Sasongko menarik napas panjang untuk menguasai diri, lalu melangkah masuk ke dalam ruang UGD.

Di dalam, ia melihat beberapa perawat sedang bersiap memindahkan Humairah ke ruang perawatan.

Tubuh putrinya yang biasanya tegar kini tampak begitu rapuh di atas brankar dengan selang infus yang tertancap di tangannya.

Fathan hanya bisa berdiri di ambang pintu. Ia menatap ke arah istrinya yang masih memejamkan mata, belum sadarkan diri.

Kata-kata "wanita murahan" yang ia ucapkan semalam kembali terngiang, membuatnya merasa seperti pria paling hina di dunia ini.

Ia ingin mendekat, namun kemarahan di mata Abi Sasongko seolah menjadi dinding besar yang melarangnya menyentuh Humairah lagi.

Flashback

Cahaya lampu kafe yang temaram tidak mampu menyembunyikan binar kebahagiaan di wajah Fathan muda tiga tahun yang lalu.

Di tangannya, sebuah kotak kecil berisi cincin perak sudah siap ia berikan.

Ia sudah memantapkan hati untuk melamar Zakia, wanita yang selama setahun ini mengisi hari-harinya dengan tawa dan perhatian manis.

Namun, langkah Fathan terhenti di balik pilar kayu saat mendengar suara tawa yang sangat ia kenal dari balik sekat ruangan.

"Jadi, kapan kamu mau mengakhiri sandiwara ini, Zakia?" Suara seorang pria terdengar meremehkan, diikuti bunyi denting gelas.

"Sabar, sedikit lagi," sahut suara wanita yang sangat lembut, suara yang selama ini membisikkan kata sayang di telinga Fathan.

"Tinggal satu minggu lagi menuju batas taruhan kita, kan? Aku tidak menyangka membuat seorang 'ustadz muda' jatuh cinta setengah mati itu semudah ini. Ternyata dia sangat lugu dan membosankan."

Tawa pecah di ruangan itu. Teman-teman Zakia bersorak, memuji kehebatan Zakia yang berhasil memenangkan taruhan mobil sport hanya dengan berpura-pura menjadi wanita salihah demi memikat Fathan.

"Bayangkan, dia bahkan sudah menyiapkan tabungan untuk mahar!" lanjut Zakiya sambil tertawa renyah, tanpa beban.

"Kasihan sekali dia, menganggap taruhan ini sebagai takdir suci."

Dunia Fathan seolah runtuh saat itu juga. Kotak cincin di tangannya jatuh tanpa suara ke atas karpet.

Hatinya yang tulus dihantam kenyataan bahwa setiap perhatian, setiap senyum, dan setiap pesan manis yang ia terima hanyalah bagian dari skenario permainan yang menjijikkan.

Fathan tidak melabrak mereka. Ia berbalik dan pergi dengan luka yang sangat dalam.

Sejak malam itu, Fathan yang hangat dan ramah telah mati.

Ia menutup rapat pintu hatinya, membangun tembok es yang begitu tinggi.

Baginya, semua wanita adalah manipulator yang pandai berakting demi sebuah keuntungan.

Trauma itulah yang membuatnya menjadi pria sedingin gunung es, yang memandang Humairah bukan sebagai pendamping, melainkan sebagai beban atau bahkan ancaman bagi hatinya yang tak ingin hancur untuk kedua kalinya.

Ia memproyeksikan kebenciannya pada Zakia kepada setiap wanita yang hadir di hidupnya, termasuk Humairah yang tak berdosa.

Kembali ke ruang perawatan dimana kelopak mata Humairah bergerak pelan.

Aroma obat-obatan dan suara mesin detak jantung yang teratur menyambut kesadarannya yang masih kabur.

Hal pertama yang ia tangkap adalah wajah cemas Abi Sasongko dan Umi Mamik yang berdiri tepat di sisi brankar.nya.

Pandangannya bergeser sedikit ke belakang. Di sana, di dekat pintu, berdiri Fathan. Pria itu tampak kuyu, pakaiannya sedikit berantakan, dan matanya menatap Humairah dengan sorot yang sulit dibaca—ada rasa bersalah yang amat besar di sana.

"Abi... Uma..." lirih Humairah, suaranya sangat lemah, nyaris seperti bisikan.

"Kenapa Humairah ada di sini?"

Umi Mamik segera menggenggam tangan putrinya yang tertancap infus, menciumnya dengan penuh kasih.

"Kamu pingsan tadi, Sayang. Tubuhmu butuh istirahat."

Abi Sasongko mengusap lembut kepala putrinya, mencoba menyembunyikan kemarahan yang tadi sempat meledak di depan Fathan.

"Sudah, jangan banyak tanya dulu. Kamu harus banyak istirahat agar cepat pulih. Dokter bilang kamu kelelahan."

Humairah hanya bisa mengangguk lemah, kepalanya masih terasa berat dan berdenyut.

"Abi dan Umi pulang dulu sebentar ya, Nak? Mau ambil pakaian ganti untukmu dan keperluan selama di sini," ucap Abi Sasongko tenang.

Beliau kemudian melirik ke arah Fathan yang masih mematung di posisinya.

"Biarkan suamimu yang menemani kamu di sini. Fathan akan menjagamu selagi Abi dan Umi pergi," lanjut Abi.

Mendengar nama suaminya disebut, tubuh Humairah sedikit menegang.

Ia teringat kembali setiap kata kasar dan dorongan keras yang membuatnya jatuh semalam. Namun, ia tidak punya energi untuk menolak atau mendebat.

Di depan kedua orang tuanya, ia hanya ingin menjadi putri yang penurut agar mereka tidak semakin terbebani.

Humairah menganggukkan kepalanya perlahan, lalu memejamkan mata kembali, mencoba menghindari kontak mata dengan suaminya.

"Fathan, jaga istrimu baik-baik. Abi titip Humairah," pesan Abi Sasongko dengan nada yang penuh peringatan sebelum melangkah keluar kamar diikuti oleh Umi Mamik.

Kini, ruangan itu hanya menyisakan keheningan yang menyesakkan antara Fathan dan Humairah.

Fathan perlahan melangkah mendekati tempat tidur, menatap lekat perban di kening Humairah dan wajah pucat istrinya yang kini benar-benar terlihat rapuh karena ulahnya.

Ada kata maaf yang ingin ia teriakkan, namun lidahnya terasa kelu.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!