Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Misterius
Langit di atas Neovault Metropolis tampak muram, tertutup oleh lapisan awan tebal yang tidak membiarkan satu pun cahaya bintang menembus permukaan kota. Di lantai teratas gedung pusat Neovault, Arlan Valeska duduk di balik meja kerja mahoninya yang luas. Ruangan itu sunyi, hanya menyisakan deru pelan pendingin ruangan yang mengalirkan hawa sedingin es.
Arlan menatap sebuah amplop putih tanpa nama yang baru saja diletakkan sekretarisnya di atas meja. Tidak ada cap pos, tidak ada nama pengirim, hanya permukaannya yang bersih namun terasa membawa firasat buruk. Tangannya yang mengenakan jam tangan mewah tampak sedikit ragu sebelum akhirnya meraih pembuka surat berlapis emas.
"Hanya gertakan murahan," gumam Arlan pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri saat ujung pisau kecil itu merobek kertas.
Ia mengeluarkan selembar kertas kecil dari dalam amplop tersebut dan membukanya dengan satu gerakan tangan. Di sana, tertulis serangkaian angka yang membentuk koordinat geografis yang sangat spesifik. Mata Arlan menyipit, mencoba mencerna maksud dari deretan angka yang tampak asing namun seketika memicu detak jantungnya.
"Mas, ada apa? Wajahmu tampak pucat sekali setelah membuka surat itu," tanya Elena yang baru saja masuk ke ruangan.
Elena melangkah anggun menuju meja kerja Arlan, aroma parfum mahalnya memenuhi ruangan yang semula hambar. Ia meletakkan tangannya di bahu Arlan, namun ia bisa merasakan otot-otot suaminya itu mengeras seketika. Arlan tidak menjawab, ia justru meremas kertas tersebut hingga membentuk bola kecil dalam kepalannya.
"Ini bukan apa-apa, Elena. Hanya orang iseng yang mencoba mengalihkan fokusku dari kekacauan logistik di pabrik semalam," jawab Arlan.
Elena mengerutkan kening, ia mencoba meraih bola kertas itu dari tangan Arlan dengan rasa penasaran yang memuncak. "Biarkan aku melihatnya. Jika ini adalah ancaman, kita harus segera melaporkannya kepada tim keamanan internal kita sekarang juga."
Arlan menjauhkan tangannya, ia berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan distrik Rust di kejauhan. "Aku bilang ini bukan apa-apa. Kau tidak perlu mencemaskan hal yang tidak penting seperti surat kaleng tanpa identitas."
"Tapi tanganmu gemetar, Arlan. Jangan berbohong padaku," desak Elena dengan suara yang mulai meninggi karena rasa khawatir.
Arlan berbalik dengan tatapan yang tajam, membuat Elena mundur selangkah karena terkejut melihat kilat kemarahan di mata suaminya. "Aku sedang stres karena kerugian jutaan dolar akibat sabotase kemarin. Sekarang, keluarlah. Aku butuh waktu sendiri untuk berpikir."
Elena mendengus kesal, ia membalikkan badan dan keluar dari ruangan kerja Arlan dengan langkah kaki yang menghentak keras. Setelah pintu tertutup rapat, Arlan kembali membuka remasan kertas tersebut di bawah lampu meja yang terang. Ia segera mengetikkan koordinat itu ke dalam peta digital pribadi yang terenkripsi di komputernya.
"Tidak mungkin," bisik Arlan saat titik merah di layar muncul tepat di pinggiran sungai Rust yang sunyi.
Itu adalah titik koordinat di mana ia mendorong Asha jatuh ke dalam arus sungai yang dingin beberapa waktu lalu. Tempat itu seharusnya tidak diketahui oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri dan keheningan malam saat kejadian itu berlangsung. Bau lumpur sungai dan suara teriakan tertahan seolah kembali terngiang di telinga Arlan secara mendadak.
"Siapa yang bisa mengetahui tempat ini? Aku sudah memastikan tidak ada kamera atau saksi di sana," Arlan mulai mondar-mandir di ruangannya.
Ia meraih ponselnya dan menekan tombol panggilan cepat menuju kepala keamanan pribadinya dengan gerakan yang terburu-buru. "Periksa semua log masuk ke lantai ini dalam satu jam terakhir. Aku ingin tahu siapa yang meletakkan surat di mejaku."
"Siap, Tuan Valeska. Apakah ada masalah serius yang perlu kami tangani segera?" jawab suara di seberang telepon dengan nada formal.
Arlan terdiam sejenak, ia menelan ludah dengan susah payah sebelum kembali bersuara dengan nada yang lebih terkendali. "Tidak, hanya pastikan kau menemukan orang itu. Dan perketat penjagaan di sekitar penthouse malam ini tanpa terkecuali."
Setelah menutup telepon, Arlan kembali menatap kertas itu dengan rasa tidak tenang yang mulai merayap ke seluruh tubuhnya. Meskipun ia mencoba menganggapnya sebagai gertakan dari pesaing bisnis, koordinat itu terlalu akurat untuk dianggap sebagai kebetulan semata. Ia mulai merasa seolah-olah ada mata yang mengawasinya dari kegelapan distrik Rust yang kumuh.
"Asha sudah mati. Dia tidak mungkin bisa mengirimkan surat ini dari dasar sungai," gumam Arlan meyakinkan dirinya sendiri.
Di sisi lain kota, di dalam apartemen yang remang-remang, V duduk di depan layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV ruang kerja Arlan. Ia melihat dengan jelas bagaimana wajah pria itu berubah pucat dan bagaimana ia meremas kertas koordinat tersebut. Senyum tipis yang dingin tersungging di bibir V yang baru saja menjalani rekonstruksi.
"Dia mulai merasa tidak tenang, Paman. Benih keraguan sudah aku tanam tepat di jantung kekuasaannya," ujar V pada nelayan tua di sampingnya.
Nelayan tua itu menyesap kopinya, ia menatap visual Arlan yang tampak gelisah di layar dengan tatapan penuh selidik. "Ketenangan adalah fondasi utama bagi orang seperti dia. Sekali kau merusaknya, dia akan mulai membuat keputusan yang ceroboh."
"Itulah rencanaku. Aku ingin dia merasa bahwa masa lalunya tidak pernah benar-benar terkubur di bawah arus sungai itu," sahut V.
V meraih sebuah botol air mineral dan meminumnya sedikit, merasakan sensasi dingin yang menyegarkan kerongkongannya yang kering. Ia telah merencanakan pengiriman surat itu dengan sangat rapi melalui salah satu informan rahasianya di dalam gedung. Baginya, melihat Arlan ketakutan adalah obat yang jauh lebih mujarab daripada perawatan medis mana pun.
"Apakah kau akan mengirimkan pesan selanjutnya besok pagi?" tanya nelayan itu sambil memeriksa sistem enkripsi mereka.
V menggelengkan kepala, ia bersandar pada kursi ergonomisnya sambil memejamkan mata sejenak untuk mengumpulkan fokus. "Jangan terlalu cepat. Biarkan rasa tidak tenang itu membusuk di dalam kepalanya selama beberapa hari ke depan tanpa gangguan."
"Kau benar-benar sudah berubah, V. Kau tidak lagi menggunakan emosi, melainkan strategi murni," komentar nelayan tua itu.
V membuka matanya, menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang tajam dan tidak menyisakan ruang untuk belas kasihan. "Emosi adalah kelemahan yang hampir membunuhku dulu. Sekarang, aku hanya menggunakan logika untuk memastikan Arlan hancur secara perlahan."
Di gedung Neovault, Arlan masih belum bisa beranjak dari kursi kerjanya meskipun jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ia membakar kertas koordinat tersebut menggunakan pemantik api peraknya, memperhatikan api yang perlahan melahap bukti keberadaan rahasianya. Bau kertas terbakar memenuhi ruangan, namun rasa takut di hatinya tidak ikut sirna bersama abu tersebut.
"Hanya gertakan. Seseorang pasti sedang mencoba memeras ku dengan informasi palsu yang tidak sengaja mereka temukan," batin Arlan.
Ia mencoba fokus kembali pada laporan kerugian logistik, namun pikirannya selalu teralihkan oleh bayangan Asha yang tenggelam. Arlan mulai meragukan setiap orang di sekitarnya, bahkan para penjaga keamanannya sendiri yang sudah bekerja bertahun-tahun. Ketenangan yang selama ini ia banggakan kini mulai retak, menyisakan pria yang dihantui oleh dosanya sendiri.
"Siapa pun kau, kau tidak akan bisa menghentikanku. Aku adalah pemilik Neovault!" teriak Arlan ke arah ruangan yang kosong.
Suaranya bergema di antara dinding-dinding kaca yang mewah, namun tidak ada jawaban yang kembali kepadanya selain keheningan. Arlan tidak menyadari bahwa di luar sana, V sedang mengamati setiap gerakannya dengan penuh kesabaran dari balik bayangan. Pesan misterius itu hanyalah awal dari rangkaian teror yang akan meruntuhkan seluruh hidupnya.
"Malam yang panjang untukmu, Arlan. Nikmatilah rasa takutmu selagi kau masih bisa bernapas di atas sana," gumam V pelan di tempat persembunyiannya.
V mematikan monitor ruang kerja Arlan, membiarkan ruangan itu kembali gelap dan sunyi tanpa gangguan cahaya elektronik. Ia tahu bahwa Arlan tidak akan bisa tidur dengan nyenyak malam ini, dan itulah kemenangan kecil yang ia cari. Strategi psikologis ini jauh lebih efektif daripada sekadar serangan fisik yang bisa diprediksi oleh tim keamanan.
"Paman, siapkan agenda untuk langkah selanjutnya. Kita akan mulai menyentuh sisi kemanusiaan yang masih ia miliki," perintah V.
Nelayan itu mengangguk, ia segera mencatat beberapa poin penting ke dalam buku catatan kecilnya yang selalu ia bawa ke mana-mana. "Kita akan bermain dengan nuraninya, atau apa pun yang tersisa dari hal itu di dalam tubuh Arlan?"
V berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap ke arah pusat kota yang dipenuhi lampu-lampu neon yang berkedip-kedip indah. "Nurani? Dia tidak punya itu. Aku hanya akan menunjukkan kepadanya bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang tidak bisa dibeli dengan uang."
Bau hujan mulai tercium dari luar, pertanda badai akan segera melanda Neovault Metropolis dalam waktu yang tidak lama lagi. V menarik napas dalam, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya dan memperkuat tekadnya yang sudah bulat. Perjalanan menuju pusat kota dengan identitas baru akan segera dimulai, namun sebelum itu, Arlan harus benar-benar rapuh.
"Selamat malam, Masa Lalu. Sambutlah Masa Depanmu yang penuh dengan kegelapan," bisik V tepat sebelum ia mematikan lampu apartemennya.
Di menara yang megah, Arlan Valeska masih terduduk diam, menatap sisa abu kertas di atas mejanya dengan mata yang merah. Ia merasa seolah-olah sungai Rust kini sedang mengalir di bawah kakinya, siap menyeretnya turun ke dasar yang paling dalam. Pesan itu telah berhasil mengubah raja Neovault menjadi seorang pria yang dilingkupi kegelisahan yang tak berujung.