Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Bagaimana kalau Sebaliknya
Bu Sari justru tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Maya, suaranya terdengar sangat sinis dan meremehkan.
"Hahaha! Mau telepon Papa mu? Hayu sana telepon! Biar Papa kamu datang! Siapa takut? Kamu pikir pamu kamu yang hanya karyawan biasa itu orang penting yang bisa menguba segalanya?"
Ibu Sari tertawa sinis seperti merendahkan Maya
"Yang harus kamu tahu ya...., Papa Reno itu pejabat tinggi diperusahaannya 'Kepala Divisi Pemasaran' dan saya... saya ini keluarga dekat mereka!"
Seru Bu Sari dengan nada tinggi sedangkan Maya langsung paham kenapa Bu Sari membela Reno
Reno yang mendukung bibinya itu langsung pura-pura bersedih dan memegang dadanya seolah tersakiti parah.
"Aduh sakit hati banget sih Bu... Dia bukan cuma menghina saya, tapi dia juga fitnah saya mau mukul dia padahal enggak! Lihat kan Bu, dia anaknya licik banget, sok hebat padahal cuma anak orang tidak punya!"
Reno mengeluh yang dibuat dramatis seolah-olah dia benar-benar tersakiti sedangkan guru-guru menjadi ikut kasihan melihatnya
Bahkan tambah terprovokasi oleh bu Sari yang menyebutkan kebaikan Reno dan Perusahaan Properti tempat papanya Reno berkerja yang selalu memberikan bantuan untuk sekolah ini hingga guru-guru lain yang tidak tahu menahu jadi ikut-ikutan menatap Maya sinis.
"Iya nih Maya, kenapa kamu jadi seperti ini?, padahal kamu dulunya itu anak baik tapi sudah kelas 11 sudah berani macam-macam ya?"
"Dasar pembuat onar, coba lihat Reno sampai sedih seperti itu."
"Mending minta maaf saja sana, jangan keras kepala!"
Maya semakin bingung dan suntuk. Dadanya terasa sesak. Dia baru sadar dia salah besar melapor ke sini. Melapor ke serigala yang memang satu kawanan dengan pemangsa. Semua kata-katanya seolah tak didengar, semua kebenaran diputar balik.
"Kenapa semua begini... Saya benar-benar tidak salah..."
Bisik Maya gemetar, matanya mulai berkaca-kaca karena frustrasi dan dia ingat dengan papanya yang pernah mereka buat seperti ini yang kata-katanya tidak pernah mereka dengar bahkan mereka tambah menyalahkan papanya
"Berarti seperti ini yang di rasakan papa dan kini aku dapat karmanya dan balasannya dan kini aku justru butuh bantuan papa sebagaimana sebelumnya"
Maya teringat dengan Siska dan papanya yang menerima hukuman dari papanya karena sudah menghasut dan mengejek dirinya.
Kini Dia kembali mengangkat ponselnya, jari-jarinya gemetar ingin menekan nomor Papanya lagi. Dia butuh bantuan, dia butuh seseorang yang percaya padanya.
Namun, sebelum jarinya menyentuh layar, tiba-tiba suara berat dan dingin itu langsung terdengar jelas dari speaker ponselnya. Ternyata panggilan Maya sebelumnya belum terputus jadi sudah tersambung dan terdengar oleh Restu sejak tadi hingga semua pembicaraan mereka terdengar.
"Papa pasti kesana nak dan ini sudah mau sampai"
Suara itu tidak terlalu keras, namun begitu terdengar, seluruh ruangan menjadi hening seketika. Suara itu penuh wibawa, dingin, dan menusuk tulang.
Maya terkejut karena ponselnya masih terhubung dalam nada panggilan,
"Pa... Papa?"
Maya tidak kuasa menahan air matanya hingga terdengar tangisan yang ditahan
"Papa sudah dengar semuanya Nak. Jangan menangis, jangan takut. Papa sudah di depan gerbang sekolah. Tunggu sebentar..."
Klik. Panggilan terputus.
Bu Sari dan Reno saling pandang, jantung mereka tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Ada perasaan tidak enak yang menjalar di seluruh tubuh mereka namun Bu Sari seperti punya kartu kemenangan buat dirinya dan Reno
"Tuh kan! Cuma bisa teriak-teriak di telepon! Biar saja Papanya datang! Saya mau lihat seberapa hebat dia!"
Seru Bu Sari mencoba menutupi kegugupannya, meski suaranya mulai terdengar tidak stabil tapi dia masih percaya diri.
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya...
BRAKK!!
Pintu ruang guru terbuka dengan keras hingga semua orang melihat kearah pintu itu.
Masuklah Restu dengan setelan jas hitam yang rapi, wajahnya datar namun matanya memancarkan amarah yang siap meledak.
Suasana ruang guru yang tadi berisik, kini menjadi sunyi senyap. Bahkan suara nyamuk pun sepertinya tak berani bersuara.
Restu berjalan perlahan mendekati anak perempuannya. Dia melihat mata Maya yang berkaca-kaca, dan melihat Bu Sari serta Reno yang berdiri dengan wajah pucat pasi.
Restu tersenyum miring, senyuman yang paling menakutkan.
"Jadi... ini yang disebut guru teladan ya? Dan ini yang berani sakiti anak saya?"
Restu menatap Bu Sari dengan tatapan mematikan.
"Ibu katakan kalau ibu ingin tahu siapa papanya Maya yang hanya karyawan biasa ini dan mau tahu bisa berbuat apa dibandingkan orang tua Reno yang jadi orang penting di Presiden Properti sehingga ibu terus saja memprovokasi orang lain untuk membenci anak ku"
"Iya........, memangnya bapak bisa berbuat apa?, yang ada anak bapak akan kami keluarkan dari sekolah karena sudah membuat kegaduan di sekolah ini yang merupakan bagian dari Presiden Properti"
"Oh begitu ya kalau begitu panggil papanya Reno kemari agar saya tahu siapa papanya Reno yang nantinya bisa memecat anak saya"
"Oh bapak berani menantang saya biar saya telepon papanya Reno dan ingat ya, kalau papanya Reno datang maka tidak ada kata maaf lagi dari anak bapak dan bapak sendiri bahkan anak bapak tidak bisa sekolah dimanapun"
"Oh iya ya saya tahu tapi bagaimana kalau sebaliknya, ibu dan Reno akan saya pecat dari sekolah ini hingga tidak ada satu pun sekolah yang bisa menerima ibu dan Reno dan lebih parah lagi papanya Reno akan menyesal punya anak seperti Reno dan keluarga seperti ibu"