"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Kemurkaan yang Dingin Zaviar
Setelah Arumi kembali tertidur karena efek obat pemulih stamina, Zaviar merapikan selimut istrinya sekali lagi sebelum melangkah keluar dari kamar utama dengan langkah kaki yang berat namun pasti. Begitu pintu kamar itu tertutup rapat, kelembutan dan rasa bersalah yang terpancar di wajah Zaviar seketika lenyap tak berbekas. Wajahnya kembali mengeras, sedingin es kutub utara, memancarkan aura otoriter seorang pemimpin tertinggi keluarga Ravindra.
Di koridor luar kamar, kepala pengawal pribadi dan pengacara utama keluarga Ravindra, Mahendra, sudah berdiri tegak menunggu dengan dokumen tebal di tangan mereka. Mereka langsung membungkuk hormat begitu melihat sang Tuan Besar keluar.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Zaviar, suaranya kini terdengar luar biasa rendah, datar, dan sarat akan ancaman yang tidak terlihat. Ia berjalan memimpin menuju ruang kerja pribadinya yang kedap suara di ujung lorong, diikuti oleh kedua anak buahnya.
Begitu pintu ruang kerja ditutup, Mahendra melangkah maju dan meletakkan dokumen-dokumen di atas meja kerja bermaterial kayu mahoni. "Tuan Besar, kami sudah mengamankan pelayan pengkhianat bernama Danu di ruang bawah tanah. Sesuai perintah Anda—atau lebih tepatnya perintah Varian semalam—pihak kepolisian sudah kami kondisikan. Namun, ada kendala besar di sel isolasi tempat Nyonya Calista ditahan saat ini."
Zaviar duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggungnya dengan santai namun matanya mengunci pergerakan Mahendra. "Kendala apa? Katakan."
"Nyonya Calista menolak keras untuk menandatangani surat cerai paksa yang kami bawa, Tuan," jawab Mahendra dengan dahi yang berkerut cemas. "Beliau berteriak histeris di dalam sel, memaki-maki nama Nyonya Arumi, dan menuntut untuk bertemu langsung dengan Anda. Jika Anda tidak datang menemuinya malam ini..." Mahendra sempat menggantung kalimatnya, merasa ragu untuk melanjutkan.
"Lanjutkan, Mahendra. Jangan membuatku kehilangan kesabaran," desis Zaviar, nada suaranya mulai merosot ke tingkat yang berbahaya.
"Nyonya Calista mengancam akan menyebarkan berkas medis rahasia mengenai kondisi kejiwaan Anda kepada pihak media dan dewan komisaris Ravindra Group, Tuan. Beliau mengklaim memiliki salinan digital dari data gangguan identitas disosiatif (DID) Anda, dan bersumpah akan menghancurkan reputasi Anda sebagai pemilik sah kekaisaran bisnis Ravindra jika Anda tetap menceraikannya dan menjebloskannya ke penjara seumur hidup."
Mendengar laporan itu, suasana di dalam ruang kerja mendadak menjadi begitu dingin hingga udara rasanya membeku. Kepala pengawal yang berdiri di sudut ruangan bahkan refleks memegang gagang senjata apinya karena merasakan aura membunuh yang sangat pekat menguar dari tubuh Zaviar. Pria itu tidak berteriak, tidak membanting barang, namun cengkeraman tangannya pada pulpen emas di atas meja membuat benda mahal itu retak menjadi dua bagian dengan bunyi prak yang tajam.
Calista rupanya masih belum kapok. Wanita itu berpikir bahwa dengan memegang rahasia terbesar mengenai kondisi mental Zaviar, ia masih memiliki kartu as untuk mengendalikan jalannya permainan dan mengancam posisi Arumi.
Zaviar melempar sisa pulpen yang patah itu ke dalam tempat sampah dengan gerakan santai, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan. Sudut matanya menyipit, memancarkan kilat kekejaman yang sangat murni. Kalimat Arumi semalam yang menyemprotnya karena bersikap lembek dan terlalu mematuhi prosedur hukum kembali bergema di dalam kepalanya.
Arumi benar. Terhadap ular berbisa seperti Calista, tidak ada gunanya menggunakan cara-cara legal yang memakan waktu lama. Kebaikan hanya akan dianggap sebagai kelemahan yang bisa dimanfaatkan.
"Dia ingin bermain dengan rahasia kesehatanku, hm?" ucap Zaviar perlahan, nadanya terdengar sangat santai namun justru hal itu yang membuatnya terdengar seperti iblis yang sedang berbisik. "Calista rupanya lupa, siapa yang mendanai institusi tempat salinan medis itu disimpan. Dia juga lupa, bahwa di bawah hukum keluarga Ravindra, tikus yang mengancam kepala keluarga tidak akan pernah diberi kesempatan untuk bicara lagi."
Zaviar menatap Mahendra dengan pandangan kosong yang paling mematikan. "Mahendra, dengarkan perintahku dengan baik. Aku tidak akan datang menemui wanita gila itu. Itu hanya akan membuang waktu berhargaku yang seharusnya aku gunakan untuk menemani istriku di kamar."
"Lalu... bagaimana dengan ancaman penyebaran dokumen tersebut, Tuan Besar?" tanya Mahendra, memastikan langkah taktis yang harus diambil.
Zaviar menyeringai tipis—sebuah seringai yang jarang sekali ia tunjukkan, karena biasanya seringai seperti itu hanya milik Varian. Hal ini membuktikan bahwa batas antara kepribadian Zaviar dan Varian mulai menipis akibat rasa terancam yang sama besar demi melindungi posisi Arumi.
"Gunakan cara apa pun, Mahendra. Aku tidak peduli metode apa yang kau pakai di dalam sel isolasi itu," perintah Zaviar, suaranya datar namun mutlak tanpa bantahan sedikit pun. "Patahkan jari-jarinya satu per satu jika diperlukan. Buat dia mengalami kecelakaan di dalam sel hingga tangannya mengalami disfungsi total, sampai pena itu menandatangani surat cerai saya atas namanya sendiri."
Mahendra menelan ludahnya dengan susah payah, mengangguk patuh. "Baik, Tuan Besar. Saya mengerti."
"Dan mengenai ancaman dokumen itu," lanjut Zaviar, nadanya semakin merendah hingga menyentuh titik paling dingin. "Pastikan sebelum matahari terbenam hari ini, pengacara kita sudah melenyapkan seluruh salinan digital maupun fisik yang dipegang oleh kaki tangan Calista di luar sana. Jika ada satu saja media yang berani menayangkan satu kata tentang kondisiku... maka pastikan stasiun televisi atau perusahaan media tersebut bangkrut dan pemiliknya menghilang dari negeri ini besok pagi. Apakah perintahku cukup jelas?"
"Sangat jelas, Tuan Besar. Segera kami laksanakan," jawab Mahendra dan kepala pengawal serentak, lalu membungkuk hormat sebelum melangkah mundur keluar dari ruang kerja dengan tubuh yang masih gemetar menahan ketakutan.
Zaviar kembali menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran, menatap ke luar jendela besar yang menampilkan pemandangan halaman belakang mansion tempat Arumi bertarung semalam. Sisi lembek dan taat hukum dari seorang Zaviar Ravindra telah mati siang ini, dibunuh oleh rasa posesif dan obsesi gilanya untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun kerikil yang boleh melukai Macan Kemayoran-nya lagi.
Sambil berdiri dan melangkah kembali menuju kamar utama untuk memeluk tubuh lemas istrinya yang beraroma manis murni, Zaviar bergumam lirih di dalam keheningan, "Kau meminta ketegasan, Sayang... maka siang ini, aku akan menunjukkan padamu bagaimana caraku menghancurkan musuh kita tanpa menyisakan ruang untuk bernapas."
Matahari sore sudah mulai condong ke barat, memancarkan semburat warna jingga yang hangat di langit ibu kota. Cahaya temaram itu menyusup masuk melalui celah gorden sutra kamar utama mansion Ravindra, menciptakan garis-garis bayangan yang estetik di atas lantai marmer. Suhu di dalam kamar kini terasa jauh lebih sejuk dan menenangkan, dipenuhi wewangian aromaterapi lavender yang sengaja dinyalakan untuk membantu menenangkan saraf-saraf tubuh yang tegang.
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.