Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Serangan Balik Intelijen
Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika lonceng besar di menara pusat istana berbunyi. Bukan bunyi alarm serangan, melainkan bunyi panggilan darurat sidang parlemen. Suara itu bergema melintasi seluruh ibu kota, membangunkan warga dari tidur mereka dengan rasa penasaran dan kecemasan.
Di dalam Aula Parlemen yang megah, udara terasa berat dan panas. Para bangsawan tua, yang biasanya datang dengan wajah sombong dan sikap malas, hari ini tampak gelisah. Bisik-bisik menyebar seperti api liar. Mereka tahu sesuatu yang besar sedang terjadi. Menteri Vane tidak hadir. Kursinya kosong, sebuah kekosongan yang berbicara lebih keras daripada kata-kata.
Floren duduk di takhta tinggi, wajahnya datar seperti patung marmer. Di sampingnya, Julian berdiri dengan postur tegak, meski pipinya masih membengkak sedikit—bekas tamparan semalam yang dia tutupi dengan lapisan bedak tipis, namun matanya bersinar dengan keteguhan baru.
"Pengawal," suara Floren menggema, jelas dan dingin, memotong kebisingan ruangan. "Bawa masuk tahanan pertama."
Pintu besar terbuka. Dua penjaga royal menyeret masuk seorang pria gemuk dengan pakaian sutra yang kusut. Itu adalah Kepala Logistik Pelabuhan Utara, tangan kanan Vane dalam urusan penyelundupan. Wajahnya pucat pasi, keringat membanjiri dahinya.
Di belakangnya, pengawal lain membawa peti kayu besar. Mereka membukanya di tengah aula, menumpahkannya ke lantai.
Bukan emas. Bukan permata.
Tumpukan dokumen. Ratusan surat, buku kas palsu, dan catatan transaksi rahasia.
"Mulai membaca," perintah Floren pada Juru Baca Kerajaan.
Juru baca itu mengambil lembaran pertama, suaranya bergetar namun lantang. "Surat persetujuan transfer dana militer sebesar lima puluh ribu koin emas dari Kas Perang Utara ke rekening pribadi Lord Vane, tanggal 12 bulan lalu. Dana tersebut dialihkan untuk pembelian tanah pribadi di Zenthoria."
Gasps terdengar di seluruh aula. Beberapa bangsawan saling pandang dengan ngeri.
Lembaran berikutnya. "Laporan pengiriman senjata usang ke garis depan, sementara senjata baru dijual secara ilegal kepada sindikat kriminal di perbatasan. Tanda tangan penerima: Menteri Vane."
"Lanjut," kata Floren tanpa emosi.
"Korespondensi rahasia dengan Duta Besar Zenthoria. Isi: Janji untuk melemahkan pertahanan sihir istana Mobelle sebagai imbalan atas gelar adipati dan suaka politik bagi keluarga Vane jika kudeta gagal."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi. Penyelewengan dana perang yang menyebabkan kematian ribuan prajurit karena kekurangan peralatan. Kolusi dengan musuh bebuyutan.
Vane tidak hanya korup. Dia adalah tumor ganas yang memakan tubuh Mobelle dari dalam.
Floren berdiri. Jubahnya yang hitam pekat kontras dengan cahaya matahari pagi yang mulai masuk melalui jendela kaca patri.
"Selama bertahun-tahun," suara Floren perlahan naik, memenuhi setiap sudut ruangan, "kalian, para bangsawan tua, telah menyembunyikan kejahatan di balik gelar dan darah biru kalian. Kalian pikir rakyat bodoh. Kalian pikir kami tidak tahu. Tapi malam ini, jaringan intelijen kerajaan, dibantu oleh bukti-bukti yang tak terbantahkan, telah mengungkap semuanya."
Dia menunjuk tumpukan dokumen di lantai.
"Ini bukan fitnah. Ini adalah kenyataan. Dan Menteri Vane... saat ini sedang diamankan di ruang interogasi bawah tanah, menunggu pengadilan militer."
Seorang bangsawan tua, Lord Eldric, bangkit dari kursinya, wajahnya merah padam. "Ini rekayasa! Vane adalah pilar kerajaan! Kalian tidak bisa menjatuhkannya hanya dengan kertas-kertas palsu ini!"
Julian melangkah maju. Matanya menatap Lord Eldric tajam.
"Bukan kertas palsu, Tuan Lord," kata Julian, suaranya tenang namun menusuk. "Ini adalah salinan dari brankas rahasia ibu saya sendiri. Brankas yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari dan sihir darahnya. Bukti ini otentik. Dan jika Anda ragu, kami memiliki saksi hidup. Kurir-kurir Vane sudah mengaku. Anak buah-elitnya sudah ditangkap satu per satu sejak fajar."
Julian menarik napas dalam, merasakan beban berat di dadanya ringan sedikit demi sedikit. Mengungkapkan kebenaran tentang ibunya adalah hal tersakit yang pernah dia lakukan, tapi juga yang paling membebaskan.
"Ibuku..." lanjut Julian, suaranya sedikit bergetar sebelum menjadi tegas lagi, "...sudah lama melakukan korupsi untuk dirinya sendiri. Dia melakukannya bukan karena ideologi, bukan karena keyakinan politik, tapi semata-mata karena keserakahannya. Dan dia bisa lolos selama ini hanya karena kedekatannya dengan Ratu sebelumnya. Dia memanfaatkan kepercayaan almarhumah Ratu untuk melindungi kejahatannya, mengubah posisi strategisnya menjadi alat penimbunan kekayaan pribadi."
Pengakuan itu menghantam para bangsawan seperti palu godam. Jika putra Vane sendiri mengakui kesalahan ibunya dan membongkar modus operandinya, tidak ada lagi ruang untuk penyangkalan.
Lord Eldric jatuh kembali ke kursinya, wajahnya abu-abu. Bangsawan lainnya mulai menurunkan kepala mereka, takut menjadi target berikutnya. Floren telah menunjukkan giginya. Dan giginya tajam.
"Mulai hari ini," dekrit Floren, "semua aset keluarga Vane disita untuk mengganti kerugian kas negara. Semua rekan konspirasinya akan diadili. Reformasi birokrasi akan dipercepat. Tidak ada lagi tempat berlindung bagi koruptor."
Dia menatap Julian. Ada penghargaan mendalam di mata Ratu itu. Bukan hanya karena keberhasilan operasi intelijen, tapi karena keberanian Julian untuk menghancurkan idolanya demi kebenaran.
"Sidang ditutup," kata Floren.
Saat para bangsawan keluar dengan langkah gontai dan wajah ketakutan, Julian tetap berdiri di sana. Kakinya lemas, tapi hatinya ringan.
Floren turun dari takhta dan mendekati Julian.
"Kau baik-baik saja?" tanya Floren pelan, hanya untuk mereka berdua.
Julian menyentuh pipinya yang masih sakit. "Sakit, Yang Mulia. Tapi... lega."
"Kau baru saja membantu meruntuhkan salah satu pilar kekuasaan terkorup di kerajaan ini," kata Floren. "Rakyat akan merayakan ini malam nanti. Mereka akan tahu bahwa keadilan masih ada."
Julian tersenyum lemah. "Saya hanya melakukan tugas saya sebagai guru. Mengajarkan bahwa tindakan memiliki konsekuensi."
Floren mengangguk. "Dan kau telah memberikan pelajaran terbaik yang pernah dilihat kerajaan ini."
Di luar istana, berita itu menyebar dengan kecepatan angin. Di pasar-pasar, di kedai-kedai kopi, di rumah-rumah sederhana, orang-orang bersorak. Nama Vane, yang dulu ditakuti dan dihormati karena kekuasaannya, kini menjadi simbol kejatuhan tirani.
Namun, di balik sorak-sorai itu, Floren tahu ini baru permulaan. Bangsawan tua lainnya masih ada. Mereka mungkin lebih berhati-hati sekarang, tapi mereka tidak akan menyerah begitu saja. Mereka akan mencari celah baru. Mereka akan menunggu momen kelemahan.
Tapi untuk pertama kalinya, Floren tidak merasa sendirian menghadapi mereka. Dia memiliki Julian. Dia memiliki Kaelia. Dia memiliki Arsen dan Caspian. Dan yang paling penting, dia memiliki rakyat yang mulai percaya lagi.
Meskipun mereka belum sepenuhnya percaya padanya, karena pada tragedi kudeta, pembunuhan massal itu. akan selalu membekas di dalam pikiran mereka, tapi Floren yakin dia bisa memperbaiki kerajaan, bisa menghapus nama tiran dari tubuh Floren, bahkan jika ada sebuah Tiran, itu Tiran yang melindungi rakyatnya dan kerajaannya.
Perang intelijen telah dimenangkan. Sekarang, saatnya membangun fondasi baru di atas reruntuhan korupsi.