Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
liburan kemana?
Sampai di rumah, Yuni langsung masuk ke kamarnya.
Untuk pertama kalinya hari itu, Nadia tidak perlu menyiapkan obat-obatan dan menyuapi ibu mertuanya.
Obatnya sudah diminum di rumah sakit.
Setidaknya, ada satu pekerjaan yang berkurang.
Nanda masuk ke kamarnya dengan patuh.
Anak itu meletakkan tas dan sepatu pada tempatnya, lalu berganti baju sendiri.
“Bunda, Nanda masih kenyang,” ucapnya pelan.
Nadia mengembuskan napas.
Rasa dongkol di hatinya belum benar-benar hilang.
Ia telah bersusah payah menjaga pola makan Nanda.
Namun semua aturan itu dengan mudah dirusak oleh Ratna.
Dan yang lebih menyakitkan, Raka mengetahuinya.
Bahkan membiarkannya.
“Ya sudah,” kata Nadia lembut. “Sekarang tidur siang, ya. Jangan main tablet.”
“Ya, Bunda.”
Nanda menatap wajah Nadia.
Tatapan bening itu selalu punya kekuatan untuk meruntuhkan kemarahan yang tersisa di hati Nadia.
“Bunda… maafkan Nanda, ya.”
Hati Nadia langsung melunak.
Ia berjongkok hingga sejajar dengan tinggi tubuh anak itu.
Lalu merentangkan tangan.
Nanda segera memeluknya erat.
Nadia memejamkan mata.
Tiba-tiba ia merasa bersalah.
Apa pun alasannya, ia telah bertengkar dengan Ratna di depan anak kecil itu.
“Bunda hanya ingin Nanda sehat dan pintar,” bisiknya lirih.
“Ya, Bun. Maaf ya.”
Nadia mencium kedua pipi Nanda bergantian.
“Sekarang tidur siang, ya.”
Nanda mengangguk patuh.
Ia naik ke tempat tidurnya, menarik selimut, lalu melambaikan tangan kecilnya.
Nadia tersenyum.
Lagi-lagi, hatinya dipenuhi rasa hangat.
Meski Nanda bukan darah dagingnya, kasih sayang Nadia kepada anak itu tak pernah berkurang sedikit pun.
Nadia keluar dari kamar dan menuju dapur.
Ruangan itu sudah bersih dan rapi.
Tak ada piring kotor.
Tak ada sisa masakan berserakan.
Mbak Tari sedang merapikan tasnya.
“Bu, lauknya saya bawa pulang, ya?” tanyanya.
“Bawa saja, Mbak.”
Wajah Mbak Tari langsung berbinar.
“Terima kasih banyak, Bu.”
Nadia tersenyum. “Terima kasih untuk apa?”
“Anak saya jadi nggak perlu operasi amandel.”
Nadia tertegun.
“Kenapa nggak jadi?”
“Setelah dua bulan saya terapkan pola makan sehat, jam tidur teratur, dan mengurangi penggunaan ponsel, alhamdulillah amandelnya mengecil.” Mbak Tari tersenyum lebar. “Dokternya bilang, kalau pola hidupnya terus dijaga, amandelnya bisa normal.”
Nadia mengembuskan napas lega.
“Alhamdulillah. Syukurlah.”
“Iya, Bu. Awalnya dia marah-marah terus,” lanjut Mbak Tari. “Biasanya makan mi instan, jajanan, makanan yang banyak penyedap. Tiba-tiba harus makan sayur. Tapi saya dan bapaknya kompak. Lama-lama dia mengerti.”
Nadia tersenyum hangat.
“Memang begitu. Menjadi orang tua itu tidak selalu berarti menuruti semua keinginan anak.”
Mbak Tari mengangguk antusias.
“Sekarang anak saya malah jadi aktif sekali. Banyak bertanya. Kritis. Kalau saya terlalu lama main ponsel, dia yang menegur.”
Nadia terkekeh kecil.
“Anak-anak bukan pendengar yang baik,” katanya pelan. “Tapi mereka peniru yang sangat baik.”
Mbak Tari mengangguk mantap.
“Betul, Bu. Jadi saya juga harus memberi contoh.”
“Semangat, Mbak. Insyaallah semua lelah akan terbayar.”
Mbak Tari menatap Nadia dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, Bu. Saya banyak belajar dari Ibu.”
Nadia terdiam sesaat.
Di rumah ini, tak banyak orang yang menghargai niat baiknya.
Namun ucapan sederhana dari Mbak Tari terasa seperti penawar bagi hatinya yang lelah.
“Baik, Bu. Saya pulang dulu.”
“Iya, Mbak Tari. Hati-hati di jalan.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Pintu dapur tertutup pelan.
Nadia berdiri sendirian.
Ia mengembuskan napas panjang.
Setidaknya, di rumah ini masih ada satu orang yang melihat bahwa semua yang ia lakukan lahir dari cinta.
Nadia melirik kalender yang tergantung di dinding kamar.
14 Juni.
Artinya, besok genap tujuh tahun pernikahannya dengan Raka.
Sudut bibir Nadia terangkat tipis.
Dua tahun pertama pernikahan, Raka selalu menyiapkan kejutan-kejutan kecil.
Tak pernah mewah.
Kadang hanya makan malam sederhana.
Kadang buket bunga dan kartu ucapan yang ditulis tangan.
Namun selalu berhasil membuat hati Nadia menghangat.
Tahun-tahun berikutnya, Nadia-lah yang lebih sering mengingatkan.
Meski begitu, Raka masih menyempatkan diri merayakan.
Sekadar makan bersama atau menghabiskan waktu bertiga dengan Nanda.
Tetapi tahun ini?
Nadia mengembuskan napas panjang.
Satu hari menjelang hari jadi pernikahan mereka, justru begitu banyak hal tak menyenangkan yang ia temukan.
Struk restoran.
Nota perhiasan.
Raka yang tak pulang.
Ratna.
Dan kebohongan-kebohongan kecil yang mulai terasa menyesakkan.
Waktu terus berlalu.
Sore datang perlahan.
Dengan lembut, Nadia membangunkan Nanda untuk salat Asar berjemaah.
Memang belum ada kewajiban bagi anak kecil.
Namun Nadia percaya, kebiasaan baik harus ditanamkan sejak dini.
Apa yang dibiasakan sejak kecil akan terasa ringan saat dewasa nanti.
Mungkin karena merasa bersalah, mungkin juga karena takut, kali ini Nanda menurut tanpa banyak protes.
Setelah salat Asar, mereka belajar bersama.
Nadia membantu menjelaskan hal-hal yang belum dipahami Nanda.
Namun untuk mengerjakan tugas, Nadia tetap membiarkan anak itu menyelesaikannya sendiri.
Nanda sebenarnya anak yang mandiri dan cerdas.
Ia hanya membutuhkan sedikit arahan dan banyak kesabaran.
Menjelang Magrib, Nanda sudah mandi dan mengenakan pakaian bersih.
Mereka duduk berdampingan di kamar.
Menunggu azan sambil membaca buku cerita.
Momen sederhana seperti itu saja sudah cukup membuat hati Nadia bahagia.
“Kamu mau main tablet?” tanya Nadia lembut.
Nanda menggeleng.
“Kenapa?”
“Nanda mau baca buku kisah nabi.”
Hati Nadia menghangat.
“Baiklah. Bunda hangatkan lauk untuk Papa, ya.”
“Ya, Bun.”
Nadia mencium kening Nanda, lalu keluar menuju dapur.
Ia menyalakan kompor dan menghangatkan lauk makan malam.
Sambil menunggu, ia mencoba menelepon Raka sekali lagi.
Namun seperti sebelumnya, panggilannya tak dijawab.
Nadia menatap layar ponselnya.
“Kenapa, Mas?” bisiknya lirih.
Rasa gundah kembali menyelinap.
Namun seperti biasa, Nadia memilih berpikir baik.
“Mungkin dia sedang sibuk.”
Setelah semua makanan tersaji rapi di meja makan, Nadia menuju kamar Yuni untuk mengantarkan jus sehat dan mengingatkan jadwal obat.
Namun kamar itu kosong.
Nadia mengernyit.
Ke mana Yuni?
Ia lalu melangkah ke kamar Nanda.
Langkahnya terhenti di ambang pintu.
Yuni ada di sana.
Duduk di sisi tempat tidur Nanda.
Mereka sedang berbicara dengan suara pelan, hampir seperti berbisik menyimpan rahasia.
Namun yang paling membuat Nadia heran adalah koper besar yang tergeletak di sudut kamar.
Di dalamnya sudah tersusun beberapa pakaian Nanda.
“Bu, koper buat apa?” tanya Nadia.
Yuni tampak terkejut.
“Kamu ini mengagetkan saja.”
Ekspresi Yuni dan Nanda sekilas tampak seperti dua orang yang tertangkap basah.
“Besok hari libur. Ibu mau mengajak Nanda liburan.”
Nadia mengedipkan mata.
“Kenapa nggak bilang ke Nadia?”
Yuni mendecih.
“Sekarang Ibu sudah bilang, kan? Sana, siapkan keperluan Nanda.”
Setelah berkata demikian, Yuni bangkit dan keluar dari kamar.
Nadia mendekati koper.
Pakaian Nanda sudah dimasukkan, tetapi masih kurang rapi.
Dengan telaten, ia melipat ulang satu per satu baju.
Menambahkan pakaian tidur.
Vitamin.
Obat-obatan.
Dan beberapa camilan sehat kesukaan Nanda.
“Kita mau liburan ke mana, Sayang?” tanya Nadia sambil tersenyum.
Nanda hanya menggeleng.
“Oma nggak bilang?”
Nanda kembali menggeleng.
Nadia menatap anak itu sejenak.
Lalu tersenyum lembut.
“Kalau begitu, karena besok mau liburan, malam ini harus tidur lebih awal.”
Nanda mengangguk patuh.
Hati Nadia perlahan menghangat.
Mungkin besok, tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka, Raka telah menyiapkan kejutan.
Mungkin semua kegelisahannya hari ini hanya prasangka yang tak perlu.
Mungkin besok mereka akan kembali seperti dulu.
Dengan secercah harapan itu, Nadia kembali ke kamarnya.
Ia membuka lemari dan mulai menyiapkan tas.
Satu untuk dirinya.
Satu untuk Raka.
Dengan jemari yang terampil, Nadia melipat pakaian-pakaian terbaik mereka.
Sambil diam-diam memanjatkan doa.
Semoga esok masih ada alasan untuk percaya bahwa rumah tangganya baik-baik saja.
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭