Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.
Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.
Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.
"Aku adalah ... Qin Xiang."
Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12: Menerobos ranah-Qi Fondasi!
Setelah segala kegaduhan di lorong granit itu mereda, Qin Xiang akhirnya melangkah masuk ke dalam salah satu Ruang Kultivasi Tertutup yang telah ia sewa. Begitu daun pintu batu yang berat itu tertutup rapat dan terkunci oleh mekanisme internal, keheningan mutlak langsung menyelimuti ruangan. Namun, keheningan itu hanya bertahan sedetik. Di bawah lantai batu yang ia pijak, rangkaian array formasi kuno mulai bergetar, memancarkan pendar cahaya biru redup yang menjalar ke dinding-dinding ruangan.
Woshh—!
Dalam sekejap, udara di dalam ruangan itu seolah meledak. Semburan energi Langit dan Bumi yang luar biasa pekat menyerbu masuk dari celah-celah formasi, memenuhi seisi ruangan hingga menciptakan kabut energi yang tipis. Qin Xiang menarik napas dalam, merasakan setiap pori-pori kulitnya terbuka lebar untuk menyerap densitas energi tersebut.
"Sepuluh kali lipat lebih padat daripada dunia luar... Lumayan untuk sekte di wilayah seperti ini," gumam Qin Xiang dengan nada datar.
Ia tidak ingin membuang waktu sedetik pun. Dengan gerakan yang anggun dan terlatih, ia duduk bersila di tengah ruangan. Di telapak tangan kirinya, ia mengeluarkan sisa-sisa Air Spiritual yang telah ia padatkan. Namun, kali ini ia tidak berniat menggunakannya hanya untuk sekadar menerobos ranah. Baginya, kecepatan bukanlah segalanya jika fondasinya rapuh. Ia ingin melakukan sesuatu yang jauh lebih fundamental dan berbahaya.
"Di masa lalu, meski aku memiliki bakat yang luar biasa, ukuran Dantianku yang normal sering kali menjadi kelemahanku saat bertarung dalam durasi lama. Aku sering kehabisan Qi di saat-saat kritis," Qin Xiang memejamkan mata, memanggil kembali memori tentang sebuah seni terlarang yang pernah ia ciptakan di puncak kejayaannya. "Seni ini... adalah jawaban atas kelemahan itu."
Seni yang ia maksud adalah Seni Pemurnian Qi Emas Kaisar. Sebuah teknik ekstrem yang bertujuan untuk mengompresi setiap tetes energi spiritual di dalam tubuh hingga mencapai tingkat kepadatan yang mustahil. Logikanya sederhana namun mengerikan: mengubah Qi cair yang biasa menjadi Qi Emas yang sepuluh kali lebih padat. Setiap tetes Qi Emas ini nantinya akan menjadi sumber kekuatan yang sanggup meledakkan daya hancur luar biasa, menjadikannya kartu as yang tak terduga saat menghadapi lawan yang jauh lebih kuat.
Namun, kekuatan besar selalu menuntut harga yang setimpal. Di masa lalunya, teknik ini membuat kemajuan kultivasinya melambat hingga lima kali lipat. Sekarang, dengan tubuh barunya yang memiliki Dantian dua kali lipat lebih luas, kemungkinan besar kemajuannya akan sepuluh kali lebih lambat dari kultivator biasa. Kecuali, ia terus menemukan harta karun seperti Mata Air Spiritual ini sebagai bahan bakar pendorong.
"Sepuluh kali lebih lambat berarti aku harus sepuluh kali lebih kuat dari siapa pun di ranah yang sama," bisik Qin Xiang. Matanya berkilat dengan tekad yang dingin. "Serap!"
Tanpa ragu, Qin Xiang mencengkeram manik Air Spiritual di tangannya. Energi murni itu meledak dan mengalir melalui lengannya, menyerbu masuk ke dalam jalur meridian hingga memenuhi Dantiannya yang luas. Jika itu adalah kultivator ranah Pemurnian Qi biasa, pengisian energi sebesar ini akan langsung memaksa mereka untuk menerobos ke ranah berikutnya. Namun, Qin Xiang justru melakukan hal sebaliknya.
Ia menggunakan kesadaran spiritualnya yang kuat untuk menekan dan mengompresi lautan Qi di dalam Dantiannya. Energi itu berputar liar, memberontak saat dipaksa mengecil dan memadat. Qin Xiang menggertakkan giginya saat merasakan tekanan hebat di dalam perutnya, seolah-olah ada sebuah bintang kecil yang sedang mencoba meledak di dalam tubuhnya.
Perlahan, lautan energi itu menyusut, memadat, hingga akhirnya mengkristal menjadi setetes cairan emas yang murni dan memancarkan vitalitas ilahi yang menyilaukan. Dantiannya yang semula penuh, kini kembali terasa sunyi dan kosong, hanya menyisakan satu tetes emas yang melayang di tengahnya.
Proses menyiksa itu terus ia ulangi berulang kali selama setengah hari penuh. Setiap tetes Qi Emas yang terbentuk menuntut konsentrasi dan ketahanan fisik yang luar biasa. Hingga akhirnya, sepuluh tetes Qi Emas terkumpul, beresonansi satu sama lain dengan harmoni yang sempurna, mengisi seluruh sudut Dantiannya dan menciptakan tekanan yang tak lagi bisa dibendung.
KRAK—!
Suara retakan yang jelas bergema dari dalam tubuhnya. Itu bukan suara tulang yang patah, melainkan suara belenggu ranah yang hancur. Dantiannya mengalami ekspansi besar-besaran, memperluas volumenya untuk menampung kekuatan baru yang jauh lebih agung.
Woshhh—!
Aura emas yang kuat menyembur keluar dari pori-pori kulitnya, menyelimuti tubuh Qin Xiang dalam cahaya kemuliaan yang menindas. Qin Xiang membuka kelopak matanya, dan untuk sesaat, cahaya keemasan melintas di pupilnya.
Ranah Qi Fondasi Tahap 1.
Qin Xiang merasakan lonjakan kekuatan yang sangat masif mengalir di nadinya. Ia menatap manik di tangannya yang kini hanya tersisa seperempat. Tanpa membuang sisa tersebut, ia kembali menyerapnya hingga habis, menghasilkan lima tetes Qi Emas tambahan yang kini memenuhi separuh dari kapasitas Dantian barunya yang telah meluas.
Ia berhenti sejenak, mengatur napasnya yang terasa panas. Keringat membasahi jubahnya, namun matanya tetap jernih. Ia mencoba menyerap sisa energi Langit dan Bumi dari formasi ruangan untuk melengkapi sepuluh tetes Qi Emas berikutnya guna mencapai puncak Tahap 1. Namun, saat ia mencoba mendorong energinya lebih jauh, ia merasakan sebuah hambatan yang keras di dalam benaknya. Sebuah tembok tak kasat mata yang memperingatkannya bahwa fisiknya saat ini telah mencapai batas toleransi.
"Tubuh ini... masih terlalu rapuh untuk menerima tempaan yang lebih berat dalam waktu singkat," gumamnya sembari memeriksa kondisi fisiknya. "Jika aku memaksakan diri untuk menerobos ke Tahap 2 sekarang, ada risiko besar mengalami penyimpangan energi atau kerusakan permanen pada jalur meridian."
Qin Xiang menggelengkan kepala, meredam ambisinya. Sebagai seorang mantan Kaisar, ia tahu betul kapan harus menekan dan kapan harus berhenti. Terburu-buru hanya akan menghancurkan masa depannya. Meski begitu, ia tidak bisa menahan senyum tipis saat merasakan kualitas energinya saat ini.
Berkat Qi Emas yang sepuluh kali lebih padat, meskipun ia baru berada di ranah Qi Fondasi Tahap 1, cadangan energi dan daya ledaknya sudah setara dengan kultivator di ranah Inti Formasi Tahap 1.
"Jika aku bertemu dengan ahli Inti Formasi Tahap 2, aku masih bisa memberikan perlawanan yang membuat mereka menyesal," pikirnya dengan penuh perhitungan. "Dan jika itu adalah Tahap 3? Aku mungkin belum bisa menang, tapi setidaknya aku bisa pergi tanpa meninggalkan satu goresan pun di tubuhku."
Tak terasa, waktu sewa ruangan telah berakhir. Qin Xiang bangkit berdiri, merapikan jubahnya yang sedikit berantakan. Saat ia melangkah keluar dari ruangan kultivasi, auranya kembali menyusut, tersembunyi rapat di balik ketenangannya yang dingin. Dunia luar mungkin belum menyadarinya, namun naga yang selama ini meringkuk di dalam lumpur kini telah menumbuhkan sisik emasnya.
Bersambung!