NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Perang Kekanak-kanakan

​Dua minggu telah berlalu sejak kepulangan Bara Jacob ke tanah air. Alih-alih menjadi masa tenang, kantor Jacob Group justru berubah menjadi medan perang dingin—yang terkadang berubah menjadi sangat "panas" dalam artian yang konyol. Kehadiran Bara di kantor bukan lagi sebagai tamu, melainkan sebagai pengawas medis dan pemegang saham yang aktif, yang berarti ia selalu berada di sekitar Vanya.

​Pagi itu, ketenangan lantai teratas kembali terusik. Entah apa pemicu awalnya—mungkin hanya masalah sepele seperti Bara yang membawakan kopi untuk Vanya, atau Devan yang sengaja menyembunyikan berkas penting milik Bara—yang jelas, sebuah perkelahian pecah di lorong depan ruang kerja Vanya.

​Vanya berdiri di ambang pintu ruangannya, bersedekap, menatap pemandangan di depannya dengan wajah datar. Di lorong itu, dua pria dewasa yang seharusnya dihormati, kini sedang kejar-kejaran seperti anak kecil yang berebut mainan.

​"Nona... apa perlu saya panggilkan keamanan untuk memisahkan mereka?" ucap Pak Hans yang berdiri di samping Vanya, wajahnya tampak sangat prihatin sekaligus menahan tawa.

​Vanya hanya menghela napas panjang, tidak melepaskan pandangannya dari kedua pria itu. "Nggak usah, Pak Hans. Biarin aja. Anggap saja ini hiburan gratis.

​Memang, Devan dan Bara adalah dua kutub yang sangat berbeda, namun anehnya memiliki tingkat kedewasaan yang sama rendahnya jika sudah bertemu satu sama lain. Devan adalah tipe pria yang selengean, mudah tantrum, manja, egois, dan selalu merasa bahwa dunia harus berputar di sekeliling telunjuknya. Sementara Bara, meskipun ia adalah seorang Dokter Bedah yang berwibawa dan dewasa di meja operasi, entah mengapa kecerdasannya seolah merosot drastis jika sudah berhadapan dengan sepupunya itu.

​"Hei! Mau apa kau?! Sini kalau berani! Jangan mundur-mundur terus!" teriak Devan sambil menunjuk-nunjuk wajah Bara.

​"Siapa yang mundur? Aku hanya tidak mau jas mahalku terkena tangan kotormu, Devan!" balas Bara tak kalah sengit.

​"Halah, alasan! Dokter penakut!" Devan menerjang maju.

​Seketika, perkelahian fisik yang sangat tidak estetis terjadi. Tidak ada pukulan ala film aksi. Yang ada justru keduanya saling cengkeram kerah baju dan—yang paling memalukan—saling menjambak rambut.

​"Lepaskan rambutku, Devan! Ini tatanan rambut untuk rapat!"

​"Nggak mau! Kau duluan yang menarik kerahku!" Devan membalas dengan tarikan yang lebih kencang di rambut Bara.

​Vanya yang sudah mencapai batas kesabarannya, melangkah maju. Ia mengangkat map tebal berisi laporan audit yang baru saja ia baca. Dengan gerakan cepat dan bertenaga, ia mengayunkan map itu.

​PLAK! PLAK!

Satu pukulan keras mendarat tepat di puncak kepala Devan dan Bara.

​"ADUH!" teriak mereka berdua serempak, seketika melepaskan cengkeraman masing-masing dan memegangi kepala mereka yang berdenyut.

​"Hei!" seru Devan, menatap Vanya dengan wajah terkejut.

​Vanya tidak menjawab. Ia kembali mengangkat map itu dan memberikan satu pukulan ekstra khusus untuk Devan.

​PLAK!

​"ADUH! Hei! Kenapa aku dua kali kau pukul, sedang dia cuma sekali?!" protes Devan dengan nada bicara yang mulai berubah menjadi manja dan merajuk.

​Vanya hanya diam, menatap mereka dengan pandangan mengancam yang membuat nyali keduanya menciut. Ia tidak memberikan penjelasan apa pun, namun sorot matanya seolah berkata, 'Karena kamu yang paling berisik.'

​Devan yang merasa tidak adil, langsung mengubah ekspresi wajahnya. Ia memegangi kepalanya yang sakit sambil menyentuh rambutnya yang kini berantakan. Wajahnya ditekuk, bibirnya maju beberapa senti, dan matanya dibuat berkaca-kaca seolah ingin menangis, namun jatuhnya justru terlihat lucu dan menggemaskan untuk pria seukurannya.

​"Menyebalkan..." gumam Devan dengan suara parau yang dibuat-buat, persis seperti anak kecil yang habis dimarahi ibunya. "Sakit tahu, Vanya... Teganya kamu sama suami sendiri. Lihat nih, rambutku jadi tidak keren lagi."

​Bara hanya berdiri mematung di sudut lorong, menyaksikan drama di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebenarnya, hari ini adalah hari penting bagi Bara. Ia baru saja ditunjuk untuk memimpin Rumah Sakit Jacob sebagai Direktur Utama. Ia datang ke kantor pusat Jacob Group pagi ini untuk mengurus administrasi pengumuman resminya, namun siapa sangka ia justru terlibat insiden "tarik rambut" yang berakhir dengan pukulan map dari Vanya.

​"Vanya? Kamu pukul aku dua kali!" Devan berseru, suaranya naik satu okta sambil terus mengusap puncak kepalanya. "Gimana kalau nanti aku hilang ingatan, hah? Gimana kalau aku lupa siapa namaku?!"

​Vanya menghentikan langkahnya, menoleh perlahan dengan tatapan datar yang mematikan. "Kamu bercanda," ucapnya singkat.

​"Aku serius! Hei, kenapa kamu nggak memihakku sama sekali? Aku ini babak belur gara-gara dia!" Devan menunjuk Bara dengan wajah penuh tuntutan.

​"Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Vanya santai, melipat tangan di depan dada.

​"Itu karena aku suamimu!" jawab Devan dengan gaya tantrumnya yang khas—kaki sedikit menghentak dan wajah memerah.

​Pak Hans yang berdiri di belakang mereka terpaksa menunduk, bahunya berguncang menahan tawa kecil yang hampir meledak. Sementara itu, Bara tampak shock. Sebagai dokter yang terbiasa dengan logika dan ketenangan, ia tidak habis pikir bagaimana sepupunya bisa bersikap begitu kekanak-kanakan di depan umum.

​"Jadi, sebagai suami kamu merasa berhak untuk egois?" tanya Vanya, suaranya mulai menajam.

​"Apa? Egois?" Devan mengerutkan kening, tampak tidak merasa bersalah sedikit pun. "Aku selalu hidup seperti ini sejak dulu! Memangnya kenapa?"

​"Kau bisa bersikap egois padaku, Devan. Tapi tidak dengan Bara," jawab Vanya tegas.

​Mata Devan membelalak. Dadanya naik turun karena emosi yang meluap. "Kau... kau bahkan membelanya sekarang? Apa kamu menyukainya?! Itu tidak boleh, Vanya! Aku ini suamimu, ingat itu! Suami sah!"

​Vanya menghela napas panjang, merasa kepalanya mulai berdenyut. "Jadi, kamu ingin aku melakukan apa?"

​"Berpihak padaku! Walaupun aku egois, walaupun aku salah, kamu harus tetap di pihakku!" Devan bicara dengan wajah cemberut, bibirnya maju beberapa senti seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan.

​"Aku nggak mau!" ucap Vanya tanpa ragu. "Meski kamu suamiku, aku punya hak sendiri. Bersamamu selama ini membuatku bingung dan hampir gila, Devan."

​Mendengar itu, Devan tertegun sejenak. "Lalu aku... aku gimana? Kamu pikir aku waras bersamamu selama ini? Aku juga pusing menghadapi sikap dinginmu!"

​Vanya menatapnya lurus, lalu sebuah senyum tipis yang meremehkan muncul di bibirnya. "Ah, begitu... Oke kalau gitu, maafkan aku," ucap Vanya dengan nada menyindir yang sangat kental.

​"Kau akan meneruskannya? Kau mau pergi begitu saja?!" teriak Devan saat melihat Vanya berbalik badan.

​"IYA!" teriak Vanya tanpa menoleh lagi. Ia melangkah cepat meninggalkan lorong itu, merasa muak dengan ketantruman Devan yang tidak ada habisnya.

​Bara dan Pak Hans segera mengikuti langkah Vanya dari belakang, meninggalkan Devan sendirian di tengah lorong yang kini terasa sangat luas.

​"MAU KEMANA?! TERIAK DEVAN!" Devan kembali berteriak, suaranya menggema. "KEMBALI KE SINI! AKU BELUM SELESAI BICARA, VANYA!"

​Devan memegangi kepalanya dengan kedua tangan, rambutnya yang tadi sudah berantakan kini semakin acak-acakan karena ia remas sendiri. "Aduh... sakit banget. Ini pasti gegar otak ringan!" gerutunya sambil terus menghentak-hentakkan kaki, menatap punggung Vanya yang semakin menjauh dengan perasaan campur aduk antara kesal, cemburu, dan takut kehilangan.

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!