NovelToon NovelToon
Putri Tanpa Cahaya

Putri Tanpa Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dyana

Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Panggilan Jiwa

Pagi itu, seluruh murid Akademi Kerajaan Averion dikumpulkan di lapangan utama.

Langit terbuka luas.

Cerah.

Tapi tidak hangat.

Angin berhembus pelan, menyapu rerumputan di bawah kaki ratusan murid yang berdiri berbaris.

Namun di antara cahaya pagi itu

ada sesuatu yang terasa berat.

Seperti udara sedang menunggu sesuatu terjadi.

Di tengah lapangan berdiri sebuah lingkaran sihir raksasa.

Ukirannya bukan sekadar simbol.

Tapi struktur kuno yang berlapis.

Garis-garisnya saling terhubung seperti urat kehidupan.

Setiap garis memancarkan cahaya tipis yang terus berdenyut.

Seolah lingkaran itu… hidup.

Seorang pengawas utama melangkah maju.

Jubahnya bergerak pelan tertiup angin.

“Mulai hari ini, kalian akan menjalani Ujian Jiwa.”

Suaranya terdengar jelas di seluruh lapangan.

“Pemanggilan Binatang Roh.”

Bisik-bisik langsung muncul di antara murid.

“Ini tahap paling penting…”

“Katanya ini menentukan masa depan seseorang…”

“Kalau roh lemah, status langsung jatuh…”

Pengawas itu mengangkat tangan.

“Binatang roh bukan sekadar kekuatan.”

Ia menatap seluruh peserta dengan tajam.

“Tapi cerminan jiwa kalian.”

“Semakin kuat jiwa… semakin kuat makhluk yang menjawab panggilan.”

Hening sejenak.

Lalu

“Mulai.”

🔹 Pemanggilan Dimulai

Satu per satu murid maju.

Lingkaran sihir bereaksi setiap kali seseorang masuk.

Cahaya muncul.

Energi bergetar.

Dan dari dalamnya

binatang roh mulai terbentuk.

Seorang murid kelas B maju.

Tangannya menyentuh tanah.

Lingkaran menyala biru.

Dari dalamnya

seekor serigala berwarna abu-abu muncul.

Matanya tajam.

Ekor angin di sekeliling tubuhnya berputar kecil.

“Serigala angin,” gumam seseorang.

“Cukup stabil,” ucap pengawas.

Murid lain maju.

Api menyala di lingkaran.

Seekor burung api muncul.

Sayapnya membentang, meninggalkan jejak bara di udara.

Sorakan kecil terdengar.

Semakin lama

binatang roh yang muncul semakin beragam.

Harimau tanah.

Ular air.

Elang petir kecil.

Namun tidak semuanya berhasil.

Beberapa murid hanya mendapatkan cahaya redup.

Atau bahkan… tidak ada apa-apa.

Di pinggir lapangan

Sakura berdiri di barisan kelas C.

Diam.

Matanya mengikuti semuanya.

Tidak ada ekspresi berlebihan.

Tapi di dalam dirinya

ia mulai memahami sesuatu.

Ini bukan sekadar ujian.

Ini penilaian jiwa.

“Aku tidak punya mana…”

pikirnya pelan.

“Lalu apa yang akan terjadi padaku?”

Ia tidak takut.

Tapi ada rasa ingin tahu kecil yang tidak bisa dijelaskan.

👑 Pemanggilan Claudia

“Putri Mahkota Claudia.”

Suara pengawas berubah lebih formal.

Seluruh lapangan langsung sunyi.

Bahkan beberapa murid tanpa sadar menahan napas.

Claudia melangkah ke tengah lingkaran.

Langkahnya stabil.

Tidak ada keraguan sedikit pun.

Ia berdiri di tengah simbol sihir raksasa itu.

Lalu menutup mata.

Tangannya menyentuh tanah.

Detik pertama

lingkaran sihir berhenti sejenak.

Seolah dunia itu sendiri menahan napas.

Detik kedua

cahaya emas muncul.

Bukan sekadar terang.

Tapi seperti fajar yang dipaksa turun ke dunia.

Detik ketiga

langit di atas lingkaran bergetar.

Dan dari dalam cahaya itu

sesuatu mulai turun.

Seekor burung raksasa muncul.

Sayapnya terbentang lebar.

Setiap helai bulunya seperti dibuat dari cahaya padat.

Namun bukan cahaya biasa.

Ada tekanan di dalamnya.

Seperti kehadiran sesuatu yang tidak berasal dari dunia ini.

Lapangan langsung hening total.

Tidak ada suara.

Tidak ada bisikan.

Hanya tekanan yang membuat beberapa murid tanpa sadar mundur selangkah.

Pengawas utama membuka mata sedikit lebih lebar.

“…makhluk cahaya tingkat tinggi.”

Suaranya kali ini lebih rendah dari sebelumnya.

Bukan sekadar penilaian.

Tapi pengakuan.

Makhluk itu berdiri di belakang Claudia.

Sayapnya terbentang penuh.

Cahaya lembut memancar, namun tetap memiliki kekuatan yang menekan udara di sekitarnya.

Claudia membuka mata.

Ekspresinya tenang.

Seolah ini bukan sesuatu yang mengejutkan.

Seolah memang sudah seharusnya begitu.

“Kontrak sempurna,” ucap pengawas akhirnya.

Ia melangkah maju sedikit.

“Kau tidak hanya memanggil binatang roh.”

“Kau diterima olehnya.”

Bisikan langsung pecah di seluruh lapangan.

“Ini level berbeda…”

“Tidak bisa dibandingkan dengan sebelumnya…”

“Putri Mahkota benar-benar di puncak…”

Di sisi lain

Fuko menyilangkan tangan.

Tatapannya tajam.

“Tidak mengejutkan.”

“Dia memang sudah berada di level itu sejak awal.”

Namun Yuki tidak langsung berbicara.

Matanya memperhatikan makhluk cahaya itu lebih lama.

Bukan dengan kagum biasa.

Tapi seperti sedang membaca sesuatu.

“Dia tidak dipaksa,” ucap Yuki pelan.

“Dia diterima.”

Fuko mengernyit.

“Apa bedanya?”

Yuki tidak langsung menjawab.

Namun tatapannya tetap pada makhluk itu.

“Perbedaan antara kekuatan… dan pengakuan.”

Claudia berdiri diam.

Makhluk cahaya itu berada di belakangnya.

Namun tidak menunduk.

Tidak juga liar.

Seolah mereka setara.

Claudia menatap lurus ke depan.

“Seraphiel.”

Nama itu keluar pelan.

Seperti sudah ada sejak awal.

Makhluk cahaya itu merespons dengan suara lembut.

Bukan raungan.

Tapi gema seperti cahaya yang bergerak.

Pengawas menatap mereka.

“Nama itu… diterima oleh kontrak.”

Ia mengangguk perlahan.

“Kalian telah terhubung sepenuhnya.”

Seraphiel perlahan menurunkan sayapnya.

Namun cahaya di tubuhnya tidak sepenuhnya padam.

Seperti ia memilih untuk tetap hadir.

Dan sebelum menghilang

makhluk itu menoleh.

Bukan ke Claudia.

Tapi ke arah pinggir lapangan.

Ke arah Sakura.

Hanya sepersekian detik.

Namun cukup untuk membuat Sakura berhenti bergerak.

Ada sesuatu.

Bukan ancaman.

Bukan tekanan.

Tapi… pengenalan.

Seolah sesuatu di dalam dirinya baru saja disentuh dari kejauhan.

“…apa itu tadi?”

gumam Sakura pelan.

Claudia berjalan keluar dari lingkaran.

Seraphiel mengikuti di belakangnya.

Perlahan.

Lalu berubah menjadi partikel cahaya yang menyatu dengan udara.

Claudia berhenti sebentar.

Tanpa menoleh, ia berkata pelan:

“Perhatikan dia.”

Fuko mengangkat alis.

“Yang tanpa mana itu?”

Claudia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

“Dia bukan kosong.”

Yuki tersenyum kecil.

“Aku juga merasakannya.”

Fuko terdiam.

Tatapannya perlahan bergeser ke Sakura.

Bukan lagi sebagai “yang tidak penting”.

Tapi sebagai sesuatu…

yang belum bisa dijelaskan.

---------

Hai semua

mimin mau bilang maaf dulu jika cerita kurang menarik atau ceritanya hampir sama dengan novel mimin sebelumnya yang masih tentang balas dendam.

Jangan terlalu berharap ya

Mimin baru mencoba kembali setelah beberapa lama..

terima kasih🥰🥰🥰

1
Yarim Yovan
menarik
Kali a Mimir
padahal ceritanya bagus kok sepi
Kali a Mimir: siap🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!