NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CGS 22

Leo mengangguk kecil. “Fair.” Ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang. “Gini aja,” katanya setelah jeda pendek. “Aku nggak akan langsung menekan kamu.”

Ella mengernyit sedikit.

“Sebagai gantinya,” lanjut Leo, “kamu nggak usah bohong ke aku.”

Ella hampir tertawa. “Kesepakatan yang aneh,” katanya. “Anda tahu saya bohong.”

“Ya,” jawab Leo santai. “Tapi aku lebih tertarik kenapa kamu bohong.”

Diam. Sekarang bukan lagi interogasi. Ini permainan. “Apa yang Anda inginkan sebenarnya?” tanya Ella akhirnya.

Leo menatapnya lurus. Tidak lagi menghindar. “Kebenaran,” katanya. Lalu, setelah jeda kecil, “Dan kamu ada di tengah-tengahnya.”

Deg. Jantung Ella berdetak lebih keras, tapi kali ini bukan karena takut. Ada sesuatu yang lain. Ketegangan yang berbeda.

Berbahaya. Leo berdiri pelan. Seolah percakapan itu memang cukup sampai di situ. “Tahan saja dulu,” katanya sambil melangkah pergi. “Jangan lari lagi.” Ia berhenti satu langkah. Tanpa menoleh. “Karena kalau kamu lari,” lanjutnya, “aku akan kejar.”

Dan kali ini nadanya bukan ancaman. Lebih seperti janji. Leo pergi begitu saja, meninggalkan Ella di bangku itu. Sendiri. Tapi tidak benar-benar sendiri. Karena untuk pertama kalinya,Ella menyadari satu hal yang tidak ia rencanakan Leo tidak hanya mencarinya. Ia mulai, mendekatinya.

***

Sore itu lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena tempatnya sepi, tapi karena kepala Ella terlalu penuh. Ia duduk di hadapan Niko di sebuah sudut kafe yang cukup jauh dari keramaian kampus, tempat yang biasa mereka pakai untuk berbicara tanpa banyak gangguan. Tangannya saling menggenggam di atas meja, bukan karena dingin tapi karena ia butuh sesuatu untuk menahan dirinya tetap utuh.

Niko memperhatikannya sejak tadi. Tidak memotong. Tidak mendesak. Menunggu.

“Aku ketemu dia lagi,” akhirnya Ella membuka suara, pelan, tapi langsung ke inti.

Niko tidak terlihat terkejut. “Leo?” tanyanya memastikan.

Ella mengangguk. “Di kampus.”

Hening sejenak. “Apa yang dia tahu?” tanya Niko.

“Itu masalahnya,” jawab Ella cepat. “Aku nggak tahu seberapa banyak yang dia tahu.”

Ia menarik napas, lalu melanjutkan, kali ini lebih cepat, seolah semua yang ia tahan sejak tadi harus keluar sekaligus.

“Dia tahu aku ada di pesta itu. Dia pegang sepatu itu. Dia… dia nggak nangkep aku, Nik. Dia malah… ngobrol. Seolah dia,” Ella berhenti, mencari kata yang tepat, "Seolah dia nggak mau langsung menjatuhkan aku.”

Niko menyandarkan punggungnya, matanya tetap pada Ella. “Itu lebih berbahaya,” katanya tenang.

Ella langsung menatapnya. “Kenapa?”

“Karena kalau dia langsung tangkap kamu, itu berarti jelas. Hitam putih,” jawab Niko. “Tapi kalau dia pilih mendekat… itu berarti dia lagi nyari sesuatu. Dan kamu… bagian dari itu.”

Ella terdiam. Ia tahu itu masuk akal.

Dan justru itu yang membuatnya semakin tidak nyaman. “Aku harus bagaimana?” akhirnya ia bertanya, suara itu lebih rendah sekarang, lebih jujur. Bukan lagi Ella yang keras kepala. Tapi Ella yang mulai goyah. Bagaimanapun Ella hanya gadis berusia delapan belas tahun yang masih sangat awam dengan dunia seperti ini. Dahulu hidupnya tenang, meski ayahnya seorang pejabat, ia tak pernah membahas hal sejenis ini dengan ayahnya.

Niko tidak langsung menjawab. Ia menggeser sedikit posisi duduknya, lebih condong ke depan, memastikan tidak ada orang lain yang terlalu dekat untuk mendengar. “Kamu punya dua pilihan,” katanya pelan.

Ella menunggu.

“Pertama,” lanjut Niko, “kamu jauhin dia. Sepenuhnya. Jangan kasih akses. Jangan jawab apa pun. Anggap dia ancaman.”

“Dan yang kedua?” tanya Ella cepat.

Niko menatapnya lebih dalam. “Kamu manfaatin dia.”

Hening. Kalimat itu menggantung. Ella mengernyit. “Maksud kamu?”

“Dia jaksa,” kata Niko. “Akses dia luas. Informasi dia lebih dalam dari kita. Dan yang paling penting, dia tertarik sama kamu.”

Ella langsung memotong, “Itu bukan,”

“Aku nggak bilang tertarik secara pribadi,” sela Niko tenang. “Tapi dia fokus ke kamu. Dan itu bisa kamu pakai.”

"Oh" Ella terdiam lagi. Pikirannya mulai bergerak ke arah yang sebelumnya ia hindari. “Kalau aku salah langkah?” tanyanya pelan.

“Kamu memang lagi main di tempat yang nggak ada langkah aman,” jawab Niko jujur.

Sunyi. Beberapa detik yang terasa panjang. “Aku takut dia mikir… aku sama seperti yang dia kira tentang Ayah,” kata Ella akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar.

Niko tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Ella, lalu berkata pelan, “Yang harus kamu tentukan sekarang bukan dia percaya atau nggak.”

Ella mengangkat pandangannya.

“Tapi kamu sendiri,” lanjut Niko, “siap sejauh apa untuk cari kebenaran itu.”

Deg. Kalimat itu kena. Tepat. Ella menghembuskan napas pelan, menatap meja di depannya. Ia tidak punya jawaban yang mudah. Tidak ada jalan yang bersih. Tidak ada pilihan yang sepenuhnya benar. Tapi satu hal mulai jelas ia tidak bisa berhenti sekarang. Ia mengangkat kepalanya lagi. “Aku nggak bisa mundur,” katanya. Bukan ke Niko. Lebih ke dirinya sendiri.

Niko mengangguk kecil. “Berarti kamu sudah tahu jawabannya.”

Ella diam sejenak. Lalu pelan, tapi pasti “Kalau dia mendekat,” katanya, “aku nggak akan lari lagi.” Ada jeda. “...tapi aku juga nggak akan sepenuhnya jujur.”

Niko tersenyum tipis. “Bagus,” katanya. “Itu artinya kamu mulai ngerti permainan ini.”

***

Keputusan itu tidak terasa seperti kemenangan. Tidak ada rasa lega. Yang ada justru sebaliknya tenang yang terlalu tenang, seperti sebelum sesuatu yang lebih besar terjadi.

Ella berdiri di depan cermin kamarnya, menatap dirinya sendiri lebih lama dari biasanya. Wajah yang sama. Mata yang sama. Tapi cara ia melihat dirinya sudah berubah. “Aku akan pakai dia…” bisiknya pelan. Kalimat itu terasa asing keluar dari mulutnya sendiri. “…tapi aku tidak boleh jatuh.”

Ia mengulangnya dalam hati, bukan untuk meyakinkan tapi untuk mengingatkan. Karena ia tahu, yang berbahaya bukan Leo menemukan kebenaran. Yang berbahaya adalah jika ia mulai mempercayainya.

Ella sudah tidak percaya dengan hukum yang sedang berjalan saat ini. Ia kecewa, ketika ayahnya dijadikan tertuduh tanpa ada pembuktian. Lalu ketika ayahnya kecelakaan dan menghilang, seolah ayahnya dibuatkan hilang agar kasus ini berakhir.

Di tempat lain, Leo menutup berkas yang sejak tadi terbuka di mejanya. Pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada di sana. Ada satu titik yang terus menariknya kembali yaitu Ella.

Gadis itu tidak lari. Tidak juga menyerah. Ia bertahan di tengah. Dan itu tidak biasa.

“Aku akan bongkar kamu,” gumam Leo pelan, seolah berbicara pada bayangan yang tidak ada di depannya.

Tangannya menyentuh saku jasnya, memastikan benda kecil itu masih ada. Sepatu kaca itu. Satu-satunya hal yang benar-benar ia pegang dari semua ini. “Tapi kenapa aku nggak bisa menjauh…” Ia berhenti di kalimat itu sendiri.

Tidak menyelesaikannya. Tidak perlu. Karena jawabannya sudah mulai terasa.

Keesokan harinya, kampus kembali menjadi panggung yang sama. Orang-orang berlalu-lalang, kehidupan berjalan seperti biasa, dan di antara semua itu, Ella berjalan dengan ritme yang sudah ia atur sendiri.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!