Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03 Harus Nikah!
Solo baru saja hujan di Kamis sore, membuat suasana di malam Jum’at terasa lebih syahdu. Angin malam terasa lebih menusuk.
Waktu hampir menunjukkan pukul 10 malam. Anak-anak biasanya sudah pergi ke peraduan. Para lansia sudah ke alam mimpi.
Yang muda? Bisa masih bertebaran di muka bumi atau turut terdampar di pulau kapuk.
Warga sekitar Ndalem, tempat tinggal Santaka, di area Pondok Pesantren Al-Fatih, masih menjalankan ronda untuk menjaga keamanan lingkungan. Seperti saat ini, giliran ketiga bapak, kita sebut sesuai ciri fisiknya, Pak Kumis, Pak Jenggot dan Pak Jambang.
Udara dingin, ketiga bapak itu berbagi rokok di pos ronda. Karena hujan sedari sore, suasana sekitar Ndalem menjadi agak sepi.
Pak Jenggot menyalakan rokoknya, ia melihat mobil abu tua melintas. “Wih, Gus Taka baru pulang.”
“Lah, ndak masuk ke Ndalem. Mau ke mana tho Gus Taka?” Pak Jambang menimpali.
“Ayo, kita periksa. Wedi aku, khawatir ada apa-apa.” Giliran Pak Kumis bicara.
Ketiga bapak itu berjalan menuju mobil Santaka. “Oh, mau ke rumah Bakti.” Pak Jambang manggut-manggut.
“Eh, apa sampeyan denger suara wedok jerit? Tiba-tiba Pak Jenggot mendengar suara yang tidak-tidak.
“Moso iya dari mobil Gus Taka?” Pak Kumis mengerutkan dahi. Kedua bapak yang lain menggelengkan kepala.
“Mbak Dini!” Ketiga bapak itu bergegas menghampiri mobil Santaka, begitu suara yang terdengar makin mencurigakan.
Lampu senter bak lampu konser mereka sorotkan ke dalam kaca jendela samping pengemudi. Mereka semua melongo. Ucapan yang kompak keluar dari bibir mereka adalah “astagfirullahaladziim.”
Mereka terperangah, tak percaya dengan penglihatan mereka. Santaka, putra bungsu Kyai Mansur Muttaqien Al-Fatih, pimpinan pondok pesantren besar sedang memangku seorang perempuan di dalam mobil.
Sebentar, mata ketiga bapak memicing, bukankah itu Nandini, anak Surbakti. Benar-benar gila!
Tok tok tok
“Gus, ngapunten silakan keluar dulu.” Pak Jenggot berinisiatif.
Tubuh Nandini gemetar. Ia tahu ini adalah hal tabu dalam lingkungan tempat tinggal mereka. Ia panik.
“Mbak Dini, ayo cepet jangan diem terus. Ini makin bikin orang salah pengertian.”
Santaka berusaha menekan emosinya. Suaranya sudah hampir menggeram. Ia juga panik, tahu bahaya besar sedang menantinya.
Nandini terkesiap. Ia bangkit dari duduk dan bertumpu di lututnya, kemudian memindahkan tubuhnya ke jok samping. Santaka memejamkan mata.
Suara istigfar kembali terdengar dari mulut bapak-bapak. Mereka tercengang melihat penampilan Nandini yang begitu menggoda iman.
Santaka keluar dengan perlahan. Kakinya menjejak tanah. Bau amis tercium dari celananya, mobil, bahkan Nandini.
Ketiga bapak melihat riasan wajah Nandini yang agak kacau. Tak memakai alas kaki. Sangat mengindikasikan sesuatu yang amis telah terjadi, seamis cairan telur.
“Bapak-bapak, saya bisa jelaskan apa yang sebenernya terjadi.”
“Maaf Gus, kami bukan penanggung jawab di sini. Ini tanggung jawab Ndalem, karena kita ada di area Ndalem.” Pak Jambang menunduk, merasa sungkan.
Santaka memejamkan mata. “Ndak ada apa-apa. Ini murni salah paham.”
“Saya permisi ke Ndalem dulu, lapor sama Gus Yasa.” Pak Jambang setengah berlari menuju ke arah Ndalem. Santaka menggelengkan kepala mendengar nama kakak tertuanya disebut.
“Mari Gus Taka, Mbak Dini, kita ke Ndalem,” ujar Pak Jenggot.
Nandini tak mampu menggerakkan tubuhnya. Kepalanya tertunduk. Terbayang muka Surbakti. Insiden ini pasti mencorengkan noda di wajah ayah tercintanya.
“Mbak Dini, ayo. Sampeyan yang paling bertanggung jawab menjelaskan semua ini.”
Santaka menekan suaranya, padahal emosinya ada di ubun-ubun. Terlebih melihat Nandini yang bak orang bingung.
“Gus, kenapa jadi begini?” Santaka tak menjawab pertanyaan Nandini. Gadis itu turun dan berjalan ke arah Santaka melewati bagian depan mobil.
“Mbak, mbok sepatunya dipake. Masa ke Ndalem nyeker?” tutur Santaka.
“Maaf Gus, kaki saya lecet. Ndak biasa pake sepatu hak.”
Santaka menggelengkan kepala. “Sebentar, Pak.” Sang Gus apes berjalan menuju bagasi dan mengeluarkan sandal jepitnya.
“Ini Mbak, dipake.” Nandini mengucapkan terima kasih dengan suara mencicit.
Setelah mengunci mobilnya, Santaka berjalan lunglai ke arah Ndalem bersama Nandini dan kedua bapak. Ia sedang memperhitungkan kemungkinan terburuk yang akan dihadapinya.
Santaka sudah bisa menduganya dan tak bisa berkata apa-apa. Tak terbayangkan.
Wajah pertama yang menyambut mereka adalah milik Abyasa Muttaqa Al-Fatih, 34 tahun, anak tertua dari Kyai Mansur Muttaqien Al-Fatih, 58 tahun. Biasa dipanggil Gus Yasa. Raut dingin tercetak di wajah aristokratnya.
Mata Abyasa membelalak melihat penampilan Nandini. Ia kontan menunduk. Ia semakin merasa emosi dan kecewa pada Santaka.
“Pak Aji, katanya orang tua gadis ini tinggal di area Ndalem?” Abyasa bertanya pada Pak Jambang yang ternyata bernama Aji itu.
“Inggih Gus,” Aji menjawab benar untuk pertanyaan Abyasa.
“Tulung panggil ke sini.” Abyasa menatap Santaka yang menunduk.
“Nyuwun pangapunten, Gus.” Aji pamit pada Abyasa dan langsung melesat untuk memanggil Surbakti.
“Monggo semua ke aula.” Abyasa berjalan mendahului seluruh orang.
Di ruangan aula, Mansur beserta istrinya, Lastri Darsani, 53 tahun, telah menanti. Mereka didampingi Danendra Muttaqa Al-Fatih atau Gus Nendra, putra kedua Mansur, 31 tahun.
Ada dua wanita anggun turut hadir. Sarah Azzahra, 28 tahun, istri Abyasa. Lalu Husna Aulia, 25 tahun, istri Danendra.
Ucapan istigfar kembali terdengar ketika rombongan datang, bahkan serentak. Penyebabnya sama, penampilan Nandini.
“Husna, tulung ambil mukena ya, Nduk,” perintah Lastri pada menantu keduanya.
“Inggih, Umi.” Dengan langkah cepat Husna ke kamarnya dan mengambil mukena. Ia langsung mengangsurkannya pada Nandini.
Nandini gegas memakai mukena dari Husna. Ia sudah terlalu muak mendengar reaksi orang-orang terhadap penampilannya. Ia tahu ia salah, tapi ia merasa direndahkan.
“Assalammu’alaikum Yai, Gus.” Nandini membeku mendengar suara di belakangnya. Bapak...
Surbakti terkesiap melihat Nandini dalam keadaan memakai mukena. Ada apa sebenarnya?
Mereka semua duduk bersila di aula pondok. Abyasa membuka rapat pada malam Jum’at itu.
Rahang Surbakti mengetat mendengar ucapan Abyasa bahwa diduga ada tindakan senonoh antara Santaka dan putrinya. Itu sesuatu yang mustahil. Ia percaya pada Nandini.
Santaka merasa pelipisnya berdenyut. Abyasa sudah mengambil kesimpulan sebelum mendengar penjelasannya, walau diperhalus dengan ucapan dugaan. Tetap saja, itu mendiskreditkan namanya.
Abyasa meminta ketiga bapak saksi memulai cerita awal. Santaka kecewa, harusnya versinya dahulu.
“Ngapunten Gus Yasa, tolong beri waktu Taka terlebih dahulu menjelaskan.” Santaka tahu, terkadang urutan cerita mempengaruhi persepsi.
“Sama saja Gus Taka, panjenengan biar ada dalam posisi tabayyun, klarifikasi.” Santaka menggelengkan kepala. Tangannya terkepal.
Ketiga bapak ronda yang menjadi saksi mulai menggulirkan cerita. Semua terperangah. Percaya tak percaya.
“Ada bau amis. Tercium jelas. Mbak Dini, teriak seperti... ya begitu. Gus Taka seperti... menggeram...” Aji yang memulai cerita.
“Kami lihat tangan Mbak Dini ada di dada Gus Taka. Tangan Gus Taka di pundak Mbak Dini.” Pak Jenggot menambahkan.
Kedua cerita tadi memberatkan Santaka dan Nandini. Pak Kumis menyertakan cerita kalau mata Santaka terpejam saat mereka datang.
Keterangan yang ambigu, bisa memberatkan atau meringankan. Tergantung sudut pandang.
Nandini ingin berteriak, mengatakan bahwa semua ini adalah salah paham. Ia menggigit bibir. Ia takut salah langkah jika marah membabi buta kepada ketiga bapak saksi sok tahu itu.
Wajah Mansur begitu dingin. Lastri terdengar mengucapkan istigfar terus menerus. Ia menatap sendu putra bungsu kesayangannya.
Abyasa memasang wajah datar. Danendra justru memandang prihatin pada adiknya.
Kedua Ning hanya tertunduk. Hanya saja Sarah sempat menatap wajah Nandini, tepatnya memindai dengan seksama.
Giliran Santaka dan Nandini yang bertabayyun, memberikan klarifikasi. Santaka bicara pertama. Ia menceritakan dari awal kronologis ia dan Nandini bisa satu mobil.
Cerita tentang ketakutan Nandini pada kecoa. Penjelasan bau amis itu berasal dari telur yang pecah ditendang Nandini.
Santaka mempersilakan semua untuk melihat dan mencium noda yang ada di celananya. Sangat jelas itu telur. Bukan cairan biologis.
Masalah Santaka memegang pundak Nandini adalah cara menjauhkan tubuhnya dari tubuh gadis itu, yang terlalu rapat pada dirinya. Ia memejamkan mata adalah upayanya untuk menjaga pandangan.
Santaka juga menjelaskan jika ia bukan menggeram tapi menegur keras tindakan Nandini karena saat diingatkan dengan suara normal, tak diindahkan.
Giliran Nandini. Ia menguraikan bahwa ia memiliki fobia terhadap kecoa karena trauma di masa kecil.
Ketakutannya kadang menjadi berlebihan apalagi jika kecoanya tipe yang terbang dan menempel ke tubuh. Sepertinya hampir semua orang jijik pada kecoa, terutama kecoa terbang.
Surbakti membenarkan ucapan putrinya. Fobia itu terjadi sejak lama, kira-kira saat SD kelas 2.
“Taka, kenapa sampeyan harus mengajak Mbak Dini pulang satu mobil, tho Le?” Mansur menatap tajam namun suaranya masih lembut.
“Karna sudah malam, Abi. Bahaya buat perempuan seperti Mbak Dini. Taka takut menyesal kalau terjadi apa-apa pada Mbak Dini.” Santaka menatap Mansur, kemudian kembali menunduk.
“Gus Taka, bukannya ada jalan tengah, misalnya dipesankan taksi online atau menelpon Pak Bakti?
Biar beliau yang jemput. Tak perlu Gus Taka melanggar satu aturan agama, yakni menjaga batasan dengan yang bukan mahrom, demi menjalankan kebaikan menolong sesama.” Abyasa menatap Santaka tajam.
Santaka memejamkan mata. Kenapa ia tidak terpikir seperti itu? Ia benar-benar alpa.
Nandini menggigit bibir dengan keras. Menekan segala emosi yang ada dalam hati.
Gadis itu menoleh ke arah Surbakti yang menatap sedih ke arahnya. Ia melempar senyum tipis kepada sang ayah, setelah itu kembali menunduk.
“Apa Gus Taka memiliki motivasi yang lain?” Abyasa masih mengintimidasi Santaka.
“Wallahi tidak Gus Yasa. Taka akui tindakan Taka kurang bijak, kurang berpikir panjang namun semua murni karna tepo sliro, empati pada tetangga.” Santaka menatap tegas Abyasa. Sang kakak memiringkan bibir.
“Gus Taka, panjenengan itu wis terlalu terbiasa mengutamakan pemikiran sendiri, misal lebih memilih jadi chef pastry daripada aktif di pondok.
Bisa jadi tho sekarang pun hasil pemikiran panjenengan yang terbiasa lebih memikirkan kebaikan versi diri sendiri daripada kepantasan yang ada.”
Rahang Santaka mengetat mendengar perkataan Abyasa yang sudah tak objektif lagi. Sudah ke mana-mana. “Ngapunten Gus Yasa, itu tidak relevan dengan masalah ini.”
Lastri menggelengkan kepala. Matanya terpejam sesaat. Ia prihatin putra bungsunya harus mendapat tekanan sebesar ini karena niat baik sebenarnya.
“Abi, Yasa pikir apa yang terjadi malam ini, perlu dipertanggungjawabkan lebih dari sekedar tabayyun. Ada dua alasan.
Pertama, Gus Taka sudah melupakan kewajiban untuk menjaga marwah dirinya sendiri. Kedua, kita harus menjunjung tinggi marwah pondok dan nilai agama.
Jika dibiarkan, hal ini akan menjadi preseden buruk bagi pondok dan akan menjadi tolak ukur jika terjadi hal serupa.
Orang-orang akan menjadikan ini sebagai dasar untuk memudah-mudahkan berduaan dengan lawan jenis bukan mahromnya.” Abyasa menatap Mansur kemudian menunduk takzim.
Abyasa menatap tajam pada Santaka, melanjutkan uraiannya. “Sebagai penanggung jawab bagian kemaslahatan di pondok, Yasa menyarankan agar Gus Taka harus menikah dengan Mbak Dini.”
Santaka memejamkan mata. Benar saja dugaannya. Inilah kemungkinan terburuk bentuk pertanggungjawaban yang akan ia pikul.
Nandini membelalakkan mata. Ia menggelengkan kepala. Netranya bersirobok dengan mata ayahnya yang berkaca-kaca.
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj