NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Usaha Mendekati

Raka membawa Ayu ke dalam sebuah kafe bercahayakan hangat, tidak jauh dari tempat awal mereka bertemu.

Banyak pemuda-pemudi duduk menikmati minuman hangat bersama pasangan dan teman. Ayu dan Raka berada di antara mereka.

Ayu merasa nyaman dengan suasana dalam kafe yang tidak terlalu riuh, dan ia sendiri belum pernah mengunjungi kafe ini. Diam-diam, Raka memandangnya senang sebelum datang pramusaji meminta pesanan.

Pesanan datang. Mereka sama-sama menikmati minuman jahe dan cemilan.

Raka lalu memulai obrolan ringannya. Dia mempertanyakan wajah sedih Ayu yang sempat ia lihat saat pertemuan membahayakan tadi, hingga kenapa Ayu bisa melamun sampai segitunya.

Ayu menceritakan penyebabnya. 

Tentang pernikahannya.

“APA!?” Raka berseru kencang. 

Teriakannya keras sampai membuat beberapa pengunjung lain menoleh cepat ke arahnya.

Bukan karena cerita tentang perbuatan kasar dan ketidakpedulian suaminya Ayu, melainkan Raka terguncang karena baru mengetahui Ayu sudah menikah.

“Astaga!” lirih Raka kemudian, sembari mengusap-ngusap jidatnya yang jadi pening.

“Mas Raka kenapa? Ko tiba-tiba begitu?” tanya Ayu, keheranan dengan reaksi Raka.

“Tidak, bukan apa-apa. Lanjutkan saja ceritanya.” Raka berusaha tersenyum lebar.

Cerita tentang rumah tangga Ayu kembali berlanjut. Sambil sedikit menurunkan kepala, Ayu bercerita panjang.

Anehnya, dia tidak sungkan berterus-terang. Rasanya seperti mencurahkan keluh kesah kepada orang yang tepat.

Lain halnya dengan Raka. Selama mendengarkan, dia berusaha mati-matian menelan pill pahit berisi fakta mengecewakan.

Tapi di lain sisi, dia juga seakan mendapatkan secercah cahaya yang masih bisa diubah menjadi kobaran peluang.

Fakta pentingnya; Ayu cinta kepada suaminya, tapi suaminya tidak. Ini celah untuk Raka. 

Tinggal ambil hati Ayu, lalu rebut posisi menjadi suami baru.

“Aku masih enggak nyangka kamu sudah menikah, karena aku rasa umur kita sepantaran.”

“Ya begitulah … Jadi aku keluar malam-malam begini untuk nenangin diri.” Ayu menutup ceritanya.

Raka mengusap-ngusap dagu. “Jika aku boleh ngasik saran, mungkin memang kalian harus berpisah.”

“Teman dekatku juga menyarankan hal sama. Tapi rasanya … sulit untuk ngelakuin itu,” ujar Ayu, suaranya merendah.

Raka terdiam sebentar, menatap Ayu dalam-dalam sambil menyenderkan punggung. 

“Memang apa yang kamu suka dari orang egois seperti dia?” 

Mendengar pertanyaan Raka yang sedikit terdengar menekankan kata ‘egois’, alis Ayu terangkat lalu berfikir.

Setelahnya, Ayu menjawabnya panjang lebar. Raka menyimak dan juga mendapati tangan wanita di depannya menjelaskan sambil sibuk menggosok-gosok kuku jari-jarinya. Gugup dan malu-malu.

“Entahlah. Tapi saat baru pertama kali diperkenalkan kepadanya, aku langsung deg-degan tak karuan. Mungkin memang ini tanda jodoh. Biasanya kalau hati deg-degan kan tanda jodoh. Tapi entahlah benar atau tidak.

Dan juga, meski suamiku dingin terus terkadang arogan … aku justru punya keyakinan ada sisi lain yang belum ia tunjukkan.

Aku merasa, sisi lain suamiku adalah orang yang lembut dan penyayang. Hanya saja dia tidak mau menunjukkannya. Mungkin hal itu yang selama ini aku tunggu dari suamiku, sampai aku tidak mau pisah darinya.”

Raka tertegun sekaligus kagum. Baginya Ayu terlalu polos sekaligus naif. 

Dia mengusap mulutnya dan menghela napas sebelum merespon.  “Yaah ... Kalau sudah cinta mau bagaimana lagi … tapi aku sarankan jangan terlalu memaksakan diri.”

Raka mencondongkan badannya, menatap Ayu lekat. Ayu bertingkah grogi.

“Masih banyak laki-laki yang lebih baik daripada dia, dan bisa menerima kamu apa adanya.”

“Entahlah … aku ragu jika ada yang bisa nerima aku apa adanya.”

“Pasti ada lah. Kamu itu cantik dan baik hati. Laki-laki manapun akan tertarik mendekatimu.”

Ayu makin grogi. Dia jadi ragu memandang Raka karena laki-laki itu sedang memberikan tatapan teduh, yang membuat jantungnya deg-degan.

Ayu tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Haruskah tiba-tiba berdiri lalu angkat kaki dari kafe ini? Tidak mungkin. Pasti sangat aneh.

Begitu menyadari Ayu makin grogi, Raka tidak mau berlama-lama lagi. 

Perlahan-lahan, Raka mengulurkan tangan, menuju jemari-jemari Ayu yang masih bergerak-gerak tak karuan.

Ayu sadar dengan gerakan mendekat tangan Raka itu, tapi haruskah mengelak atau membiarkannya?

Begitu jemari Raka tinggal berjarak beberapa milimeter, HP Ayu bergetar. 

Ayu menarik tangannya dan langsung melihat isi pesan singkat itu.

Dari Arvin. 

Nama kontaknya ‘Beruang Kutub’.

Isi pesan: 

[Pulang!]

“Mas Raka, suamiku nyuruh aku pulang.” ucap Ayu sambil berdiri.

Raka ikut berdiri sembari menggosok-gosok telapak tangannya yang gagal bersentuhan.

“Aku antar ke halte.”

Di luar, rintik-rintik belum kunjung reda, angin malam tetap membuat kulit tak nyaman.

Ayu melangkah kedinginan tapi tak cukup membuat Ayu mengeluh karena rasa canggungnya kepada Raka lebih mengganggu.

Raka tidak berbicara. Ayu yang malah sepanjang jalan diam-diam curi pandang.

Dari samping, Ayu mengintip wajah tampan Raka yang bertekstur manis, lalu membuang pandang.

Dia jadi bingung sendiri. Sebenarnya apa yang ingin ia lihat dari laki-laki ini?

Mereka tiba di halte. Berdiri di batas pinggir jalan.

Angin dingin bertiup kencang. Pohon kokoh di sebelah halte menghamburkan daun-daunnya.

Ayu menggigil, mulai tak tahan dingin. 

Tiba-tiba, dia dikagetkan Raka menyelubungkan jaket ke pundaknya dari belakang.

Raka melepas jaket denim yang ia kenakan untuk Ayu.

“Pakai jaketku!”

“Tidak usah. Aku enggak apa-apa!” Ayu hendak melepaskan tapi Raka menahan.

“Tidak apa-apa. Kamu bawa saja ya!” pinta Raka dengan senyuman tulus.

Pipi Ayu mulai memunculkan bercak-bercak rona.

“Terus cara ngembalikannya gimana?”

“Gampang. Kalau kamu ada waktu, bisa ikut les belajar masak lagi. Tinggal bawa saja ke sana.”

“Bisnya datang.”

Bis kota datang menepi, pintu otomatis terbuka.

Ayu melangkah.

Baru kaki kanan Ayu hendak mengayun naik, Raka meraih pergelangan tangannya.

“Tunggu!” kata Raka.

Ayu menoleh. Mundur sedikit.

Raka mendekat, mengangkat sebelah tangannya, mencabut beberapa daun kecil yang tersangkut di rambut atas Ayu. 

“Sudah,” ujarnya, kembali menurunkan tangan.

Ayu menatap kikuk. 

Kepalanya bergerak aneh, seolah bingung harus mengarahkan kemana.

“Te– terimakasih…”

Raka mengangguk ramah. Tatapannya tidak berhenti memberi kesan teduh yang tenang.

Ayu bergegas masuk ke dalam bis, duduk, dan mengatur napas.

Dari balik kaca jendela, Ayu memberanikan diri menoleh kebelakang, menengok Raka.

Raka menyadarinya. Dia lalu melambaikan tangan.

Ayu sontak memutar kepala ke depan. Meraba-raba pipinya sendiri.

Bis pun berjalan.

Sampai di rumah, Ayu masih memakai jaket milik Raka. Begitu sampai di ruang tengah, Arvin yang duduk di sofa berdiri mencegat.

“Habis dari mana?” tanyanya datar.

“Saya habis cari angin,” jawab Ayu, tenang.

Arvin mengerutkan dahi serta bersedekap sebelum berujar, “Lain kali izin. Orang-orang sudah tahu aku punya istri, jika kamu kenapa-kenapa, aku juga yang repot. Urusan kantorku juga bisa terhambat.”

“Baik. Kedepan saya akan izin.”

“Kamu pakai jaket siapa?”

Ayu memeriksa dirinya sendiri, “Ini dari teman.”

Arvin diam sejenak.

“Ya sudah.”

Ayu bergegas masuk ke kamarnya setelah mendapatkan izin dari Arvin.

Arvin juga bergerak menuju ke arah berlawanan, sambil mulutnya bergumam, “Apa dia pergi selingkuh?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!