Dalam sekejap identitas pribadinya diganti oleh kekasih suaminya. Ia dituduh melakukan berbagai kejahatan.
Kejahatan apa yang dituduhkan oleh kekasih suaminya hingga dirinya harus menebus kejahatan itu dibalik jeruji besi? apakah Kiara mampu melepaskan jeratan permainan orang-orang hebat yang menghancurkan hidupnya dalam sekejap? apakah ada yang bisa membantunya untuk melewati semua ujian hidupnya itu? ikuti cerita gadis cantik nan jenius bernama Kiara...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Ibuku adalah duniaku
Tubuh Kiara limbung saat mengetahui biaya operasi ibunya yang cukup fantastis baginya. Satu-satu yang tersisa saat ini adalah dirinya karena rumah dan perabotannya sudah semua terjual demi pengobatan sang bunda.
"Bunda, apa yang harus aku lakukan untukmu. Aku tidak mungkin menjual diriku demi kesembuhanmu, bunda. Allah pasti menolong kita bukan?" desis nya lalu berjalan gontai mencari mushola untuk sholat.
Tatapannya kosong namun hatinya sangat yakin kalau Allah akan membantunya dengan cara yang terhormat. Di saat dirinya jalan sambil melamun seorang pemuda menabraknya hingga Kiara terjatuh.
"Hei....! apakah kamu buta?" bentak pemuda itu membuat Kiara tersadar lalu berusaha berdiri.
"Maafkan aku pak..!" ucap Kiara masih tertunduk menutupi wajah sembabnya.
Sang pemuda itu menatap wajah Kiara sambil mengingat wajah gadis di depannya yang berusaha melanjutkan langkahnya. Namun lengannya ditarik dengan paksa.
"Kiara. Kamu Kiara bukan?" tanya Evert. Kiara menatap wajah Evert. Pria playboy yang selalu mengejarnya waktu masih duduk dibangku SMA namun Kiara selalu menolak dengan santun.
Semua wanita cantik berhasil ditaklukkan oleh Evert dengan paksa maupun mereka yang suka rela menerima cintanya namun tidak dengan Kiara yang begitu gigih dengan pendiriannya dan entah mengapa Evert tidak bisa memaksa gadis berhijab itu menjadi miliknya dengan kekayaan yang ia miliki.
"Kau... lepaskan aku...!" Kiara berusaha melepaskan dirinya dari Evert namun pria tampan itu sangat penasaran dengan keadaan Kiara. Gadis pendiam yang tak tersentuh. Kiara dijuluki gadis mahal oleh para pria yang berusaha mengejarnya saat mereka masih mengenakan putih abu-abu.
"Ada apa denganmu Kiara?" desak Evert.
"Bukan urusanmu....!" tegas Kiara gadis jenius di sekolah menengah dulu yang tak terkalahkan.
Ponsel Kiara berdering. Gadis itu memberikan isyarat dengan tatapannya pada Evert yang langsung melepaskannya.
"Ada apa suster?"
"Anda di mana? ibu anda sekarang kritis," ucap suster yang menjaga ibunya Kiara.
"Baik aku akan ke sana." Kiara segera mempercepat langkahnya dan Evert mengikuti langkah Kiara.
Begitu pintu dibuka, Kiara terpaku ditempatnya melihat sang dokter sedang berjuang memompa jantungnya.
"Ya Allah, tolong bundaku...!" pinta Kiara lirih. Evert baru paham apa yang terjadi pada Kiara.
"Nona, jika anda sudah ikhlas melepaskan ibu anda maka kami akan melepaskan alat bantu di tubuh ibu anda agar biayanya tidak membengkak," ucap dokter memberi saran membuat Evert murka.
"Apa hak anda melakukan itu? teruskan perawatan nyonya ini dan biar aku yang bertanggungjawab," ucap Evert dengan lantang membuat Kiara tersentak.
"Tenanglah Kiara...! untuk saat ini pikirkan keselamatan ibumu," Evert meyakinkan Kiara namun gadis cantik itu tidak terima begitu saja atas kebaikan Evert.
"Kau kira aku mau tidur denganmu setelah kau menolong ibuku? aku lebih baik kehilangan dunia ku daripada harga diriku..!" Kecam Kiara dengan suara tertahan.
"Aku sudah puas tidur dengan wanita manapun dan aku tidak butuh dirimu. Bukankah kamu baru saja mengatakan kalau ibumu adalah duniamu dan aku juga demikian. Kehilangan ibu akan membuat dunia kita runtuh. Aku sudah merasakannya dan kuharap tidak ada anak lain seperti ku yang hidup dibesarkan oleh ibu tiri serakah," tegas Evert dengan emosi yang tertahan. Kilatan mata tajam itu memerah menandakan ada luka batin masalalu yang belum pernah terobati sampai saat ini.
Kiara terdiam. Ia tidak terlalu mengenal Evert dari sisi positif. Baginya Evert adalah pria sok pamer dan tidak lebih seorang pecundang yang hanya mempermainkan wanita.
"Tolong tandatangani berkas ini untuk melakukan operasi jantung ibu anda nona...!" pinta dokter menyadarkan lamunan Kiara.
Kiara menatap berkas itu lalu beralih menatap wajah rupawan di hadapannya." Lakukanlah Kiara...! nyawa ibumu lebih penting bukan?" desak Evert.
"Apakah ada kompensasinya atas kemurahan hatimu?" tanya Kiara.
"Kita pikirkan itu nanti tapi tidak seperti yang kamu pikirkan," bisik Evert lebih dekat ke kuping Kiara.
"Baiklah. Tapi jangan coba-coba menipuku...!" tegas Kiara yang tidak mau terlihat lemah di hadapan Evert sekalipun ia sangat membutuhkan bantuan Evert.
Ibunda Kiara segera dibawah ke ruang operasi. Evert menghubungi asisten pribadinya untuk membawakan makanan untuk dirinya dan Kiara yang dia tebak gadis itu belum makan apapun seharian. Evert menemani Kiara di ruang tunggu keluarga pasien.
"Pergilah...! aku sudah terbiasa sendiri," ucap Kiara.
"Tidak. Aku harus memastikan operasi ibumu berjalan lancar. Setelah itu aku akan pergi tapi akan kembali lagi untuk menemanimu di sini," Evert melipat tangannya lalu bersandar di sofa sambil memejamkan matanya. Kiara mengambil Alqur'an kecil dalam tasnya dan mulai membacanya dengan tartil.
Suaranya yang pelan namun sangat menyentuh sanubari Evert yang mendengarkan lantunan suara indah milik Kiara. Entah mengapa hati Evert merasakan ketenangan hingga tidak sadar ia akhirnya tertidur padahal dia ke rumah sakit hanya menemui dokter keluarganya hanya untuk meminta obat tidur dosis tinggi karena dirinya sulit sekali tidur. Itulah sebabnya Evert menghabiskan malam di club malam untuk menikmati alkohol di tempat yang membuatnya bisa mabuk dan tertidur.
Melihat wajah tenang Evert membuat Kiara menatapnya setelah menyelesaikan bacaan Alqur'an. Sang asisten datang terburu-buru dengan membawa sebuah kantong besar.
"Yah, tuan sudah tidur. Nona apakah anda yang bernama Kiara?" tanya Pian.
"Siapa anda?" selidik Kiara.
"Saya Pian, asisten tuan Evert. Saya diminta tuan membawa makanan ini untuk anda nona," menyerahkan kantong makanan itu pada Kiara.
"Terimakasih pak."
"Siapa yang sakit nona?" tanya Pian.
"Bundaku," singkat Kiara sambil melihat isi makanan.
"Tolong dimakan nona...! mumpung masih hangat. Makanan ini saya beli di restoran langganan tuan Evert.
"Tidak. Ini untuk tuan kamu bukan?" tolak Kiara.
"Dia akan memecatku kalau nona tidak makan," desis Pian.
Kiara akhirnya membuka kantong makanan itu lalu memakannya perlahan.
"Tumben tuan suka sama gadis berhijab," celetuk Pian pelan tapi masih bisa di dengar oleh Kiara.
"Aku bukan siapa-siapanya tuan mu. Kami hanya teman lama. Jangan sembarangan bicara," sewot Kiara.
"Selama ini nama anda cukup familiar di kupingku. Nama anda yang sering disebut-sebut oleh tuan. Rupanya ini orangnya. Pantas tuan sangat mengagumi anda. Ternyata orangnya sangat cantik," sambung Pian membuat mata Kiara membulat menatap wajah Pian.
"Maaf nona. Saya permisi dulu...!" Pian langsung bangkit berjalan cepat meninggalkan Kiara yang masih syok dengan ucapan Pian barusan.
"Ternyata bajingan tengik ini sering mengkhayal tentangku. Entah apa yang dia khayal kan tentang ku. Menjijikkan....!" batin Kiara lalu melanjutkan makannya.
Beberapa menit kemudian Kiara sudah terlelap di sofa panjang. Operasi ibunya masih terus berjalan hingga pukul empat pagi. Evert mengerjapkan matanya dan melihat Kiara sedang tidur meringkuk karena kedinginan. Evert membuka jaketnya lalu menyelimuti Kiara. Bersamaan dengan itu pintu ruang operasi terbuka dan dokter memanggil keluarga pasien.
Evert segera menghampiri dokter bedah.
"Apakah anda putranya nyonya Rubby?" tanya dokter Faisal.
"Saya menantunya dokter," ucap Evert penuh percaya diri.
"Menantu...?"
sampe punya anak dan cucu dan alat alat canggihnya yg bs menghilang dll.
aq penggemar author dari cerita nenek amina lupa namanya🤭