Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03. WATACI
Pagi itu suasana di rumah keluarga Aryasatya kembali tenang walau masih terasa menyesakkan. Di meja makan, Nika, ibu dan Elano tengah menikmati sarapan mereka dengan tenang.
Nika yang duduk di samping ibunya menatap lekat ke arah Elano. "Kamu harus jadi pria yang tegas. Jangan lagi gampang di tindas. Ingat, kamu adalah calon pewaris keluarga Aryasatya, Elano."
Elano hanya menunduk dalam sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Jangan terlalu keras pada adikmu. Dia masih kecil, belum saatnya menghadapi hal seperti ini," tegur Karina.
Nika terdiam sesaat, disusul senyum tipis di bibirnya. "Masih kecil? Labih kecil mana dengan aku dulu, yang siang malam harus menyelesaikan tugas dari Ayah Wiguna, Bu?"
Seketika Karina tercekat. Ia merasa sesak saat sang putri membahas masa kecilnya yang memang begitu keras bagi anak seusianya.
"Dia laki-laki! Sudah seharusnya belajar disiplin sejak dini. Jangan terlalu memanjakan dia, Bu," timpalnya. Nika meletakkan sendok garpunya dan beranjak dari sana.
Karina hanya bisa menghela nafas saat sang putri merasa tidak puas padanya. Dia juga sadar jika masa kecil Nika memang tak seperti anak-anak yang lain, namun, dirinya tak punya pilihan selain mengikuti perkataan sang suami.
Elano memang berbeda. Kepribadiannya sangat berbeda dengan Nika. Dia lebih kalem dan penakut. Bahkan, Elano sering jadi sasaran buli di sekolahnya.
"Tidak apa-apa sayang. Kamu belajar pelan-pelan, ya? Sekarang makanlah," ucap Karina berusaha menenangkan.
Sementara di luar, Nika bersiap untuk berangkat ke perusahaan. Geby sang sekertaris sekaligus asisten terperangah saat melihat Nika keluar dari dalam rumah.
Ia mengenakan setelan jas hitam dengan potongan bahu yang tegas, membungkus tubuhnya dengan presisi. Ada sesuatu yang sangar dalam caranya membawa diri.
Ia tidak perlu bicara untuk menunjukkan siapa pemimpinnya, jas itu adalah zirah, dan wibawanya adalah senjatanya.
Seketika Geby merasa bulu kuduknya berdiri. "Gawat! Pasti akan ada hal yang menegangkan nanti di kantor."
Geby menggeleng pelan mengusir rasa ngerinya. Lalu menghampiri atasannya itu. "Saya sudah mengirim pesan pada Pak Adnan. Sore ini di hotel Platinum Grand."
"Baguslah. Bagaimana dengan rapat dewan direksi?" tanya Nika sambil naik ke dalam mobil.
Geby membantu menutup pintu dan masuk dari pintu yang lain.
"Semua beres. Saya sudah konfirmasi semua. Mereka sedang menunggu Anda," jelasnya, tangan Geby sibuk menggulir layar ipad di genggamannya.
Nika mengangguk puas. "Kali ini kita akan bersih-bersih. Siap-siap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi, Geby."
"Siap, Bos!" sahut Geby seakan sudah tahu apa yang akan Nika lakukan jika ia berpenampilan seperti sekarang.
"Ayo jalan, Pak," ucap Geby pada sopir.
Mobil segera melaju membelah padatnya jalanan kota metropolitan. Disepanjang jalan Nika hanya fokus pada ipad, menggulir, melihat profil setiap pegawainya.
Tiba-tiba tangannya berhenti di satu profil wanita dengan keterangan janda.
"Siapa dia? Kenapa gaji seorang staf biasa bisa sebesar ini?" selidik Nika sambil menoleh ke arah Geby.
Geby mendekat karena penasaran. Ia melihat profil wanita bernama Elena.
"Kami juga tengah menyelidiki hal itu, Bos. Kami memang mencurigai dia menyelundupkan beberapa barang pameran bahkan stempel produk yang akan launching," jelas Geby sedikit ragu.
"Cari tahu dengan cepat. Kamu tau aku paling benci pencuri seperti itu di perusahaanku. Jika terbukti dia akan membayar mahal untuk itu," ancam Nika, matanya kembali fokus ke layar.
"Baik, Bos." Geby mengangguk patuh.
Seketika semua kembali hening.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di depan lobi. Saat sang sopir membuka pintu mobil, Nika turun dengan penuh percaya diri. Namun, seketika auranya membuat semua staf perusahaan yang melihatnya bergidik ngeri .
Beberapa staf yang baru saja tiba seketika menunduk hormat saat Nika melangkah memasuki gedung. Geby yang berdiri di sampingnya hanya bisa menatap dengan ngeri.
"Gawat-gawat. Hari ini akan jadi hari yang melelahkan dan panjang," seru seorang staf yang tengah berdiri di depan meja resepsionis.
Teman di sampingnya menatap dengan heran. "Memangnya kenapa?"
"Kamu harus tau, kalau Bu Direktur sudah memakai pakaian serba hitam itu tandanya dia sedang kesal. Liat aja hawanya, suram dan menyeramkan," bisiknya pelan. Ia menatap sekeliling sebelum melanjutkan.
"Hari ini pasti akan ada yang di pecat lagi. Jadi, jangan pernah kamu bikin kesalahan kalau Bu Direktur sedang kesal seperti sekarang ini, paham?" ucapnya pada staf magang yang baru masuk beberapa minggu.
Tak! Tak! Tak!
Bunyi hak sepatu Nika bergema saat menyentuh lantai marmer yang berkilau, seakan menjadi alarm kematian.
"Pagi, Bu Direktur," sapa setiap karyawan yang berpapasan dengan serentak.
Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat beberapa staf yang berjejer membungkuk ke arahnya.
Jari telunjuknya terangkat ke atas, mengisyaratkan agar mereka mengangkat wajah.
Langkahnya pelan namun mematikan. Ia berhenti tepat di depan wanita muda dengan rambut sebahu.
"Kau tidak memakai produk perusahaan, iya kan?" Suaranya dingin dan tajam.
Wanita itu menundukkan pandangan. Meremas ke dua tanganya dengan ketakutan.
Nika bersendekap. Matanya yang tajam menatapnya lekat-lekat.
"Kau kira aku tidak tahu? Wajahmu yang tampak tidak sehat itu sudah membuktikan kalau kau tidak memakai produk perusahaan. Bagaimana orang lain akan percaya jika pegawainya saja seperti ini?" tungkasnya dingin sambil membuang muka.
"Ma ... maafkan saya, Bu Direktur. Saya janji akan kembali memakai produk kita," ratapnya dengan suara yang nyaris hilang.
Nika hanya menyunggingkan sudut bibirnya. "Sayang sekali, tidak ada kesempatan kedua."