NovelToon NovelToon
Penyihir Gila Dari Jurang Hantu

Penyihir Gila Dari Jurang Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Balas Dendam
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: AbdulRizqi60

Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penglihatan Yang Melampaui Batas

Pedang Kubikiribocho itu tampak sangat kokoh, Mahesapati yakin sekali ia akan langsung tewas hanya dengan satu tebasan.

Rasanya ia benar benar ingin bersujud meminta ampun, namun tubuhnya sama sekali tidak bisa di gerakan.

"Hixixixixi.... apakah ada kata kata terakhir?" Tanya Samudra kembali menunjukan ekspresi gilanya.

"A... a... a..." Mahesapati ingin mengucapkan kalimat 'ampun' namun ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena terlalu ketakutan.

"Tidak ada ya? Baiklah.... mati...!!" Teriak Samudra sambil menebaskan pedang kubikiribocho ke kepala Mahesapati, ia berniat memenggal Mahesapati.

Ting!

Tiba tiba batu dari kalung yang di pakai Mahesapati bersinar hitam gelap.

Trang!!!

Bilah Pedang kubikiribocho tertahan di udara.

Samudra melihat ada semacam dinding sihir berwarna hitam pekat yang menutupi tubuh Mahesapati dan berpusat pada batu di kalung Mahesapati.

"Artefak hitam?" Batin Samudra terkejut.

Begitu pula dengan Mahesapati, ia juga sangat terkejut, "kalung ini? Kalung pemberian Nyai!" Batin Mahesapati.

Asap hitam tiba tiba menyelubungi tubuh Mahesapati dan....

Swussshhh....

Tubuhnya tiba tiba menghilang bersamaan dengan menghilangnya asap hitam itu.

Samudra terdiam mematung di tempatnya, ia menancapkan pedang kubikiribocho di tanah.

"Artefak hitam, ini persis yang di ceritakan Guru Genta Gelap bahwa tidak hanya artefak biasa di dunia ini namun ada juga artefak hitam. Namun artefak jenis apa itu? Apa itu artefak untuk kabur dan pertahanan diri, ini aneh aku bahkan tidak dapat merasakan sedikitpun energi sihir dari bajingan itu, ia benar benar menghilang tanpa jejak." Batin Samudra.

"Sialan! Aku gagal membunuhnya... huff.. lebih baik aku tunda perjalananku menuju ke Istana Nirlata, lebih baik aku berada di sini terlebih dahulu untuk mencari keberadaan bajingan itu."

***

Bruaaaggghhh!!!

Tubuh Mahesapati mendarat di pedalaman hutan kehampaan...

Kalung yang ia kenakan kini pecah dan aura hitam menyelubungi tubuhnya.

"Aarrrghhhhh.... sakit... kalung ini, hufff.... untung saja aku memakainya. Aku sempat lupa bahwa aku memakai kalung ini... Kalung agni kila pemberian nyai, Kalung ini adalah artefak pertahanan diri di mana akan aktif ketika nyawaku di ujung tanduk, kalung ini akan menciptakan dinding sihir yang sangat tebal, mengeluarkan asap yang membuat diriku berpindah ke tempat acak dan bahkan mengeluarkan aura hitam yang menyamarkan aura sihirku hingga tidak dapat terlacak." Ucap Mahesapati.

"Lebih baik aku langsung menuju ke desa Sumber, aura hitam yang menyelubungi diriku hanya mampu bertahan 48 jam aku harus cepat cepat menggauli 5 kembang desa untuk menyempurnakan sihir hitamku. Dengan aura hitam ini seharusnya aku aman, orang gila itu tidak akan mampu mendeteksi keberadaanku."

Mahesapati pun bangkit dan kembali masuk ke negara Garuda, tujuannya adalah Desa Sumber.

Syarat sihir hitam Mahesapati adalah ia harus menggauli seratus kembang desa, namun kembang desa itu harus warga lokal di tanah kelahirannya. Karena tanah kelahiran Mahesapati adalah Negara Garuda, oleh karena itu ia tidak mencari kembang desa dari desa di negara lain walaupun ia tau ada sosok orang gila yang sedang memburunya.

***

Sementara itu Samudra yang merasa lapar mampir ke warung makan terlebih dahulu.

Samudra menatap sekitar warung makan ini yang diisi warga desa lokal dan 6 penyihir junior.

Samudra segera duduk di meja dan memesan makanan.

"Kamu tahu di tempat pamanku kehilangan dua ekor kerbau jantan besar, malingnya bisa membawa dua kerbau sebesar itu tanpa ketahuan dan tanpa suara sungguh sakti maling itu." Ucap seorang pemuda yang duduk tidak jauh dari Samudra.

"Kalau di tempatku lain lagi, lima ekor kambing jantan yang gemuk hilang semalam seharusnya kalau di bawa kambing kambing itu akan bersuara tapi ini sama sekali tidak, tiba-tiba hilang begitu saja." Sahut temannya.

"Apakah pelakunya punya sihir sehingga binatang ternak tidak bersuara ketika dia pindahkan ke tempatnya." Sahut temannya yang lain.

Seorang bapak-bapak datang dan meletakan pesanan Samudra.

"Silahkan tuan." Ucap bapak itu kemudian langsung pergi.

Samudra termenung karena merasakan ada sesuatu yang aneh.. yaitu ia melihat kantung salah satu warga melayang kemudian menghilang. Samudra terbelalak..

"Sihir apa itu? Kenapa aku tidak bisa melihat keberadaanya?" Tanyanya dalam hati.

Samudra membuka penutup mata kirinya dan membuka mata kirinya. Bagian putihnya berwarna putih yang berpendar, bola matanya berwarna biru terang yang sangat cerah dengan pola berbentuk bulan sabit yang terletak dibola mata.

"Mata Dewa..." ucap Samudra. Seketika Samudra melihat anak kecil yang sedang berjalan kesana kesini dan mengambil kantong koin setiap pengunjung.

Samudra langsung menutup kembali matanya karena tidak ingin orang orang terkejut melihat mata kirinya. Ia kemudian memejamkan matanya dan menggunakan teknik Gema Seribu Gendang.

Sementara Samudra tersenyum tipis kala mendengar langkah kaki ringan itu kini mendekati dirinya.

Suara angin terbelah terdengar jelas di telinga Samudra.

Samudra langsung menangkap tangan pencuri kecil yang hendak mengambil kantung koin yang ia bawa.

Note : kantung koin yang Samudra miliki adalah pemberian Nyi Randa Lembayung yang sudah tersimpan di dalam cincin penyimpanan.

Pencuri kecil itu tampak panik, dia mencoba memberontak namun cengkraman tangan Samudra sangat kuat.

Plak!

Samudra langsung menampar pipi pencuri kecil itu wujudnya langsung terlihat di depan orang orang, yang ternyata pencuri kecil ini merupakan anak pemilik warung.

"Pak, aku ketauan." Ucapnya kepada bapaknya.

Bapaknya terlihat panik, sementara orang-orang terlihat terkejut melihat seorang anak berusia sekitar lima belas tahun memegang banyak kantung emas.

Bapak anak itu yang merupakan pemilik warung kaget bukan kepalang, karena tidam menyangka akan ada pemuda yang mampu menangkap anaknya yang tidak terlihat dengan sebuah sihir khusus.

"Jadi anak ini adalah anak pemilik warung, dia masih sangat muda dan sudah bisa menghilang. Namun aku tidak merasakan energi sihir dari dalam tubuhnya, itu artinya di berika sihir oleh pihak lain. Apakah ayahnya? Tidak, ia juga tidak memiliki sihir." Ucap Samudra dalam hatinya.

Siapa sangka keenam orang penyihir junior yang berada di sana langsung mengeroyok Samudra dan menyelamatkan anak itu dari cengkraman tangan Samudra. Para warga yang makan di sana juga ikut ikutan mengeroyok Samudra.

Samudra menghindari setiap pukulan dari keenam penyihir dan para warga dengan gerakan lincah.

Sementara bapak dan anak pemilik warung langsung menutup pintu dan jendela agar tidak ada warga yang melihat.

"Ada apa dengan mereka? mengapa tiba tiba menyerangku?" Tanya Samudra, Samudra sendiri yakin mereka adalah penyihir junior dari kerajaan Samudra tidak ingin menyakiti mereka sehingga ia hanya bertahan.

Para penyihir itu mencabut senjata mereka.

Sring!

Samudra mempengaruhi pikiran mereka dengan sihir ilusi, namun itu tidak berpengaruh membuat Samudra terkejut sekaligus kebingungan karena baru kali ini sihir ilusinya tidak mempan..

"Sihir ilusiku tidak berpengaruh? Mustahil... mereka baru berpangkat junior, dan hanya manusia biasa. Seharusnya sangat mudah mempengaruhi pikiran mereka dengan sihir ilusi."

Samudra terus menghindari mereka...

Ia semakin merasa aneh karena keenam penyihir junior itu tak menggunakan sihir dan tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara, serta tatapan mereka kosong dengan ekspresi datar seolah mereka adalah boneka yang di gerakan untuk bertarung.

Baamm... baaammm... baaammm...

Samudra tak ingin terus bertahan, ia menendang dan memukul jatuh keenam penyihir junior dan para warga. Samudra kemudian mengeluarkan kain perak pemberian Guru Genta Gelap dan menjulurkannya ke depan.

Seketika kain itu memanjang dan melilit keenam penyihir junior itu.

"Kenapa ia tidak kunjung terpengaruh dengan serbuk itu? Apakah dia tidak memakan makanannya?" Tanya bapak pemilik warung.

"Serbuk? Terpengaruh?" Seketika Samudra bisa menyimpulkan sesuatu yaitu pemilik warung ini menaburkan serbuk aneh yang mampu mengendalikan orang orang ini.

Samudra tiba tiba mematung, tatapannya kosong layaknya boneka, dan kain perak di tangannya memendek.

1
anggita
nama ilmu yg keren. mantra api jiwa👏
anggita
ikut dukung ng👍like, 2x☝☝iklan. moga novelnya lancar.
anggita
novel laga lokal👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!