Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROGNOSIS AKHIR DAN TITIK BALIK
Jakarta sedang dalam puncaknya yang paling gerah saat Kania melangkah keluar dari ruang bimbingan dengan wajah yang bersinar. Lembar persetujuan sidang skripsi sudah berada di tangannya, lengkap dengan tanda tangan dosen pembimbing yang selama ini ia anggap sebagai jelmaan monster birokrasi.
"Bi! Gue di-*acc*! Sidang minggu depan!" teriak Kania sambil memeluk Bianca di koridor kampus.
"Gila, Kan! Kekuatan cinta emang nggak ada obatnya ya. Efek didikan dr. Devan emang ngeri," Bianca tertawa sambil ikut melompat kegirangan.
Namun, kegembiraan Kania sedikit terusik saat ia melihat layar ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang ia kenal sebagai asisten pribadi Devan di rumah sakit.
Asisten dr. Devan: Mbak Kania, maaf mengganggu. dr. Devan meminta saya menyampaikan bahwa jadwal makan malam nanti dibatalkan. Beliau dipanggil ke Komite Etik siang ini terkait insiden lobi kemarin.
Jantung Kania mencelos. Komite Etik. Ia tahu dari drama medis yang sering ia tonton dan dari penjelasan singkat Devan bahwa dipanggil ke Komite Etik bukanlah hal sepele. Itu berarti karier Devan benar-benar sedang dipertaruhkan.
Di dalam ruang Komite Etik RS Medika Utama, suasana terasa sangat formal dan mencekam. Lima orang dokter senior duduk berjajar di depan sebuah meja panjang kayu jati. Devan duduk sendirian di kursi tengah, sementara dr. Sarah duduk di barisan saksi bersama beberapa staf administrasi.
"dr. Devan, kami menerima laporan formal mengenai ketidakhadiran Anda saat terjadi kegawatdaruratan pada pasien paska-operasi, serta keterlibatan pihak luar dalam konflik keluarga pasien di area rumah sakit," ujar ketua komite dengan nada monoton.
Devan tetap tenang, punggungnya tegak. "Saya sudah menjelaskan bahwa saya sedang berada di jam luar dinas. Mengenai keterlibatan pihak luar, itu adalah reaksi spontan yang tidak bisa saya kendalikan sepenuhnya, namun saya bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi."
Sarah berdiri, meminta izin untuk bicara. "Saya ingin menambahkan, dr. Devan belakangan ini sering kali mengabaikan efisiensi kerja demi urusan yang menurut saya tidak profesional. Kehadiran mahasiswi tersebut di lingkungan rumah sakit telah menciptakan preseden buruk bagi kedisiplinan staf kami."
Devan melirik Sarah. Tatapannya tidak lagi tajam seperti biasanya, melainkan tampak... kasihan. Ia menyadari betapa kesepiannya Sarah sampai harus menghancurkan kebahagiaan orang lain demi sebuah validasi profesionalitas yang semu.
"Apakah ada pembelaan lain, Devan?" tanya ketua komite.
Sebelum Devan menjawab, pintu ruang rapat terbuka. Seorang pria tua dengan kursi roda masuk ke ruangan Prof. Gunawan.
"Saya rasa saya punya suara di sini," ujar Prof. Gunawan dengan suara yang menggelegar meski tubuhnya renta. "Saya sudah meninjau rekam medis pasien yang diperdebatkan. Tindakan dr. Aris dan koordinasi dr. Devan lewat telepon sudah sesuai protokol. Pasien selamat, bukan? Dan soal gadis itu..." Prof. Gunawan tersenyum tipis ke arah Devan. "...dia adalah alasan keluarga pasien tidak jadi menuntut kita. Karena kejujurannya, mereka sadar bahwa dokter mereka juga manusia."
Komite Etik tampak berbisik-bisik. Intervensi sang pendiri yayasan bukanlah hal yang bisa diabaikan.
"Namun, Devan," lanjut Prof. Gunawan, "Kamu harus memberikan kepastian. Jika gadis ini adalah gangguan, maka singkirkan. Tapi jika dia adalah kekuatanmu, maka jadikan dia bagian dari duniamu dengan cara yang benar."
Sore harinya, Kania menunggu Devan di taman depan rumah sakit. Ia tidak berani masuk ke dalam karena takut memperburuk situasi. Ia duduk di bangku kayu yang sama saat ia menunggu Devan kemarin, memandangi langit yang mulai berubah jingga.
Langkah kaki yang tegas namun familiar terdengar mendekat. Kania menoleh dan melihat Devan berjalan ke arahnya. Pria itu tidak memakai jas dokter. Ia hanya memakai kemeja biru tua yang kancing lengannya sudah dibuka.
Kania berdiri dengan gugup. "Gimana, Dok? Komite Etiknya... mereka pecat Dokter?"
Devan berhenti tepat di depan Kania. Ia menatap wajah gadis itu cukup lama, membuat Kania semakin cemas.
"Mereka tidak memecat saya," ucap Devan akhirnya. "Tapi mereka memberi saya pilihan. Fokus total pada karier dan membatasi hubungan pribadi yang bersifat publik, atau tetap pada jalan saya dengan risiko pengawasan ketat."
"Terus Dokter pilih apa?" bisik Kania.
Devan meraih tangan Kania, menggenggamnya erat. "Saya pilih untuk tidak memilih keduanya. Saya mengajukan permohonan untuk mengambil cuti panjang paska-sidang skripsimu nanti. Saya ingin membawa calon istri saya ke Jerman untuk melihat rumah sakit di sana, sekaligus merayakan kelulusannya."
Kania melotot. "Calon istri? Siapa? Emang Dokter udah ngelamar aku?"
Devan merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru berwarna merah tua. Ia membukanya, menampilkan sebuah cincin dengan berlian tunggal yang sederhana namun sangat elegan.
"Kania, secara medis, kamu adalah anomali yang paling tidak masuk akal dalam hidup saya. Kamu merusak semua statistik saya, menghancurkan efisiensi saya, dan membuat detak jantung saya tidak stabil setiap hari. Tapi, kamu adalah satu-satunya obat untuk luka yang selama ini saya anggap tidak bisa sembuh."
Devan berlutut di depan Kania, mengabaikan beberapa pasang mata perawat dan pasien yang melintas di kejauhan.
"Maukah kamu menjadi diagnosa terakhir saya? Maukah kamu menjadi pendamping saya, bukan hanya untuk kencan di Puncak, tapi untuk seumur hidup?"
Air mata Kania tumpah seketika. "Dok... Dokter beneran gombal banget hari ini. Mana bahasa medisnya?"
"Jawab saja, Kania. Oksigen saya mulai menipis menunggu jawabanmu."
Kania tertawa di sela tangisnya. "Iya! Mau! Mau banget, Dokter Es!"
Devan berdiri dan menyematkan cincin itu di jari manis Kania. Ia kemudian menarik Kania ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan penuh kasih. Di kejauhan, ia melihat dr. Sarah yang berdiri di jendela lantai empat, menatap mereka. Devan hanya mengangguk kecil, memberikan penghormatan terakhir pada masa lalunya yang dingin.
"Jadi, minggu depan sidang?" tanya Devan sambil melepaskan pelukan.
"Iya! Dokter datangkan?"
"Tentu saja. Saya akan datang dengan buket bunga paling besar, dan saya akan memastikan semua orang di kampusmu tahu bahwa mahasiswi hukum paling ceroboh ini adalah milik dokter bedah saraf paling kaku sedunia."
Kania mencubit pinggang Devan. "Dih, masih aja ngatain kaku!"
"Itu fakta, Kania. Tapi meskipun kaku, hati saya sudah sepenuhnya mencair untukmu."
Di bawah langit senja Jakarta yang mulai meredup, dua manusia yang berbeda dunia itu akhirnya menemukan titik temu. Antara ruang operasi yang sunyi dan koridor kampus yang ramai, cinta mereka menjadi jembatan yang menghubungkan segalanya. Prognosis akhirnya jelas: Mereka akan hidup bahagia, dengan banyak martabak, banyak tawa, dan tentu saja detak jantung yang akan selalu berirama sama.