Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.
Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.
Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.
Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.
Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Matahari berada tepat di tengah langit.
Nate menemukan dirinya berdiri di tengah sebuah kota dengan gedung-gedung tinggi yang mencakar langit. Gedung-gedungnya tampak bersih, jalan rayanya mulus, tidak ada mobil yang hancur, tidak ada reruntuhan, tidak ada bau gosong. Semuanya tampak normal kecuali satu hal: kota itu benar-benar sepi dan tak berpenghuni.
Lalu, begitu Nate menatap ke depan, dia menemukan sebuah kristal raksasa berwarna biru muda berdiri di tengah jalan raya itu, memancarkan cahaya yang bergetar pelan seperti detak jantung.
Notifikasi sistem muncul bersamaan.
[Event Dungeon: (Siege Of The Fallen Citadel) Akan Dimulai]
[Jumlah Player: Enam Player]
[Format: Seluruh player yang memenuhi syarat dari semua server digabung dalam satu arena. Mereka harus mempertahankan kristal dari gelombang monster yang terus meningkat. Total gelombang: 20 wave.]
[Sistem Kontribusi: Poin kontribusi dihitung dari kill count, damage yang diberikan, dan monster yang dihentikan sebelum mencapai benteng. Peringkat final ditentukan dari poin ini.]
[Diharapkan agar seluruh player yang bergabung berkumpul di kristal yang berada di tengah arena.]
Melihat notifikasi itu, Nate agak terkejut. Dia tidak menyangka ada yang berhasil naik ke level sepuluh di detik-detik terakhir dan masuk ke sini. Hal lain yang tidak dia sangka adalah bahwa mereka ternyata harus bertarung bersama untuk mempertahankan kristal itu.
Nate tersenyum dan mulai melangkah mendekati kristal. Jantungnya berdebar membayangkan dua puluh gelombang monster yang akan datang, membayangkan deretan notifikasi sistem yang akan berbunyi satu per satu.
"Sebaiknya itu berjumlah sangat banyak."
Begitu dia cukup dekat, dia menemukan empat orang yang tampak berjalan dari arah yang berbeda-beda, masing-masing terhenti begitu menyadari keberadaan satu sama lain.
Nate mengamati mereka satu per satu.
Seorang pria dengan tubuh besar dan berotot, tingginya hampir dua ratus sentimeter, wajahnya menunjukkan kewaspadaan dan ketenangan yang anehnya bisa berdampingan. Di sisi lain, seorang pria berambut pirang dengan pupil mata merah sedikit melengkungkan bibirnya, kedua tangannya dimasukkan santai ke dalam saku celana. Lalu ada seorang wanita dengan tunik hitam panjang dan rambut perak, pupil matanya yang gelap dipenuhi kilatan kegilaan yang samar, menyerupai pusaran yang bergerak sangat pelan.
Dan selanjutnya, Nate melebarkan matanya untuk sesaat.
Seorang gadis dengan rambut obsidian yang mengalir lembut hingga ke pinggangnya. Pupil matanya bersinar dengan rona keemasan, seperti membawa fajar di dalam matanya. Saat tatapan mereka bertemu, gadis itu menatap Nate dari ujung kaki hingga kepala dengan tenang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, mempertahankan senyumannya yang netral.
"...Nine?"
Adiknya sendiri.
Nate mengamati penampilan adiknya sejenak dari ujung kaki hingga kepala. Begitu dia memastikan bahwa Nine tampak baik-baik saja, dia mendesah dan mengalihkan pandangannya dengan acuh tak acuh.
Tatapannya kemudian jatuh pada satu orang yang anehnya sangat menarik perhatian. Pria itu jelas manusia, tapi ada sesuatu yang berbeda dari manusia pada umumnya, sesuatu yang langsung terlihat. Pupil matanya berbentuk celah vertikal, persis seperti pupil hewan predator. Aura yang dia bawa terasa menyesakkan, meski tidak cukup untuk membuat Nate merasa tertekan.
Itu hanya luar biasa.
Setelah saling mengidentifikasi satu sama lain dalam keheningan yang berlangsung hampir lima menit, wanita berambut perak itu mengangkat bibirnya.
"Jadi, siapa di sini yang player 991?"
Suaranya bergema di keheningan. Setengah menit berlalu tanpa ada yang menjawab sebelum akhirnya Nate berbicara.
"Dan mengapa kamu mencarinya?"
Begitu pupil abu-abu Nate bertemu dengan pusaran gelap dari mata wanita itu, seseorang yang lain tiba-tiba menyela.
"Apa kalian jatuh cinta pada pandangan pertama atau semacamnya?"
Pria tampan dengan senyuman ramah yang terpampang jelas di wajahnya itu tertawa kecil. Pria yang tingginya hampir dua ratus sentimeter ikut terbahak.
"Woah, kurasa itu adalah adegan yang menarik! Maksudku, jatuh cinta pada situasi ini jelas bukan hal yang klise, bukan?"
"Tidak bisakah kalian lebih serius?" Nine berbicara dengan nada kesal, tampak tidak terhibur sama sekali melihat yang lainnya bercanda saat nyawa mereka mungkin dipertaruhkan di sini.
"Nah, nah, nah. Nona yang di sana itu benar." Pria dengan pupil mata bercelah vertikal itu tersenyum sembari menepuk tangannya. "Bagaimana kalau kita memperkenalkan diri masing-masing?"
Begitu saja dia menjadi pusat perhatian, dan dengan cara yang tidak terlalu dipaksakan, dia memulai lebih dulu.
"Namaku Zenith Lycos, Player 115.641, peringkat keenam saat ini."
Zenith memperhatikan reaksi setiap player yang peringkatnya lebih tinggi, sebelum akhirnya wanita berambut perak itu bicara.
"Oh, itu kamu, yang berhasil naik level di detik-detik terakhir." Dia tertawa kecil seolah-olah itu memang lucu. Lalu setelah menikmati momen itu sejenak, dia melanjutkan, "Aku Nelphy Villenova, Player 12.222, peringkat kedua."
Nelphy menjadi sorotan sejenak karena posisinya yang paling dekat dengan peringkat pertama, meski menyebut itu "dekat" sebenarnya kurang tepat mengingat selisihnya yang sangat jauh.
"Selanjutnya aku." Pria bertubuh besar itu berbicara, menunjukkan seringai penuh kepercayaan diri. "Aku Loen Gildart, Player 54.412, peringkat keempat."
Pria berambut pirang itu menyusul dengan senyuman, meletakkan telapak tangannya di dada. "Maka selanjutnya adalah aku. Aku Rome Niculus, peringkat ketiga, Player 7.779. Senang bertemu kalian semua."
Giliran Nate.
"Nate. Kalian bisa memanggilku seperti itu, dan saat ini aku memegang peringkat pertama sebagai Player 991." Dia tersenyum geli saat menemukan Nelphy langsung menatapnya dengan tajam, seperti seseorang yang baru saja menemukan musuh bebuyutan yang sudah lama dicari.
Karena situasinya tidak memungkinkan untuk berbuat lebih, gadis itu hanya terdiam. Lalu Nine, yang sebelumnya menatap Nate dengan ekspresi yang sulit dibaca, angkat bicara.
"Aku Nine Leicester, Player 61, peringkat kelima."
Total enam orang. Dari seluruh server yang ada, dari jutaan pemain yang tersebar di mana-mana, benar-benar hanya enam player yang berhasil meraih level sepuluh. Angka itu mengingatkan dengan sangat jelas betapa sulitnya dunia ini untuk ditaklukkan.
Sistem muncul kembali di hadapan mereka seolah-olah waktu yang diberikan tadi memang dimaksudkan untuk perkenalan itu.
[Quest: Jaga Kristal Agar Tidak Hancur Dari 20 Gelombang Monster]
[Hadiah dan peringkat akan dihitung berdasarkan kontribusi]
[Quest akan dimulai dalam sepuluh menit. Persiapkan diri kalian.]
Senyuman muncul di wajah Nate. Dua puluh gelombang monster, tumpukan EXP yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Meski begitu, misi ini jelas akan sangat sulit. Dan Nate tidak yakin seberapa jauh dia bisa mempercayai kelima player lainnya untuk menjaga kristal dengan benar.
'Nah, mereka semua adalah pemain papan atas yang sudah membantai sejumlah monster. Seharusnya mereka tidak akan menjadi beban.'
Nate mengangguk pelan. Dia berharap mereka semua bisa mengurus diri mereka masing-masing.
"...Sepertinya kamu benar-benar telah menemukan dunia yang tepat, bukan? Pasti sangat menyenangkan."
Nate melirik ke seberangnya. Nine berbicara padanya dengan nada dingin, dipenuhi emosi yang rumit.
Nate berkedip, lalu tertawa geli. "Memang, tempat ini terasa jauh lebih hidup daripada tempat itu, benar kan, Nine?"
Nine mengerutkan keningnya. "Jangan menyebut namaku." Dia langsung berbalik dan menendang kerikil dengan kesal.
Rome bersiul pelan. "Wah, apa-apaan ini kawan? Belum sampai sepuluh menit tapi kamu sudah membentuk hubungan dengan dua gadis sekaligus. Apa rahasianya?"
Nate tidak menjawab. Loen memotong lebih dulu dari samping dengan senyum percaya diri.
"Rahasianya sederhana. Tidakkah kamu melihat tubuh Nate? Dia punya proporsi yang seimbang, dia juga tampan. Sedangkan kamu? Kamu tampak kurus kering seperti cacing."
Rome berkedip. "Apa?"
"Seperti yang aku katakan. Otot adalah yang akan membuatmu tampan, dan kamu kekurangan hal tersebut."
Rome melirik tubuh Loen sejenak, memperhatikan otot-otot yang menggeliat di setiap bagiannya, lalu memiringkan kepalanya dengan ekspresi yang tampak benar-benar mempertimbangkan ucapan itu.
Zenith menghela napas dan bergabung. "Hei, ayolah. Tidak bisakah kalian membahas sesuatu yang lebih berguna? Seperti misi dungeon yang akan kita hadapi ini?"
Ketiga player itu menatap ke arah Zenith. Nate mengangguk.
"Aku setuju dengan Zenny."
"Zenny? Apa itu?"
Nate mengangkat bahunya. "Itu namamu. Apa otakmu sudah rusak? Sangat disayangkan. Mungkin bukan hanya matamu saja yang jadi seperti kucing tapi otakmu juga."
Urat kemarahan menonjol di pelipis Zenith. "Nah, apa maksudmu dengan bagian itu? Bisakah aku anggap itu sebagai tantangan?"
Nate tertawa geli. "Apa yang bisa dilakukan seorang peringkat enam?"
"Woah, woah, woah, kalian akan bertarung?" Loen menimpali, tampak sama sekali tidak berniat menghentikan situasi itu, tapi tetap terbahak-bahak seolah sangat menikmatinya. "Di sini? Seriusan? Betapa bodohnya."
Rome masih diam di tempatnya, tampaknya masih memikirkan tentang otot.
Nelphy datang mendekat dengan ekspresi yang sudah tidak sabar.
"Kalian sangat berisik. Bisakah kalian diam? Dan seperti yang dikatakan Zenny, ayo kita lakukan rapat strategi!"
"Huh?! Tunggu, kenapa kamu juga memanggilku Zenny?!" Zenith berteriak, tampak kehilangan seluruh kewibawaan dari pesona matanya seketika.
Rome baru sadar dan mengangguk, "Benar, ayo lakukan. Apa kamu punya ide, Zenny?" Dia mencubit dagunya, tampak benar-benar berpikir.
Wajah Zenith memerah.
Loen memotong sebelum dia sempat menjawab. "Rapat strategi? Untuk apa? Kupikir kita akan bertarung dan memperebutkan peringkat pertama dalam hal ini."
Nate segera mengangguk. "Ya, aku akan lebih senang jika kita membagi wilayah yang bisa kita jaga sendiri-sendiri. Dan aku mau yang paling besar."
Kekacauan yang aneh pun tercipta di antara keenam pemain peringkat atas itu. Perdebatan yang tidak ada habisnya memakan hampir seluruh sisa waktu, sementara Nine yang duduk di pojok tampak sibuk dengan sesuatu di sistemnya dan tidak peduli sedikit pun dengan keributan di sekitarnya.
Begitu saja, sepuluh menit berlalu.
Gelombang pertama akan segera dimulai.
***