Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Teriakan di Balik Sunyi
Tangan itu lekas menggendong tubuhku. Ia membawaku ke tempat di mana kami akan melabuhkan cinta malam ini. Napasku memburu saat badanku berhasil ia daratkan di atas kasur. Ia melepas jubahnya. Aku … tertegun. Diam tak berkutik. Mengikuti irama jantung yang terus berdetak tanpa ampun.
Kini, ia telah bertelanjang dada. Kututup mataku rapat. Ia mendekat. Semakin dekat. Tiba-tiba … tangan itu mencengkeram lenganku. Hingga aku terkapar di atas kasur. Sebuah ciuman mendarat lembut di bibir. Matanya terpejam. Tapi aku … tidak. Aku mencoba melepas cengkeramannya pada pergelangan tanganku. Rasanya … sesak berada dalam kepanikan.
Tubuhku seketika melemah. Detak jantungku bagai genderang. Seolah memasang alarm peringatan yang mendesakku berhenti. Kupaksakan diriku untuk tetap melanjutkannya. Tapi, jujur saja … tubuhku semakin melemah. Hingga kemudian, mataku membelalak. Menatap nanar plafon putih kamar ini. Semuanya tampak buram.
Keringat dingin membasahi tubuhku. Saat ia mencoba membuka satu persatu kancing bajuku. Aku menggigil. Kurasakan detak jantungku kian berpacu. Iramanya tak beraturan. Napasku memburu bagai berlari puluhan kilo. Kini, selembar benang pun tak lagi melindungi tubuhku. Hingga tiba-tiba … hujan di balik mata akhirnya menetes juga.
Mas Afwan tampak tak memedulikanku. Ia sibuk dengan hasratnya yang menggebu. Kuraih bantal di sebelahku. Kupeluk erat, mencari keamanan di sana. Hingga sesuatu yang tak kuduga terjadi. Mas Afwan melihat ekspresi cemasku.
“Sayang? Kamu aman?” tanyanya menghentikan aksinya menjamahku.
Tangisanku pecah. Saat pertama kali ia melontarkan pertanyaan itu.
“Sst … sst! Sini peluk aku!” Ia memelukku lagi. Berusaha menenangkanku. Badai di dalam jiwaku semakin kencang. Kupeluk erat dirinya. Kukatakan sesuatu yang mungkin saja meluruhkan segala harapannya untuk bisa menjamahku lagi.
“Maaf, aku belum bisa.”
Ia terdiam. Lantas melepas pelukannya. Sebuah tatapan sendu itu hadir. Ia menatapku lama. Tapi tiba-tiba ….
“Sayang, Mas udah sabar sejauh ini. Mau sampai kapan Mas harus nunggu mood kamu ada dulu?”
Aku tertegun. Kurasakan darah berdesir hingga ke puncak kepala. Sebuah kalimat yang sukses mengerdilkanku. Aku hendak memeluknya kembali. Namun, kali ini ia menghindar. Lantas, ia kembali bersuara.
“Ya sudah. Kamu tenangin dirimu dulu. Aku beri waktu lima menit.”
Aku mengangguk. Kemudian mulai menarik napas dalam. Membuangnya perlahan. Hingga semua rasa takut itu perlahan musnah. Kupejamkan mata, mencoba menanamkan kalimat positif di dalam kepala. Bahwa aku … bisa melayani suamiku dengan baik malam ini.
Kudesak diriku kembali. Kucoba untuk meraih tangannya. Sentuhan tanganku yang dingin kini membuatnya kembali mengarahkan pandangan kepadaku.
“Gimana? Udah mendingan?” tanyanya sekali lagi.
Aku mengangguk tanpa jawaban lisan. Mas Afwan tidak ingin membuang waktu lagi. Tangannya kini mulai menari lincah mencari apa pun pada tubuhku. Hingga … kurasakan nyeri yang hebat. Aku meringis. Namun, ringisan itu kali ini kubiarkan mengalir begitu saja.
Saat kesenangan Mas Afwan memuncak, dan aku larut dalam ketegangan ekstrim, sesuatu yang hangat kini kurasakan. Aku … terdiam lama. Pandanganku tak teralihkan dari plafon putih di atas sana. Keringat dingin itu kini menjelma menjadi kekakuan. Mas Afwan menyudahi aksinya. Ia mencoba menyentuh bagian berharga dariku. Namun, ia tersadar. Ragaku … kini telah kaku.
“Adelin! Sayang! Kamu aman?” Ia menampar-nampar pipiku pelan. Mencoba menyadarkanku dari hal yang membuatku kaku saat ini. Air mata menetes. Namun, ekspresiku datar. Tenggorokanku terasa seperti dicekik. Kering dan menyiksa.
“Sayang, jangan bikin aku cemas. Sayang! Adelin!” Mas Afwan berteriak memanggilku. Hingga kini sebuah pelukan mendarat ditubuhku.
“Maafkan aku. Aku memaksamu,” ucapnya kemudian. Kini, isak tangisku mulai terdengar nyaring. Tiba-tiba … sebuah teriakan lolos dari tenggorokanku.
“Adelin! Istigfar! Kamu kenapa?” Mas Afwan menepuk-nepuk pipiku kembali. Kurasakan pandangan mataku semakin buram. Hingga tiba-tiba … semuanya gelap.
***
Entah berapa lama aku hanyut dalam kegelapan yang sunyi. Perlahan, kesadaranku bagai ditarik paksa kembali ke dunia nyata. Kudengar, suara isak tangis yang tertahan di sebelahku. Lantunan istigfar dan ayat-ayat al quran kudengar tanpa jeda. Suara itu bergetar hebat. Suara Mas Afwan.
Ketika kelopak mataku terbuka perlahan, kulihat kamar ini masih dalam kondisi remang-remang. Aku melirik ke bawah. Kudapatkan tubuku telah berbalut piyama panjang milikku. Sebuah selimut tebal ikut serta membalut tubuhku.
Kulihat, Mas Afwan duduk di tepi kasur—tepat di sebelahku. Ia menggenggam tanganku erat. Sesekali ia menciumnya sambil terus mengucapkan kata maaf.
Kurasakan genggaman itu begitu kuat. Bahunya bergetar hebat. Ia … memang begitu mudah menangis.
“Maafkan aku, Adelin. Sayang, ayo bangunlah!”
“Sayang,” panggilku lirih seraya tersenyum padanya. Tetesan hujan di balik kelopak mataku tumpah sudah.
Ia tersenyum bahagia mendengar suaraku, seraya menyeka air matanya. Lantas, membelai lembut rambutku.
“Sayang? Ya Allah. Alhamdulillah. Kamu udah sadar, Sayang?”
Aku menganggukkan kepala. Kubawa diriku duduk. Mas Afwan bergegas membantuku duduk dari tidurku. Kami saling pandang satu sama lain. Kulihat, mata itu berkaca-kaca. Ia membelai lembut pipiku. Lantas, mengecup keningku lama.
Sebuah pelukan mendarat ditubuhku. Aku ingin menangis bersamanya. Tapi … tangisan itu seolah tertahan.
“Sayang. Kamu mau aku bawa ke rumah sakitkah? Kita berobat.”
Aku lekas menggelengkan kepala. Merasa bahwa diriku mungkin hanya belum siap saja untuk melakukan malam pertama kami.
“Atau, kamu mau di rukiah?”
Aku kembali menggeleng. Karena aku merasa bahwa ini pun juga bukan gangguan jin dan lainnya.
“Ya udah. Kalau kamu butuh ke dokter atau rukiah, beritahu aku ya, Sayang,” ucap Mas Afwan lantas membelai lembut puncak kepalaku.
Kuanggukkan kepala, kemudian menebar senyuman manisku padanya. Ia membalasnya sambil mencium punggung tanganku.
“Ya Allah. Ampuni aku. Mengapa aku masih belum bisa melayani suamiku dengan baik?” gemuruh batinku.
Pagi menjelang menyuguhkan sinar mentari yang hangat. Namun, dinginnya Lembang membuat rasa hangatnya matahari tersamarkan. Aku kali ini tengah menyiram tanaman di halaman rumah. Saat aku tengah menyiram tanaman, langkah kaki kecil terdengar di belakangku. Kulirik ke belakang. Hingga sebuah suara menggemaskan memanggilku.
“Umi!” panggilnya seraya mengembangkan kedua tangannya seolah meminta untuk dipeluk. Aku lantas memeluknya erat. Mengusap punggungnya, lalu membiarkan matanya kembali terpejam kala usapan lembut itu kudaratkan.
“Mana Abatynya, Umi?” tanya Hamzah seraya melepas pelukannya dariku.
“Abaty lagi ke Pusat Kota, Nak. Lagi ke toko madu,” jelasku lantas membelai lembut rambutnya.
“Oh, na’am Umi. Umi, Hamjah lapar. Hamjah mau makan. Boleh?”
“Boleh dong, Sayang. Ayo kita makan.”
Kami pun sarapan bersama dengan sepotong roti dan segelas susu. Kulihat, Hamzah menyantap dengan lahap makanannya. Tiba-tiba … Hamzah menceritakan satu hal padaku.
“Umi lama dulu juga sering kasih roti sama susu untuk Hamjah, Umi.”
“Ho iya? Maa syaa Allah. Enak nggak rotinya?”
“Enak, Umi. Sama kayak roti ini.”
Aku membalas ucapan Hamzah dengan senyuman. Hingga tiba-tiba, Hamzah kembali bersuara.
“Umi, Umi lama nggak pernah teliak-teliak kalau malam lo. Umi kok suka teliak-teliak kalau malam?”
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?