Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.
Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.
Detik berikutnya, napasnya tercekat.
Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.
Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jika (ketika hati harus memilih)
Dua minggu berlalu. Aku jadi Sella versi yang diinginkan semua orang. Menemani Mas Wisnu fitting jas. Tes makanan. Bagi undangan. Senyum di depan kamera prewedding.
Sakit? Masih. Tapi kutahan. Kata orang, luka kalau nggak dipegang lama-lama kering sendiri.
Sampai hari ini.
Aku dan Mas Wisnu bagi undangan ke teman kantor. Selesai, kami mampir ke toko buku langganan di kawasan Mertoyudan. Tempat pertama kali Arka ngajak aku diskusi soal novel favorit.
"Mas ke kasir dulu ya, bayar," kata Mas Wisnu.
Aku mengangguk, mengelus punggung buku. Lalu dunia berhenti.
Di rak ujung, ada Arka. Kemeja biru dongker, sama seperti saat pertama ketemu. Dia juga membeku, menatapku. Di tangannya, novel yang dulu dia rekomendasiin ke aku.
Tuhan, kenapa sekejam ini?
Mas Wisnu balik, merangkul pundakku. "Udah, Sayang? Eh?"
Mas Wisnu melihat Arka. Arka melihat cincin di jariku. Lalu melihat gandengan tangan Mas Wisnu di pundakku. Rautnya... aku hafal. Raut menahan remuk.
Aku mau pingsan.
"Temen kamu?" tanya Mas Wisnu, sopan.
Aku mau jawab bukan, tapi Arka duluan yang bicara. Dia senyum, senyum paling palsu sedunia. "Iya, Mas. Temen... diskusi buku." Lalu ke aku, "Selamat ya, Sell. Undangannya kapan?"
Lidahku kelu. Mas Wisnu yang jawab, "Tiga minggu lagi. Datang ya, Mas...?"
"Arka," jawabku lirih.
"Mas Arka," ulang Mas Wisnu. "Datang ya. Kita nggak undang banyak orang kok."
Arka mengangguk. "Pasti. Saya usahain." Matanya ke aku, cuma sedetik. Tapi di sedetik itu dia bilang _aku nggak akan datang, Sell. Aku nggak sanggup._
Kami keluar. Di parkiran, Mas Wisnu buka pintu mobil buatku. "Kok dia kayak kenal kamu banget ya?"
"Dulu pernah satu komunitas buku aja, Mas," bohongku. Lagi.
Malamnya, ada DM dari akun baru. Tanpa foto profil. Aku tahu itu Arka.
_"Maaf. Aku nggak tahu kamu bakal ke sana. Aku cuma kangen tempat itu. Ternyata tempatnya nggak kangen aku. Dia malah bawa kamu sama dia."_
Aku mau blokir. Tapi jariku malah mengetik.
_"Arka, tolong. Jangan gini. Aku udah coba ikhlas."_
_"Aku juga, Sell. Tapi tadi lihat kamu dirangkul dia, aku baru sadar. Ikhlasku cuma teori. Prakteknya, aku mau mati."_
_"Kamu harus lupain aku, Ka. Anggap aku udah mati."_
_"Kalau kamu mati, aku ikut mati, Sell. Tapi kamu hidup. Bahagia sama orang lain. Dan aku harus hidup... tanpa kamu. Itu lebih nyakitin dari mati."_
Aku matikan HP. Kubuang ke bawah kasur.
H-7 pernikahan. Fittings baju akad terakhir. Mama nangis peluk aku. "Kamu cantik banget, Nak. Mas Wisnu beruntung."
Aku natap kaca. Kebaya putih. Wajahku pucat. Ini bukan wajah pengantin bahagia. Ini wajah mayat hidup yang didandani.
HP di tas bunyi. Nomor tidak dikenal.
Aku angkat, "Halo?"
"...Sell." Suara Arka. Parau. "Ini beneran terakhir. Aku di stasiun. Mau pergi jauh. Ke luar kota. Kerja. Ngilang selamanya dari hidup kamu."
Jantungku copot. "Ka..."
"Doain aku ya. Doain aku bisa lupa. Dan... makasih udah jadi cerita paling indah, walau nggak bisa jadi rumah."
"Arka jangan—"
"Mas Wisnu orang baik, Sell. Kamu berhak bahagia. Jangan nengok ke belakang. Anggap Arka ini cuma... debu. Kebawa angin."
Tut.
Kali ini dia yang matiin.
Hari H. Aku di kamar rias. Akad setengah jam lagi. Mama, tante, MUA ribut bolak-balik.
Lalu Mas Wisnu masuk. Wajahnya tenang, tapi matanya merah. Di tangannya ada ponselku yang ketinggalan di meja rias. Layarnya nyala. Isinya chat dari nomor Arka yang belum sempat kuhapus tadi malam.
Duniaku runtuh.
Mas Wisnu duduk di depanku. Tidak marah. Cuma nanya pelan, "Sella... kamu mau jujur sama Mas, atau sama penghulu nanti?"
Air mataku tumpah. Semua topeng hancur.
"Mas... aku..."
"Mas cuma mau tanya satu," potongnya. Suaranya bergetar. "Hati kamu... masih bisa buat Mas? Atau sudah habis buat Arka?"
Aku tidak bisa jawab. Karena jujur itu ngeri. Jujur berarti aku jahat. Tidak jujur berarti aku menjerat Mas Wisnu seumur hidup dengan kebohongan.
Di luar, suara tamu sudah ramai. Penghulu sudah siap. Arka sudah di stasiun.
Dan aku, Sella, tinggal pilih: maju ke pelaminan dengan hati yang mati, atau mundur dengan menanggung malu seumur hidup.