Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pagi itu, sinar matahari masuk dengan lembut melalui celah jendela kamar Aletta. Ia bangun dengan perasaan yang sangat bahagia dan bersemangat, karena hari ini adalah hari libur tugasnya di panti jompo.
Sudah lama ia menunggu hari ini, karena dia sudah berjanji dengan Jonatan kalau pacarnya itu akan datang menjemputnya untuk pulang ke rumah.
Setelah bersiap-siap dan berpamitan dengan teman-teman di kosan serta pemilik kos, Aletta sudah berdiri rapi di depan gerbang dengan tas kecil di punggungnya.
Matanya terus menatap jalanan, menantikan sosok yang sudah sangat ia rindukan sekian hari ini. Tak lama kemudian, terdengar suara sepeda motor yang perlahan mendekat. Benar saja, itu Jonathan. Dia tersenyum lebar saat melihat Aletta dan segera mematikan mesin motornya.
"Jonathan!" seru Aletta antusias, langsung berlari kecil menghampiri dan memeluk lengan pacarnya itu dengan erat.
Jonathan tertawa lembut sambil mengelus kepala Aletta dengan sayang. "Hai, sayang... Maaf ya nunggu lama. Kamu sehat kan? Kelihatannya makin cantik aja deh di sini," katanya ramah.
Aletta tersipu malu sambil memukul pelan lengan Jonathan. "Ah, kamu bisa aja. Aku sehat kok, cuma kangen banget sama kamu tau. Yuk, kita pulang! Ibu pasti seneng banget kalau tahu kamu datang," ajak Aletta dengan wajah berseri-seri.
Mereka pun berangkat berboncengan. Sepanjang perjalanan, Aletta terus bercerita dengan riang tentang pengalamannya di panti jompo, tentang Ibu Nining yang baik, Pak Bima yang lucu, hingga teman-temannya di kosan yang seru.
Jonathan mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tertawa atau bertanya, membuat perjalanan itu terasa begitu singkat dan menyenangkan bagi Aletta. Hatinya terasa sangat tenang dan bahagia, rasanya semua rasa lelah dan kesepian yang ia rasakan selama ini seolah lenyap begitu saja hanya dengan kehadiran Jonathan di sampingnya.
Sesampainya di rumah, Puspa menyambut kedatangan mereka dengan senyum lebar dan sambutan hangat.
"Wah, ada Nak Jonathan datang rupanya! Apa kabar, Nak? Sehat kan kamu?" sapa Ibu ramah.
"Baik, Bu. Ibu sendiri sehat-sehat saja kan?" jawab Jonathan sopan sambil mencium punggung tangan Ibu dengan hormat.
"Sehat, Alhamdulillah. Syukurlah kalian berdua bisa pulang hari ini. Ibu senang sekali," kata Ibu gembira.
Tak lama kemudian, Aletta masuk ke dapur dengan semangat. Ia sudah bertekad ingin membuatkan makanan kesukaan Jonathan sebagai tanda kasih sayangnya.
Dia mengenakan celemek dan mulai sibuk di depan kompor, mengaduk bumbu dan menumis nasi dengan cekatan. Bau harum nasi goreng mulai menyebar ke seluruh ruangan, membuat siapa saja yang menciumnya jadi lapar.
Jonathan yang dari tadi duduk di ruang tamu, akhirnya berjalan perlahan ke dapur dan bersandar di kusen pintu sambil memperhatikan Aletta yang sibuk dengan wajah bahagia.
"Wah, baunya enak banget lho. Kamu yang masak ini, Sayang?" tanya Jonathan memecah keheningan.
Aletta menoleh dan tersenyum manis, "Iya dong! Aku masakin nasi goreng spesial buat kamu. Kan udah lama nggak makan masakanku. Semoga suka ya," jawabnya riang.
Jonathan mendekat dan berdiri di samping Aletta, menatap wajah gadis itu dengan tatapan penuh kasih sayang. "Pasti suka, apapun masakan kamu aku suka. Kamu tuh hebat banget lho, cantik, rajin, baik hati lagi. Aku bersyukur banget punya pacar sebaik dan sehebat kamu," ucapnya tulus.
Mendengar itu, hati Aletta terasa mekar dan sangat bahagia. Ia menatap Jonathan dengan mata berbinar-binar.
Ya Tuhan... aku senang sekali akhirnya aku punya pacar seperti Jonathan. Dia baik, perhatian, dan sangat mengerti aku. Aku beruntung sekali, batinnya bersyukur.
"Terima kasih ya, Jonathan... Makasih udah jadi pacar yang baik buat aku," jawab Aletta lembut.
Tak lama kemudian, nasi goreng pun matang dan tersaji di atas meja makan. Mereka makan bersama dengan gembira, ditemani oleh Puspa. Suasana makan itu terasa begitu hangat dan penuh kebahagiaan.
Siang harinya, setelah makan dan beristirahat sejenak, Aletta teringat kalau dia masih punya tugas laporan yang harus diselesaikan dan dikumpulkan nanti sore saat ia kembali ke kosan. Dia mengeluarkan buku catatan tebal yang penuh tulisan tangannya, lalu duduk di ruang depan di depan televisi. Wajahnya tampak sedikit bingung karena banyaknya catatan yang harus disusun.
Jonathan yang melihat itu segera mendekat dan duduk di sampingnya. "Ada tugas yang susah ya? Biar aku bantu ya. Kita kerjain bareng-bareng biar cepat selesai," tawarnya sukarela.
"Wah, beneran boleh dibantu? Makasih banget ya, Meldi. Aku bingung banget nih harus menyusunnya gimana," kata Aletta lega.
Mereka pun bekerja sama. Aletta membacakan catatan-catatan yang ia tulis selama ini, menjelaskan kejadian-kejadian yang dialaminya, dan Jonathan membantu mengatur kalimat agar menjadi laporan yang rapi dan mudah dipahami.
Di ruangan itu terdengar suara acara televisi yang sedang menyala, tapi mereka berdua asyik mengobrol dan bekerja sama. Suasana terasa begitu nyaman dan damai.
"Nah, bagian ini maksudnya apa lagi, Al? Coba jelasin lagi pelan-pelan," tanya Jonathan lembut.
"Jadi begini, Jo... Waktu itu Nenek Mariyam bilang kalau..." jawab Aletta dengan semangat menjelaskan.
Begitu asyiknya mereka mengobrol dan bekerja, waktu terasa berlalu begitu saja. Perlahan, mata Aletta terasa semakin berat. Suara televisi yang lembut, suhu ruangan yang sejuk, dan kehadiran Jonathan di sampingnya membuat rasa kantuknya tak tertahankan lagi. Kepalanya perlahan menyandar ke bahu Jonathan, dan dalam sekejap mata, Aletta sudah tertidur pulas dengan napas yang teratur dan tenang.
Jonathan tersenyum lembut melihat wajah Aletta yang terlihat damai saat tidur. Ia perlahan menggeser posisi duduknya agar Aletta lebih nyaman, lalu mengambil laptop milik Aletta yang ada di meja. Dia membukanya perlahan agar tidak bersuara, lalu mulai mengetik.
Jonathan dengan telaten dan sabar menyalin semua catatan tulisan tangan Aletta ke dalam bentuk dokumen di laptop, menyusunnya dengan rapi dan indah. Ia ingin meringankan beban tugas pacarnya itu agar saat ia bangun nanti, tugasnya sudah hampir selesai.
Tidurlah yang nyenyak, Sayang... Kamu pasti capek banget seharian bekerja dan banyak kegiatan. Biar aku yang selesaikan sisanya, batin Jonathan sambil terus mengetik dengan tekun sesekali menatap wajah Aletta dengan kasih sayang.
Namun, waktu tidak bisa berhenti begitu saja. Tak terasa, hari mulai sore dan langit terlihat agak mendung. Aletta terbangun perlahan dan menyadari posisinya sedang bersandar di bahu Jonathan. Ia bangkit dengan malu-malu, lalu melihat layar laptop yang terbuka di hadapan Jonathan.
"Lho? Kamu nggak tidur, Jonathan? Kok kamu ngetik terus? Aduh, maaf banget aku ketiduran..." kata Aletta merasa bersalah.
Jonathan menutup laptopnya dan menatap Aletta dengan senyum lembut. "Nggak apa-apa kok, Sayang. Kamu kan capek. Lihat deh, tugas kamu hampir selesai kok, tinggal sedikit lagi. Jadi kamu nggak perlu pusing lagi nanti," katanya tenang.
Aletta melihat jam dinding dan wajahnya langsung berubah sedih. Hatinya terasa berat. Sudah waktunya ia bersiap untuk kembali ke kosan dan berpisah lagi dengan Jonathan.
"Waduh... udah sore ya... Aku harus siap-siap berangkat lagi nih, Jonathan. Rasanya nggak mau banget berpisah sama kamu. Baru sebentar ketemu, udah harus pergi lagi," keluh Aletta dengan suara lirih dan matanya mulai berkaca-kaca.
Ia memeluk pinggang Jonathan dengan erat, menyandarkan wajahnya di dada pacarnya itu seolah tidak ingin dilepaskan.
"Jo... aku sedih banget harus pergi lagi. Rasanya pengen di rumah terus aja sama kamu sama Ibu. Jangan pergi ya... Jangan lupa aku ya waktu di asrama nanti," kata Aletta menahan tangis.
Jonathan membalas pelukan itu dengan sangat erat, mengusap rambut Aletta dengan lembut dan mencium puncak kepalanya. Ia pun tampak berat hati melepaskan Aletta pergi lagi.
"Aku juga sedih harus pisah lagi sama kamu, Sayang. Rasanya pengen aku bawa kamu terus sama aku. Tapi kan tugasmu belum selesai, kamu harus bertanggung jawab dan menyelesaikannya dengan baik. Ingat ya, walaupun kita jauh dan jarang ketemu, hatiku tetap di sini sama kamu. Aku nggak bakal lupa sama kamu, aku bakal nungguin kamu sampai tugasmu selesai. Sabar ya sebentar lagi, nanti kita ketemu lagi," hibur Jonathan lembut berusaha menguatkan hati Aletta yang sedang sedih.
Aletta mengangguk pelan, menghapus air matanya, lalu tersenyum paksa. "Iya... Aku tahu. Aku bakal semangat demi kamu. Tapi janji ya, hati-hati di sana, sehat terus, dan ingat aku terus di hatimu," ucapnya.
"Janji," jawab Jonathan tegas.
Setelah berpamitan dengan Puspa dan Baskara, Jonathan kembali mengantar Aletta menuju kosannya. Sepanjang perjalanan, suasana terasa lebih hening dan menyentuh hati karena keduanya tahu bahwa momen kebersamaan ini akan segera berakhir dan mereka harus berpisah lagi untuk sementara waktu.
Sesampainya di depan gerbang kosan, mereka saling berpandangan dengan rasa sayang dan kerinduan yang mendalam, sebelum akhirnya Jonathan berangkat kembali menuju asramanya dan Aletta masuk kembali ke dalam kosan dengan perasaan yang campur aduk antara bahagia karena sudah bertemu dan sedih karena harus berpisah lagi.
~be to continued~