_
When npc fallin love?
Gadis remaja cantik kini terduduk menggaruk keningnya yang tak gatal, pikirannya selalu berkhayal jika npc seperti dia jatuh cinta pada pemain utama di dunia nyata?
Ah, pasti seru!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sapiluv Mprits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nongki with kak galih
Tak berapa lama kemudian sampai lah ayya di halaman cafe dimana louis dan kania kunjungi.
Tenang saja, ayah ayya tak terlalu khawatir karena putrinya itu tidak terlalu mencolok dalam penampilannya, namun cukup atraktif karena ayya sangat senang mempercantik diri disaat senang seperti sekarang.
" Kania sama louis ada-ada aja deh, main ke caffe berdua apa gimana? sama siapa aja mereka nongkrong nya, ya?"
menerka sembari memasuki caffe itu, ayya pun mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan kedua temannya.
" Ah itu dia! Dasar ya kalian tuh! Malah dipojokan, awas aja aku labrak tuh dua curut!"
Ayya berjalan cepat menghampiri caffe corner yang sedang kania dan louis tempati sekarang, namun tak hanya berdua, di spot yang tak terlihat ternyata ada dua pemuda yang turut duduk dan ngobrol santai dengan louis.
Ayya pun menelankan laju agar tak mengejutkan mereka, namun sial nya malah ayya yang terkejut melihat keberadaan sang ketos SMA Nusa Anugerah di antara mereka.
" Ya Tuhan? a-ada kak galih?? Kenapa bisa ada dia disini?"
" Kharismatik banget astaga.."
Ayya melangkah mundur, sebisa mungkin kehadirannya tak disadari oleh kania, ataupun louis.
" Ga mau ah nongki sama kak galih, kabur aja ah." Gumam ayya seraya terus melangkah mundur.
Namun tak disangka kania menoleh ke belakang dan langsung berseru memanggil ayya.
" Ayya?? Ngapain masih disitu? Sini!"
Seruan kania membuat galih dan willy temannya itu turut menatao ayya di kejauhan sana, ayya terlihat menggeleng sembari memutar balik arahnya.
" Hey ayya! Kesini woy?!" seru louis.
" Wah, tuh anak mau kabur kayaknya, kita kejar dia kani!" ajak louis pada kania.
Mereka berdua pun bangkit dari duduk dan langsung berlari mengejar ayya.
Ayya pun terkejut saat louis dan kania berhasil mendahuluinya, bahkan kini memblokade akses jalannya.
" Eyooo.. Mau kabur kan? Ga boleh ayy.." Cetus louis cengengesan.
" Aih.. Jangan halangin jalanku, kania louis, aku mau keluar.." peringat ayya frustasi.
Kania pun menggeleng. " mau ngapain diluar? kita udah nunggu daritadi loh, ayo join sama kita."
" Nggak ah."
" Kenapa? Apa karena ada si ketos kita?" Tanya louis.
Ayya sontak menggeleng cepat. " Ng-nggak kok.."
Geram, Kania pun meraih tangan ayya dan berucap.
" Ga mau tau, lo udah disini jadi harus nongki sama kita di dalem."
Ayya mengernyit lalu berbisik di dekat kania.
" Kenapa ga bilang kalo kumpul sama kak galih?" Tanya ayya lirih, membuat louis penasaran.
sedangkan kania pun terkekeh dan berucap. " Surprise lah.." Kekehnya.
" Surprise apaan? Ngeselin, mana bisa kita ngobrol bebas?" Gerutu ayya membuat kania cengengesan.
" Sorry, ini ulah louis karena pengen buktiin kalo dia sama kak galih itu deket, eh ternyata di telfon diajak nongki malah dateng beneran, ya kaget dong aing.. Aing korban juga, wak!"
Hufft.. Ayya pun menghela napas panjang, terlihat saat louis mulai merangkulnya untuk diajak duduk di tempat mereka.
" Santai aja, bang galih sama temennya itu satu kost sama gue, jadi kita lumayan deket." Ucap Louis.
" Ga tanya! Telat, ga bilang dari tadi, louis ngeselin!"
Hahahah, Louis tergelitik mendengar komplain dari ayya.
Tak lama kemudian galih dan willy serempak menatap pada kedatangan ayya, willy pun tersenyum sumringah menyambutnya.
" Wellcome ayya.. temen kania sama louis ya?" Tanya willy.
Ayya pun tersenyum kikuk, mengangguk kecil sembari melirik pada galih yang kembali fokus memainkan gitarnya.
Usai perkenalan dengan willy, suasana tongkrongan kembali menghangat, kecuali ayya dan Galih.
Entah mengapa ayya menjadi sangat awkward saat ini, Galih pun hanya diam menyibukkan diri dengan gitarnya sejak kedatangan ayya.
Hal itu benar-benar disadari oleh Louis dan willy, mereka pun berdehem untuk menyadarkan keduanya yang terlibat saling diam.
Galih reflek menoleh. " Apa?" tanyanya.
" Bang Leo fokus gitaran." ucap Louis.
Galih pun berdehem dan lanjut memetik senar gitar dengan begitu mahir hingga menciptakan alunan musik yang easy listening.
Kania, Louis, dan willy pun menikmatinya sembari menggerakkan beberapa anggota tubuh.
Begitu pula dengan ayya, ia turut terbawa suasana, namun bukan musiknya yang ia kagumi melainkan sang pembuat musik itu sendiri.
Ya, menambah point keindahan dalam diri galih yang dapat menarik minat ayya.
" Coba nyanyi ley.." Cicit willy yang langsung dilirik aneh oleh Galih.
Louis pun tergelak. " Nyanyi ajalah bang, suara lo enak tau!"
" Suara lo lebih enak, jadi elo yang nyanyi biar gue jadi pengiring musiknya." Ucap Galih menahan senyum, terlebih saat melihat Louis yang mendelik tak Terima.
" Gue sakit tenggorokan bang, suaranya jadi serak serak becek. lo ajalah.." Tawar Louis membuat willy dan Galih serempak tertawa.
Tawa yang begitu candu, ayya menatapnya biasa namun dalam lubuk hati terdalam ia sangat menyukai momen Galih tersenyum yang semakin langka sejak MPLS usai.
Kania pun unjuk tangan memberanikan diri untuk menjadi pengisi suara dalam tiap musik yang galih mainkan.
" Emang bisa?" Ledek louis.
" Bisa ga bisa, dibisa in lah, hehehe..." Kania cengengesan, membuat willy dan galih tersenyum lebar.
" Ayo dah gue imbangin mau bagus mau jelek, yang penting ada pengganti louis." Ucap galih.
Sontak Kania sangat girang, tak menyangka bakal secepat ini dia berinteraksi dekat dengan galih.
Tak butuh waktu lama, Kania langsung bernyanyi setelah iringan gitar Galih dimulai.
Suaranya tak terlalu merdu, standar lah, namun keberanian Kania cukup membuat Galih terkesan.
Dan setelah momen nyanyi itu usai, Galih dan Kania malah asik ngobrol, begitupun dengan willy dan Louis.
Ayya juga selalu diajak masuk ke dalam obrolan mereka, mereka nyambung, sepertinya masih ada frekuensi yang sama sehingga tak terasa obrolan mereka sudah dua jam berlalu.
Dan sialnya selama dua jam itu ayya baru sadar jika galih sama sekali tak menengoknya, mengajak bicara atau hanya berkontak mata saja dengannya. Jangankan menengok, galih bersikap seakan ayya tak ada disana.
" Eh gila! Gue udah ditelpon sama nyokap, Louis lo harus anter balik gue, kan elo yang minta izinin ke mama." Ucap Kania beranjak bangun.
Louis pun menaikkan kedua alisnya sebagai tanda 'iya. Lalu ia menoleh pada ayya yang turut bangkit dari duduk dan terlihat membenahi rok mininya.
" Ayya pulang sama-.."
" Ah, aku pulang sama grab.. Hehe, iya.. grab.." Ucap ayya gugup.
Willy pun menyikut galih. " Anter lo gak?" Tanyanya lirih, dan Galih menarik napas panjang, sudah dipastikan ia tidak mau.
" Sama grab? malem-malem sendiri ga apa? Emang grab kamu udah sampe mana ayy?" Tanya kania memastikan.
Ayya pun terkerjap bingung, pasalnya ia masih belum memesan ojek online, dia bohong soal itu agar tak berakhir memalukannya dengan tebengan gratis.
" Pasti belum dapet driver kan? malem minggu begini pasti driver sibuk, gimana kalo gue yang anter pulang? si leo kagak mau katanya.."
Setdah! Galih langsung melototi willy yang kini tertawa puas.
" Hehe becanda bro.."
Willy cengengesan, namun tatapan tajam Galih membuatnya diam menciut.
" Bagus deh, anter bang willy aja, dia anak baik kok.." Kekeh Louis.
Ayya pun menggeleng cepat. " Mm makasih ya kak, tapi aku pesen grab aja.."
" Udahlah Kania, sesekali dianter cowok.."
" Udah tiap hari sih.."
" Ya itu mamang ojek, beda ayyaa.. cowok ganteng cem kak willy.. Belum pernah kan?" Ledek Kania membuat ayya mengerucutkan bibirnya kesal.
" Kalo ga mau sih ga apa, gue cuma nawarin aja, tapi sebagai cowo gue ga bakal biarin cewe pulang sama orang asing malem-malem. Jadi, mungkin gue bakal ikutin dari belakang.."
" Ck! Ngapain sih? Bikin kerja dua kali, anter ajalah.." Ucap Galih.
Ayya pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu mengangguk kecil.
" Ya udah deh, aku mau dianter kak willy biar ga bikin repot dua kali.." Ucapnya yang langsung disambut girang oleh willy.
_
Perjalanan pulang yang tak terasa karena willy yang tak berhenti membuat ayya tertawa dengan jokesnya.
Willy termasuk mood maker di pertemanan Galih dan Louis, so.. dia bisa dengan mudah mencairkan suasana, termasuk suasana hati ayya yang willy sadari sedang tak baik-baik saja.
Selang tak berapa lama, memasuki gang cluster elit rumah ayya, willy pun memelankan laju motor hanya untuk bertanya pada ayya.
" Ayya, kalo boleh kita mutualan WA gimana? Ya cuma buat temen story aja, hehe.." tanyanya sedikit canggung.
Ayya pun mengernyit, lama tak menjawab karena bingung, untungnya rumah ayya hampir terlewat hingga ia langsung meminta dihentikan.
Turun dari motor vespa milik willy, ayya pun tersenyum hendak berucap, namun ternyata satu motor retro vintage membunyikan klakson di belakang mereka.
Tiin.. Tiiin...!
Willy pun menoleh kaget. " Loh? Leo?"
Ternyata sejak tadi Galih berkendara di belakang mereka, dan begitu sampai di halaman rumahnya, Galih langsung menekan klakson agar willy segera pulang.
" Udah malem, balik kosan sana!" Titah Galih.
" Lah? elu juga ya ege, ngapain malah ngikutin kita sampe ke rumah ayya?" Cibir willy.
Galih pun tersenyum sekilas dan berdecak malas.
" Gue pulang ke rumah eyang lah, lo lupa kalo disamping gue ini rumah eyang gue? Cih, kalo udah sama cewe selalu aja linglung.." Cibir Galih.
" W-waah.. Jadi? eyang lo sama ayya tetanggaan?" Tanya willy tak menyangka.
Sedangkan Galih mengangguk dengan sombongnya.
" Tau gitu kenapa lo ga inisiatif tebengin ayya? Dasar !"
Galih menggedik acuh, sedangkan willy pun menoleh pada ayya yang sudah sampai di depan pintu utama rumahnya.
" Terimakasih atas tumpangannya kak willy, udah malem mending cepet balik biar ga ada begal..!"
Pffftt... Galih menahan tawa.
Sedang Willy reflek menekuk wajahnya, kesal. Padahal ia sudah berharap bisa mutual whatsapp dengan ayya, tapi gara-gara ulah sengaja Galih akhirnya willy gagal.
" Sialan lu Leo! awas aja kosan lu besok full anak kosan." Cetusnya membuat galih semakin tertawa.
" Hahahaa... Kenapa? gagal deketin ya? Udah ah sana balik!"