Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Ambang Batas Bahaya
"Cinta?" Kata itu tiba-tiba berdenging di dalam otak Biru.
Apa benar ia telah jatuh cinta hanya karena dadanya berdebar dengan ritme yang berbeda? Pikirannya mendadak terlempar kembali ke beberapa jam yang lalu. Sebuah kilas balik yang hampir saja menghentikan detak jantungnya secara permanen.
Flashback on
Pukul tiga pagi. Suara deburan ombak Uluwatu terdengar samar di balik jendela kaca yang tertutup rapat. Biru sedang berada di ambang antara sadar dan tidak, berjuang melawan rasa kantuk yang berat namun takut untuk benar-benar terlelap.
Tiba-tiba, ia merasakan pergerakan di sisi sebelahnya.
Selena, yang sejak tadi tidur dengan posisi memunggungi, mulai bergerak gelisah. Dalam tidurnya, wanita itu bergumam tidak jelas—mungkin sedang mendebat salah satu karakter dalam draf novelnya. Dengan satu gerakan tendangan yang tidak sadar, Selena membuang bantal guling yang menjadi "tembok Berlin" mereka ke lantai.
Brukh.
Biru tersentak, matanya terbuka lebar di kegelapan. Ia menahan napas saat merasakan guling itu menghilang, namun yang terjadi selanjutnya jauh lebih berbahaya bagi kesehatannya.
Selena berbalik, mencari sumber panas di tengah udara kamar yang dingin karena AC. Tanpa peringatan, ia merangsek maju. Tangannya yang halus dan lembut melingkar di pinggang Biru, sementara kepalanya tenggelam di ceruk leher pria itu. Kaki Selena bahkan dengan santainya mengunci kaki Biru, memeluk pria itu seolah-olah Biru adalah guling raksasa yang sangat nyaman.
Darah Biru berdesir hebat. Seluruh sensor di tubuhnya berteriak "bahaya".
Ia bisa merasakan napas Selena yang teratur mengenai kulit lehernya. Aroma vanila dan lotion bayi dari tubuh Selena menyerang indra penciumannya tanpa ampun. Biru membeku, tubuhnya kaku seperti batu. Ia ingin melepaskan pelukan itu, tapi tangannya seolah lumpuh.
Setiap kali Selena bergerak sedikit untuk mencari posisi lebih nyaman dalam tidurnya, jantung Biru berdentum kencang, menghantam tulang rusuknya dengan irama yang kacau.
"Jangan mati sekarang, Biru... jangan sekarang," batinnya memohon pada organ di dadanya yang mulai terasa panas dan perih.
Hampir satu jam Biru terjebak dalam posisi itu—merasakan kehangatan tubuh Selena yang murni tanpa dosa, sementara ia sendiri sedang bertaruh nyawa melawan gairah dan gagal jantung yang mengintip di balik pintu. Ia hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, merapal doa, hingga akhirnya Selena berbalik sendiri beberapa saat sebelum subuh tiba.
Flashback off.
Biru menghela napas panjang, mengembalikan cangkir kosong itu pada Cakra.
"Dia benar-benar tidak sadar telah hampir membunuh suaminya sendiri semalam," bisik Biru, lebih kepada dirinya sendiri.
Cakra yang melihat perubahan raut wajah Biru segera memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan tuannya itu. "Nadi Anda terlalu cepat, Tuan. Jika Nyonya Selena adalah ancaman fisik, maka saya harus mengambil tindakan lebih tegas untuk memisahkan kamar kalian."
"Tidak perlu, Cakra," cegah Biru sambil menepis tangan asistennya pelan. "Biarkan saja. Aku hanya perlu lebih banyak minum ramuan rimpangmu itu agar jantungku cukup kuat untuk bertahan satu minggu lagi."
Biru berjalan menjauh, namun bayangan Selena yang memeluknya dengan begitu damai semalam tidak bisa hilang begitu saja. Baginya, pelukan itu adalah surga yang paling mematikan yang pernah ia temui.
Cakra menyuguhkan lagi secangkir minuman rimpang seperti sebelumnya, karena Biru tampak sangat suka dan berniat menggantinya dengan kopi pekat favoritnya.
"Aku akan mandi Cakra, kamu bisa menikmati pagi ini dengan santai."
"Baik tuan."
Biru melangkah masuk ke Villanya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ramuan dari Cakra benar-benar bekerja seperti sihir; rasa sesak yang menghimpitnya semalam seolah menguap, memberikan ruang bagi paru-parunya untuk bernapas lega. Ia berencana untuk segera mandi dan bersiap sebelum suhu udara Bali semakin menyengat.
Namun, begitu pintu kamar terbuka, seluruh sirkulasi darahnya mendadak berbalik arah.
Selena berdiri di depan cermin besar, baru saja keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan sehelai handuk putih yang sangat pendek—begitu pendek hingga hampir tidak mampu menutupi lekuk tubuhnya yang sintal.
Tetesan air sisa mandi masih tertinggal di bahunya yang mulus, berkilauan tertimpa cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden.
Biru terpaku di ambang pintu. Tangannya masih memegang gagang pintu, sementara matanya tak mampu berpaling dari pemandangan di depannya.
"Oh! Mas Biru!" Selena terperanjat, refleks menutupi bagian atas handuknya dengan tangan, meski tindakan itu justru membuat bagian bawah handuknya semakin terangkat naik. Wajahnya merona merah, namun ia tetap mencoba memasang wajah santai.
"Aku... aku pikir kau masih di luar bersama asisten lasermu itu."
Biru tidak menjawab. Seluruh sistem pertahanannya runtuh dalam sekejap. Rasa "longgar" di dadanya yang baru saja ia banggakan mendadak menghilang, digantikan oleh debaran yang jauh lebih liar dan intens daripada sebelumnya.
Ia bisa melihat kulit Selena yang tampak begitu lembut dan harum, aroma sabun mandi yang segar memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang sangat intim. Integritas kontrak yang ia agung-agungkan terasa seperti kertas kosong yang siap terbakar.
"Kau... kenapa belum berpakaian?" suara Biru terdengar serak, hampir seperti bisikan yang tertahan di tenggorokan.
Selena menggigit bibir bawahnya, sedikit salah tingkah. "Aku lupa membawa baju ganti ke kamar mandi. Dan koperku ada di dekat meja kerjamu."
Selena melangkah cepat menuju kopernya, melewati Biru dengan jarak yang sangat tipis. Gerakan itu menciptakan hembusan angin kecil yang membawa aroma tubuhnya langsung ke indra penciuman Biru.
Biru memejamkan mata rapat-rapat, tangannya mencengkeram pinggiran meja rias untuk menjaga keseimbangan. Jantungnya mulai berulah lagi—kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena lonjakan adrenalin yang murni dipicu oleh gairah pria normal.
"Mas? Kau baik-baik saja?" tanya Selena cemas, ia berhenti tepat di samping Biru, menatap wajah suaminya yang mendadak pucat namun berkeringat dingin. "Wajahmu... kenapa begitu?"
"Jangan mendekat, Selena," desis Biru, suaranya terdengar seperti sebuah peringatan bagi dirinya sendiri. "Pakai bajumu sekarang juga, atau aku tidak menjamin kontrak itu masih berlaku semenit lagi."
Selena tertegun, matanya membelalak melihat kilat di mata Biru yang biasanya sedingin es kini tampak menyala. Ia segera menyambar pakaiannya dan masuk kembali ke kamar mandi dengan gerakan kilat.
Di luar, Biru jatuh terduduk di tepi ranjang. Ia memegang dadanya yang berdentum kencang, berusaha mengatur napasnya yang mulai pendek. Ramuan rimpang Cakra mungkin bisa menguatkan dinding jantungnya, tapi ia sadar, tidak ada ramuan di dunia ini yang bisa melindungi jantungnya dari intensitas seorang Selena yang hanya berbalut handuk.
"Sial," umpat Biru pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kini sedang menari di ambang batas bahaya. "Satu minggu ini akan benar-benar membunuhku."
***
jin ouch jin sentuh itu selena...