NovelToon NovelToon
The Lunar Secret

The Lunar Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.

Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.

Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Angin kencang menyapu permukaan danau yang membeku, membawa serta aroma salju yang tajam dan firasat akan pertumpahan darah yang lebih besar.

Selena berdiri di tengah lingkaran kawanannya sambil menggenggam Breaker yang denyutnya kini selaras dengan detak jantungnya. Joan berada tepat di sampingnya, sebuah tameng hidup yang siap meledak kapan saja jika ada bahaya yang menyentuh gadis itu.

​"Mereka datang," desis Riven yang kini telah dipapah oleh salah satu prajurit Joan.

​Dari garis pepohonan di seberang lembah, bayangan hitam mulai bermunculan dalam jumlah yang mengerikan. Itu bukan lagi Stalkers atau prajurit Dewan yang lamban, melainkan tentara bayaran Lucian, serigala-serigala terlatih yang dipersenjatai dengan teknologi manusia dan keganasan monster.

Di tengah-tengah mereka, sebuah tenda megah seolah muncul dari balik kabut dan Lucian melangkah keluar dengan senyum yang tetap tenang seolah ia sedang menghadiri pesta dansa bukan medan perang.

​"Indah sekali," suara Lucian bergema dan diperkuat oleh keheningan lembah.

"Pertemuan yang mengharukan. Alpha yang hilang, pelarian yang dikhianati, dan sang Ratu yang baru saja menemukan mahkotanya."

​"Cukup omong kosongmu, Lucian!" seru Joan dan geramannya membuat tanah yang dipijaknya bergetar. "Kamu tidak akan menyentuhnya lagi."

​Lucian tertawa kecil tetap melangkah maju sendirian tanpa rasa takut meski puluhan moncong serigala mengarah padanya.

"Oh, Joan. Kamu selalu begitu sentimental. Kamu pikir kamu pelindungnya? Kamu pikir kamu menyelamatkannya malam itu di kabin?"

​Selena merasakan firasat buruk menyengat tengkuknya. Ada sesuatu dalam nada bicara Lucian yang terlalu percaya diri.

​"Apa maksudmu?" tanya Selena dan suaranya tetap stabil meski Breaker di tangannya mulai bergetar karena emosi yang tidak stabil.

​"Selena, jangan dengarkan dia!" bisik Joan, tangannya mencengkeram bahu Selena.

​Lucian berhenti tepat di tepi danau. "Tanyakan padanya, Selena! Tanyakan pada Alpha kesayanganmu ini, bagaimana pasukan Dewan bisa menemukan kabin tersembunyimu malam itu? Bagaimana mungkin Dewan yang begitu bodoh dan lamban bisa tahu persis koordinat tempat tinggal seorang Darah Bulan yang dilindungi oleh perlindungan sihir kuno?"

​Selena menoleh ke arah Joan. Wajah Joan mendadak pucat. Luka di bahunya seolah kembali berdenyut perih.

​"Joan?" gumam Selena.

​"Aku melakukannya demi kaum kita, Selena!" Joan tiba-tiba bersuara dan suaranya pecah oleh keputusasaan.

"Dewan mengancam akan memusnahkan seluruh kawanan tersisa jika aku tidak menyerahkan lokasimu. Aku pikir, aku pikir aku bisa menyelamatkanmu sebelum mereka sampai. Aku berencana membawamu lari lebih awal, tapi penyerangan itu terjadi terlalu cepat!"

​Dunia seolah runtuh di bawah kaki Selena. Pria yang ia anggap sebagai pelindung satu-satunya, pria yang ia tangisi setiap malam adalah orang yang menjual lokasinya kepada musuh.

​"Jadi penyerangan itu, kamu yang memancing mereka?" Selena melangkah mundur dan es di bawah kakinya retak tipis.

​"Aku terpojok, Selena! Aku seorang Alpha, tanggung jawabku adalah pada seluruh kaum bukan hanya pada satu gadis!"

Joan mencoba meraih tangan Selena, namun Selena menepisnya dengan kilatan Breaker.

​Lucian bertepuk tangan perlahan. "Drama yang luar biasa, tapi tunggu, cerita ini masih memiliki bagian yang lebih menarik."

​Lucian melirik ke arah Riven yang sedari tadi terdiam di belakang. Riven yang terluka parah, tiba-tiba berdiri tegak. Ia melepaskan pegangan prajurit yang membantunya dan berjalan dengan langkah yang sangat sehat menuju arah Lucian.

​"Riven? Apa yang kamu lakukan?" teriak Selena.

​Riven tidak menjawab. Ia berlutut di depan Lucian. "Tugas selesai, Tuanku. Kunci telah dibuka dan ikatan emosionalnya telah hancur."

​Selena terperangah. "Riven, kamu bekerja untuk Lucian?"

​"Selena, Sayangku," Lucian berkata dengan nada penuh kemenangan. "Kamu pikir pelarianmu dari penjara bawah tanahku itu murni keberuntungan? Kamu pikir aku begitu ceroboh hingga membiarkan tawanan murni sepertimu melarikan diri hanya karena kamu memohon? Riven adalah orangku. Dia dikirim untuk memastikan kamu sampai ke Lembah Pembuangan ini dan membuka segel Breaker. Aku butuh Darah Murni untuk menyentuh pedang itu, karena jika aku yang melakukannya, aku akan mati."

​"Jadi kalian semua memperalatku?" Selena menatap satu per satu wajah di sekitarnya. Joan yang mengkhianatinya demi kawanannya dan Riven yang menipunya sejak awal perjalanan.

​"Dan sekarang," Lucian mengulurkan tangannya. "Berikan pedang itu padaku! Kamu sudah tidak berguna lagi."

​Namun, Selena tidak menangis. Kemarahan yang dingin mulai mengambil alih. Ia menatap Breaker di tangannya. Senjata itu tidak lagi berwarna biru lembut, warnanya berubah menjadi merah darah yang pekat, merespons rasa sakit dan pengkhianatan yang dirasakan pemiliknya.

​"Kalian ingin pedang ini?" Selena tertawa, suara tawa yang membuat para serigala di sekelilingnya merinding. "Kalian bicara tentang takdir seolah kalian yang menulisnya, tapi kalian lupa satu hal."

​Selena mengangkat Breaker dan bukannya mengarahkannya ke musuh, ia justru menusukkan ujung bilah cahaya itu ke telapak tangannya sendiri. Darahnya yang berwarna perak kental mengalir turun, membasahi hulu pedang dan meresap ke dalam es danau.

​"Breaker bukan pemutus kutukan bagi kaum serigala," bisik Selena dan matanya sekarang berubah menjadi perak murni tanpa pupil.

"Pedang ini adalah pemutus kutukan bagi Darah Bulan."

​Tiba-tiba bumi berguncang hebat. Altar di tengah danau terbelah. Arwah-arwah serigala yang tadi menelan prajurit Dewan tidak lagi menyerang secara acak. Mereka mulai menyatu dam membentuk pusaran energi raksasa di sekeliling Selena.

​"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Lucian, mulai panik.

​"Darah Bulan selama ini dianggap sebagai sumber kekuatan bagi kalian para Alpha," suara Selena bergema seolah datang dari langit. "Kalian menganggap kami kunci, kalian menganggap kami alat, tapi tahukah kalian kenapa ibuku dibunuh? Bukan karena Dewan takut pada kekuatannya tapi karena ia hampir saja menghapus keberadaan serigala dari muka bumi."

​Ternyata kutukan sejati di dunia ini bukanlah peperangan antara Dewan dan kaum serigala. Kutukan sejati adalah keberadaan kaum serigala itu sendiri, hasil dari eksperimen kuno yang gagal yang menggunakan Darah Bulan sebagai perekat biologisnya. Breaker diciptakan untuk mengakhiri eksperimen itu.

​"Jika aku mengayunkan pedang ini dengan seluruh tenagaku," Selena menatap Joan dengan tatapan kosong, "Kalian semua tidak akan mati. Kalian hanya akan menghilang. Kalian akan kembali menjadi manusia biasa yang lemah, tanpa kekuatan, tanpa keabadian, dan tanpa taring."

​Wajah Lucian dipenuhi ketakutan, karena menjadi manusia adalah kematian baginya. Bagi Joan itu berarti kehilangan kehormatannya sebagai Alpha.

​"Selena, jangan!" Joan memohon. "Kami butuh kekuatan ini untuk bertahan hidup!"

​"Kekuatan ini hanya membawa kehancuran, Joan. Lihat apa yang kamu lakukan pada kabin kita! Lihat apa yang Lucian lakukan pada ribuan orang di selnya. Kalian tidak layak memilikinya."

​Selena mengangkat Breaker yang kini ukurannya membesar, menyerap seluruh cahaya bulan di langit hingga malam menjadi gelap gulita.

​Namun, tepat sebelum Selena mengayunkan pedang itu, sesosok bayangan melesat dari kegelapan hutan dan menabrak Selena hingga mereka berdua jatuh ke atas es.

​Itu bukan Lucian dan bukan juga Riven.

​Itu adalah Joan, tapi bukan Joan yang berdiri di sampingnya tadi. Pria yang menabraknya memiliki luka yang sama dan perban yang sama, namun matanya berwarna biru manusia bukan emas serigala.

​"Hentikan, Selena!" teriak pria itu.

​Selena terpaku. Ia menoleh ke arah "Joan" yang berdiri bersama Lucian. Pria itu mulai memudar dan berubah menjadi gumpalan kabut hitam. Begitu juga dengan Riven dan tenda-tenda Lucian. Semuanya lenyap.

​Selena terbangun di tengah Lembah Pembuangan yang sepi. Tidak ada danau yang membeku dan tidak ada altar megah yang ada hanyalah sebuah reruntuhan kuil kecil dan pedang berkarat yang tertancap di tanah.

​"Itu halusinasi?" bisik Selena, napasnya tersengal.

​Joan yang asli yang benar-benar terluka parah dan menyeret kakinya dari kabin, akhirnya berhasil menemukannya.

"Lembah ini memakan ketakutanmu, Selena. Ia menciptakan ilusi pengkhianatan agar kamu menggunakan energi Darah Bulanmu untuk menghancurkan dirimu sendiri. Pedang itu bukan Breaker yang asli. Itu adalah perangkap Dewan."

​Selena menatap pedang berkarat di tangannya. Jika ia tadi mengayunkannya, ia bukan menghapus kekuatan serigala, melainkan melepaskan segel yang akan meledakkan seluruh wilayah ini dan membunuh setiap mahluk hidup di dalamnya termasuk dirinya sendiri.

​Joan jatuh terduduk di depan Selena, darahnya membasahi salju. "Kamu aman sekarang. Aku menemukanmu."

​Selena memeluk Joan dan menangis sesenggukan. Namun, saat ia memeluk pria itu, tangannya menyentuh punggung Joan. Di sana di bawah kulitnya, Selena merasakan sesuatu yang keras. Sebuah benda logam kecil yang tertanam di tulang belakang Joan.

​Sebuah alat pelacak milik Dewan.

​Selena melepaskan pelukannya perlahan dan menatap mata Joan yang sekarang berubah menjadi emas kembali. Joan tersenyum, tapi kali ini senyumnya terasa sangat asing.

​"Terima kasih sudah membawaku ke pusat lembah ini, Selena," bisik Joan. "Lucian benar tentang satu hal, aku memang Alpha, tapi dia lupa menyebutkan bahwa aku adalah Ketua Dewan yang baru."

​Selena tersentak mundur, namun ia terlambat. Kabut kembali menutup dan kali ini, ia tahu bahwa tidak ada lagi yang bisa ia percaya. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai dan ia baru saja memberikan kunci kemenangan kepada musuh yang paling ia cintai.

1
Astiana 💕
aku dah kirim bunga kak, semangat ya💪
Miarosa: terima kasih 😊
total 1 replies
Astiana 💕
aku mampir ya kak, baru awal baca seperti nya menarik, semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!