PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 Seragam Perak dan Otak yang Tumpul
Suasana di dalam paviliun semakin menyesakkan. Setelah Duke Lyon dan Duchess Elena dibuat nyaris pingsan oleh suara misterius itu, kini giliran sang putra mahkota keluarga Wiraatmadja, Xander, yang melangkah maju. Ia tampak begitu gagah dengan seragam ksatria perak yang berkilauan, pedang panjang tergantung di pinggangnya, dan aura otoritas yang terpancar dari setiap gerakannya. Di mata rakyat jelata, ia adalah pahlawan masa depan, namun di mata Rosalind , dia hanyalah target yang penuh dengan kelemahan.
Rosalind sedikit memperbaiki posisi duduknya yang lemas. Matanya yang tampak sayu sebenarnya sedang mengaktifkan Penglihatan Taktis. Garis-garis digital biru tipis memindai sosok Xander dari ujung kepala hingga ujung kaki.
[Analisis Target: Xander Wiraatmadja]
[Status: Stres Akut (Level 85%), Detak Jantung: 115 bpm, Adrenalin: Meningkat]
[Kelemahan: Terlalu kaku, mudah percaya pada bukti visual tanpa verifikasi lapangan.]
Rosalind menatap Xander dengan pandangan yang bagi sang ksatria terasa sangat menghina—seolah seorang profesor sedang menatap murid paling bebal di kelas.
[ (Rosalind):]
["Wah, lihat Kakak pertamaku ini. Kak Xander, Kakak gantengku yang kaku kayak kanebo kering setelah dijemur tiga hari... Kamu itu beneran kena kutukan bodoh dari lahir apa gimana sih? Kamu punya seragam perak yang mengkilap, tapi otakmu sepertinya jarang diasah. Kau tahu tidak? Kamu bakal percaya pada fitnah murah tentang Lady Isabella, padahal dia itu satu-satunya wanita yang mencintaimu dengan tulus di dunia ini tanpa memandang harta Wiraatmadja."]
Xander tersentak hebat. Tangannya secara otomatis mencengkeram gagang pedangnya. Matanya menyapu ruangan, mencari siapa bajingan yang berani menyebutnya "kanebo kering". Suara itu... itu suara Rosalind! Tapi adiknya itu hanya diam mematung dengan wajah pucat.
["Kasihan Lady Isabella,"] suara batin itu berlanjut dengan nada yang lebih sinis. ["Kamu bakal mencampakkannya di depan umum, menghancurkan martabatnya, hanya karena foto atau bukti palsu yang memperlihatkan dia bicara akrab dengan seorang pria. Padahal pria itu adalah Teza! Kakak juga kenal kan siapa Teza? Dia itu sepupu tunangan temannya Isabella! Mereka cuma bicarakan hadiah ulang tahun buatmu, bodoh! Tapi kamu malah lebih percaya pada mulut berbisa Lady Seraphina si ular bermulut manis itu daripada wanita yang sudah menunggumu pulang dari perang selama bertahun-tahun."]
Xander merasakan telinganya panas. Teza? Ia memang mengenal pria bernama Teza, seorang ksatria dari keluarga baron rendah. Pikiran Xander berputar cepat. Jika benar Isabella hanya bicara dengan Teza tentang hadiah, maka tuduhan perselingkuhan yang selama ini ia dengar adalah sampah. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya di balik baju zirah yang berat itu.
[ (Rosalind):]
["Dan yang paling tragis,"] Rosalind mendengus dalam pikirannya, ["Kakak juga nggak tahu kalau sahabat baikmu sendiri, si Pangeran ke-3 yang sering kau ajak minum itu, sebenarnya adalah iblis bertopeng. Dia yang bakal sabotase pasokan logistik mu di medan perang utara nanti. Kamu bakal mati kelaparan, memakan daging kuda sendiri, dan membusuk mengenaskan di perbatasan karena dikhianati sahabat sendiri. Bodohnya dipelihara sampai sebesar itu, Kak! Agen magang di kantorku dulu saja tidak sebodoh ini. Kalau di duniaku, orang sepertimu sudah habis di minggu pertama pelatihan."]
Xander hampir saja menghunus pedangnya saking kaget dan murkanya. Kata 'bodoh' itu menggema berulang-ulang di tengkoraknya seperti suara lonceng kematian. Ia menatap Rosalind dengan napas memburu. Bagaimana mungkin adiknya yang penyakitan ini tahu tentang rencana pengiriman logistik ke utara yang bahkan belum diumumkan secara resmi oleh kaisar?
Melihat Xander yang tampak seperti akan meledak, Evelyn, sang kakak kedua, mencoba menengahi. Ia melangkah maju dengan langkah yang anggun, mencoba mengulas senyum di bibirnya yang gemetar. Evelyn tampak sangat canggung dan takut, tangannya terus memainkan ujung gaun suteranya.
"Rosalind... kau... kau sudah merasa lebih baik?" tanya Evelyn dengan nada suara yang dibuat-buat lembut.
[ (Rosalind):]
["Aduh, si Kakak kedua datang. Kak Evelyn, cantik sih, wajahnya seperti dewi, tapi sayang otaknya ditaruh di dengkul kalau sudah urusan cinta monyet. Kakak ini benar-benar definisi 'buta karena cinta'. Kakak dihasut habis-habisan sama Amelia, teman baik yang sebenarnya pengkhianat itu. Amelia sengaja bikin Kakak benci setengah mati padaku supaya dia bisa mendekati Pangeran ke-3 lewat jalur kakak."]
Evelyn membeku. Senyumnya retak seketika. Namanya disebut... dan nama Lady Amelia juga disebut. Jantungnya berdebar kencang sampai ia merasa sesak napas.
["Kalian berdua, Kakak dan Kak Xander, cuma jadi pion sekali pakai buat Pangeran ke-3,"] lanjut batin Rosalind sambil menatap Evelyn dengan tatapan kasihan. ["Dan puncaknya, surat pemberontakan palsu itu... Kakak sendiri yang bakal menyerahkannya ke tangan Pangeran karena percaya itu adalah 'surat cinta' atau dokumen rahasia negara yang bisa membantunya. Aduh, Gusti... tolong berikan sedikit hidayah dan tambahan nutrisi otak buat Kakakku yang kurang literasi ini. Kasihan sekali, diperdaya oleh cinta sampai menghancurkan seluruh keluarga."]
Evelyn hampir jatuh tersungkur jika tidak segera berpegangan pada pilar tempat tidur kayu yang keropos itu. Wajahnya yang semula cantik kini penuh dengan ekspresi horor. Suara itu benar-benar suara Rosalind, tapi isinya... isinya adalah rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk mengakuinya.
Duke Lyon yang melihat kedua anaknya gemetar hebat hanya bisa terdiam dengan wajah pucat. Ia sekarang yakin sepenuhnya: Suara batin Rosalind adalah peringatan dari Tuhan—atau mungkin sebuah kutukan kebenaran yang harus mereka dengar agar keluarga Wiraatmadja tidak musnah dalam dua tahun ke depan.
Rosalind menutup matanya, berpura-pura pingsan kembali karena merasa energinya terkuras (padahal ia hanya ingin tidur siang setelah puas menghujat).
[ (Rosalind):]
["Ah, lelahnya menghujat orang-orang ber-IQ rendah ini. Nana, aku mau tidur dulu. Biarkan mereka merenungi kebodohan masing-masing. Aku harap besok sarapanku bukan bubur basi lagi, atau aku akan membongkar rahasia celana dalam Duke Lyon di depan publik!"]
Nana terkikik geli, terbang rendah di atas wajah Rosalind yang sedang berakting pingsan. Sementara itu, di dalam ruangan, keheningan yang mencekam menyelimuti keluarga paling berkuasa di kekaisaran itu. Mereka semua berdiri mematung, menatap gadis kecil di atas ranjang itu dengan rasa takut, hormat, dan penyesalan yang mendalam.