NovelToon NovelToon
TEMAN SEKAMAR

TEMAN SEKAMAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Realitas Tembus Pandang

Perjalanan tersisa menuju kos-kosan Luna terasa seperti berabad-abad. Mereka berbelok ke sebuah gang yang lebih kecil, di mana aroma khas sampah basah dan gorengan sisa menyambut mereka. Luna berhenti di depan sebuah pagar besi setinggi dada yang cat hijaunya sudah mengelupas parah, memperlihatkan karat di sekujur batangnya.

Luna merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci gembok kuningan yang sudah usang. Terdengar bunyi klik pelan, dan ia mendorong pagar itu. Pintu berderit nyaring, memecah keheningan malam. Ia masuk ke pelataran yang hanya muat untuk parkir dua motor, lalu berjalan menuju deretan pintu kayu tipis yang berbaris memanjang seperti barak pengungsian. Kamarnya adalah kamar nomor 04, terletak di tengah-tengah.

Saat Luna sedang membuka kunci pintu kamarnya, ia melirik dari sudut matanya. Nando masih berdiri di luar pagar besi, menatap bangunan kos-kosan dua lantai yang tampak reyot itu dengan ekspresi muak bercampur kebingungan.

Luna mendorong pintu kamarnya hingga terbuka. Ia masuk, menekan sakelar lampu. Lampu neon putih benderang yang sedikit berkedip menyala, mengekspos seluruh isi kamarnya yang berukuran empat kali empat meter. Sebuah kasur busa tanpa ranjang yang menempel di lantai berselimut seprai motif bunga pudar, sebuah lemari plastik tiga susun bergambar kartun yang pintunya sudah sulit ditutup, nakas kayu reyot tempat jam weker ayam jagonya berada, dan setumpuk kardus mi instan yang disulap menjadi rak buku darurat. Tepat di atas kasurnya, terdapat kipas angin langit-langit berdebu yang bilahnya bengkok.

Luna masuk, meletakkan tasnya di atas lemari plastik. Namun, pergerakannya terhenti.

Matanya secara otomatis melirik ke arah sudut langit-langit di atas kipas angin. Tempat di mana wanita berambut panjang, berbau melati busuk, dengan leher patah itu biasanya bergelantungan sambil meneteskan air kehitaman.

Kosong.

Tidak ada noda hitam di langit-langit. Tidak ada bau melati layu. Tidak ada hawa dingin yang menusuk tulang. Kamar ini terasa... normal. Sama seperti kamar pada umumnya. Terasa hangat. Terasa aman.

Luna tertegun. Jantungnya berdebar, kali ini bukan karena takut, melainkan karena sebuah realisasi yang gila. Ia menoleh perlahan ke arah pintu kamarnya yang masih terbuka lebar.

Di ambang pintu, Nando sedang melangkah masuk. Ia tidak repot-repot membuka pintu pagar yang tadi sudah Luna tutup kembali; ia hanya berjalan menembus jeruji besi berkarat itu seolah besi itu terbuat dari asap. Kini, Nando berdiri di tengah-tengah kamar sempit Luna, membuat ruangan itu terasa semakin sesak oleh kehadirannya dan postur tubuhnya yang menjulang tinggi.

Pendar biru pucat dari tubuh Nando menerangi sudut-sudut ruangan yang gelap. Dan seiring dengan masuknya Nando, Luna bisa merasakan sisa-sisa energi negatif dari hantu wanita berleher patah tadi tersapu bersih, seakan-akan terdorong keluar oleh dinding energi tak kasat mata yang dipancarkan oleh pria beraroma citrus ini.

"Ini tempat apa?" tanya Nando pelan, menatap jijik pada dinding bercat hijau telur asin yang sudah mengelupas di beberapa bagian, menampilkan jamur kehitaman karena rembesan air hujan. "Ini kamar atau kardus sepatu? Bagaimana bisa seorang manusia bernapas di ruangan berventilasi buruk seperti ini?"

Kesunyian menggantung di antara mereka. Luna menatap Nando lamat-lamat. Pria ini adalah hantu. Arwah penasaran. Entitas yang seharusnya ia hindari agar umurnya panjang. Namun, pria ini juga adalah satu-satunya alasan mengapa malam ini ia tidak mati dicabik entitas hitam di gang, dan satu-satunya alasan mengapa kamarnya malam ini bebas dari teror hantu penunggu langit-langit.

Nando adalah penangkalnya. Sebuah anomali di dunia astral.

Luna menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki untuk menghancurkan pertahanan yang telah ia bangun belasan tahun lamanya. Ia perlahan menurunkan masker hitam dari wajahnya, memperlihatkan kulitnya yang pucat dan bibirnya yang sedikit pecah-pecah.

Ia menatap lurus ke sepasang mata Nando yang arogan namun menyimpan ketakutan terpendam.

"Ini kamarku," ucap Luna akhirnya. Suaranya serak karena sudah berjam-jam tidak digunakan untuk berbicara secara normal, memecah keheningan malam dengan kepastian yang menakutkan.

Nando terperanjat hebat. Ia melangkah mundur satu langkah, hampir menabrak dinding kamarnya. Mata pria itu membulat sempurna, menatap Luna seolah gadislah hantunya.

"Kau..." Nando tergagap, menunjuk wajah Luna dengan jari telunjuknya yang memancarkan pendar biru. "Kau bisa mendengarku? Kau... kau bisa melihatku sejak awal?!"

"Ya," jawab Luna datar, memeluk kedua lengannya sendiri untuk mengusir rasa canggung yang luar biasa. "Aku melihatmu di gang. Aku mendengarmu mengomel tentang perusahaanmu sepanjang jalan raya. Dan aku melihat taksi itu menembus tubuhmu."

Dada Nando naik turun dengan cepat, napasnya memburu meski ia tidak membutuhkan oksigen. Ia mengacak-acak rambutnya yang tertata rapi dengan frustrasi, membuat beberapa helai jatuh ke dahinya. "Ini gila. Ini tidak masuk akal. Ini pasti mimpi buruk akibat kelebihan kafein dan stres. Aku sedang koma, kan? Di Rumah Sakit Medika Utama? Ya, pasti begitu! Kecelakaan sialan di jalan tol itu... mobilku terbalik... Bara, aku harus menghubungi Bara!"

Nando mulai berputar-putar di ruangan sempit itu, merogoh saku jasnya mencari ponsel yang tentu saja tidak ada.

"Tuan Nando yang terhormat," sela Luna, nada suaranya sedikit meninggi, berusaha memotong kepanikan pria itu. "Anda tidak sedang bermimpi."

Nando menghentikan gerakannya yang mondar-mandir. Ia menatap tajam ke arah Luna. "Lalu apa yang kau sarankan, hah? Bahwa aku ini hantu? Bahwa aku mati? Tidak! Aku menolak! Aku punya perusahaan senilai triliunan rupiah untuk dijalankan! Aku tidak mati!"

"Anda mungkin tidak mati," balas Luna tenang, matanya menelusuri sosok Nando yang sedikit transparan di bagian ujung kaki. Luna sudah cukup sering melihat berbagai jenis roh untuk memahami anatomi dasar mereka. Roh orang mati biasanya memiliki aura abu-abu pucat atau hitam pekat, sementara roh orang yang masih terikat pada tubuh hidupnya (koma atau mati suri) memancarkan aura kebiruan, sama seperti Nando. "Aura Anda biru. Itu artinya tubuh fisik Anda masih hidup, entah di rumah sakit mana seperti yang Anda bilang. Tapi jiwa Anda, kesadaran Anda, terlepas dari tubuh itu. Singkatnya..."

Luna menelan ludah sebelum mengucapkan vonisnya.

"...untuk saat ini, di jalanan Jakarta ini, Anda adalah roh yang berkeliaran. Hantu."

Keheningan yang mencekam kembali turun menyelimuti kamar nomor 04 itu. Di luar, suara derai gerimis mulai berubah menjadi hujan deras yang memukul-mukul atap seng kos-kosan dengan beringas.

Nando menatap tangannya yang tembus pandang, lalu menatap Luna. Sorot matanya yang tadinya penuh dengan ego dan arogansi perlahan runtuh, digantikan oleh kesadaran yang sangat memukul. Ia jatuh terduduk di atas kasur tipis Luna. Kasur itu tidak melesak sedikit pun menahan beban tubuhnya. Ia benar-benar tidak memiliki massa. Ia tidak nyata.

"Jadi... ini bukan mimpi," bisik Nando lirih, nyaris tak terdengar. Ia menatap kosong ke lantai keramik yang dingin. "Lalu kenapa... kenapa dari sekian banyak orang di kota yang padat ini, hanya kau yang bisa melihatku? Siapa kau sebenarnya?"

Luna menatap Nando dengan perasaan campur aduk. Ia seharusnya mengusir roh ini sekarang juga. Ia tidak boleh terlibat. Jika makhluk gelap yang di gang tadi mengejar Nando, Luna akan ikut terseret ke dalam masalah besar. Tapi, ketika matanya menatap langit-langit kamarnya yang kini bersih dari teror, ia tahu ia telah menemukan sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang bahkan lebih berharga dari uang.

Sebuah kedamaian. Tidur tanpa dihantui mimpi buruk.

"Namaku Luna," jawab gadis itu pelan, melangkah mendekati kasur dan duduk di ujung yang berlawanan dari Nando, memastikan jarak mereka cukup aman. "Aku hanya seorang karyawan minimarket yang terkutuk bisa melihat hal-hal yang tidak seharusnya kulihat. Dan sepertinya, entah bagaimana caranya... kau adalah satu-satunya hantu yang bisa membuat hantu-hantu lain menjauh dariku."

Nando mengangkat wajahnya, menatap Luna dengan alis bertaut bingung. "Maksudmu?"

"Maksudku," Luna menarik napas dalam-dalam, mengambil keputusan paling gila dan berbahaya dalam dua puluh dua tahun hidupnya, "selama kau belum menemukan cara untuk kembali ke tubuhmu, dan selama kau membutuhkanku untuk menjadi mata dan telingamu di dunia nyata... kau bisa tinggal di sini."

Mata Nando melebar. Ia menatap sekeliling kamar sempit berukuran 4x4 meter yang lembap, berantakan, dan jauh dari kata mewah itu. Bagi seorang miliuner seperti dirinya, tempat ini lebih buruk dari penjara. Namun, saat ia menatap mata lelah Luna, ia tahu ia tidak punya pilihan lain. Di dunia yang tidak lagi mengakuinya ini, gadis pelayan minimarket dengan masker hitam ini adalah satu-satunya jembatan kewarasannya.

Malam itu, diiringi suara hujan deras yang menghantam Jakarta, sebuah kesepakatan tidak tertulis terbentuk di antara dua jiwa yang terasing dari dunianya masing-masing. Aturan nomor satu telah dilanggar, dan kehidupan tenang penuh penderitaan milik Luna resmi berakhir, digantikan oleh badai teror dan rahasia yang jauh lebih besar.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖......

...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...

...****************...

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
syukurlah Nando ingat, walupun tipis tipis
Ai Emy Ningrum: jabatan yg sangat krusial 😽😽😽 sampe2 melekat ,ga didunia nyata dan dunia gaib jg itu yg terngiang 😙😗
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
yaaah Luna sendirian, gimana pulangnya weh /Shy//Slight/
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Lg dong Thor, 😭🤗🤗tanggung bngt.
nayla tsaqif
Nando punya keluarga gk thorr,,??
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Sangat menarik dan menghibur, tidak membosankan smoga tidak cpt tamat. 😃
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut kan thor
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Allhamdulillah akhirnya Luna tidak kesulitan melawan dukun itu, sya kira dukun itu sulit dikalahkan, scara td sangat sombongnya pd Luna, akhirnya mampus juga iblis itu. 😠😠

Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
nayla tsaqif
Ayo nando,, cepat sadar dan temukan luna,,! Ato pk tarjo balik lg, untuk nolongin luna,, 😭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Syukur deh Nando kembali.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut Thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤩🤩🤭🤭😆😆Ke nya bakal tumbuh nih benih2 ❤❤💘💘💘diantara mereka.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Apa kh yg mmbunuh orangtua Luna adalah dukun yg sama yg dipakai oleh Bara ya.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Teka teki nya mulai terkuak 1 per 1.
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Musuh dlm selimut ini namanya, tega bener ya teman ko jahat banget, mungkin ingin mngambil posisi Nando mungkin.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Jelas kan nanti ya thor, sebabnya Nando jd dtakuti oleh MEREKA. 😃😃😆😆
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Sakita perut q lihat kelakuan Nando, ke lg nonton drakor aja. 🤭🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Mereka berdua saling mmbutuhkan, mungkin juga kalian jodoh. 😆🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Udah sadar bukan manusia lg, baru diemm, td cerewet bngt. 🤣🤣🤣hadeh.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Biasanya arogan diawal, tp bucin diakhir, 😆😆semakin mnarik thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Menarik, syng nya baru nemu, dan baru bacanya, penasaran sm judulnya. 😁😁

Semangat Thor. 😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!