Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SI PENYUSUP
Sudah sepuluh hari berlalu sejak hujan darah berhenti total, namun kedamaian semu di bumi telah digantikan oleh hukum rimba yang paling primitif. Di luar sana, dunia adalah hamparan neraka; para penyintas saling tikam demi sekaleng kornet, dan raungan zombi mutan menjadi lagu pengantar tidur yang mengerikan. Namun, di dalam Mansion Quizel, kehidupan berjalan sangat kontras. Udara di sini bersih berkat sistem filtrasi Bara, dan perut semua orang selalu kenyang berkat keajaiban masakan Mira.
Bagi Lora Arian, kemewahan ini adalah anomali yang harus ia miliki sepenuhnya. Selama tujuh hari terakhir, ia telah menjadi "penghuni teladan" selalu menawarkan bantuan, bersikap manis kepada Mira, dan berpura-pura kagum pada setiap sudut mansion. Namun, di balik topeng itu, otaknya terus berputar cepat. Ada satu teka-teki besar yang membuatnya hampir gila di mana Elara menyembunyikan semua logistiknya?
Lora telah menelusuri setiap inci mansion, mulai dari basement terdalam hingga loteng tersembunyi, namun ia sama sekali tidak menemukan gudang penyimpanan yang mampu menampung stok makanan untuk puluhan orang selama bertahun-tahun seperti yang diklaim Elara.
'Di mana mereka menyimpan semua kebutuhan logistik? Tidak mungkin hanya di kulkas dapur. Aku sudah memeriksa pipa udara, ruang bawah tanah, bahkan tangki air... semuanya nihil!' batin Lora kesal. Ia menghentakkan kakinya ke lantai marmer beberapa kali dengan gusar saat berada di lorong lantai dua yang sepi.
"Lora?" panggil sebuah suara tiba-tiba dari belakang.
Lora tersentak, bahunya menegang. Ia segera mengubah raut wajahnya menjadi sendu sebelum berbalik. "Iya...?"
Ternyata itu Tobi. Remaja itu berdiri dengan tangan di saku, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan namun tetap terlihat ramah. "Ada apa dengan wajahmu? Kusut begitu, ada masalah?" tanya Tobi santai.
"Enggak ada kok, Tobi. Cuman lagi kesal saja sama Pak Jaka. Aku niatnya mau bantu menyiram tanaman obat tadi, eh malah dimarahin habis-habisan. Katanya apiku bisa merusak kelembapan tanah," ujar Lora berusaha terdengar manja dan terluka, berharap Tobi akan bersimpati padanya.
Tobi tampak tersenyum, lalu tawanya pecah. "Hahaha! Kamu sudah seminggu di sini tapi masih belum paham saja sama sifat Pak Jaka? Kalau soal tanaman, sudah... biarkan saja dia yang urus. Jangan diganggu atau dibantu kalau tidak mau kena semprot. Pak Jaka itu kalau soal tumbuhan sudah seperti ibu yang protektif pada anaknya," ujar Tobi diikuti tawa kecil.
Lora ikut tertawa ringan, mencoba mencairkan suasana agar bisa menggali informasi. "Iya sih, galak banget. Oh iya, ngomong-ngomong soal tanaman Pak Jaka... stok pupuk atau bibitnya disimpan di mana ya? Aku tidak pernah melihat gudang besar di sini. Bahkan gudang logistik kita untuk makanan juga aku tidak tahu di mana. Aku ingin membantu inventaris supaya Mira tidak kecapekan," ujar Lora dengan nada yang sangat tulus, diselingi tawa ringan yang dibuat-buat seolah itu hanya pertanyaan santai.
Tobi menghentikan tawanya sejenak. Matanya menatap Lora dengan binar jenaka yang menyembunyikan kewaspadaan tinggi. Berkat Telepati Kelompok yang diberikan sistem, Tobi bisa mendengar suara Elara di dalam kepalanya sejak tadi: 'Mainkan perannya, Tobi. Biarkan dia penasaran.'
"Kalau itu... aku juga tidak tahu pasti, Lora," jawab Tobi berbohong dengan wajah tanpa dosa. "Setiap kali butuh barang, Nona Elara atau Tuan Leonard yang akan mengambilnya. Pemimpin di markas ini kan mereka berdua. Kami hanya terima beres. Mungkin mereka punya ruang rahasia yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari mereka?"
Lora menggigit bibir bawahnya. 'Ruang rahasia? Pasti ada pintu tersembunyi yang belum kutemukan,' batinnya semakin berambisi. "Wah, keren ya. Nona Elara hebat sekali bisa mengatur semuanya sendiri."
"Memang. Nona Elara itu luar biasa," sahut Tobi sambil berjalan melewati Lora. "Sudah ya, aku mau ke ruang latihan dulu. Tuan Leonard sudah menunggu untuk latihan fisik."
Begitu Tobi menghilang di belokan lorong, wajah ramahnya seketika menghilang. Ia menekan telinganya, berkomunikasi secara mental melalui fitur sistem.
'Nona, tampaknya Lora mulai mengincar gudang logistik kita. Dia terus bertanya di mana kita menyimpan barang-barang,' lapor Tobi melalui pikiran.
Di ruang kendali, Elara yang sedang menyesap kopi buatan Mira tersenyum sinis. Di depannya, layar monitor menampilkan rekaman CCTV saat Lora menghentakkan kakinya kesal tadi. Leonard yang duduk di sampingnya hanya mendengus meremehkan.
"Bagus, Tobi. Biarkan dia terus mencari sesuatu yang tidak akan pernah dia temukan dengan mata telanjang," sahut Elara melalui telepati. "Arkan, bagaimana dengan alat komunikasinya?"
Arkan yang duduk di depan deretan layar komputer menjawab tanpa menoleh. "Sinyalnya makin aktif, Nona. Dia mengirim pesan setiap malam sekitar pukul dua pagi. Dia memberikan detail tentang denah mansion yang sudah dia petakan secara manual. Dia juga menyebutkan tentang 'kekuatan tempur' kita. Sepertinya dia sedang menunggu instruksi untuk membuka gerbang dari dalam."
"Bagus," Elara meletakkan cangkirnya. "Bara, pastikan pintu gerbang utama bisa kita kendalikan secara manual jika dia mencoba menyabotase sistem. Dan Leonard, siapkan dirimu. Ayah tercinta si tikus kecil ini mungkin akan segera datang membawa pasukan."
Leonard mengepalkan tangannya, aura Supreme Warrior-nya berpendar tipis. "Aku sudah tidak sabar untuk mencoba pedang baru ini pada tentara-tentara sombong itu."
Sementara itu, Lora yang merasa telah mendapatkan petunjuk tentang 'ruang rahasia' mulai kembali menjalankan rencananya. Ia merasa waktu sudah semakin sempit. Tadi malam, ayahnya, Jenderal Rian, memberikan pesan tegas melalui alat satelitnya bahwa pasukan elit akan dikirim ke koordinat tersebut dalam tiga hari kedepan.
Lora tahu ia harus menemukan gudang itu sekarang. Jika ia bisa menguasai logistik, maka saat ayahnya tiba, ia akan memiliki nilai tawar yang sangat tinggi. Ia tidak akan lagi menjadi 'anak haram' yang dibuang, melainkan pahlawan yang memberikan kunci kelangsungan hidup bagi militer.
Beberapa menit setelah selesai makan siang, Lora melihat Elara masuk ke dalam ruang kerjanya sendirian. Ia tahu Leonard sedang berlatih di basement. Ini adalah kesempatannya. Lora diam-diam membuntuti Elara, kakinya melangkah tanpa suara di atas karpet tebal.
Ia melihat Elara berdiri di depan sebuah lukisan besar di dinding ruang kerjanya. Lora menahan napas dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia melihat Elara menyentuh bingkai lukisan itu, lalu tiba-tiba... Zing! Sebuah portal biru kecil terbuka sekejap sebelum Elara seolah-olah mengambil sebotol anggur mahal dari udara kosong.
Lora terbelalak. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa ingin melompat keluar. 'Itu bukan ruang rahasia... itu kemampuan penyimpanan ruang!' batin Lora dengan wajah penuh ketakutan bercampur gairah. 'Pantas saja aku tidak pernah menemukan gudangnya. Semuanya ada pada wanita itu!'
Rencana Lora seketika berubah. Ia tidak perlu lagi mencari gudang. Ia hanya perlu menyingkirkan Elara dan mengambil alat atau kemampuan yang dimiliki wanita itu atau memaksa Elara menyerahkan segalanya saat ayahnya tiba.
Tanpa Lora sadari, Elara yang sedang memegang botol anggur itu melirik ke arah pantulan cermin di depannya. Ia melihat bayangan Lora yang mengintip dari balik pintu. Senyum tipis yang mematikan tersungging di wajah Elara.
'Tikus kecil sudah melihat kejunya. Sekarang, mari kita tunggu sampai dia terjebak di dalam perangkapnya sendiri,' batin Elara dingin.
Bersambung......🧟♀️🧟♀️🧟♀️
Petak umpet maut di dalam Mansion Quizel memasuki babak akhir. Lora merasa telah memegang kartu as, padahal ia sedang berjalan lurus menuju tiang gantungan yang telah disiapkan Elara dengan sangat rapi.
nabung chapter dulu untuk yang next 🥰🙏🏻
menarik thorr, lanjutkan 😈🔥