NovelToon NovelToon
Dan Ofid

Dan Ofid

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.

Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.

Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.

Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.

Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

Malam di Los Angeles tidak pernah benar-benar gelap. Cahaya neon dari papan reklame dan deru mesin kendaraan menciptakan simfoni bising yang seolah menertawakan kesunyian hati Nyx Morrigan. Di kota ini, di mana setiap orang datang untuk menjadi "seseorang", Nyx justru datang untuk menghilang.

Dia berjalan menyusuri trotoar di sekitar wilayah Westwood, tak jauh dari kampus barunya. Sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra, Nyx lebih banyak menghabiskan waktunya dengan buku-buku tebal dan diksi-diksi klasik daripada berpesta. Baginya, kata-kata adalah satu-satunya tempat di mana dia bisa menjadi wanita tanpa harus meminta izin pada siapa pun.

Malam itu, penampilannya masih sama: perlindungan yang dipaksakan. Dia mengenakan sweater abu-abu yang tiga kali lebih besar dari ukuran tubuhnya, dipadukan dengan celana cargo longgar yang menyembunyikan lekuk kakinya. Sebuah topi beanie menutupi rambut hitamnya yang pendek. Meskipun rambut itu dipotong paksa oleh ibunya, teksturnya tetap tampak indah dan sehat, berkilau di bawah lampu jalan yang temaram.

Tas ranselnya terasa berat, berisi brosur-brosur apartemen murah. Dia harus segera pindah dari asrama yang disediakan ayahnya. Dia ingin memutus rantai itu sepenuhnya.

BUM!

Suara ledakan kecil diikuti bau karet terbakar menyeruak ke udara. Nyx menghentikan langkahnya. Di sebuah gang yang agak gelap, sekitar lima puluh meter di depannya, asap hitam membubung tinggi. Sebuah motor sport mahal tampak hangus terbakar, tergeletak malang di atas aspal.

Di samping bangkai motor itu, seorang pria sedang dikeroyok. Enam, tidak, tujuh orang bertubuh besar dengan jaket kulit hitam sedang menghujani pria itu dengan pukulan dan tendangan. Pria itu berusaha melawan, namun jumlah lawan yang tidak seimbang membuatnya terpojok.

"Pengecut," desis Nyx.

Tanpa pikir panjang, Nyx berlari mendekat. Sejak kecil, Agnesia bersikeras agar Nyx mempelajari bela diri—bukan untuk pertahanan diri sebagai wanita, tetapi agar Nyx bisa tumbuh menjadi "anak laki-laki" yang tangguh di mata David Beckham. Nyx menguasai Krav Maga dan Muay Thai dengan presisi yang mematikan.

Nyx melompat, memberikan tendangan memutar yang telak pada rahang salah satu pengeroyok. Pria itu tersungkur seketika.

"Siapa kau, bocah?!" bentak salah satu pengeroyok yang tampak seperti pemimpin mereka.

Nyx tidak menjawab. Dia hanya menarik napas dalam, memusatkan seluruh emosi dan kemarahannya selama 19 tahun terakhir ke dalam kepalan tangannya. Dia bergerak seperti bayangan—cepat, efisien, dan tanpa ampun. Dia menghindari pukulan mentah mereka dengan gerakan luwes, lalu membalas dengan serangan ke titik-titik saraf.

Buk! Prak! Akh!

Dalam kurang dari lima menit, tiga orang pingsan dan sisanya lari tunggang langgang setelah menyadari bahwa "pemuda" mungil di depan mereka bukan lawan sembarangan.

Nyx mengatur napasnya. Dia mendekati pria yang tergeletak. Pria itu tampak berantakan; sudut bibirnya robek, matanya lebam, dan bajunya kotor oleh debu aspal.

Pria itu terbatuk keras. "Uhuk... uhuk... thanks, brother," ucapnya dengan suara serak namun tetap terdengar berwibawa. "Kau menyelamatkanku."

Pria itu memaksakan diri untuk duduk, menatap kawanannya yang lari menjauh. "Ciihh! Tujuh lawan satu... Banci!!!" teriaknya penuh amarah meski tubuhnya gemetar.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, pria itu merangkul bahu Nyx dan memeluknya untuk menyeimbangkan tubuhnya yang hampir ambruk. "Bisa antar aku ke apartemen? Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu, Bro! Kepalaku rasanya mau pecah."

Nyx mematung. Tubuhnya menegang seketika saat lengan kekar pria itu melingkar di bahunya. Ini adalah kontak fisik pertama dengan lawan jenis yang bukan atas dasar kekerasan atau intimidasi. Dia bisa mencium aroma parfum mahal yang bercampur dengan bau asap dan keringat dari tubuh pria ini. Nyx diam sejenak, menyadari bahwa pria ini, seperti orang-orang lainnya, tertipu oleh pakaian kebesarannya dan topi yang menutupi wajahnya. Dia dikira seorang pria.

"Di mana apartemen mu?" tanya Nyx dengan nada suara yang sengaja dia rendahkan, mencoba mempertahankan fasad yang sudah dia bangun selama bertahun-tahun.

"Di jalan... Wilshire Boulevard," jawab pria itu parau. "Panggilkan taxi... tolong."

Mereka berakhir di dalam sebuah taxi kuning yang melaju membelah jalanan Los Angeles yang mulai lengang. Pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Nyx, matanya terpejam karena menahan sakit. Nyx duduk dengan kaku, menatap keluar jendela, merasa aneh dengan situasi ini. Dia, Nyx Morrigan yang tidak dianggap, kini sedang menjadi sandaran bagi orang asing.

Saat mobil melewati lampu-lampu kota, cahaya remang masuk ke dalam kabin taxi. Pria itu sedikit bergerak, mencoba mencari posisi nyaman. Karena luka-lukanya, dia tidak sengaja merosot dan lengannya menyentuh bagian dada Nyx yang tersembunyi di balik sweater tebal.

Mata pria itu terbuka sedikit. Dia terdiam. Di balik lapisan kain yang tebal, dia merasakan sesuatu yang berbeda. Itu bukan dada bidang seorang laki-laki. Ada kelembutan yang nyata, sesuatu yang berdesir saat tubuh mereka menempel sempurna karena guncangan taxi.

Pria itu tersentak pelan, kesadarannya kembali sepenuhnya. Dia menatap profil wajah Nyx dari samping. Di bawah cahaya lampu jalan yang masuk lewat jendela, dia melihat garis rahang yang halus, bulu mata yang lentik, dan kulit yang terlalu porselen untuk seorang pria.

"Maafkan aku..." suara pria itu terdengar lebih rendah, kali ini bukan karena sakit, tapi karena rasa malu yang mendalam. "Aku pikir kau pria tadi. Sekali lagi maafkan aku."

Nyx menoleh, matanya bertemu dengan mata tajam pria itu. Dia tahu penyamarannya terbongkar. Dia tidak bisa membohongi seseorang yang menyentuhnya sedekat itu. Nyx tidak marah, dia hanya merasa... terekspos.

"Tidak apa-apa," jawab Nyx singkat, kali ini dengan suara aslinya yang lembut namun dingin. "Itu sudah biasa."

Pria itu membetulkan posisi duduknya, menjauh sedikit namun tetap menatap Nyx dengan intensitas yang aneh. Ada ketertarikan yang tiba-tiba muncul di matanya, menggantikan rasa sakit dari luka-lukanya.

"Kau berani sekali," kata pria itu lagi, mencoba memecah kecanggungan. "Tidak banyak wanita yang mau melompat ke tengah keroyokan tujuh orang demi orang asing."

Nyx hanya mengangkat bahu kecil. "Aku tidak suka pengecut."

Pria itu tersenyum tipis, meski itu membuat sudut bibirnya yang luka terasa perih. Dia mengulurkan tangannya yang besar, yang masih menyisakan bekas darah di buku jarinya.

"Knox," ucapnya. "Knox Lambert Riccardo."

Nyx menatap tangan itu, lalu perlahan menjabatnya. Nama itu terdengar berat, penuh dengan kekuasaan yang mungkin setara atau bahkan lebih tinggi dari nama Beckham. Namun di dalam taxi ini, mereka hanyalah dua orang asing yang dipertemukan oleh kekacauan.

"Nyx," jawabnya pendek. Dia tidak menyebutkan nama belakangnya. Dia tidak ingin ada beban "Morrigan" atau bayang-bayang "Beckham" di perkenalan ini.

"Nyx..." Knox mengulang nama itu seolah sedang mencicipi sebuah kata baru. "Nama yang unik. Seperti dewi malam."

Nyx tidak menjawab. Dia kembali menatap ke luar jendela, membiarkan keheningan mengambil alih. Namun di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergetar. Untuk pertama kalinya dalam 19 tahun, seseorang menatapnya bukan sebagai "anak laki-laki gagal" atau "kesalahan", melainkan sebagai seorang wanita yang baru saja menyelamatkan hidupnya.

Di bawah langit Los Angeles, Nyx menyadari bahwa pelarian ini mungkin akan membawanya ke dalam labirin yang jauh lebih rumit daripada mansion ayahnya. Dan labirin itu bernama Knox Lambert Riccardo.

1
ren_iren
lanjutkan.... 🤗
Ros🍂: okay kak🥰🙏
total 1 replies
ren_iren
dapatttt aja visual yg bening2 🤭😂
Ros🍂: biar halu kita lancar jaya kak 😍🤣🤣
total 1 replies
ren_iren
Nyx Knox....
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂
Ros🍂: Ma'aciww kak 🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!