NovelToon NovelToon
Suami Ku Musuh Bebuyutan Ku

Suami Ku Musuh Bebuyutan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: mahealza

papanya elvaro dan zavira pernah sahabatan di waktu SD ,Namun nasib membedakan mereka , papanya elvaro sudah sukses sekarang. sedangkan papanya zavira hanya mempunyai toko bengkel.

keduanya bertemu setelah beberapa tahun menghilang,tapi masih dengan persahabatan yang hangat, terukir janji mereka yang dulu akan menjodohkan anak mereka. mamanya elvaro sangat keberatan menerima nya ,Karna menurutnya tidak setara. begitu juga dengan zavira menolak keras perjodohan ini Karna elvaro adalah musuh bebuyutan nya di sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahealza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kiss night

Mobil taksi akhirnya berhenti di halaman rumah besar itu. Zavira dengan susah payah membantu Elvaro turun. Beruntung sekali, suasana rumah terasa sangat sunyi dan sepi. Lampu-lampu utama sudah padam, dan ternyata orang tua Elvaro memang sedang keluar kota, sehingga tidak ada siapa-siapa di sana selain mereka berdua.

"Elvaro... ayo jalan, kita udah sampai," bisik Zavira sambil memapah bahu pria itu.

Tapi Elvaro sama sekali belum sadar. Matanya masih sayu setengah tertutup, kakinya melangkah sempoyongan tak tentu arah, seolah lantai di bawah kakinya bergoyang-goyang. Zavira harus menahan seluruh beban tubuh kekar suaminya itu. Beratnya luar biasa, membuat lengan Zavira terasa pegal dan lemas.

Sepanjang perjalanan menaiki tangga menuju kamar mereka, Elvaro tidak berhenti mengoceh. Ucapannya ngawur, tidak jelas, dan tidak penting sama sekali.

"Hehehe... langitnya banyak bintang ya, Vi? Tapi... tapi bintangnya muter-muter semua..." gumamnya sambil tertawa kecil, lalu tiba-tiba mendengus kesal sendiri. "Aah sialan! Kenapa tangga nya banyak banget sih? Sengaja ya bikin capek gue..."

Zavira hanya bisa menghela napas panjang, sabar adalah kuncinya. Akhirnya dengan perjuangan keras, mereka sampai juga di depan pintu kamar.

Zavira mendorong pintu, lalu dengan sisa tenaga yang ada, dia membaringkan tubuh Elvaro di atas kasur empuk itu.

BUK!

Elvaro terdampar dengan posisi telentang. Rambutnya berantakan, wajahnya memerah padam, dan yang paling aneh—senyum lebar tak pernah lepas dari bibirnya. Matanya menyipit seperti orang yang sedang melihat hal paling lucu di dunia, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong tapi bahagia.

"Hahaha... enak..." gumamnya pelan.

Zavira berdiri di tepi kasur sambil mengelap keringat di dahinya. Dia menggelengkan kepala melihat pemandangan itu.

"Dasar mabuk parah..." gerutunya pelan, tapi ada nada lelah yang mendalam. "Bau alkoholnya nyengat banget sampai ke baju gue. Gue harus ganti baju cepet sebelum bau ini nempel terus."

Zavira berniat ingin berbalik pergi mengambil baju ganti atau masuk ke kamar mandi. Tapi...

CIPT!

Tiba-tiba, tangan dingin dan kuat Elvaro mencengkeram pergelangan tangan Zavira. Sangat erat.

Zavira kaget dan menoleh. Elvaro kini menatapnya. Senyum di wajahnya makin lebar, terlihat sangat hyper dan aneh. Dengan kekuatan yang tiba-tiba muncul, Elvaro menarik tangan Zavira dengan kasar namun mendadak!

BYUR!

Zavira kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh tersungkur tepat di atas dada bidang Elvaro! Posisi mereka sekarang sangat dekat, sangat intim, dan sangat berbahaya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Zavira bisa melihat dengan sangat jelas mata Elvaro yang berkilat aneh, hidungnya yang mancung, dan napasnya yang memburu.

" LEPASIN GUE ELVARO! LO GILA YA?!" Zavira mulai meronta-ronta, tangannya mendorong-dorong dada pria itu agar bisa lepas. Tapi sayangnya, cengkeraman Elvaro di pinggangnya begitu kuat, seolah dia tidak berniat melepaskan buruannya sedikitpun.

"Shhh... diam dong..." Elvaro berbisik. Suaranya parau, berat, dan sangat sexy karena efek alkohol. Nada bicaranya berubah total, menjadi sangat manja dan lembut, sama sekali bukan Elvaro yang galak dan dingin yang Zavira kenal.

"Kamu cantik banget sih malam ini... kenapa baru gue lihat cantiknya sekarang ya?" gumamnya bingung, matanya menatap lekat wajah Zavira, seolah dia tidak yakin dengan siapa dia sedang berbicara sekarang. Entah dia mengira Zavira orang lain, atau memang sadar tapi hilang kendali.

Di hati Zavira, perasaan jijik mulai muncul lagi. 'Ih apaan sih?! Gombal mulu! Dasar laki-laki bejat, habis digoda cewek lain sekarang giliran gue yang digodain?!' batinnya kesal dan muak.

Tapi tubuhnya tidak bisa berbuat banyak. Napas mereka bercampur menjadi satu. Bau wine yang kuat terhembus langsung ke wajah Zavira, tapi anehnya, detak jantung Zavira justru berpacu sangat kencang.

Satu detik... dua detik...

Tanpa peringatan apapun, Elvaro mendekatkan wajahnya. Dia sedikit mengangkat kepala, lalu...

humph....!

ia mencium bibir Zavira!

Bukan cuma sekadar sentuhan, tapi ciuman yang cukup lama dan lembut. Bibir Elvaro terasa hangat dan sedikit basah.

Setelah melepaskannya, Elvaro tersenyum sangat lebar dan puas, matanya menyipit penuh kemenangan. "hmhh." gumamnya pelan, lalu matanya mulai terlihat semakin berat mengantuk.

 

Sementara itu, Zavira seperti tersengat listrik! Dia langsung melompat turun dari kasur secepat kilat, seolah tubuhnya baru saja menyentuh bara api!

Jantungnya berdegup kencang bukan main! Wajahnya memanas luar biasa! Dia tidak peduli lagi dengan Elvaro yang sudah mulai terlelap dengan senyum bodohnya. Zavira langsung lari kecil masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu rapat-rapat!

KRAK!

Di dalam kamar mandi yang remang-remang, Zavira langsung menghadap cermin besar di depannya. Tangannya gemetar saat menyentuh bibirnya sendiri.

Jantungnya masih berpacu cepat.

"Gila... tadi itu... beneran terjadi?" bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin. Matanya terbelalak tak percaya.

Dia melihat bibirnya yang terlihat sedikit merah dan bengkak karena ciuman tadi. Rasanya aneh sekali. Campur aduk antara marah, jijik, tapi juga ada sensasi aneh yang dia tidak bisa jelaskan.

"Gue... gue dicium sama Elvaro..." pikirnya kacau. "Padahal gue benci sama dia! Padahal dia musuh gue! Kenapa rasanya... kenapa rasanya kayak mimpi ya?"

Zavira menepuk pipinya sendiri pelan. Plak! Plak!

"Sadar Zavira! Sadar! Itu cuma karena dia mabuk! Dia gak sadar apa yang dia lakuin! Itu kotor! Bau alkohol! Jangan kepikiran!" hardiknya pada diri sendiri, mencoba menenangkan diri dan menepis perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya.

Tapi sekeras apapun dia mencoba melupakan, bayangan senyum Elvaro dan rasa hangat di bibirnya itu terus terbayang, membuat malam ini menjadi malam terpanjang dan paling membingungkan dalam hidupnya.

***

Matahari pagi sudah menyelinap masuk melalui celah gorden, menerangi ruang makan yang megah namun terasa begitu hening dan mencekam.

Zavira sudah duduk di kursi makan. Wajahnya terlihat pucat dan kantuk yang luar biasa terlihat jelas dari lingkaran hitam di bawah matanya. Semalaman dia hampir tidak bisa memejamkan mata. Bayangan kejadian tadi malam terus berputar di kepalanya, membuatnya gelisah dan tidak tenang.

Akibatnya, pagi ini sikap Zavira berubah drastis menjadi sangat cuek, dingin, dan datar. Dia tidak menegur, tidak marah, dan tidak juga bicara. Dia hanya fokus menatap piring makannya dengan wajah tanpa ekspresi.

Di sisi lain, Elvaro tampak seperti biasa.

Dia masuk dengan langkah santai, wajahnya segar, rambutnya sedikit berantakan tapi tetap tampan, dan sikapnya kembali menjadi pria arogan dan dingin seperti biasanya. Dia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi semalam. Tidak ingat dia mabuk, tidak ingat dia dipukuli, dan yang paling penting... dia tidak ingat pernah memeluk Zavira bahkan menciumnya. Baginya, semalam hanyalah malam biasa di mana dia tidur nyenyak setelah lelah.

"Pagi, Bibik," sapa Elvaro singkat, lalu duduk di kursi utamanya.

Bibik pelayan rumah segera menyajikan sarapan yang lezat. Roti tawar hangat, selai berbagai rasa, telur orak-arik, dan susu hangat sudah tertata rapi di meja.

Karena kebiasaan atau mungkin karena otomatisitas, Zavira mengambil sepotong roti. Dia mengambil pisau dan mulai mengoleskan selai stroberi di atas roti itu untuk Elvaro.

Tapi gerakannya kaku sekali. Tangannya terlihat sedikit gemetar, tatapannya kosong, dan dia melakukannya dengan sangat lambat. Suasana di meja makan itu sunyi senyap. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang sesekali berbenturan.

Elvaro yang sedang hendak mengambil minum, berhenti sejenak. Dia menatap Zavira dengan tatapan heran dan bingung.

''Apaan sih sama cewek satu ini?'' batin Elvaro. ''Biasanya kalau ketemu muka pasti ada aja omongannya yang nyelekit atau dia ngambek teriak-teriak. Tapi hari ini? Diam seribu bahasa. Wajahnya juga kaku banget. Kenapa jadi pendiem gitu?''

Elvaro mengerutkan kening, tapi gengsinya membuatnya tidak mau bertanya duluan. Dia hanya mengambil roti yang sudah diolesi selai itu, lalu mulai melahapnya dengan lahap.

Zavira tidak makan banyak. ia hanya memainkan garpunya di piring. Matanya tak sengaja terus melirik, mencuri pandang ke arah pria di hadapannya itu.

ia melihat cara Elvaro mengunyah makanannya. Dia melihat rahangnya yang bergerak tegas. Dia melihat tangan besarnya yang memegang gelas dengan gagah.

Dan setiap kali melihat itu... bayangan kejadian semalam langsung muncul begitu saja di kepala Zavira.

Suara parau bisikan elvaro " kamu cantik banget"....

rasa hangat bibir elvaro menimpa bibirnya

pelukan yang kuat seolah tidak mau melepas kannya.

Zavira segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menghapus bayangan itu. Jantungnya kembali berdegup kencang, campuran antara malu dan takut.

Tapi tiba-tiba... bayangan itu berganti.

Bukan lagi bayangan Elvaro yang manja dan mabuk. Tapi bayangan wajah kakaknya yang penuh kesedihan dan air mata.

''Vi... kakak sakit... dia kasar sekali... dia tidak punya hati...''

DEG!

Darah Zavira seakan berhenti mengalir. Pikiran buruk mulai merayap masuk ke otaknya, menusuk-nusuk ketakutannya.

''Tunggu... apa benar dugaan gue selama ini?'' batin Zavira mulai dilanda keraguan dan ketakutan yang luar biasa.

''Elvaro itu kasar, dia suka tempat-tempat bebas, gampang terpancing emosi, dan tadi malam... dia sempat mencium gue tanpa persetujuan gue saat dia hilang kendali...''

Mata Zavira membelalak perlahan. Wajahnya pucat pasi.

''Jangan-jangan... kakak gue benar-benar jadi korbannya dulu? Dan sekarang... gue yang jadi target selanjutnya?''

Pikiran itu membuat bulu kuduk Zavira meremang seluruhnya.

''Apa nasib gue bakal sama persis kayak kakak gue? Apa suatu saat nanti, saat dia benar-benar hilang kendali atau saat dia bosan, dia bakal melakukan hal yang sama ke gue? Memaksa gue, nyakitin gue, dan ngerusak hidup gue kayak yang dia lakuin ke kakak?''.

Zavira menunduk dalam, tangannya mengepal kuat di bawah meja. Rasa takut itu kini bercampur dengan rasa jijik dan waspada. Dia menatap Elvaro bukan lagi sebagai suami, tapi sebagai monster yang sedang dia awasi gerak-geriknya.

ia sadar, mulai sekarang harus benar-benar hati-hati. Satu kesalahan kecil, mungkin dia yang akan hancur berkeping-keping seperti kakaknya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

lanjut ke part selanjutnya.

udah sebanyak ini bab nya.

gax adakah yang Komen , tentang cerita ini?

1
Nesya
el g ingat kejadian semalam y wkwk🤭
Nesya
ngak mungkin elvaro pelaku pelecehan itu.. takut bgt el udah bucin parah tapi endingny vira pergi tingalin el
Nesya
huh 😥
Nesya
aura cemburu el kuat bgt 😂
Nesya
lemes kali mulutmu el ketos apa macam kau oon bgt
Nesya
kereeen vira 👍🏻👍🏻
Nesya
wkwkwk gengsi kali minta bantuan savira juga bodoh amat 😂
Nesya
wah penasaran ni siapa yg bakal bucin duluan 😂
Nesya
kocak pasturi yang satu ini 😂
Nesya
seruuuuu 🤭👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!