NovelToon NovelToon
Gadis Kesayangan Langit

Gadis Kesayangan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ceriwis07

Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.

Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Bertemu

"Nyonya istirahatlah lagi, pulihkan tenaga anda," ucap Devan pelan. "Saya mau ke bukit sana sebentar, mencari sinyal untuk menghubungi Tuan."

Gadis hanya mengangguk lemah, membiarkan pria itu pergi menjalankan tugasnya.

Setelah kepergian supirnya, Gadis kembali merebahkan tubuhnya di atas alas yang telah disiapkan. Ia menatap langit malam yang begitu luas dan indah, bertabur bintang-bintang yang berkelap-kelip terang.

Suasana hening membuat pikirannya melayang jauh.

"Langit..." bisiknya lirih hampir tak terdengar. "Apakah kau tahu kalau aku masih hidup? Apakah kau sedang mencariku sekarang?"

Hati Gadis terasa perih dan rindu yang luar biasa. Ia meletakkan tangannya di atas keningnya yang masih terasa berat, mencoba menenangkan diri.

Dengan mata terpejam, ia berharap saat ia bangun nanti semuanya akan baik-baik saja dan ini hanyalah mimpi.

Perlahan rasa kantuk dan kelelahan kembali menguasai tubuhnya, dan Gadis pun terlelap kembali dalam diam.

****

Di tempat lain, Devan terus mendaki lereng bukit dengan langkah tergesa. Tangannya mengangkat ponsel tinggi-tinggi ke udara, memutar-mutarnya mencari arah terbaik, berharap perangkat itu bisa menangkap sambungan jaringan untuk segera menghubungi Langit.

Akhirnya, layar ponsel itu mulai menanggapi. Awalnya hanya satu garis sinyal yang muncul dan hilang, namun ia tak menyerah dan terus melangkah lebih tinggi lagi. Matanya langsung berbinar cerah saat melihat indikator sinyal itu berubah menjadi penuh. Tak lama kemudian, dering notifikasi berbunyi bertalu-talu, menandakan banyaknya panggilan tak terjawab dan pesan yang masuk menumpuk.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena lega, ia segera menekan tombol panggil pada nomor kontak Langit. Napasnya terasa lega saat sambungan telepon tersambung, dan suara di seberang sana segera mengangkat panggilannya.

"Halo, Devan," suara berat dan tegas terdengar jelas dari seberang telepon, memancarkan aura seorang pemimpin.

"Tuan, kabar baik! Saya dan Nyonya dalam keadaan selamat dan baik-baik saja," lapor Devan dengan nada lega namun tetap penuh hormat.

"Syukurlah... Terima kasih sudah menjaga kekasihku dengan baik, Devan. Kirimkan titik lokasi kalian sekarang juga. Aku akan segera meluncur bersama tim dan anggota yang lain," jawab Langit cepat, nada suaranya terdengar lebih tenang namun tetap tegas.

Devan menganggukkan kepala berulang kali, seolah-olah bosnya dapat melihat gerakannya di sana. "Siap, Tuan. Segera saya kirimkan."

Tanpa membuang waktu, ia segera mengaktifkan fitur lokasi dan mengirimkan koordinat tempat mereka berada. Setelah memastikan pesan terkirim, rasa cemas kembali menyelimuti hatinya. Ia merasa gelisah dan tidak tenang membayangkan meninggalkan Nyonya sendirian di tempat yang asing dan sepi itu.

Dengan langkah lebar dan cepat, ia pun bergegas kembali. Langkah kakinya yang besar memudahkannya menuruni bukit, sehingga tak butuh waktu lama baginya untuk sampai kembali ke tempat peristirahatan.

Sesampainya di sana, ia melihat sang Nyonya sudah kembali terlelap dengan tenang. Devan tersenyum tipis, rasa bangga bercampur lega memenuhi dadanya. Ia merasa sangat bersyukur dan bangga pada dirinya sendiri karena berhasil bertindak cepat dan menyelamatkan nyawa majikannya dari bahaya.

*****

Praaaanggg!!!

Suara pecahan kaca memecah keheningan ruangan.

"Apa yang kamu katakan?! Dia masih hidup?! Kalian semua bilang padaku bahwa mereka semua sudah tewas!" bentak Bella dengan suara melengking yang penuh amarah.

Wajahnya memerah menahan geram. Dengan mata melotot, ia menghancurkan segala benda yang ada di hadapannya vas bunga, gelas, hingga pernak-pernik mewah di atas meja terlempar dan hancur berkeping-keping. Rasa frustasi luar biasa menguasai dirinya. Wanita yang selama ini ia incar dan ingin dilenyapkan ternyata masih bernapas, bahkan dalam keadaan baik-baik saja!

Sia-sia sudah ia mengeluarkan uang berlimpah untuk menyewa pembunuh bayaran. Semua rencananya gagal total! Kini kepanikan mulai menyergap. Ia bingung dan ketakutan setengah mati membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.

Jika sampai Langit tahu bahwa dialah dalang di balik semua ini, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan pria itu lakukan padanya. Dengan tangan gemetar, ia terus menggigit kuku jarinya sambil mondar-mandir tak tentu arah di ruangan itu, layaknya orang kehilangan akal.

Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Namun, di tengah kepanikan itu, terpikirkan olehnya sebuah rencana baru yang jauh lebih gila dan kejam.

Ia berhenti berjalan, menatap tajam ke arah anak buahnya dengan tatapan membunuh.

"Cari dia sampai ketemu! Lakukan apa saja, tidak peduli bagaimana caranya... yang penting wanita itu harus lenyap dari muka bumi kali ini!" perintahnya dengan nada dingin dan tegas.

****

Segera setelah sambungan telepon dengan Devan terputus, Langit tidak membuang waktu sedetik pun. Jarinya dengan cepat menekan nomor kontak Charlie.

"Charlie, siapkan helikopter sekarang juga. Kita berangkat menuju titik koordinat yang akan kukirimkan," perintah Langit tegas, nada suaranya tak terbantahkan.

Tak lama kemudian, ia mengirimkan data lokasi tersebut. Belum sampai beberapa menit, suara menderu mesin helikopter sudah terdengar semakin keras. Kendaraan itu perlahan melayang dan mendarat tepat di area parkir khusus atap rumahnya.

Begitu tangga darurat diturunkan, Langit langsung melangkah lebar dan naik ke dalam kokpit dengan penuh urgensi.

Tanpa menunggu lagi, baling-baling helikopter berputar semakin kencang, mengangkat tubuh mereka tinggi ke angkasa. Menembus malam, meluncur cepat menuju lokasi di mana sang kekasih dan orang kepercayaannya sedang menunggu.

Kabut tebal yang menyelimuti langit malam serta hembusan angin yang kencang menerpa badan pesawat, sama sekali tidak mampu menggoyahkan tekad baja yang dimiliki Langit.

Bagi pria itu, tidak ada halangan yang cukup besar untuk menghentikannya. Rasa rindu dan kekhawatiran yang membara di dadanya jauh lebih kuat daripada badai apa pun. Ia terus melaju, menembus kegelapan dan cuaca yang buruk, fokusnya hanya satu segera sampai dan memeluk kekasihnya.

Akhirnya, baling-baling helikopter mendarat perlahan di lokasi yang dituju. Di kegelapan malam, terlihat satu titik cahaya kecil bergerak-gerak seperti kunang-kunang yang berkelana. Itu adalah senter ponsel Devan yang memberi tanda.

Berkat insting tajam sang pilot yang juga merupakan sahabat baik Devan mesin itu berhasil melayang dan berhenti tepat di atas mereka berdua.

Gadis yang sedang tertidur tiba-tiba tersentak. Udara di sekitarnya berubah menjadi sangat dingin dan berangin kencang, diterpa hembusan kuat dari baling-baling. Ia terpaksa membuka matanya, silau oleh sorotan lampu sorot helikopter yang menyinari area itu.

Dengan susah payah ia mencoba duduk tegak. Dan di tengah deru mesin yang menderu, samar-samar ia mendengar suara yang begitu ia rindukan memanggil namanya.

"Sayang... kamu nggak apa-apa?"

Langit sudah berdiri tepat di hadapannya.

"Kamu...?" bisik Gadis lirih, matanya terbelalak tak percaya. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu akan benar-benar datang menjemputnya di tempat terpencil seperti ini. "Kamu jemput aku? Di sini...?" Air matanya tak kuasa dibendung lagi, mengalir deras membasahi pipi.

Langit hanya mengangguk mantap, lalu tanpa menunggu lama ia langsung menarik tubuh kekasihnya ke dalam pelukan hangatnya. Mereka berdua tenggelam dalam dekapan itu, menikmati kebersamaan yang sudah hampir seminggu penuh mereka rindukan.

Devan sudah lebih dulu naik ke dalam kabin. Kini Langit menggenggam tangan gadis itu, menuntunnya melangkah menaiki tangga darurat untuk segera naik.

DORRR!!! DORRR!!!

1
Erna Riyanto
Anin dulu pacar langit... berarti langit sdh tua dong seumuran bahkan mungkin lebih tua dr Anin(ibunya gladis)
Ceriwis07: Benar sekali 🤭
total 1 replies
anggita
like iklan👍☝
Ceriwis07: Terimakasih sudah mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!